Arti Penebusan Dosa yang Ditebus Oleh Tuhan Yesus

Posted on

MENGAMPUNI?

Apa yang ada dalam benak anda dengan istilah “mengampuni” ? 
Yesus mensyaratkan pengampunan dalam arti yang amat mendasar, yaitu keharusan bagi si pengampun untuk membayar harga, harga tebusan!

Allah yang Maha Kuasa memang berkuasa mengampuni kita di setiap waktu, namun dosa kita tidak bisa diampuni begitu saja karena Allah juga Adil, dan konsekwen dengan hukum-pokok keadilanNya adalah Dia harus menghukum setiap dosa yang kita perbuat.

Di satu pihak Allah itu Maha Kasih, mau dan bisa mengampuni. Tetapi di lain pihak Allah itu Maha Adil, apabila hanya sekadar “melupakan” atau “membiarkan” kesalahan seseorang tanpa mempertanggung-jawabkannya dengan suatu harga, yaitu yang disebut penebusan.

Anda bertanya, mengapa ada harga yang terlibat?

Ya, pemahaman kita atas Azaz Pengampunan cenderung larut menurut arti populer saja, bukan arti murninya.
Untuk mencernakannya kembali, kini pikirkanlah ada seorang anak Anda yang berbuat dosa terhadap Anda, misalnya ia memberontak dan membakar tas kantor Anda. Anda-pun marah. Mengapa?
Karena anda merasa dirugikan oleh perbuatan tersebut. Akhirnya sang anak sadar akan perbuatan kesalahannya dan minta pengampunan, dan anda rela mengampuninya.

Mengampuni adalah rela membayar harga tebusan
Ketika anda rela mengampuninya, itu IDENTIK dengan anda rela menyedot dan membayar harga kerugian yang tadinya anda rasakan, yaitu kerugian moril maupun materiil. Anda mengampuninya dengan jalan menebus harga tersebut! Jadi, dalam setiap pengampunan ada harga yang harus dibayar, yang menuntut suatu penebusan!.

 


Kini, karena sudah ditetapkan Allah sendiri bahwa setiap pelaku dosa harus dihukum mati dalam kekekalan (dengan istilah “upah dosa adalah maut”, Kejadian 2:17, Roma 6:23), maka manusia tidak mungkin bisa membayar harga sebesar itu dengan usaha amal-ibadah atau cara apapun. Itu sama halnya dengan hukuman mati di pengadilan yang tak bisa dilunaskan dengan jasa apapun yang pernah dibuat oleh si terhukum!
Diperlukan pertolongan dan kekuatan dari luar sebagai penyelamat atau penebus.
Dicontohkan satu kasus tebusan sebagai berikut :

Ada cerita tentang seorang wanita muda yang tertangkap di diskotik ketika sedang diadakan razia narkoba oleh aparat negara. Ia dihadapkan ke meja-hijau. Jaksa penuntut membacakan dakwaan dan tuntutan. Maka, sang Hakim-pun bertanya kepada si tertuduh : “Anda bersalah atau tidak bersalah?”
Gadis tersebut mengaku bersalah, minta ampun dan ingin bertobat. Namun sang Hakim yang adil itu tetap mengetuk palunya mendenda Rp. 10,000,000.– atau penjara 3 bulan. Tiba-tiba terjadi hal yang mengagetkan semua orang dalam sidang tersebut. Sang Hakim turun dari kursinya sambil membuka jubahnya. Ia segera menuju kursi si terhukum, mengeluarkan uang 10juta dari tas-nya untuk membayar denda si gadis. Mengapa? Ternyata sang hakim tersebut adalah bapak dari si gadis. Walau bagaimanapun cinta yang bapak kepada anak-gadisnya, ia tetaplah Hakim yang adil dan tidak bisa berkata : “Aku mengampuni kamu, karena kamu menyesal dan bertobat”. Atau mengatakan : “Karena cintaku kepadamu, maka Aku mengampuni kesalahanmu”.

Hukum keadilan tidak memungkinkan sang Hakim mengampuni dosa anaknya dengan sesukanya “tanpa prosedur harga”. Maka ia yang begitu mengasihi anaknya bersedia turun dari kursi dan menanggalkan jubah kehakimannya, lalu menjadi wali untuk membayar harga denda. Inilah jalan satu-satunya bagi seorang hakim yang adil untuk memberi pengampunan bagi seorang terhukum yang dikasihinya

Dan inilah analogi untuk Yesus Kristus yang menanggalkan jubah keilahianNya dan turun ke dunia menjadi manusia demi untuk membayar harga MAUT di kayu salib, yang tidak sanggub dibayar oleh si pendosa sendiri yang sudah terhukum mati. Yesus telah mengatakannya secara lurus, tanpa usah tafsiran, bahwa ‘Anak Manusia (Yesus) datang untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan (nyawa) bagi banyak orang’ (Markus 10:45).

Maka hak-qisas (hukum pembalasan yang setimpal) terhadap hutang nyawa, kini dipenuhi dalam kematian Yesus bagi manusia : “nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan… luka ganti luka, bengkak ganti bengkak” (Keluaran 21:24). Demi menebus kematian Anda dan saya!.

Allah bebas tidak terbatas? Menghalalkan segala cara demi kasihNya

Disini, teologi agama-agama yang tidak mengenal konsep penebusan Yesus (tidak mengimani anugerah Ilahi), melainkan hanya menganal konsep usaha diri dalam mencari ridha Allah lewat ibadah-amal-pahala, akan menemui dilema yang besar. Mereka tidak mempunyai cara apapun untuk merekonsiliasikan kedua sifat Allah yang saling menentang, yaitu Maha Kasih versus Maha Adil.

Bagaimana Allah bisa-bisanya Maha Kasih (yang mengampuni dosa), padahal Ia juga Maha Adil(yang menghukum dosa), sungguh kontradiktif!

Sebab, jikalau Allah menghalalkan diriNya secara bebas dalam mengampuni, semata-mata karena Ia Maka Pengasih dan penyayang, maka tentulah Ia Non-Adil, karena berkolusi, dengan tidak menghukum dosa yang seharusnya tidak dihukum. Pengampunan model begini adalah keputusan tanpa dasar apapun kecuali sewenang-wenang. Allah yang Maha Adil, Maha Benar dan Suci itu sungguh tidak bisa begitu saja menyebut “putih” atas sesuatu yang sebenarnya “hitam”. Hukum dan Jalan Allah itu lurus, dan itu yang menjadikan diri Allah terbatas, karena Ia tidak bisa keluar batas dengan mengingkari diriNya sendiri :

*2 Timotius 2:13
jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.

Walau demikian, masih banyak orang menafsirkan bahwa Allah itu adalah Pencipta Hukum. Jadi Dia berdaulat dan berdiri sepenuhnya diatas hukum, tidak ada yang bisa membatasi Allah!.
Namun, Alkitab menjelaskan bahwa Tuhan “dibatasi” oleh hakikat keberadaanNya sendiri, bukan oleh pihak luar manapun. Dia sepenuhnya dapat dipercaya dan konsisten dengan Apa yang diucapkanNya. Dia selalu berkiprah dalam jalur/ batas ucapan dan hukumNya.
Dia tidak berdiri di atas Hukum.
Melainkan diriNya adalah HukumNya, dan HukumNya adalah diriNya
.

Dia tidak berubah, dahulu, sekarang dan selamanya!
Maka, Firman Allah itu selalu benar dan kekal, tak ada ayat-ayat susulan yang bisa membatalkan atau menggantikan ayat-ayat terdahulu. Allah yang Maha Tahu dan Benar tidak mengkoreksi diriNya sendiri, dengan alasan apapun!
Makin Dia mengkoreksi, dan makin memberi alasan, makin bukan Allah-lah Dia.

 

DOMBA KORBAN

Oleh: Dr. Suhento Liauw

Ide tentang Domba korban itu bukan sesuatu yang baru. Banyak orang bahkan pernah menyaksikan sekumpulan domba atau kambing sedang dipersiapkan untuk dijadikan korban.

Mengapa Mempersembahkan Korban?

Banyak pemimpin agama mengajar umat mereka untuk mempersembahkan korban. Namun sering kali tidak mengajarkan alasan dan tujuan dalam mempersembahkan korban. Akhirnya, mereka menghasilkan umat yang hanya sekedar menurut saja, tanpa memahami makna perbuatan mereka sendiri

Sesungguhnya domba korban diperlukan manusia setelah umat manusia jatuh ke dalam dosa. Allah pencipta langit dan bumi adalah Allah yang maha suci, yang tidak bisa berkompromi dengan dosa atau kejahatan, yang sekecil apapun. Ia pasti akan menjatuhkan penghukuman terhadap siapa saja yang berbuat dosa. Ia tidak akan memandang amal mereka, karena amal mereka tidak dapat menghapuskan dosa mereka, melainkan hanya membuat mereka lebih terhormat di hadapan manusia. Tidak ada amal yang dapat menghapuskan dosa! Manusia yang bodoh saja tahu, bahwa orang yang telah melakukan pembunuhan itu perlu dihukum, bukan disuruh berbuat amal, apa lagi Tuhan. Mungkinkah Tuhan yang sanggup menciptakan langit dan bumi tidak memakai cara yang benar, melainkan membiarkan manusia berdosa memakai amal untuk menutupi dosanya?

Sebagai contoh, kalau seseorang tertangkap mencuri sesuatu, maka ia akan dijatuhkan hukuman terkurung di dalam penjara untuk suatu jangka waktu. Setelah ia menjalankan penghukumannya, maka hutang dosanya telah terlunaskan di hadapan hukum. Demikian juga prinsip hukum Tuhan berlaku. Prinsip tata-hukum manusia itu pada hakekatnya berasal dari prinsip tata-hukum Tuhan. Karena Tuhanlah yang memberikan akal budi kepada manusia.

Ide tentang korban itu dihasilkan dari prinsip penjatuhan hukuman. Sama artinya dengan penjatuhan hukum denda terhadap orang yang bersalah. Artinya, karena kesalahannya, seseorang perlu membayar ganti rugi atau menerima penghukuman. Bisa berupa hukuman badan (cambuk atau penjara), atau berupa hukuman materi (denda uang atau barang). Orang-orang yang mempersembahkan sesajian itu sebenarnya bermaksud datang untuk membayar ganti rugi kesalahannya secara
materi.

Adam dan Hawa tahu persis, bahwa Allah tidak mungkin berkompromi terhadap dosa yang telah mereka perbuat. Karena mereka adalah orang pertama yang jatuh ke dalam dosa, maka pasti mereka mengetahui, atau setidaknya mereka mendengar tentang akibat dosa mereka, dan juga cara untuk mendapatkan pengampunan. Setelah mereka mengetahui bahwa cara untuk mendapatkan pengampunan itu ialah menjadikan seekor domba sebagai korban pengganti mereka sementara menunggu “domba Allah” yang sedang dipersiapkan, maka tentu mereka meneruskan ajaran itu kepada anak cucu mereka.

Dalam cerita Kain dan Habel, terkandung makna bahwa pada prinsipnya mereka tahu dengan jelas tentang jalan keselamatan. Tetapi rupanya Kain tidak serius dalam menanggapi makna jalan keselamatan yang diajarkan Allah. Sedangkan Habel lebih berhikmat, dan tulus, sehingga dia menuruti tata-cara yang dikehendaki Allah.

Apa yang dilakukan oleh Kain itu hampir sama dengan tindakan orang- orang yang mempersembahkan sesajian yang berupa makanan, buah-buahan, dan berbagai benda materi lain. Mereka berpikir bahwa dengan mengganti rugi secara materi maka dosa mereka akan diampuni. Atau, hanya dengan motivasi untuk sekedar mempersembahkan apa yang ada pada mereka tanpa menghiraukan kehendak Allah. Karena Kain seorang petani, ya… dipersembahkannyalah hasil pertaniannya. Prinsip dan caranya dikuti oleh kebanyakan manusia di dunia ini. Mereka seolah-olah berkata, “Tuhan seharusnya mengerti keadaan saya dan menuruti jalan dan cara saya.”

Namun Habel mempersembahkan domba yang tak bercacat. Tentu saja Tuhan berkenan kepada persembahan Habel. Ia telah melakukan tepat seperti kehendak Tuhan, yaitu seperti yang didengarnya dari orangtuanya. Mereka harus percaya kepada Penyelamat yang akan dikirim Allah, dan sebelum Penyelamat itu datang untuk menanggung dosa mereka, domba adalah gambaranNya. Kain juga pasti mendengar hal yang sama, tetapi mungkin karena dia tidak rela mematuhi perintah Tuhan, maka dipilihnya jalan yang baik menurut pendapatnya.

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka merasa sangat malu, juga merasa segan untuk bertemu dengan Allah. Mereka menyadari akan kesalahan mereka. Karena kesalahan mereka, Allah menyembelih seekor binatang dan memakai kulit binatang itu untuk menutupi tubuh mereka. Arti “korban” yang sebenarnya ialah “pihak yang menerima akibat atas kesalahan pihak lain.” Kalau ia menerima akibat kesalahannya sendiri, itu bukan korban, melainkan upah perbuatannya. Binatang korban adalah binatang yang dibunuh untuk kesalahan seseorang. Ia dinamakan binatang korban, karena tujuan kematiannya itu sebagai korban.

Allah telah menetapkan untuk memakai domba sebagai gambaran tentang Sang Penyelamat yang akan dijadikan korban penghapus dosa. Allah tidak memilih babi, anjing maupun ayam, apa lagi sayur-sayuran. Apa makna dibalik ketetapan untuk memakai domba sebagai binatang korban? Tentu karena domba memiliki sifat-sifat khusus yang cocok untuk melambangkan Sang Penyelamat yang akan diutus. Dan, keadaan domba yang tak bercacat melambangkan kesucian. Kalau tidak melambangkan sesuatu, berarti binatang apa saja bisa dijadikan korban, sesuai dengan apa yang dimiliki oleh seseorang. Domba yang tak bercacat itu melambangkan bahwa Penyelamat yang akan datang untuk menyelamatkan manusia dari penghukuman itu adalah pribadi yang tidak berdosa.

Orang yang mengorbankan domba atas dosanya, harus mempercayai janji Allah, yaitu janji pengiriman seorang Penyelamat. Tanpa beriman kepada Sang Penyelamat, sekalipun mereka mempersembahkan seribu ekor domba, dosa mereka akan tetap tak terhapuskan. Sebab, kalau dosa dapat terhapuskan hanya melalui penyembelihan domba, maka orang kaya pasti akan lebih gampang masuk Surga, berhubung mereka memiliki lebih banyak uang untuk membeli domba.

Tentu pertanyaan berikut akan muncul, “mengapakah manusia yang berbuat dosa, tetapi domba yang menjadi korbannya?” Seharusnya, karena manusia yang berdosa, maka manusia jugalah yang harus menanggungnya, bukan domba. Benar, berikut ini ada beberapa prinsip kebenaran yang harus diingat untuk mengerti rahasia illahi.

1. Pertama, setiap manusia yang berdosa pasti akan dihukum.

2. Kedua, manusialah yang harus menganggung dosa manusia, bukan binatang.

3. Ketiga, orang berdosa tidak bisa menjadi penanggung dosa orang lain, karena ia sendiri harus menanggung dosanya sendiri. Hanya orang yang tidak berdosa yang dapat menjadi penanggung dosa orang lain.

4. Keempat, tidak ada orang benar di dunia ini. Satu orang pun tidak ada. Benih dosa Adam dan Hawa telah diturunkan kepada setiap manusia yang lahir dari mereka. Tanpa perlu diajar, semua manusia cenderung berbuat dosa.

Hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan dosa manusia. Yaitu melalui seorang manusia yang tidak berdosa yang rela menggantikan manusia berdosa menerima penghukuman. Mungkinkah ada seorang manusia yang tidak berdosa yang rela menanggung dosa orang lain? Mungkin ada orang yang berani mati bagi seseorang yang sangat dikasihinya, bahkan ia rela menanggung dosa kekasihnya di Neraka. Namun, jika ia sendiri juga seorang berdosa, ia tidak layak menjadi penanggung dosa, karena ia sendiri termasuk yang akan dihukum di Neraka. Hukuman yang diterimanya di Neraka itu adalah porsi untuk dirinya, bukan porsi orang lain yang ditanggungnya. Adakah orang yang tak berdosa yang secara sukarela menyerahkan diri menjadi penanggung dosa?

Bagi manusia, hal itu mustahil. Karena ada beberapa syarat yang menghalanginya. Syarat yang pertama, sang Penyelamat harus seorang yang tak berdosa. Syarat kedua, harus dilakukan atas kesukarelaan hatinya. Itu berarti, diperlukan seorang yang Maha-suci dan juga Maha-kasih. Dari persyaratan-persyaratan tersebut di atas, jelas sekali
hanya Allah saja yang dapat melakukan semua itu.

Kita bersyukur sekali karena Dia telah merencanakan dan bahkan telah bertindak untuk menyelamatkan manusia yang jatuh ke dalam dosa. Tindakan yang Allah lakukan adalah yang tidak akan bertentangan dengan sifat-sifatnya. Ia tidak bisa menolong orang miskin dengan barang curian dari orang kaya. Karena tindakan mencuri bertentangan dengan sifat kesucianNya. Allah dapat melakukan segala sesuatu dengan satu syarat, yaitu yang tidak bertentangan dengan sifat-sifatNya. Dia adalah Allah yang maha kasih. Tetapi Dia juga Allah yang maha suci dan maha adil.

Untuk menyelamatkan manusia berdosa dengan cara yang tidak bertentangan dengan sifat-sifatNya, Allah menjelma menjadi manusia. Manusia jelmaan Allah itu diberi nama Yesus, yang artinya Juruselamat. Ketika Allah mempersiapkan Sang Penyelamat itu, Ia memerintahkan manusia berdosa untuk percaya kepada janjiNya.

Sementara menunggu Sang Penyelamat, Allah memerintahkan manusia untuk melakukan sesuatu yang menggambarkan proses penyelamatan itu dengan iman. Sang Penyelamat digambarkan dengan domba yang tak bercacat, dan setiap orang berdosa yang ingin diselesaikan dosanya harus menimpakan dosanya ke atas domba itu.Jadi, mempersembahkan korban domba adalah perbuatan yang menggambarkan program Allah untuk menyelamatkan manusia.
Yang Allah inginkan adalah domba yang tak bercacat, bukan babi, bukan ayam dan juga bukan sayuran atau buah-buahan. Perintah untuk memakai domba bukan tanpa alasan, melainkan dengan maksud yang sangat khusus, yaitu untuk menggambarkan Sang Penyelamat yang direncanakan Allah.

Ribuan tahun telah dihabiskan untuk menapak jalan bagi Sang Penyelamat. Itu sama sekali bukan karena ketidakmampuan Allah, melainkan oleh karena maksud lain.

Salah satu alasan penundaan ialah, untuk menghindari pemalsuan yang akan mencelakai manusia yang tidak berhati-hati. Allah memakai waktu yang begitu panjang untuk menuliskan tanda-tanda Sang Penyelamat sebelum kedatanganNya, agar orang-orang dapat mengenalNya dan iblis tidak dapat memalsukanNya.

Untuk menghindari pemalsuan, Allah menyelipkan tanda-tanda tentang Sang Penyelamat ke dalam catatan sejarah, lagu Zabur/Mazmur, dan tulisan Nabi-nabi. Banyak orang tidak dapat melihat tanda-tanda itu, terutama mereka yang mengabaikan masalah kerohanian. Tetapi bagi mereka yang mempunyai kemauan untuk menyelidik, yaitu yang menganggap bahwa keselamatan adalah hal penting, mereka dapat melihat tanda-tanda itu dengan jelas. Bagi orang yang tidak menaruh perhatian, apa boleh buat, karena jika dia tidak mau menyelamatkan dirinya, lebih sulit lagi bagi orang lain untuk menyelamatkannya.

Allah sengaja menuliskan kitab-kitab itu secara cicilan, dan dituliskan seolah-olah itu kitab hukum (Taurat), seolah-olah buku nyanyian (Mazmur), dan seolah-olah kitab sejarah (Yosua-Ester). Iblis tidak menyadari bahwa di dalamnya berisikan tanda-tanda Sang Penyelamat yang dijanjikan Allah.

Berikut ini adalah beberapa tanda utama yang diberikan;

1. Ia akan dilahirkan dari keturunan Abraham/Ibrahim (Tertulis dalam kitab Taurat pertama/Kejadian pasal 22 ayat 18). Tanda ini mengecualikan orang lain yang bukan keturunan Ibrahim. Kalau ada keturunan non-Ibrahim berkata bahwa dirinya adalah Sang Penyelamat yang akan dikirim, jangan percaya! Sebab, di dalam Kitab Taurat telah tertulis bahwa Sang Penyelamat adalah keturunan Ibrahim.

Perlu diketahui, bahwa semua tanda ditulis jauh sebelum Sang Penyelamat datang. Jadi, tulisan itu bersifat nubuatan.

2. Agar semua orang bisa mengenal sang Penyelamat, Allah menambahkan tanda-tanda lain. Antara lain; bahwa ia akan dilahirkan dalam keluarga Daud (Tertulis dalam kitab II Samuel 7:13).

3. Selain lahir dari keluarga Daud, ia akan dilahirkan oleh seorang perawan (Dalam kitab Yesaya 7:14).

4. Ia akan dilahirkan di kota Betlehem (Dalam kitab Mikha 5:1),

5. Ia akan dibunuh sebagai korban (Dalam kitab Yesaya 53:12).

Hal yang sangat mengagumkan ialah, ada sekitar tiga ratus tanda telah dituliskan sebelum kedatanganNya. Kalau ditulis setelah kejadian, banyak sejarahwan dapat melakukannya. Tetapi, menuliskan tanda-tanda itu sebelum kejadian, itu membuktikan bahwa Allah ikut campur tangan dalam penulisan kitab-kitab itu.

Kita tiba pada bagian yang terpenting. Setiap orang yang mau diampuni dosanya, harus memakai cara yang ditetapkan Allah. Orang yang memakai caranya sendiri, atau cara yang diajarkan oleh orang yang sebenarnya tidak tahu, atau terjebak ke dalam cara yang diciptakan oleh iblis, pasti akan berakhir seperti Kain. Ia ditolak oleh Allah. Kain tidak percaya kepada Allah, oleh sebab itu ia tidak mau menuruti jalan yang ditentukan Allah. Biasanya orang-orang seperti Kain tidak berusaha mengetahui jalan yang benar. Kelihatannya dia tidak peduli, apakah akan masuk Surga atau masuk Neraka.

Salomo berkata, “Ada jalan disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Oh, banyak sekali orang yang seperti Kain di dunia ini. Tetapi orang-orang seperti Habel juga ada. Mereka menaruh perhatian terhadap hal-hal rohani, suka menyelidik, dan ingin mengetahui jalan yang benar. Mereka berusaha menyelidiki tanda-tanda yang Allah berikan. Tentu mereka akan mendapatkannya, karena tanda yang telah diberikan itu sangat jelas. Tanda-tanda itu bukan disediakan untuk orang pintar atau terpelajar saja, melainkan untuk setiap orang yang ingin diselamatkan dari penghukuman kekal di Neraka.

Disamping Allah berusaha keras untuk menyelamatkan manusia dari penghukuman, iblis juga berusaha keras untuk menghalangi usaha itu. Ia berusaha menyebarkan issue bahwa kitab Taurat, Zabur/Mazmur, dan kitab yang ditulis oleh Nabi-nabi itu telah dipalsukan.

Seharusnya mereka berpikir sedikit. Kalau Allah sanggup menciptakan langit dan bumi, tentu Dia juga sanggup menghindarkan kitab yang telah diilhaminya dari pemalsuan. Seharusnya mereka juga berpikir bahwa kalau seseorang menyatakan sesuatu palsu, seharusnya dia pernah melihat atau memiliki yang asli. Kalau dia tidak pernah melihat atau memiliki yang asli, ada kemungkinan tindakannya dilatarbelakangi tujuan yang tidak murni. Celakanya, banyak orang hanya ikut saja, tanpa berkeinginan untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. Seharusnya mereka tahu, bahwa tidak ada hal yang lebih penting dari hal ini. Sekali mereka salah beriman, maka akan berakibat kekal di Neraka.

Alkitab maupun sejarah, bersama-sama membuktikan bahwa hanya ada satu orang saja yang memenuhi semua tanda sebagai Penyelamat sebagaimana tertulis dalam kitab Taurat, Zabur dan Para Nabi.

Tentu bukanlah suatu kebetulan kalau orang itu ternyata menggenapi semua tanda yang ditulis oleh Musa, Daud, dan Nabi-nabi jauh sebelumnya. Penghitungan tahun yang dipakai secara international, yaitu 1995, adalah tahun yang dihitung mulai dari kelahiranNya. Sebelum kelahiranNya, malaikat menampakkan diri kepada Maria untuk memberitahukan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak. Tentu dia sangat heran karena dia tahu bahwa dirinya belum menikah. Tetapi malaikat menenangkannya sambil memberitahukannya bahwa itu akan terjadi oleh Roh Allah, dan Anak itu akan disebut immanuel, yang berarti Allah beserta kita.

KelahiranNya membawa penyertaan Allah kepada kita. Maria telah bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf, yang secara hukum bertindak sebagai ayah dari Anak yang akan lahir. Karena itu malaikat datang dan memberitahu kepadanya, bahwa Anak itu harus diberi nama ιησους – iêsous . ιησους – iêsous adalah kata bahasa Yunani yang berarti Penyelamat (lihat artikel di nama-yesus-vt52.html#p115 ). Bahasa lain hanya mengambil bunyinya saja. Misalnya, dalam bahasa Indonesia Ia dipanggil Yesus, orang Arab menyebutnya Isa, bahasa Inggris menyebutnya Jesus, bahasa Tionghoa menyebutnya Yeshu.

Tidak ada posisi netral. Kalau tidak mengakuiNya, berarti menolakNya.

Yesus Adalah Domba Allah

Ketika Yahya atau Yohanes, orang yang diutus Allah, melihat Yesus, ia berseru, “Lihatlah anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29) Semua orang Yahudi yang mendengar, tahu bahwa Yohanes menyamakan Yesus dengan domba korban yang diajarkan dalam kitab Taurat, Zabur, dan Nabi-nabi. Ia menjelma menjadi manusia, menempati posisi domba korban. Oleh sebab itu ketika Ia dituntut untuk disalibkan, Ia sama sekali tidak membantah. Banyak orang tidak mengerti makna penyaliban Yesus.

“Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya…. Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutNya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian..” (Yesaya 53:5, 7)

Siapa lagi yang dimaksudkan oleh nabi Yesaya kalau bukan Yesus yang dibawa untuk disalibkan? Sekali lagi, nabi Yesaya menulis semua ini sekitar tujuh ratus tahun sebelum peristiwa itu terjadi. Kitab nabi Yesaya ada di antara mereka yang melaksanakan penyaliban.

Jalan Keselamatan Telah Tersedia

Segala sesuatu telah jelas. Maksud Allah memerintahkan orang yang jatuh ke dalam dosa untuk mempersembahkan domba sebagai korban dosa ialah karena Ia akan mengirim Yesus. Yesus, yang berarti Penyelamat adalah manusia yang dilahirkan oleh Roh Allah.

Kita, yang hidup sesudah pelaksanaan pengorbanan domba Allah, diperintahkan untuk beriman kepadaNya. Hanya melalui percaya kepadaNya, manusia bisa diselamatkan dari penghukuman.

Orang-orang yang hidup sebelum penyalibanNya percaya pada Juruselamat yang akan menanggung dosa mereka, sedangkan kita yang hidup sesudah penyaliban, percaya pada Juruselamat yang telah menanggung dosa kita.
Abraham yang hidup dua ribu tahun sebelum penyalibanNya percaya kepada Juruselamat yang akan menanggung dosanya, yang dilaksanakan dua ribu tahun sesudah dia, sedangkan kita percaya kepada Juruselamat yang telah menanggung dosa kita dua ribu tahun yang lalu.

Tidak ada satu orang pun dapat masuk ke Surga tanpa percaya kepada Juruselamat yang telah ditentukan Allah, yaitu diriNya sendiri yang menjelma menjadi manusia. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Terimalah Hadiah Itu

Allah telah menyediakan dombaNya. Yesus disebut Anak Domba Allah yang menanggung dosa isi dunia. Peristiwa penanggungan dosa juga telah terlaksana. Siapapun yang masih mempersembahkan domba/ kambing korban itu menyatakan diri menolak domba yang Allah sediakan. Perbuatan itu mengandung arti, ingin tetap memakai cara simbolik, daripada yang disimbolkannya. Atau, hanya sekedar melaksanakan upacara tanpa memahami maknanya. Ingatlah! Domba Allah telah dikorbankan. Jangan mengorbankan domba/kambing yang mengembek lagi. Itu adalah penghinaan terhadap Domba Allah.

Sebagaimana Allah memerintahkan orang yang mempersembahkan korban domba memegang kepala domba sebagai tanda percaya, demikian juga setiap orang yang hidup sesudah peristiwa Penyaliban Domba Allah, perlu meletakkan “tangan tanda percaya” pada Yesus. Tentu tidak mungkin bagi kita untuk kembali ke saat penyaliban untuk meletakkan tangan di kepalaNya. Yang dapat kita lakukan sekarang ialah, menerimaNya ke dalam hati kita dengan iman.

Penghapusan dosa terjadi, kalau ada tindakan untuk menerima jasa Penanggung dosa, serta penyerahan dosa kepada si Penanggung. Ini adalah transaksi rohani yang dikerjakan dengan iman. Tindakan inilah yang terpenting dalam seluruh kehidupan seseorang sejak ia dilahirkan ke dalam dunia. Yesus yang telah mati disalib kemudian bangkit dari kematian pada hari ke-tiga karena Ia adalah Allah. Ia maha hadir dan maha tahu. Sekarang Ia ada di sini, di samping anda, serta sedang menantikan keputusan anda.

1. Mengaku bahwa anda adalah orang berdosa yang membutuhkan jasa pengorbananNya.

2. Menyatakan dengan kata-kata, bahwa anda menerimaNya sebagai Penyelamat anda.

3. Nyatakan terima kasih anda atas pengorbananNya di kayu salib.

Kalau anda tidak menemukan kata-kata yang tepat, pertimbangkanlah kata-kata berikut. Mungkin itu sesuai dengan isi hati anda. Kalau sesuai, ucapkanlah.

Tuhan Yesus, saya sadar bahwa saya adalah orang berdosa yang akan binasa. Saya sangat membutuhkan pengorbananMu. Saya menerima Engkau sebagai Juruselamat saya pribadi. Engkaulah domba korban saya di hadapan Allah. Terima kasih atas pengorbananMu. Saya berdoa dengan segenap hati saya. Amin.

Pejamkanlah mata agar konsentrasi anda tidak terganggu, dan
ucapkanlah seluruh isi hati anda itu kepada Tuhan Yesus. Sekarang!

Hal-hal Yang Perlu Diingat

1. Sejak anda mengakui dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat anda, semua dosa anda telah ditanggung olehNya. Anda adalah orang suci, dan menjadi anggota keluarga Allah. Anda adalah Orang yang bersiap-siap untuk masuk Surga.

2. Karena anda adalah anggota keluarga Allah, maka Allah menyediakan banyak berkat bagi anda. Anda perlu mengetahuinya. Untuk itu, bacalah Alkitab mulai dari kitab Perjanjian Baru, catatan tentang kehidupan dan pengajaran Tuhan Yesus.

3. Dapatkanlah anggota keluarga Allah yang lain sebagai saudara, agar bisa saling membagi suka dan duka. Jadilah anggota sebuah gereja yang mengajarkan kebenaran firman Tuhan agar anda dapat bertumbuh di dalam iman.

Harap Anda Berkomentar Dengan Sopan.....Shalom

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s