ADAM AWAL DAN ADAM AKHIR YANG MEMBERI HIDUP..??

Posted on Updated on

Didalam Alkitab menuliskan 2 pribadi yang kontradiktif antara Adam manusia pertama yang jatuh dalam dosa dan Adam akhir yang membereskan dosa. Adam manusia pertama, tidak hanya menjadi bapa (cikal-bakal) bagi semua umat manusia sekaligus menularkan “dosa asal” yang diperbuatnya kepada seluruh manusia di dunia ini. Dosa pertama/ dosa asal, yaitu dosa Adam, mempunyai makna dampak yang khas bagi seluruh umat manusia :

* Roma 5:12, 14-19 
5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
5:14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.
5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
5:16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.
5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
5:18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Ayat-ayat diatas memberi penekanan pada pelanggaran yang satu itu oleh manusia yang satu itu, dan hanya karena pelanggalan yang satu itu adalah dosa, hukuman dan maut berkuasa dan menimpa segenap umat manusia. Dosa itu disebut ‘seperti telah dibuat oleh Adam’, ‘pelanggaran sartu orang’, ‘satu pelanggaran’, ‘ ketidaktaatan satu orang’ (Roma 5:14,15,16,19). Pasti yang dimaksudkan adalah pelanggaran pertama dari Adam. Jadi kalimat dalam Roma 5:12 ‘ karena semua orang telah berbuat dosa ‘, menunjuk kepada dosa-dosa segenap umat manusia yang terhisap dalam dosa Adam. Itu tidak menunjuk kepada dosa-dosa nyata segenap umat manusia, apalagi kepada kebusukan hati yang diwarisi oleh manusia. Lagipula anak kalimat dari ayat 12 itu tadi jelas menyatakan bagaimana ‘semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut’ (ayat 15), dan ayat-ayat berikutnya ditekankan ‘pelanggaran yang satu itu (TBI ‘satu pelanggaran itu’).

* 1 Korintus 15:22 
Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus

Jika bukan dosa yang satu itu yang dimaksudkan, maka Paulus telah menandaskan dua hal yang berlainan dengan mengkaitkannya pada pokok yang sama dalam konteks naskah yang sama. Justru satu-satunya keterangan terhadap kedua bentuk pernyataan ini, ialah semua orang terhisap dalam dosa Adam. Kesimpulan itu juga harus diambil dari 1 Korintus 15:22 ‘didalam Adam semua orang mati’. Maut adalah upah dosa, dan melulu akibat dosa (Roma 6:23). Karena semua orang mati di dalam Adam, maka penyebabnya adalah karena semua berdosa di dalam Adam.

* Roma 6:23
LAI TB, Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita
KJV, For the wages of sin is death; but the gift of God is eternal life through Jesus Christ our Lord.
TR, τα γαρ οψωνια της αμαρτιας θανατος το δε χαρισμα του θεου ζωη αιωνιος εν χριστω ιησου τω κυριω ημων
Translit, ta gar hopsônia tês hamartias thanatos to de kharisma tou theou zôê aiônios en khristô iêsou tô kuriô hêmôn

Menurut Alkitab, Jenis solidaritas pada keterhisapan dengan Adam, yang menerangkan segenap umat manusia terhisap dalam dosa Adam, sama dengan jenis solidaritas dengan Kristus, yakni tersisap dalam karya penyelamatan Kristus bagi semua orang yang dipersatukan dengan Dia. Gambaran kesejajaran Adam dengan Kristus dalam Roma 5:12-19; 1 Korintus 15:22, 45-49 menjelaskan jenis hubungan yang sama antara kedua Tokoh itu dengan manusia :

* 1 Korintus 15:45-49
15:45 LAI TB, Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
KJV, And so it is written, The first man Adam was made a living soul; the last Adam was made a quickening spirit.
TR, ουτως και γεγραπται εγενετο ο πρωτος ανθρωπος αδαμ εις ψυχην ζωσαν ο εσχατος αδαμ εις πνευμα ζωοποιουν
Translit, houtôs kai gegraptai egeneto ho prôtos anthrôpos adam eis psukhên zôsan ho eskhatos adam eis pneuma zôopoioun

15:46 LAI TB, Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah.
KJV, Howbeit that was not first which is spiritual, but that which is natural; and afterward that which is spiritual.
TR, αλλ ου πρωτον το πνευματικον αλλα το ψυχικον επειτα το πνευματικον
Translit, all ou prôton to pneumatikon alla to psukhikon epeita to pneumatikon

15:47 LAI TB, Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.
KJV, The first man is of the earth, earthy; the second man is the Lord from heaven.
TR, ο πρωτος ανθρωπος εκ γης χοικος ο δευτερος ανθρωπος ο κυριος εξ ουρανου
Translit, ho prôtos anthrôpos ek gês khoikos ho deuteros anthrôpos ho kurios ex ouranou

15:48 LAI TB,Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga.
KJV, As is the earthy, such are they also that are earthy: and as is the heavenly, such are they also that are heavenly.
TR, οιος ο χοικος τοιουτοι και οι χοικοι και οιος ο επουρανιος τοιουτοι και οι επουρανιοι
Translit, hoios ho choikos toioutoi kai hoi khoikoi kai hoios ho epouranios toioutoi kai hoi epouranioi

15:49 LAI TB, Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.
KJV, And as we have borne the image of the earthy, we shall also bear the image of the heavenly.
TR, και καθως εφορεσαμεν την εικονα του χοικου φορεσομεν και την εικονα του επουρανιου
Translit, kai kathôs ephoresamen tên eikona tou khoikou phoresomen kai tên eikona tou epouraniou

Dalam 1 Korintus 15:45-49 kita melihat ada Adam manusia pertama, dan ada Adam akhir yaitu Kristus. Adam pertama diciptakan dari debu tanah.

* Kejadian 2:7 
LAI TB, ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
KJV, And the LORD God formed man of the dust of the ground, and breathed into his nostrils the breath of life; and man became a living soul.
Hebrew,
וַיִּיצֶר יְהוָה אֱלֹהִים אֶת־הָאָדָם עָפָר מִן־הָאֲדָמָה וַיִּפַּח בְּאַפָּיו נִשְׁמַת חַיִּים וַיְהִי הָאָדָם לְנֶפֶשׁ חַיָּה׃
Translit, VAYITSER YEHOVAH ‘ELOHIM ‘ET-HA’ADAM ‘AFAR MIN-HA’ADAMAH VAYIPAKH BE’APAV NISYMAT KHAYIM VAYHI HA’ADAM LENEFESY KHAYAH

Ada perbedaan yang lain antara Adam yang pertama dan Adam yang akhir. Adam yang pertama hanya manusia yang diberi nafas hidup oleh Allah. Tetapi Adam yang akhir adalah Roh yang menghidupkan. Adam akhir bukan diciptakan dari debu tanah tapi disebut Ia lahir dari Roh Kudus :

* Matius 1:20 
LAI TB, Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus
KJV, But while he thought on these things, behold, the angel of the LORD appeared unto him in a dream, saying, Joseph, thou son of David, fear not to take unto thee Mary thy wife: for that which is conceived in her is of the Holy Ghost.
TR, ταυτα δε αυτου ενθυμηθεντος ιδου αγγελος κυριου κατ οναρ εφανη αυτω λεγων ιωσηφ υιος δαβιδ μη φοβηθης παραλαβειν μαριαμ την γυναικα σου το γαρ εν αυτη γεννηθεν εκ πνευματος εστιν αγιου
Translit Interlinear, tauta {(hal-hal) ini} de {tetapi} autou {dia} enthumêthentos {ketika memikirkan,} idou {perhatikanlah,} aggelos {Malaikat} kuriou {Tuhan} kat {didalam} honar {mimpi} ephanê {menampakkan dii} autô {kepada dia,} legôn {berkata,} iôsêph {Yusuf,} huios {anak (keturunan)} dabid {Daud} mê {janganlah} phobêthês {engkau merasa trakut} paralabein {untuk mengambil} mariam {Maria} tên gunaika {sebagai isteri} sou {mu,} to {(Anak yang)} gar {sebab} hen {didalam} autê {dia} gennêthen {terjadi/ dilahirkan} ek {dari} pneumatos {Roh} estin {yang} hagiou {Kudus}

* Lukas 1:35 
LAI TB, Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
KJV, And the angel answered and said unto her, The Holy Ghost shall come upon thee, and the power of the Highest shall overshadow thee: therefore also that holy thing which shall be born of thee shall be called the Son of God.
TR, και αποκριθεις ο αγγελος ειπεν αυτη πνευμα αγιον επελευσεται επι σε και δυναμις υψιστου επισκιασει σοι διο και το γεννωμενον αγιον κληθησεται υιος θεου
Translit Interlinear, kai {lalu} apokritheis {menjawab} ho {itu} aggelos {malaikat} eipen {berkata} autê {kepadanya} pneuma {Roh} hagion {Kudus} epeleusetai {akan datang} epi {atas} se {engkau,} kai {dan} dunamis {kuasa} upsistou {Yang Mahatinggi} episkiasei {akan menaungi} soi {engkau;} dio {karena itu} kai {juga} to {yang} gennômenon {dilahirkan} hagion {Kudus} klêthêsetai {akan dipanggil} huios {Anak} theou {Allah}

Perbedaan antara Adam yang pertama dan Adam yang akhir ditulis dalam Roma 5:15-18. Adam yang pertama penuh pelanggaran dan mengakibatkan semua orang berada di dalam kuasa maut. Sedangkan Adam yang akhir penuh kasih karunia yang membenarkan hidup kita. Oleh pelanggaran satu orang semua turut dihukum, tetapi oleh kasih karunia satu orang semua memperoleh hidup dalam kebenaran.

Kita tidak perlu mendalilkan sesuatu kenyataan dalam hal Adam dan umat manusia melebihi apa yang kita jumpai dalam hal Kristus dan UmatNya. Kristus adalah Kepala yang mewakili umatNya. Ke-kepala-an demikianlah yang mutlak mendasari solidaritas segenap umat manusia dalam keterhisapannya berdosa dalam dosa Adam. Kesejajaran Adam sebagai manusia pertama dengan Kristus sebagai Adam terakhir, menunjukkan bahwa azas yang berlaku dan mendasari tercapainya keselamatan dalam Kristus, adalah sama dengan azas yang berlaku yang menghisabkan manusia berdosa dan pewaris kerajaan maut.

Adam akhir, yaitu Kristus, yang menjadi roh yang menghidupkan. Kebangkitan Kristus, dengan kuasa Roh, menandai permulaan dari suatu umat manusia yang baru yang ikut serta dalam kehidupan baru yang merupakan pemberian kuasa Roh yang menghidupkan. Sejarah umat manusia dapat diterangkan sebagai dua sisi yang bertentangan yaitu :

(1) Dosa – kutuk maut
(2) Keadil-benaran pembenaran – hidup

Yang pertama timbul dari kesatuan manusia dengan Adam, yang kedua dari kesatuan dengan Kristus. Hanya kedua inilah sarana yang ada, yang didalamnya manusia hidup dan bergerak. Pemerintahan Allah terhadap manusia ditata sesuai bentuk kedua sisi itu. Jika kita mengabaikan Adam, maka kita tak akan mengerti Kristus dengan sesungguhnya. Semua yang mati – mati didalam Adam; semua yang dihidupkan – dihidupkan dalam Kristus.

Yang kedua adalah Adam akhir yaitu Kristus yang adalah Allah itu sendiri. Kalau orang belum menerima Kristus sebagai Tuhan didalam kehidupan-nya ia hanya Adam yang pertama yaitu manusia yang diciptakan dari debu tanah. Ada hukum debu kembali kepada debu (Kejadian 3:19). Mati kembali menjadi debu :

* Kejadian 3:19
LAI TB, dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”
KJV, In the sweat of thy face shalt thou eat bread, till thou return unto the ground; for out of it wast thou taken: for dust thou art, and unto dust shalt thou return.
Hebrew,
בְּזֵעַת אַפֶּיךָ תֹּאכַל לֶחֶם עַד שׁוּבְךָ אֶל־הָאֲדָמָה כִּי מִמֶּנָּה לֻקָּחְתָּ כִּי־עָפָר אַתָּה וְאֶל־עָפָר תָּשׁוּב׃
Translit, BEZE’AT ‘APEIKHA TOKHAL LEKHEM ‘AD SYUVKHA ‘EL-HAADAMAH KI MIMENAH LUQAKHTA KI-‘AFAR ‘ATAH VE’EL-AFAR TASYUV

Tetapi Adam yang akhir, membangkitkan, melahirkan kita dari air dan roh. Ada benih ilahi dalam kehidupan kita yang mengakibatkan kita tidak bisa mati tetapi akan hidup kekal bersama-sama dengan Dia. Manusia baru tidak berbuat dosa lagi karena kuasa dosa mati di dalam Dia. Manusia baru lepas dari kuasa dosa.

* 2 Korintus 5:17-18
5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
5:18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

Amin.

Blessings,
BP
November 20, 2006

Kepustakaan :
J Muller, The Christian Doctine of Sin
J Orr, Sin as a Problem of Today
FR Tennant, The Concept of Sin
C Rider Smith, The Bible Doctine of Sin
Ensiklopedia Alkitab masa Kini, Jilid 1, p 256-260

ADAM dan KRISTUS (Roma 5:12-21)

* Roma 5:12-22
5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
5:13 Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.
5:14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.
5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
5:16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.
5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
5:18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.
5:20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,
5:21 supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

PENDAHULUAN 

Mendahului penafsiran bagian ini diperlukan beberapa catatan.

1. Susunan perikop ini tidak mudah untuk dipahami lantaran ayat 13-17merupakan selingan yang memutuskan uraian pokok dalam perikop uu. Baru dalam ayat 18 Paulus melanjutkan pikiran yang telah dimulainya dalam ayat 12. Susunan tak keruan itu menyebabkan ketidakjelasan dalam ayat 12.

Pertama, tidak langsung jelaslah bagaimana sebab itu menghubungkan ayat 12 dengan ayat-ayat terdahulu. Hubungan itu menjadi terang kalau kita seakan-akan melompat ke ayat 18 dan menghubungkan isi ayat itu dengan 12 dan dengan bagian yang mendahului.

Kedua, tidak langsung jelas bagaimana hubungan antara sama seperti dan demikianlah. Dalam hal ini pun kita tertolong kalau kita melampaui dulu ayat 13-17 dan menghubungkan sama seperti dalam ayat 12 dengan demikian pula dalam ayat 18. (Lihat juga di depan, pada tafsiran ayat 12.)
2. Perikop ini termasuk yang paling sulit dalam seluruh Surat Roma. Pokok yang dibahas di dalamnya (Adam dan Kristus) kita temukan pula dalam 1 Korintus 15:21,45-49. Diskusi tentangnya berkisar pada dua persoalan:

(a) Dari mana gambaran tokoh Adam yang di sini dipertentangkan dengan pemberitaan tentang Kristus?

(b) Apa yang hendak diungkapkan melalui perbandingan antara Adam dan Kristus?
Di sini kita tidak dapat mendalami diskusi itu. Tafsiran kami bertolak dari pandangan bahwa perbandingan antara Adam dan Kristus di sini dicetuskan oleh keyakinan Yahudi bahwa umat Israel, dengan bantuan hukum Taurat, akan berhasil meniadakan kegagalan Adam. Israel akan menaati perintah Allah, dan dengan demikian Israel akan dikaruniai kehidupan dalam taman Eden yang baru, yaitu dalam dunia yang baru.

3. Oleh sebab itu pada awal ayat 12, perikop 5: 12-21 dihubungkan dengan 5: 1-11, bahkan dengan seluruh uraian 1: 16-5: 11. Berdasarkan uraiannya mengenai karya Kristus, Paulus kini menegaskan bahwa melalui karya itu Kristus mendirikan umat yang baru, bahkan umat manusia yang baru, sebagai ganti umat manusia yang lama. Hubungan antara Kristus dengan umat baru itu digambarkannya melalui perbandingan dengan peranan Adam sebagai perintis umat manusia yang lama. Dengan demikian karya Kristus ditempatkan di tengah seluruh alam dunia (ayat 12) dan seluruh sejarah (ayat 14,20, 21b).

Penjelasan ayat-per-ayat

5:12 LAI TB, Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
KJV, Wherefore, as by one man sin entered into the world, and death by sin; and so death passed upon all men, for that all have sinned:
TR, δια τουτο ωσπερ δι ενος ανθρωπου η αμαρτια εις τον κοσμον εισηλθεν και δια της αμαρτιας ο θανατος και ουτως εις παντας ανθρωπους ο θανατος διηλθεν εφ ω παντες ημαρτον
Translit interlinear, dia touto {karena itu} hôsper {sama seperti} di {melalui} henos {satu} anthrôpou {manusia} hê amartia {dosa} eis {ke dalam} ton kosmon {dunia} eisêlthen {telah masuk} kai {dan} dia {melalui} tês hamartias {dosa} ho thanatos {maut} kai {juga} houtôs {demikian} eis {ke dalam} pantas {semua} anthrôpous {manusia} ho thanatos {maut} diêlthen {pergi/ menjalar} eph hô {karena} pantes {semua (orang)} hêmarton {telah berdosa}

‘Oleh’ di sini terjemahan dia. ‘Dunia‘, Yunani kosmos. Susunan kalimat Yunani menunjukkan bahwa yang mendapat tekanan ialah ‘oleh satu orang … kepada semua orang‘. LAI ‘demikianlah’ agak kurang tepat, seakan-akan meneruskan ‘sama seperti’ pada awal ayat 12. Lebih tepat terjemahan ‘dan dengan demikian‘. Akibatnya, kalimat tidak jalan lagi, tetapi memang demikianlah kalimat dalam bahasa asli. Sebab ‘sama seperti‘ dalam 12a baru diteruskan oleh ‘demikian pula’ dalam 18b. ‘Masuk/menjalar‘, Yunani diêlthen. ‘Karena’ merupakan terjemahan eph hô [color], yang muncul juga dengan arti yang sama dalam 2 Korintus 5:4 dan Filipi 3:12.
Sebab‘ menghubungkan ayat 12 dengan bagian terdahulu, bandingkan pendahuluan, butir 3. Kata-kata “sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang” mengingatkan kita pada kisah Kejadian 3, mengenai perbuatan Adam. Nama Adam tidak disebut di sini. Sebab yang penting bukan tokoh Adam, melainkan dosa. Dosa itu seakan-akan merupakan kuasa yang mengincar manusia pertama itu, lalu memanfaatkan saat yang tepat untuk masuk ke dalam dunia. Dalam bahasa Yunanidunia di sini disebut kosmos, yang artinya keseluruhan alam yang diciptakan. Maka yang menjadi sasaran kuasa jahat, yaitu dosa, bukan hanya manusia, melainkan seluruh alam, seluruh ciptaan Allah yang ‘sungguh amat baik’ (Kejadian 1:31). Dosa itu masuk ke dalam dunia. Di depan mata kita muncul gambar tentara dahsyat yang memasuki wilayah negara lain dan menjajah seluruh negara itu. Atau, memakai gambar lain, kita melihat arus air yang mengalir deras lewat tanggul yang bobol menggenangi seluruh daerah hilir sungai.

Penjajahan itu membawa akibat mengerikan bagi seluruh wilayah jajahan. Sebab bersama dengannya datang juga maut. Maut itu bukanlah nasib yang telah menimpa umat manusia di luar kesalahannya, melainkan akibat dosa. Dalam Kejadian 3 memang tidak dikatakan tegas bahwa kedatangan maut ke dalam dunia merupakan hukuman atas dosa manusia pertama. Namun, hal itu tersirat dalam kisah mengenai jatuhnya manusia ke dalam dosa, dan dalam silsilah keturunan Adam dalam pasal-pasal berikutnya, yang mengulang terus ‘lalu ia mati’. Tetapi tidak hanya keturunan manusia menjadi korban maut; malah seluruh alam menderita karenanya, sebagaimana jelas dikatakan dalam Roma 8: 18-22.

Demikianlah‘ tidak melengkapkan sama seperti pada awal ayat 12 ini, tetapi meneruskan bagian kalimat yang mendahului. Sebaiknya kita baca, ‘dan demikian juga maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa’. LAI menjalar merupakan terjemahan perkataan Yunani yang arti harfiahnya ialah ‘pergi melalui, menjelajahi‘. Tadi dipakai gambar barisan tentara yang masuk, atau arus air dahsyat yang menggenangi tanah. Di sini kita melihat penjajah semakin menguasai kehidupan pribadi semua penduduk wilayah jajahan, sehingga tidak seorang pun dapat lolos dari cengkeraman mautnya. Dan kita lihat air menggenangi setiap tempat, mengisi setiap lobang, betapa pun kecilnya, hingga tidak ada lagi tempat kering ke mana orang atau binatang dapat melarikan diri. Tetapi untuk menjelaskan artinya kita dapat memakai juga kiasan lain. Umat manusia bagaikan sirkuit listrik. Sirkuit itu mengandung banyak unsur tersendiri, namun arus listrik melalui semua unsur itu masing-masing.

Banyak orang suka memandang kuasa dosa di dalam kehidupannya sebagai ‘nasib’. Kalau mereka ditanyai mengenai dosa-dosa tertentu yang telah mereka lakukan, mereka tidak mau mengakui bahwa mereka sendirilah yang bertanggungjawab. Tampaknya sikap mereka itu dibenarkan oleh Paulus. Tetapi dalam kata-kata terakhir ayat 12 pandangan itu ditolak. Sebab di situ tidak tertulis: sehingga semua orang telah berbuat dosa, tetapi: karena semua orang telah berbuat dosa. Di sini kita menemui salah satu rahasia yang digumuli umat manusia dari dulu. Orang merasa bahwa dosa lebih daripada sekadar perbuatan orang-orang perseorangan, bahwa dosa itu kuasa yang datang dari luar dan yang menggagahi manusia. Di pihak lain ada perasaan bahwa Tuhan menuntut agar manusia mempertanggung-jawabkan perbuatannya sendiri. Dalam beberapa agama, segi pertama yang diutamakan, sehingga dosa (dan dengan demikian juga maut) digambarkan sebagai nasib, atau sebagai sifat buruk yang melekat pada tabiat manusia yang jasmani. Agama lain, misalnya agama Yahudi pada zaman Paulus, mengutamakan segi kedua, sehingga di dalamnya ditegaskan bahwa manusia dapat juga tidak berdosa, asal saja ia mau mengikuti bimbingan Tuhan dalam wahyu-Nya.

Paulus tidak menempuh salah satu dari kedua jalan itu, sebab ia me¬mentingkan keduanya. Memang, dosa lebih daripada sekadar perbuatan perseorangan; dosa melibatkan seluruh umat manusia. Dalam hal ini orang-orang perseorangan seolah-olah terikat dengan ikatan yang tidak kentara, kepada orang lain, kepada angkatan-angkatan terdahulu sampai ke nenek-moyangnya yang pertama. Di sini kita teringat akan kiasan arus listrik tadi. Meskipun demikian, semua orang bersama-sama memikul tanggung-jawab atas perbuatan dosa dan akibatnya: karena semua orang telah berbuat dosa.

Paulus mengambil sikap ini bukan agar dapat mempersalahkan manusia yang malang. Dan tentu juga bukan dengan maksud menempuh jalan kompromi antara dua pendapat ekstrim, supaya pandangan Kristen seimbang. Paulus (pandangan Kristen) menonjolkan sifat umum dosa dan bersama dengannya juga tanggung jawab tiap-tiap orang atas dosanya, agar dengan demikian ditonjolkannya kasih karunia (rahmat) Tuhan. Hal itu belum tampak di sini, tetapi akan tampak dalam ayat 15, dan lebih jelas lagi dalam ayat 18-21. Sebab agama yang mengutamakan unsur tanggung jawab manusia menegaskan pula bahwa dengan bimbingan Tuhan orang dapat berhasil menghindari atau mengalahkan dosa, dan dengan demikian rahmat Tuhan itu cenderung menjadi bantuan bagi manusia yang sedang berupaya. Dengan cara yang sama, agama yang mengutamakan unsur nasib cenderung menasihati manusia agar dengan jalan menyelenggarakan upacara-upacara tertentu, atau mengejar ilmu tertentu, ia berupaya menghindari nasib itu. Hanya kalau kedua unsur itu digabungkan, manusia merasa dirinya sama sekali tergantung pada rahmat Tuhan, karena ia sama sekali tidak sanggup menolong diri sendiri.

5:13 LAI TB, Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.
KJV, (For until the law sin was in the world: but sin is not imputed when there is no law.
TR, αχρι γαρ νομου αμαρτια ην εν κοσμω αμαρτια δε ουκ ελλογειται μη οντος νομου
Translit interlinear, akhri {sebelum} gar nomou {hukum Taurat} hamartia {dosa} ên {telah ada} en {di dalam} kosmô {(manusia di) dunia} hamartia {dosa} de {tetapi} ouk {tidak} ellogeitai {dicatat/ diperhitungkan} mê {tidak} ontos {karena ada} nomou {hukum Taurat}

5:14a LAI TB, Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam,
KJV, Nevertheless death reigned from Adam to Moses, even over them that had not sinned after the similitude of Adam’s transgression,
TR, αλλ εβασιλευσεν ο θανατος απο αδαμ μεχρι μωσεως και επι τους μη αμαρτησαντας επι τω ομοιωματι της παραβασεως αδαμ
Translit interlinear, all {tetapi} ebasileusen {berkuasa} ho thanatos {maut} apo {sejak} adam {Adam} mekhri {sampai} môseôs {musa} kai {juga} epi {atas} tous {(orang2) yang} mê {tidak} hamartêsantas {berdosa} epi {atas} tô homoiômati {apa yg sama} tês parabaseôs {(dengan) pelanggaran} adam {adam}

Sebelum‘, Yunani akhri = hingga, sampai, yaitu sampai kedatangan hukum Taurat. ‘Dunia’ di sini juga kosmos. ‘Diperhitungkan‘, berbeda dengan Roma 4:3, di sini adalah terjemahan ellogeitai , yang berasal dari lingkungan perdagangan. Bandingkan juga Filemon 18. Bentuk pasif di sini menunjuk bahwa yang memperhitungkan adalah Allah (passivum divinum). Dalam ayat 14 ‘berkuasa’ merupakan terjemahan ebasileusen, yang serumpun dengan kata basileus, ‘raja’, ‘kaisar’. ‘Dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam’, harfiah ‘atas kesamaan/gambar pelanggaran Adam’. LAI tidak menampakkan perbedaan antara ‘dosa’ dalam ayat 13 (hamartia) dan ‘pelanggaran Adam’ dalam ayat 14 (parabasis). Perbedaan itu perlu kita perhatikan, agar memahami makna kedua ayat ini.
Dalam ayat 13 Paulus menjawab pertanyaan yang dapat timbul berdasarkan apa yang telah dikatakannya dalam ayat 12. Yaitu kalau maut (sebagai hukuman atas dosa) masuk ke dalam dunia karena semua orang telah berbuat dosa, mengapa maut itu menimpa juga mereka yang telah berdosa sebelum ada hukum Taurat? Pertanyaan itu bertolak dari keyakinan yang terdapat dalam kitab-kitab apokaliptik Yahudi, yaitu bahwa perbuatan orang dicatat dalam Kitab-kitab sorgawi, yang akan dibuka pada hukuman terakhir (Daniel 7: 10). Namun, pencatatan itu hanya berlaku berkaitan dengan perbuatan yang melanggar hukum yang ada, yaitu hukum Taurat, sesuai dengan keyakinan yang bersifat umum dan yang berlaku pula dalam sistem peradilan kita, yaitu kalau tidak ada peraturan hukum tidak bisa ada hukuman. Maka timbullah pertanyaan: mengapakah orang kena hukuman (maut) kendati mereka belum mengenal hukum Taurat?

Jawaban Paulus bertolak dari perbedaan antara ‘pelanggaran’ dan ‘dosa’. Adam telah melanggar perintah Tuhan yang tegas (Kejadian 2:17; 3:1 dyb.). Begitu pula dalam Roma 2:23 ‘pelanggaran’ dikaitkan dengan hukum Taurat. Maka dalam Roma 4:15 Paulus dapat berkata, ‘di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran’. ‘Pelanggaran’ itu adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar, berlawanan dengan kehendak Tuhan yang telah dinyatakan secara jelas. Sebaliknya, ‘dosa’ dalam ayat 13 tidak mengacu pada perbuatan manusia, tetapi pada kuasa yang menahan manusia (bnd. Lihat Roma 3:9).

Nah, kata Paulus di sini, kalian bertanya bagaimana saya sampai hati menyatakan bahwa ‘semua’ telah berdosa? Sebab sebelum hukum Taurat ada, dosa telah ada dalam dunia. Memang dosa itu tidak dicatat dalam Kitab-kitab yang akan dibuka dalam hukum terakhir. Namun, maut, sebagai akibat dosa yang tak terpisahkan darinya (ayat 12), telah berkuasa juga pada zaman pra-hukum itu, yaitu dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa. Artinya, mereka yang hidup pada zaman itu kena juga hukuman maut, meskipun dosa mereka tidak meliputi pelanggaran hukum Tuhan yang tegas, seperti halnya dosa Adam dan dosa orang-orang sesudah Musa yang telah menerima hukum Taurat.

Di sini Paulus memakai jalan pikiran lain dari dalam Roma pasal 1-3. Di situ pun ia menyatakan bahwa ‘seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah’ (Roma 3:20), bahwa ‘semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat, dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat’ (Roma 2:12). ‘Murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia’ (Roma 1:18), meskipun mereka hanya mengenal Dia dari alam ciptaan-Nya (Roma 1:19 dyb.). Perbedaannya, dalam Roma pasal 1-3 hal-hal itu dikatakan dengan maksud membuktikan kesalahan golongan yang membanggakan hukum Taurat, yaitu umat Yahudi (Roma 2:1 dyb., Roma 2:17 dyb.). Sebaliknya, di sini Paulus hendak membuktikan bahwa orang yang belum memiliki hukum Taurat pun kena akibat dosa. Namun, baik di sana maupun di sini sama saja maknanya, yaitu memperlihatkan bahwa ‘semua orang telah berbuat dosa’, bahwa dosa itu bersifat umum, agar sifat umum kasih karunia (rahmat) Tuhan lebih menonjol karenanya.

5:14b LAI TB, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.
KJV, who is the figure of him that was to come.
TR, ος εστιν τυπος του μελλοντος
Translit interlinear, hos {yang} estin {adalah} tupos {gambaran} tou {(Dia) yang} mellontos {akan datang}

Tambahan pada ayat 13-14 ini mengandung inti pokok seluruh peri kop ini. Wawasan inti itu akan diungkapkan lebih jelas dalam ayat 18-19. Istilah ‘gambaran‘, Yunani tupos, mula-mula berarti: acuan, cetakan, kemudian juga: gambaran, bahkan juga: bentuk, sosok. Baiklah juga kita perhatikan artinya yang asli, sebab hal itu akan membantu kita memahami maksud perbandingan antara Adam dan Kristus yang dilakukan Paulus dalam perikop ini. Soalnya, di satu pihak Paulus menyamakan Adam dan Kristus dalam hal ini: dua-duanya menjadi pelopor seluruh umat manusia, sehingga perbuatannya membawa akibat yang jauh bagi semua orang (ayat 15, satu … semua). Tetapi ada pula perbedaan besar antara keduanya. Adam tidak menjadi gambaran (tipologi) Kristus dengan cara yang sama seperti Musa atau Daud.

Pendahuluan Roma 5:15-17

Dalam 15-17 Paulus lebih dulu menonjolkan perbedaan antara Adam dan Kristus, karena ia ingin mencegah salah paham mengenai kesamaan yang memang ada (bandingkan ayat 14b). Kesamaan itu baru akan diungkapkan dalam ayat 18. Demi pemahaman yang tepat mengenai ketiga ayat yang sulit ini perlu kita perhatikan dua hal.

(1) Di dalamnya perbedaan antara Adam dengan Kristus dinyatakan dalam dua kalimat singkat (l5a dan 16a), yang masing-masing disusul penjelasan tentang perbedaan itu (15b dan 16b-17).

(2) Struktur penalaran Paulus dalam 15b dan 16b-17 tidak berjalan sesuai dengan logika kita (lihat tafsiran). Sebabnya, sifat unik kasih karunia (rahmat) Tuhan membuat mustahil setiap perbandingan dengan barang apa pun dari lingkungan manusia.

5:15 LAI TB, Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
KJV, But not as the offence, so also is the free gift. For if through the offence of one many be dead, much more the grace of God, and the gift by grace, which is by one man, Jesus Christ, hath abounded unto many.
TR, αλλ ουχ ως το παραπτωμα ουτως και το χαρισμα ει γαρ τω του ενος παραπτωματι οι πολλοι απεθανον πολλω μαλλον η χαρις του θεου και η δωρεα εν χαριτι τη του ενος ανθρωπου ιησου χριστου εις τους πολλους επερισσευσεν
Translit interlinear, all {tetapi} oukh {tidak} hôs {seperti} to paraptôma {pelanggaran itu} houtôs {demikian} kai {juga} to kharisma {kasih karunia} ei {jika} gar {sebab} tô tou henos {satu (orang)} paraptômati {karena pelanggaran} hoi polloi {banyak (orang)} apethanon {telah mati} pollô mallon {bahkan lebih banyak (orang)} hê kharis {kasih karunia/ anugerah} tou theou {dari Allah} kai {dan} hê dôrea {pemberian} en {karena} khariti {kemurahan-hati} tê tou henos {dari satu} anthrôpou {manusia} iêsou {Yesus} khristou {Kristus} eis {kepada} tous pollous {banyak (orang)} eperisseusen {melimpah}

‘Karunia’ dalam 15a kharisma, dalam 15b dôrea. Tambahan ‘Allah’ (15a) tidak ada dalam naskah Yunani. LAI ‘telah jatuh ke dalam kuasa maut’, Yunani apethanon, ‘telah mati’. Bentuknya adalah bentuk aoristus, yang di sini dapat dipandang sebagai aoristus ingressivus: mulai mati. ‘Semua orang’ dalam 15a dan 15b hoi polloi, ‘yang banyak’. Namun, terjemahan LAI bukan tidak tepat, sebab jelaslah Paulus di sini memakai ‘banyak’ dengan arti inklusif. Dalam 15b LAI mengubah susunan kalimat Yunani (lihat catatan didepan).
Kalimat pertama ayat 15 menyatakan adanya perbedaan antara Adam dan Kristus, yaitu antara perbuatan masing-masing dan dengan demikian antara akibat perbuatan itu. Perbuatan Adam ialah pelanggaran, dosa pertama dalam firdaus, yang telah mencelakakan seluruh keturunannya (ayat 12-14). Sebaliknya, perbuatan Kristus (yang memperlihatkan rahmat Allah) ialah penganugerahan karunia (bandingkan terjemahan LAI dalam 16b).

Sesungguhnya, perbandingan ini tidak berjalan sesuai dengan logika manusia. Sebab, menurut penalaran yang wajar, lawan ‘pelanggaran’ ialah ‘ketaatan’. Tetapi kalau di sini ‘karunia’ menggantikan ‘ketaatan’ menjadi lawan ‘pelanggaran’, hal itu memang bermakna. Sebab dalam berbuat pelanggaran, manusia memang aktif (pelaku). Tetapi karunia Allah tidak dapat dikerjakan atau dihasilkan oleh manusia; ia hanya dapat menerimanya.

Lalu sebab membuka kalimat yang menjelaskan lebih lanjut perbedaan antara ‘pelanggaran Adam’ dan penganugerahan karunia oleh Kristus. Dalam ayat 15 ini perbedaan tersebut dipandang dari sudut efektivitas atau keampuhan perbuatan masing-masing. Jauh lebih besar keampuhan perbuatan Kristus. Kita dapat bertanya: di mana letaknya ‘yang lebih besar’ itu? Bukan dalam luasnya dampak perbuatan itu. Sebab, perbuatan

Adam dan perbuatan Kristus membawa akibat yang sama-sama meliputi seluruh umat manusia. Kelebihan perbuatan Kristus dinyatakan oleh kata kerja ‘berlimpah’ (lihat catatan 4 di bawah). Rahmat Allah di dalam Kristus jauh lebih kuat daripada dosa dan maut, sehingga mengatasi seluruh perlawanan. Rahmat itu bagaikan sungai besar, yaitu sungai kehidupan, yang mengalir ke (demikianlah memang arti kata depan Yunani eis) seluruh umat manusia (‘yang banyak’) untuk membersihkannya dari akibat-akibat dosa (ayat 12). Dosa dan maut seakan-akan dihanyutkan oleh sungai itu.

Kita menambahkan beberapa catatan.

(1) Dalam naskah Yunani ‘satu orang’ memakai kata sandang: tau henos, harfiah: yang satu. Artinya, bukan sembarang orang, melainkan ‘yang satu itu’, yaitu Adam, cikal bakal umat manusia, dan Kristus, perintis umat manusia yang baru.

(2) LAI menggabungkan hê dôrea en khariti menjadi satu perkataan: ‘karunia-Nya’. Agaknya lebih tepat kalau en khariti dst. diterjemahkan: ‘oleh anugerah manusia yang satu itu, yakni Yesus Kristus’. Bandingkan rumus ‘anugerah Yesus Kristus’ dalam 1 Korintus 16:23 dll.

(3) LAI menjadikan ‘Allah’ sebagai subyek eperisseusen (berlimpah), sehingga terjemahannya menjadi ‘dilimpahkan-Nya’. Sebaliknya, dalam kalimat Yunani ‘karunia’ dst. yang menjadi subyek. Karunia itulah yang berlimpah, bagaikan sungai yang menghanyutkan dosa dan maut.

(4) eperisseusen, ‘berlimpah’, memakai bentuk aoristus, sehingga menunjukkan peristiwa masa lampau. Mengingat tambahan ‘oleh anugerah Yesus Kristus’ (catatan 1), kita harus menghubungkan ‘berlimpah’ itu dengan peristiwa-peristiwa yang telah memuncak dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Kematian dan kebangkitan itulah yang mencetuskan kasih karunia dan karunia yang begitu besar.
Bagian kedua perbandingan ini menyimpang dari jalan pikiran yang berlaku dalam lingkungan agama Yahudi. Sebab bukan ketaatan (perbuatan amal) manusia yang taat yang ‘lebih besar’ (lebih besar dampaknya) daripada pelanggaran Adam, melainkan kasih karunia Allah. Jalan pikiran itu kita temukan dalam salah satu karangan Yahudi dari zaman sesudah Paulus, ‘Kalau engkau ingin mengenal upah orang benar di masa depan, pergilah mengenalnya dari nasib manusia pertama. [ … ] Manusia pertama itu disuruh memelihara hanya satu perintah, tetapi ia melanggarnya. Alangkah banyaknya kematian yang menjadi hukuman atas dia dan atas keturunannya dan keturunan dari keturunannya hingga akhir keturunannya! Lalu bagaimana? Ukuran mana yang besar, ukuran rahmat ilahi atau ukuran hukuman? Katakanlah: ukuran rahmat. [ … ] Maka bilamana menurut ukuran hukuman, yang lebih kecil, sekian banyak kematian yang menjadi hukuman atas keturunannya [ … ], lebih-lebih orang yang menghindari makanan persembahan korban yang terlarang, dan yang berpuasa pada Hari Raya Pendamaian, memperoleh jasa amal bagi dirinya dan bagi keturunannya dan bagi keturunan dari keturunannya hingga akhir keturunannya’ (Siphra Leviticus [Imamat] 5:17, dikutip dalam komentar Strack-Billerbeck, III, 230). Di sini lawan ‘pelanggaran’ memang ‘ketaatan’. Rahmat Tuhan benar-benar dipuji. Tetapi yang menjadi subyek (pelaku) tetaplah manusia.

5:16 LAI TB, Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.
KJV, And not as it was by one that sinned, so is the gift: for the judgment was by one to condemnation, but the free gift is of many offences unto justification.
5:16 και ουχ ως δι ενος αμαρτησαντος το δωρημα το μεν γαρ κριμα εξ ενος εις κατακριμα το δε χαρισμα εκ πολλων παραπτωματων εις δικαιωμα
Translit interlinear, kai {lalu} oukh {tidak} hôs {seperti} di {karena} henos {satu (orang)} hamartêsantos {berdosa} to dôrêma {pemberian/ anugerah} to men {(di satu pihak)} gar {sebab} krima {penghakiman/ vonis} ex {karena} henos {satu (pelanggaran)} eis {kedalam/ menuju ke / menghasilkan} katakrima {hukuman} to de {di lain pihak} kharisma {karunia} ek {karena} pollôn {banyak} paraptômatôn {pelanggaran2} eis {kepada/ menghasilkan} dikaiôma {pembebasan}

Terjemahan harfiah 16a berbunyi, ‘Dan tidak seperti oleh satu (orang) yang telah berdosalah pemberian’. Jelaslah kalimat perlu dilengkapkan; antara tanda kurung persegi kita sebaiknya mengisi misalnya ‘penghakiman’ (dari 16b). Begitu pula terjemahan harfiah bagian pertama 16b berbunyi, ‘sebab penghakiman dari satu (ex henos) telah … ‘. Kita dapat melengkapkan kalimat dengan menambahkan ‘pelanggaran’ atau ‘manusia’. Krima berarti ‘keputusan hakim’, tetapi juga ‘ (pelaksanaan) hukuman’ , sedangkan katakrima adalah penghukuman. ‘Mengakibatkan’, Yunani eis, menuju ke. Dikaioma biasanya berarti ‘tuntutan hukum’ (Roma 1:32; 2:26), tapi di sini diterjemahkan ‘pembenaran’, ‘pemyataan bahwa seseorang tidak bersalah’, karena merupakan pasangan ‘penghukuman’ (lain lagi dalam 17b).
Dalam ayat 16 Paulus merumuskan perbedaan antara Adam dan Kristus dari sudut pandangan lain, yaitu dari sudut akibat perbuatan masing-masing. Akibat dosa Adam yang tunggal itu ialah hukuman atas seluruh keturunannya (bandingkan Kejadian 3:17). Hukuman itu menyebabkan dosa berlimpah terus, sehingga seluruh umat manusia ikut terlibat dalam kesalahan dan menghadapi penghukuman dalam hukuman terakhir Sebaliknya, karunia Kristus, yang notabene harus bertolak dari (ex) kesalahan seluruh umat manusia (banyak pelanggaran itu) menghasilkan pembenaran, sehingga penghukuman dalam hukuman terakhir dihapuskan.

Dalam ayat ini tidak dikatakan bahwa karunia Allah ‘jauh lebih besar lagi’. Namun, hal itu juga yang hendak dikatakan Paulus, sama seperti dalam ayat 15 dan 17, sehingga LAI berani menerjemahkan, tidak berimbangan. Soalnya, perkembangan yang bertolak dari satu pelanggaran dan yang lewat hukuman menuju ke penghukuman atas seluruh umat manusia merupakan perkembangan yang wajar. Sekali jalan itu ditempuh, manusia tidak usah berupaya lagi, sebab tujuannya tercapai dengan sendirinya. Sebaliknya, karunia menghadapi tugas yang jauh lebih sulit. Sebab karunia itu harus meniadakan kesalahan umat manusia yang telah bertumpuk sepanjang abad menjadi banyak pelanggaran.

Perbedaan tersebut dapat kita jelaskan dengan memakai contoh dari kehidupan sehari-hari. Kita semua tahu bahwa merusak sesuatu jauh lebih mudah daripada memperbaiki atau memulihkannya. Lebih mudah bikin rusak suatu alat daripada memperbaikinya; lebih mudah mencabut tanaman daripada menanamkannya lagi sehingga kembali bertumbuh; lebih mudah merusak nama baik seseorang atau hubungan baik antara dua orang daripada memulihkannya. Begitu juga jauh lebih mudah merusak hubungan antara umat manusia dengan Tuhan Allahnya daripada memulihkannya. Untuk merusaknya hanya perlu mendengarkan bisikan ular, mengulurkan tangan, dan mengecap satu buah. Untuk memulihkannya perlu meninggalkan kemuliaan surgawi, mengalami penderitaan yang tak terkatakan dan kematian yang hina, serta pembangkitan oleh tangan Tuhan yang perkasa.

Untuk mengungkapkan perbedaan sifat antara perbuatan Adam dan perbuatan Kristus itu, kita dapat juga memakai kiasan lain: dosa pertama merupakan langkah pertama di jalan yang menurun. Mudah saja berjalan kaki atau naik sepeda di jalan yang menurun; demikian juga sesudah Adam perluasan kuasa dosa agaknya tidak menemukan kesulitan (Kejadian pasal 4-5). Sebaliknya, anugerah Tuhan yang memulihkan hubungan antara Tuhan dengan manusia seolah harus lewat jalan yang menanjak, dan berjalan di atas jalan yang menanjak berat.

Akhirnya kita mencatat sekali lagi (bandingkan ayat 15) bahwa penalaran Paulus tidak sesuai dengan logika manusia. Wajarlah perkara hukum yang dicetuskan oleh pelanggaran berakhir dengan (peng)hukuman. Tetapi bahwa banyak pelanggaran menghasilkan pembenaran (pernyataan tidak bersalah), hal itu menurut ukuran manusia jauh lebih sulit, bahkan sama sekali tidak wajar, dan luar biasa.

5:17 LAI TB, Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
KJV, For if by one man’s offence death reigned by one; much more they which receive abundance of grace and of the gift of righteousness shall reign in life by one, Jesus Christ.)
TR, ει γαρ τω του ενος παραπτωματι ο θανατος εβασιλευσεν δια του ενος πολλω μαλλον οι την περισσειαν της χαριτος και της δωρεας της δικαιοσυνης λαμβανοντες εν ζωη βασιλευσουσιν δια του ενος ιησου χριστου
Translit interlinear, ei {jika} gar {sebab} tô tou henos {satu (orang)} paraptômati {karena pelanggaran} ho thanatos {maut} ebasileusen {telah berkuasa} dia {melalui} tou henos {satu (orang) itu} pollô mallon {dengan lebih banyak (orang)} hoi {(orang2) yang} tên perisseian {kelimpahan} tês kharitos {anugerah} kai {dan} tês dôreas {pemberian} tês dikaiosunês {status yg dibenarkan} lambanontes {menerima} en {dalam} zôê {hidup (kekal)} basileusousin {akan berkuasa} dia {melalui} tou henos {satu (orang)} iêsou {Yesus} khristou {Kristus}

Sebab‘ tidak menjelaskan 16b, tetapi mengaitkan ayat 17 dengan 15a dan 16a. LAI ‘dosa’ merupakan terjemahan paraptômati, yang dalam ayat 15 dan 16 diterjemahkan ‘pelanggaran’; sebaiknya di sini pun terjemahan itulah yang dipakai. Ebasileusen (berkuasa) merupakan bentuk aoristus, yang di sini dapat diterjemahkan ‘telah mulai berkuasa’ (aoristus ingressivus). ‘Kelimpahan’ harus dihubungkan baik dengan ‘kasih karunia’ maupun dengan ‘anugerah kebenaran’: dua-duanya berlimpah-limpah.
Dalam ayat 15 Paulus telah berbicara tentang kelimpahan karunia. Dalam ayat 16 ia menyebutkan pembenaran sebagai isi karunia yang berlimpah-limpah itu. Dalam ayat 17 kedua perkataan kunci dari 15 dan 16 kembali dipakai, yaitu kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran (= pembenaran dari ayat 16). Maka dalam ayat ini ia seakan-akan menarik kesimpulan dari kedua ayat terdahulu itu. Yaitu ia menggambarkan kemuliaan yang akan diwarisi mereka yang telah menerima karunia dan anugerah kebenaran yang berlimpah-limpah itu.

Mendahului kesimpulan itu, Paulus mengulang perkataannya dalam ayat 15, yaitu bahwa orang telah jatuh ke bawah kuasa maut. Hanya, rumus di sini lain, karena mau dijadikan sejajar dengan rumus dalam 17b, yang merupakan inti ayat ini. Akibat perbuatan Adam maut itu telah mulai berkuasa. Lalu, sepanjang sejarah, maut menjadi’ penguasa yang lahm, yang bersama pembantunya, yaitu penyakit, kelaparan, dst., menganiaya seluruh umat manusia. Dalam bahasa Yunani ‘berkuasa’ serumpun dengan ‘raja’ (basileus). Maut ‘telah menjadi basileus’ . Oleh rakyat berbahasa Yunani kaisar Romawi sering disebut dengan gelar basileus. Dalam PB gelar itu sering dipakai dalam hubungan dengan Allah. Jadi, ‘berkuasa’ bisa saja ditafsirkan sebagai: menjadi penguasa tertinggi di dunia, yang kepadanya segala sesuatu makluk. Dalam hal seorang raja manusiawi yang lalim, rakyat masih bisa mengelak dengan berpindah ke wilayah seorang raja lain. Tetapi raja ini, yaitu maut, berkuasa di seluruh dunia, sehingga tidak mungkin luput darinya. Kedudukan itu diperolehnya lantaran perbuatan ‘yang satu’, leluhur kita yang menjadi penentu nasib seluruh keturunannya. Paulus mengulangi lagi: oleh satu orang supaya jelaslah perbandingan dengan satu orang yang lain itu, yaitu Yesus Kristus.

Lalu sekali lagi Paulus mengadakan perbandingan dengan berkata ‘lebih-Iebih’. Maka, sama seperti dalam ayat 15 dan 16, kita bertanya: dimana letaknya kelebihan itu? Agaknya bukan dalam kepastian (LAI lebih benar) yang lebih besar. Apa yang lebih pasti daripada kenyataan bahwa maut berkuasa dalam dunia ini? Sesuai dengan LAI TB (‘lebih besar’) kita harus mencari kelebihan itu dalam besarnya kemuliaan yang akan diperoleh melalui (dia) Kristus yang telah menjadi ‘yang satu’ bagi kita sebagai ganti Adam. Melalui Dia kita telah memperoleh kelimpahan kasih karunia (bandingkan ayat 15) dan anugerah kebenaran (ayat 16). Dengan demikian hukuman atas dosa tidak berlaku lagi dan juga upah dosa, yaitu maut (Roma 6:.23), dihapuskan. Maut tidak berkuasa lagi, jadi kita akan hidup. Tetapi Itu belum cukup. Sekali lagi besarnya kasih karunia Allah mematahkan kerangka penalaran manusiawi: Paulus tidak berkata bahwa ‘kehidupan akan berkuasa’, tetapi bahwa mereka yang telah menerima kelimpahan … akan hidup dan berkuasa.

‘Hidup dan berkuasa’ Yunaninya en zôê basileusousin, harfiah ‘akan menjadi raja dalam kehidupan’. Bentuk kata kerja, yang memakai kala mendatang, menunjukkan kepada kita arti ‘kehidupan’ itu, yaitu kehidupan kekal. Maka kita dapat menerjemahkan pula, ‘akan menjadi raja dalam kehidupan kekal’.
Bukankah itu yang dijanjikan Yesus kepada murid-murid-Nya? (Matius 19:28; bnd. 2 Timotius 2:12; Wahyu 5:10; 22:5). Hanya, agar kita tidak menyalahgunakan perkataan yang indah ini, perlu kita perhatikan tiga hal.

Pertama, ‘berkuasa’ di sini memakai bentuk kala mendatang. Kedudukan luhur itu, yang keluhurannya malah melebihi kuasa maut sekarang, merupakan janji. Kita, gereja Kristen, belum dapat menuntut kuasa’ sebagai raja di bumi’ (Wahyu. 5: 10). Di dunia ini kita turut memiliki ‘rupa seorang hamba’ yang telah diterima Kristus (Filipi 2:7).

Kedua, kedudukan itu kita peroleh oleh … Yesus Kristus. Kedudukan itu merupakan pemberian, sehingga kita tidak boleh berbangga (‘bermegah’) karenanya. Ketiga, kita memperolehnya karena telah menerima … anugerah kebenaran. Anugerah kebenaran itu adalah pembenaran orang berdosa, bahkan yang telah melakukan ‘banyak pelanggaran’ (ayat 17). Kenyataan’ itu pun seharusnya mencegah kita bersombong karena status kita sebagai orang Kristen. Semuanya hanya merupakan hasil rahmat Tuhan, tidak ada yang dari kita sendiri.

Kesimpulan Roma 5:15-17 dan Pendahuluan Roma 5:18-21

(1) Dalam ayat 15-17 Paulus telah menjelaskan ketidaksamaan antara Kristus dan Adam. Ia telah menegaskan bahwa memang ada satu kesamaan, yaitu kedudukan masing-masing sebagai ‘yang satu’ berhadapan de¬ngan umat manusia, yang nasibnya ditentukannya. Namun, dalam semua hal yang lain keduanya tidak sama. Setelah ketidaksamaan itu jelas, baru perbandingan antara keduanya dilanjutkan. Perbandingan itu dimuat dalam tiga kalimat yang memakai kerangka sama seperti … demikian pula (ayat 18, 19,21).

(2) Kita telah melihat bahwa penalaran Paulus tidak sesuai dengan logika kita. Kepincangan itu tidak berarti bahwa pikiran Paulus kacau, tetapi bahwa kelimpahan kasih karunia Tuhan mematahkan seluruh pikiran manusia. Justru kelimpahan kasih karunia itulah yang merupakan amanat Injil Yesus Kristus.

5:18 LAI TB, Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
KJV, Therefore as by the offence of one judgment came upon all men to condemnation; even so by the righteousness of one the free gift came upon all men unto justification of life.
TR, αρα ουν ως δι ενος παραπτωματος εις παντας ανθρωπους εις κατακριμα ουτως και δι ενος δικαιωματος εις παντας ανθρωπους εις δικαιωσιν ζωης
Translit interlinear, ara oun {sebab itu} hôs {seperti} di {karena/ melalui} henos {satu} paraptômatos {pelanggaran} eis {kepada} pantas {semua} anthrôpous {manusia} eis {ke dalam} katakrima {hukuman} houtôs {demikian} kai {pula} di {karena/ melalui} henos {satu} dikaiômatos {perbuatan yg benar} eis {kepada} pantas {semua} anthrôpous {manusia} eis {ke dalam (menghasilkan)} dikaiôsin {pembebasan} zôês {untuk hidup (kekal)}

‘Sebab itu’ Yunani ara oun, ‘maka’, ‘jadi’ (bandingkan Roma 7:3,25 dll.). Dilihat dari sudut tata bahasa henos (satu) dapat dihubungkan dengan pelanggaran/ perbuatan kebenaran (LAI) atau dilengkapkan dengan ‘orang’ (KB); melihat keseluruhan perikop ini agaknya yang kedua yang tepat, ‘oleh pelanggaran satu orang’.Dikaiômatos di sini berarti ‘perbuatan yang benar’, karena di sini sejajar dengan ‘ketaatan’ dalarn ayat 19 (bnd. ayat 16). Dalarn eis dikaiosin zoes (harfiah: ‘menuju ke pembenaran kehidupan’), bentuk genitivus zoes agaknya mengungkapkan hasil ‘pembenaran’ itu (LAI ‘untuk hidup’). ‘Semua’ di sini pantas, bukan hoi polloisebagaimana dalam ayat 15 dan 19. Perlu dicatat bahwa ayat ini padat, seperti halnya 15a dan 16a; tidak ada kata kerja. Bunyi harfiah 18a, ‘Jadi, sarna seperti oleh pelanggaran satu orang menuju ke semua orang menuju ke penghukuman’; susunan bagian kedua sejajar dengan itu.
Terjemahan sebab itu dapat menyesatkan, karena ayat 18 bukanlah penjelasan tentang ayat atau ayat-ayat terdahulu. Sebaliknya, ayat 18 melanjutkan perbandingan dalam ayat 14c, yang untuk sementara waktu dihentikan sebab ketidaksamaan antara Adam dan Kristus hendak ditegaskan lebih dulu.

Maka kini Paulus menunjukkan kesamaan antara Adam dan Kristus, meski sesungguhnya di sini juga kesamaan itu bersifat negatif. Oleh pelanggaran leluhur yang satu itu, semua orang beroleh penghukuman. Akibat -akibat pelanggaran itu telah digambarkan dalam ayat 12-17: dosa merajalela, maut berkuasa. Gambaran lebih rinci kita temukan dalam Roma 1: 18-3:20. Di sini secara singkat-padat dikatakan ‘penghukuman’, hukuman terakhir, sebagai puncak dan titik akhir jalan yang telah ditempuh manusia di dalam leluhurnya Adam.

Begitu pula, perbuatan Kristus membawa akibat yang meliputi seluruh umat manusia. Perbuatan itu di sini disebut perbuatan kebenaran. Artinya, Kristus telah melakukan kehendak Tuhan dengan sempurna (ayat 19), sehingga Dia ‘benar’ di mata Allah. Dengan demikian diperoleh-Nya ‘pembenaran’ untuk ‘yang banyak’, yang di sini juga (bnd. 15) boleh diterjemahkan semua orang. Perbuatan kebenaran itu membawa hasil lebih besar lagi. Sebab manusia beroleh kehidupan karenanya. Kehidupan itu mencakup segala sesuatu yang bertentangan dengan ‘maut’: kebahagiaan (yang telah dimiliki orang percaya sekarang ini), kedekatan dengan Tuhan (yang telah kita rasakan sekarang, dan yang akan kita rasakan benar-benar dalam dunia yang akan datang), dan keadaan tidak dapat mati (yang masih merupakan janji).

Tinggal satu catatan, yaitu mengenai kata-kata semua orang itu. Bahwa semua orang kena getah perbuatan Adam dan terlibat di dalamnya, hal itu kiranya tidak perlu dijelaskan. Apa yang dikatakan dalam ayat 12, yaitu bahwa maut telah menjalar kepada semua orang, merupakan kenyataan di depan mata kita. Tetapi kalau dikatakan bahwa semua orang beroleh kebenaran untuk hidup, bagaimana perkataan itu harus kita artikan? Sebaiknya nas ini tidak kita kupas secara rasional. Di dalamnya kita lihat pernyataan luasnya kasih Allah dan besarnya kuasa Kristus. Memang, Kristus adalah pengganti Adam, sebagai pelopor umat manusia; melalui kebangkitan-Nya Dia menjadi ‘buah sulung’ umat manusia yang baru (1 Korintus 15:23). Tetapi kita ingat pula akan kata-kata peringatan yang diucapkan Tuhan Yesus dan yang tertulis dalam kitab-kitab Injil, serta akan perkataan Paulus sendiri dalam 2 Tesalonika 1:9. Begitu pula kita tidak lupa akan anjuran Paulus yang terus-menerus supaya orang Kristen hidup sesuai dengan panggilan mereka, agar mereka tidak kehilangan warisan yang telah mereka peroleh (bandingkan misalnya 1 Korintus 10: 1-14; Efesus 5: 1-6; dan juga Wahyu 2-3).

5:19 LAI TB, Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.
KJV, For as by one man’s disobedience many were made sinners, so by the obedience of one shall many be made righteous.
TR, ωσπερ γαρ δια της παρακοης του ενος ανθρωπου αμαρτωλοι κατεσταθησαν οι πολλοι ουτως και δια της υπακοης του ενος δικαιοι κατασταθησονται οι πολλοι
Translit interlinear, hôsper {sama seperti} gar {sebab} dia {karena} tês parakoês {ketidak-taatan} tou henos {dari satu} anthrôpou {orang} hamartôloi {yang berdosa} katestathêsan {telah dijadikan} hoi polloi {banyak (orang)} houtôs {demikian} kai {juga} dia {karena} tês hupakoês {ketaatan} tou henos {dari satu (orang)} dikaioi {menjadi benar} katastathêsontai {akan dijadikan} hoi polloi {banyak (orang2)}

‘Jadi’ sebaiknya diganti ‘sebab’ (gar), karena ayat 19 ini tidak hanya mengulang ayat 18, tetapi merupakan juga penjelasannya. ‘Ketidaktaatan’, Yunani parakoês, harfiah: tidak-mau-dengar. ‘Telah menjadi … menjadi’, Yunani katestathêsan (aoristus) … katastathêsontai (kala mendatang). Arti harfiah bentuk pasif kata kerja kathistanein itu ‘ditempatkan sebagai’, ‘dijadikan’, tapi bentuk pasif ini biasanya diterjemahkan ‘menjadi’, maka artinya tidak berbeda dengan ‘ginesthai’ . Dalam ayat ini muncul kembali hoi polloi = ‘yang banyak/semua’, bandingkan ayat 15 dan 18.
Ayat ini menjelaskan arti perbandingan dalam ayat 18. Tegasnya: ayat ini menjelaskan bagaimana pelanggaran satu orang bisa menjerumuskan semua orang sehingga ‘beroleh penghukuman’. Juga bagaimana oleh perbuatan satu orang semua orang ‘beroleh pembenaran untuk hidup’ .

Jawabnya, ‘semua orang’ itu tidak dihukum karena dosa seorang lain, yaitu dosa Adam. Sebaliknya, oleh dosa itu mereka sendirilah telah menjadi orang berdosa. Hubungannya lebih jelas lagi kalau kita terjemahkan, ‘mereka dijadikan orang berdosa’. Begitu pula, orang tidak ‘beroleh pembenaran untuk hidup’ hanya karena perbuatan seorang lain, yaitu perbuatan Kristus. Tetapi oleh perbuatan Kristus itu mereka sendirilah akan menjadi orang benar di mata Tuhan. Karena dipakai bentuk kala mendatang, kita dapat menafsirkan, ‘mereka akan ternyata benar dalam hukuman terakhir’. Tetapi dalam ayat 1 dan 9, status orang benar itu dikaitkan dengan kehidupan orang percaya, sehingga di sini juga kita dapat menghubungkannya dengan kehidupan kita sekarang.

Dengan demikian Paulus telah menjelaskan lebih jauh arti kata-kata ‘yang adalah gambaran Dia yang akan datang’ dalam ayat 14. Sebagaimana ada hubungan yang tersembunyi. namun sangat erat, antara Adam dengan umatnya, begitu pula ada hubungan yang sangat akrab antara Kristus dan umat-Nya. Sebagaimana umat manusia senasib dengan Adam, begitu juga umat manusia yang baru senasib dengan Kristus.

Nas ini mengandung unsur lain lagi. Pelanggaran Adam (18) disebut ketidaktaatan. Ketidaktaatan itu digambarkan dalam Kejadian 3, banding¬kan juga Roma 8: 7. Sebaliknya, perbuatan kebenaran yang telah dilakukan Kristus ialah ketaatan-Nya. Sebagaimana dikatakan-Nya sendiri, Kristus selalu melakukan kehendak Bapa-Nya: Yohanes 4:34; 5:30 dll.; bandingkan Filipi 2:8. Khususnya kematian-Nya merupakan bukti ketaatan itu (Matius 26:42).

Ketaatan itu adalah ketaatan kepada Allah, yang ‘telah menentukan Dia menjadi jalan pendamaian’ (Roma 3:25; bandingkan 2 Korintus 5:19). Ketaatan itu begitu sempurna, sehingga bagi Paulus kasih Allah dan kasih Kristus satu (bandinglam Roma 5:8 dengan Galatia 2:20). Dikatakan bahwa Allah menyerahkan Kristus (Roma 4:25; 8:32), tapi juga bahwa Kristus menyerahkan diri (Galatia 1:4). Paulus dapat memuji kasih karunia Allah atau kasih karunia Kristus dalam hubungan yang sama saja (bandingkan Roma 1:5 dengan Galatia 1: 15; 2 Korintus 8:1 yang di dalamnya LAI mengabaikan tau theou dengan 2 Korintus 8:9). Maka dalam ketaatan Kristus nyatalah kesatuan Kristus dengan Allah, sekaligus kesatuan Allah dengan Kristus.

5:20 LAI TB, Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,
KJV, Moreover the law entered, that the offence might abound. But where sin abounded, grace did much more abound:
TR, νομος δε παρεισηλθεν ινα πλεοναση το παραπτωμα ου δε επλεονασεν η αμαρτια υπερεπερισσευσεν η χαρις
Translit interlinear, nomos {hukum taurat} de {tetapi} pareisêlthen {telah masuk sebagai tambahan} hina {supaya} pleonasê {bertambah} to paraptôma {pelanggaran2} hou {di mana} de {tetapi} epleonasen {bertambah} hê hamartia {dosa} hupereperisseusen {lebih berlimpah2} hê kharis {anugerah}

LAI ‘ditambahkan’, Yunani pareisêlthen , harfiah: telah masuk lewat jalan samping (bentuk aoristus). Bandingkan eisêlthen dalam ayat 12. Pareiserkhesthai selain di sini hanya dipakai dalam Galatia 2:20, dengan arti ‘menyusup masuk’. Tetapi dalam bahasa umum artinya bisa juga positif. Bentuknya di sini aktif, sehingga hukum Taurat itu sendiri yang menjadi pelaku, ‘masuk campur tangan’. Dalam 20b juga dipakai dua kali bentuk aoristus; jadi, Paulus tidak menyajikan kaidah umum, tetapi menggambarkan perkembangan pada masa lampau.
Setelah membaca ayat-ayat terdahulu, seorang Yahudi dapat saja bertanya: tetapi bagaimana peranan hukum Taurat? Bukankah hukum Taurat diberikan agar menjadi pegangan bagi orang yang ingin hidup benar?
Dengan perkataan lain, bukankah hukum Taurat menyediakan kemungkinan mengatasi akibat-akibat dosa, sehingga orang dapat mengatasi keadaan yang telah diakibatkan oleh dosa Adam?

Menjawab pertanyaan seperti itu, Paulus kembali ke ayat 12-13. Di situ telah dikatakannya bahwa dosa ‘telah masuk’. Di sini katanya: hukum Taurat ‘telah masuk di samping/sesudah (dosa)’. LAI ditambahkan, yang menunjukkan Allah sebagai pemberi hukum Taurat, tidak didukung bentuk kata kerja Yunani, namun bukan tidak tepat, karena memang Taurat itu diberikan oleh Tuhan. Hal itu ditegaskan lagi oleh supaya yang menyusul; masuknya hukum Taurat bukan peristiwa kebetulan tetapi mengandung maksud tertentu. Maksud itu diungkapkan dengan kata-kata supaya pelanggaran menjadi semakin banyak.

Melihat kata-kata ini, kita boleh saja merasa heran. Apakah Tuhan menghendaki dosa bertambah banyak? Agaknya kehadiran hukum (undang-undang) justru merangsang orang untuk melanggarnya (bandingkan Roma 7:7 dyb.). Tanpa hukum mereka sampai tingkat tertentu masih polos; dengan adanya hukum mereka menjadi lebih sadar, lebih licik. Lagi pula, kalau dosa menjadi pelanggaran yang sadar, kesalahan pelakunya bertambah berat. Dalam hukum duniawi kita pun berlaku asas seperti itu. Jadi, mungkin kita boleh mengatakan bahwa Tuhan menghadirkan hukum Taurat supaya sifat dosa yang sebenarnya menjadi nyata.

Maka hukum Taurat tidak dapat menjadi jalan menuju ke kebenaran dan kehidupan (bandingkan Roma 3:20). Itulah keyakinan orang-orang Yahudi. Paulus menolak keyakinan itu, sebagaimana telah dilakukannya dalam pasal 2 dan 3. Kita dapat menambahkan: seandainya hukum Taurat memang diberikan supaya melalui pelaksanaannya kesalahan Adam dipulihkan, tidak diperlukan karunia yang berlimpah-limpah, tidak diperlukan seorang Kristus yang jaul, melebihi Adam, tidak berlaku lagi segala sesuatu yang telah dikatakan dalam ayat 15 sampai dengan 17.

Kalau begitu, dapat saja timbul pertanyaan: apakah hukum Taurat itu diberikan hanya dengan maksud mencelakakan manusia (bandingkan Roma 7:7)? Pertanyaan itu dijawab tuntas dalam pasal 7. Tetapi di sini pun Paulus menegaskan bahwa bertambahnya dosa bukanlah tujuan terakhir kehadiran hukum Taurat. Tujuan terakhir itu akan dijelaskan dalam ayat 21, tetapi di sini sudah ada petunjuk. Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.

Kita dapat menafsirkan kata-kata itu sebagai berikut, ‘Makin banyak dosa, makin berlimpah anugerah’. Tetapi tafsiran ini masih bersifat umum, tidak benar-benar kena dengan maksud Paulus. Sebab: di mana dosa bertambah banyak? Dalam lingkungan yang telah menerima hukum Taurat, yakni dalam lingkungan umat Israel. Menurut kesaksian nabi-nabi Perjanjian Lama, di Israel terdapat dosa yang malah tidak terdapat di kalangan bangsa-bangsa kafir (Yeremia 2: 11). Mungkin kita orang Kristen harus menambahkan: justru di kalangan bangsa-bangsa Kristen kadang-kadang berlangsung kejahatan yang paling keji, yang paling massal dan brutal. Dosa itu memuncak dalam penolakan dan pembunuhan Yesus, oleh mereka yang mengaku paling setia kepada hukum Taurat (orang Yahudi) dan oleh mereka yang paling membanggakan sistem hukumnya (orang Romawi). Tetapi justru berhadapan perbuatan itu, di kayu salib, ‘kasih karunia menjadi berlimpah-limpah’ .

Sulit untuk menjelaskan bagaimana justru oleh bertambahnya dosa kasih karunia berlimpah-limpah, karena di sini kita menghadapi rahasia kasih Allah. Tetapi mungkin boleh juga kita mengambil perumpamaan dari lingkungan manusia. Di situ juga berlaku bahwa kesetiaan seseorang dinilai lebih besar kalau pihak lain bertindak tidak layak. Kesetiaan pada istri atau suami teladan tidak sulit. Tetap setia kalau isteri atau suami itu bertindak buruk jauh lebih sulit danjauh lebih besar. Kesetiaan Tuhan memuncak pada saat kejahatan manusia memuncak, yaitu di dalam kematian Yesus Kristus. Sebab justru kematian itulah yang mencetuskan anugerah yang berlimpah-limpah.

Perkataan Yunani yang dipakai di sini (huper-perisseuein) mengungkapkan kelimpahan itu. Sebab perisseuein sendiri berarti ‘berlimpah’; huper (bnd. Latin/Inggrissuper) menunjukkan tingkat kelimpahan yang lebih tinggi lagi. Di dalamnya kembali menjadi nyata apa yang diungkapkan pula oleh kata-kata ‘jauh lebih’ dalam ayat 15 dan 17.

5:21 LAI TB, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
KJV, That as sin hath reigned unto death, even so might grace reign through righteousness unto eternal life by Jesus Christ our Lord.
TR, ινα ωσπερ εβασιλευσεν η αμαρτια εν τω θανατω ουτως και η χαρις βασιλευση δια δικαιοσυνης εις ζωην αιωνιον δια ιησου χριστου του κυριου ημων
Translit interlinear, hina {supaya} hôsper {sama seperti} ebasileusen {berkuasa} hê hamartia {dosa} en {ke dalam} tô thanatô {manut} houtôs {demikian} kai {juga} hê kharis {karunia/ anugerah} basileusê {berkuasa} dia {karena} dikaiosunês {pembenaran} eis {ke dalam} zôên {hidup} aiônion {kekal} dia {melalui} iêsou {Yesus} khristou {Kristus} tou kuriou {Tuhan} hêmôn {kita}

Dalam 21a ‘berkuasa’, Yunani ebasileusen , memakai bentuk aoristus: telah berkuasa; dalam 21b dipakai bentuk kala mendatang basileusê. Mengenai ‘dosa’ lihat catatan pada 3:9. ‘Dalam alam maut’ merupakan terjemahan en tô thanatô, harfiah ‘di dalam maut’; ternyata LAI memilih en = ‘dalam lingkungan (kekuasaan)’. Ada pula kemungkinan lain, yaitu en = ‘oleh’, ‘melalui’ (instrumental).

Berkuasa berarti ‘memiliki kuasa tertinggi’ (tafsiran ayat 17). Dalam ayat 14 dan 17 dikatakan bahwa yang berkuasa ialah maut. Di sini temyata ada kuasa di belakang maut, yaitu dosa. Dosa itulah yang telah memasukkan maut ke dalam alam dunia (ayat 12), yaitu maut jasmani dan maut kekal. Dosa itu pun yang berkuasa dengan menggunakan maut sebagai alatnya. Di dalam maut, oleh maut, dosa menyatakan kekua¬saannya atas umat manusia dan atas seluruh makhluk.

Di sini kita mencatat dua hal. Pertama, kata-kata ini mengungkapkan kebenaran yang paling dalam berkaitan dengan maut. Maut itu bukan kenyataan wajar, yang dari semula merupakan unsur yang tak terpisahkan dari ciptaan. Sebaliknya, maut itu ‘upah dosa’ (Roma 6:23; bandingkan Kejadian 3:19). Kedua, kata kerja ‘berkuasa’ memakai bentuk kala lampau. Bukan karena dosa dan maut kini sudah tidak hadir lagi dalam dunia kita ini, melainkan karena pada asasnya keduanya telah dikalahkan oleh Kristus (1 Korintus 15 :57, sesudah 54-56). Berkat karya-Nya, kasih karunia begitu berlimpah-limpah (ayat 20), sehingga dosa dan maut itu ditelan, kuasanya ditiadakan, dan kasih karunia berkuasa sebagai gantinya. Kuasa kasih karunia itu akan didirikan tuntas pada zaman akhir (bentuk kala mendatang: akan berkuasa).

Hubungan antara kasih karunia, oleh kebenaran, dan hidup yang kekal akan menjadi lebih jelas kalau kita ingat bahwa yang menjadi ‘basileus’ , Penguasa tertinggi itu Allah sendiri. Kalau dikatakan kasih karunia akan berkuasa, yang dimaksud ialah Allah sendiri, yang berkuasa dengan melimpahkan kasih karunia. Kasih karunia itu dilimpahkan-Nya oleh kebenaran. Mengingat isi ayat 16-19, kita sebaiknya mengartikan, ‘dengan memberi kita karunia kebenaran’. Hasilnya ialah kita menerimahidup yang kekal.

Kita mendapat bagian dalam semua itu oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Di dalam Dia baik kasih karunia Allah maupun kebenaran-Nya dan hidup yang kekal menyatakan diri, bahkan dalam Dia semua itu menjelma (bandingkan Yohanes 14:6). Maka di dalam Dia kita beroleh semua itu. Di sini hal itu dinyatakan dengan khidmat. Rumus khidmat itu sekaligus merupakan penutup bagian ini (bandingkan 5:1).

KESIMPULAN Roma 5:12-21 

Ayat -ayat ini menggambarkan cara dan jangkauan pendamaian yang telah dihasilkan oleh kematian Yesus Kristus (ayat 10-11). Caranya ialah oleh rahmat, melalui pembenaran. Bukan dengan cara hukum Taurat. Jangkauannya seluas umat manusia. Artinya, jangkauan itu tidak terbatas pada umat yang memiliki hukum Taurat, yaitu umat Israel. Tetapi luasnya sama dengan jangkauan kuasa dosa. Sebagaimana permusuhan dengan Allah meliputi seluruh umat manusia, begitu pula halnya pendamaian, yang meniadakan permusuhan itu. Maka di sini isi Roma 1:18 – 3: 20 dikaitkan dengan isi Roma 3:20-5:11. Rencana keselamatan Allah menjadi jelas. Dosa diatasi oleh rahmat yang berlimpah-limpah.

Sumber :

– Dr. Thomas van den End, Surat Roma, BPK, 1995, p 274- 295
– Cranfield, CEB, A Critical and Exegetical Commentary on the Epistle of Romans, the International Critical Commentary, T&T Clark Limited, Edidburg, 1974.

Blessings in Christ,
BP
March 24, 2010