AJARAN TENTANG TUHAN ALLAH

Posted on Updated on

Apakah mungkin manusia dari dirinya sendiri mengenal Allah, apakah ada jalan yang berpangkal dari manusia menuju ke pengetahuan tentang Allah?

Plato menjawab pertanyaan ini secara positif: YA, ADA. Oleh karena pengaruh Plato besar sekali di dalam pemikiran theologia Kristen dan Islam, maka akan dibicarakan pandangannya secara singkat.

Kira-kira empat abad sebelum Masehi, Plato memprotes ajaran agama yang berlaku di Yunani. Cerita-cerita tentang para dewata yang memiliki sifat-sifat seperti manusia, misalnya bahwa mereka saling tipu-menipu, saling bunuh-membunuh, berebutan wanita, dan sebagainya dipandangnya sebagai merusak moral para pemuda. Oleh karena itu dengan mengadakan sensor terhadap para penyair, harus diusahakan adanya kesatuan di dalam kelakuan para dewata, yaitu bahwa para dewata harus hanya melakukan hal-hal yang benar dan adil saja. Mereka harus menjadi sumber segala yang baik, yang harus dilakukan oleh manusia. Pokoknya, para dewata jangan dijadikan sumber kejahatan. Plato sendiri tidak menuntut adanya satu ilah atau tuhan, asal semuanya memiliki satu tabiat (nature) yaitutabiat ilahi (divine nature) . Segala perbuatan para dewata tidak boleh bertentangan dengan tabiat ilahiitu. Tuhan jangan dipandang sebagai manusia, Tuhan harus dipandang sebagai keberadaan sejati (the real being) , zat yang bersifat akali atau rohani serta yang tidak berubah (the true, intelligible and immutable being).

Yang penting ialah, bahwa cara berada Tuhan harus diubah dari cara berada yang bersifat jasmaniah (material) menjadi cara berada yang akali atau rohani (immaterial).

Zat yang ilahi, yang keadaannya akali atau rohani tadi, berada di belakang dan di atas kosmos atau dunia yang tampak ini, yaitu di dunia idea atau cita. Dengan demikianzat yang ilahi ini berada secara transenden, sebab tabiatnya adalah suatu kenyataan yang sukar ditembus oleh akal manusia. Kosmos yang tampak ini lebih menyelubungi hakekat yang ilahi daripada menyingkapkannya. Terlebih-lebih jikalau orang ragu-ragu akan kecakapan akalnya, maka yang ilahi ini akan makin menjadi tidak dapat dikenal.

Untunglah bahwa jiwa manusia keadaannya sama seperti yang ilahi tadi, yaitu bersifat akali, karena jiwa manusia juga berasal dari dunia idea atau cita. Dengan demikian, sekalipun zat ilahi tadi transenden, dalam arti tidak dapat ditembus oleh akal manusia, namun manusia dapat juga mengenalnya, yaitu dengan jalan seolah-olah mengupas Tuhan keluar dari selubungnya, dengan perantaraan akal manusia.

Jadi Tuhan bukan menyatakan diri atau memperkenalkan diri, bukan keluar membuka selubung-Nya, melainkan Ia yang terselubung oleh kosmos tadi, dikupas manusia, dikeluarkan dari selubung-Nya.

Jikalau pandangan Plato ini kita tinjau secara mendalam, kita mendapat kesan, bahwa sebenarnya akal manusialah yang menentukan bagaimana seharusnya Tuhan. Selanjutnya, pengertian tentang Tuhan juga menjadi kabur. Dengan ajarannya tentang tabiat ilahi itu sebenarnya ilah atau tuhan menjadi pengertian yang predikatif, artinya: pengertian yang menunjuk kepada nama sifat. Tuhan menjadi ketuhanan atau yang ilahi. Dengan sendirinya tuhan seperti ini menjadi sasaran pemikiran manusia. Tuhan dianggap penting, bukan sebagai subyek yang berbuat, melainkan sebagai obyek atau sasaran yang menyinarkan sinar. Jika tuhan ini dipandang sebagai sebab segala sesuatu, hal itu bukan karena ia berbuat dengan tindakan-tindakannya, melainkan karena ia seolah-olah menarik segala sesuatu, tanpa dapat ditentang, seperti halnya dengan sebuah magnit menarik kikiran besi.

Dari uraian di atas kiranya juga jelas, bahwa yang menjadi dalil Plato ialah yang ilahi itulah Tuhan, bukan Tuhan adalah yang ilahi. Bagi Plato yang penting ialah yang ilahi dahulu, seolah-olah ada sesuatu yang ilahi, lalu yang ilahi ini dianggap Tuhan.

Pengaruh pandangan Plato ini ternyata besar sekali. Pada zaman di sekitar tarikh Masehi, telah menjadi pendapat umum di daerah sekitar Laut Tengah, bahwa yang disebut Tuhan harus memiliki tabiat ilahi, dan bahwa tabiat ilahi ini harus bersifat rohani dan akali (spiritualist dan intellectualist), dalam arti sebagai lawan dari segala yang bersifat bendawi atau jasmani (materialist). Segala sesuatu yang tidak memenuhi tabiat ilahi ini harus ditolak sebagai Tuhan. Manusia, sepanjang ia lebih daripada yang jasmani, mendapat bagian dari tabiat yang ilahi itu.

Mengherankan sekali bahwa pandangan yang demikian itu, yaitu bahwa akal manusia sendirilah yang menentukan bagaimana seharusnya yang ilahi, hingga berabad-abad mempengaruhi, bahkan menguasai pemikiran tentang Allah, bukan hanya di antara para ahli pikir Kristen, tetapi juga para ahli pikir Islam.

Gereja Roma Katolik umpamanya mengajarkan, bahwa ada jalan dari akal manusia kepada Allah. Dengan mempelajari alam semesta, manusia dapat mengenal Allah. Tetapi pengetahuan melalui akal ini belum sempurna, oleh karena itu di samping pengetahuan tentang Allah dengan perantaraan akal itu manusia masih memerlukan pengetahuan tentang Allah yang berdasarkan penyataan atau wahyu. Ajaran Roma Katolik yang mengenal pengetahuan tentang Allah yang dengan perantaraan akal itu disebut thelogia naturalis, theologia kodrati atau alami.

Bahwa manusia dengan akalnya dapat mengenal Allah, juga diajarkan oleh para ulama Islam. Menurut Dr. H.M. Rasjidi dalam Filsafat Agama, hingga sekarang yang berlaku dalam dunia Islam ialah, bahwa Tuhan telah memberi akal kepada manusia. Dengan akal itu manusia dapat memikirkan hal-hal yang melingkunginya dengan alam kehidupannya dan akhirnya ia dapat mengetahui dengan akalnya tentang adanya Tuhan dan sifat-sifat Tuhan, kemudian Tuhan menambah suatu hal baru, yaitu menurunkan wahyu kepada beberapa orang yang diangkatnya sebagai utusan-Nya, di antaranya kepada nabi Musa, nabi Isa dan yang terakhir kepada nabi Muhammad.
Pemikiran yang mendewa-dewakan akal sebenarnya pemikiran yang dipengaruhi sekali oleh Plato, seperti yang di sepanjang abad-abad hingga sekarang menguasai dunia Barat.

Semua agama didasarkan atas keyakinan bahwa Allah atau yang dipertuhan memperkenalkan diri kepada manusia, sehingga manusia kenal Tuhannya, sekalipun pengenalan itu tidak sempurna. Karena pengenalan itulah, maka manusia dapat menyembah Tuhannya. Apakah mungkin manusia dari dirinya sendiri mengenal Tuhan, apakah ada jalan yang berpangkal dari manusia menuju ke pengetahuan tentang Tuhan atau yang dipertuhan?

Sekalipun demikian, tiada kesamaan tentang soal bagaimana Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Pada umumnya agama-agama mengajarkan, bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya dan kehendak-Nya kepada manusia dengan perantaraan bisikan ilahi, dalam arti Tuhan memperkenalkan diri-Nya dan kehendak-Nya dengan membisikkan kehendak-Nya di dalam hati sanubari manusia, baik orang itu berfungsi sebagai imam atau pendeta, maupun berfungsi sebagai resi, atau nabi atau guru/kyai. Di dalam agama Islam kita mendengar bagaimana pada malam yang terkenal sebagai Lailatul-Qadar, atau malam Kebesaran (17 Ramadhan) Allah dengan perantaraan malaekat Jibril membisikkan perintah-Nya kepada nabi Muhammad SAW di bukit hira. Suara ilahi itu didengar di dalam hatinya, yang kemudian dibukukan di dalam kitab Al~Qur’an.

Menurut Alkitab Perjanjian Lama, sebenarnya tidak hanya ada satu atau dua kata saja yang dipakai untuk mengungkapkan perkenalan Allah dengan manusia. Dalam kitab Kejadian 12:1-3 Allah berfirman kepada Abraham supaya ia pergi dari negerinya dan dari sanak saudaranya serta dari rumah bapanya ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya dengan janji, bahwa Allah akan menjadikan Abraham menjadi bangsa yang besar, dan menjadikan dia berkat bagi para bangsa. Di sini tidak diperoleh kesan bahwa firman itu diberikan dengan bisikan ilahi di dalam hati Abraham, sebab cara pertemuan Allah dengan Abraham ini berkali-kali diulangi sebagai pertemuan pribadi dengan pribadi, sebagai pertemuan antara aku dan engkau.

* Kejadian 12:1-3, 
12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Dijumpai pula kisah pertemuan Allah dengan Yakub, dengan Musa, dan dengan tokoh-tokoh yang lain di Perjanjian Lama, juga pertemuan Allah dengan Israel sebagai bangsa.

Di dalam Perjanjian Lama disebutkan juga bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya dengan melalui karya-karya-Nya, baik yang dilakukan dalam bentuk penampakan-penampakan (semak duri yang bernyala, tugu awan, malaekat Tuhan, dan sebagainya) maupun yang dilakukan dalam bentuk perbuatan-perbuatan besar yang menakjubkan (menyeberangi Laut Teberau, manna, manna, air keluar dari batu karang, dan sebagainya). Semua itu adalah sarana Allah guna memperkenalkan diri atau menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Jikalau segala perkenalan Allah itu diselidiki secara mendalam, tampaknya segala kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan kepada perkenalan Allah kepada manusia itu hampir semuanya dikaitkan dengan penyataan tentang janji Allah. Allah memperkenalkan diri-Nya di dalam janji-janji-Nya dan di dalam sejarah janji-janji itu.

Di dalam Alkitab Perjanjian Baru, banyak kata-kata yang dipakai untuk mengungkapkan perkenalan atau penyataan Allah itu. Dari sekian banyak kata-kata itu mungkin kata αποκαλυπτω – apokaluptô (“reveal, pengungkapan”) dan φανεροω – phaneroô (“terbuka”) merupakan kata yang mempunyai arti yang agak khas, asal pengertian perkenalan atau penyataan Allah tadi tidak hanya dijabarkan dari kata-kata ini saja.

Kata αποκαλυπτω – apokaluptô berarti mengambil tutup atau mengambil selubung, sehingga tampaklah apa yang tertutup atau diselubungi. Kata phaneroô berartiterbuka, karena disingkapkan selubungnya. Perbedaan antara kedua kata itu ialah demikian, bahwa kata yang pertama menunjuk kepada tindakan mengambil tutup, sedangkan kata yang kedua menunjuk kepada hasil penyingkapan selubung tadi.

Berdasarkan makna kata itu, yang diungkapkan dengan istilah penyataan atau perkenalan adalah gagasan, bahwa sesuatu yang semula tertutup atau tidak dapat diketahui, karena diselubungi, menjadi dapat diketahui, karena selubungnya telah disingkapkan.

Kata-kata ini bukan hanya dikenakan kepada Allah saja, melainkan juga dipergunakan hal-hal lain, misalnya:

* 1 Korintus 3:13
LAI TB, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.
KJV, Every man’s work shall be made manifest: for the day shall declare it, because it shall be revealed by fire; and the fire shall try every man’s work of what sort it is.
TR, εκαστου το εργον φανερον γενησεται η γαρ ημερα δηλωσει οτι εν πυρι αποκαλυπτεται και εκαστου το εργον οποιον εστιν το πυρ δοκιμασει
Translit, hekastou to ergon phaneron genêsetai ho gar hêmera delôsei hoti en puri apokaluptetai [to uncover, to make known] kai hekastou to ergon hopoion estin to pur dokimasei.

Di sini dinyatakan bahwa sekali kelak pekerjaan masing-masing orang anak nampak yaitu bahwa hakekat pekerjaan orang yang sekarang masih belum dapat diketahui itu, kelak akan terbuka.

Jika kata-kata itu dikenakan kepada Allah, maka maksudnya ialah bahwa Allah yang semula tidak dikenal oleh manusia, sekarang dapat dikenal, sebab telah terbuka selubung-Nya. hanya saja, pembukaan selubung itu, menurut Alkitab, bukan perbuatan manusia, melainkan karya Allah sendiri.

Sekalipun kata “αποκαλυπσις – apokalupsis” (kata nama benda dari kata kerja αποκαλυπτω – apokaluptô) di dalam Alkitab diterjemahkan dengan wahyu (yaitu kitab yang terakhir dari Alkitab), namun di sini dipilih terjemahan penyataan . hal ini disebabkan karena kata wahyu mempunyai arti yang berlainan dengan kata”αποκαλυπσις – apokalupsis” tadi.

Dalam pengertian penyataan yang diajarkan Alkitab terkandung gagasan, bahwa Allah “keluar dari tempat persembunyian-Nya“, memperkenalkan diri-Nya kepada umat manusia. Ia menyingkapkan selubung yang menyelubungi-Nya, dengan “tampil ke depan”, “berbuat di dalam sejarah” dan menyatakan kehendak-Nya di dalam hidup manusia. Ilustrasi sederhana, jika saya pindah ke sebuah desa atau kampung yang orang-orangnya belum kenal dengan saya, maka orang-orang desa atau kampung tadi akan mengenal saya dari kata-kata dan perbuatan saya. Dari situ mereka akan tahu, apakah saya ini orang baik hati atau tidak, dan seterusnya.

Jikalau kita menyelidiki pemikiran Timur, sebenarnya akal justru dianggap sebagai merintangi pengetahuan tentang Allah atau tentang Yang dipertuhan.

Kira-kira delapan abad sebelum Masehi di India ada suatu revolusi pemikiran di bidang keagamaan. Semula hidup keagamaan dikuasai oleh para imam atau para Brahmana. Yang dianggap terpenting di dalam hidup keagamaan adalah korban, yang harus dipersembahkan sesuai dengan upacara yang diperlukan. Padahal upacara-upacara korban tadi demikian berbelit-belit, sehingga hanya para Brahmana-lah yang dapat mempersembahkan korban dengan berhasil. Dengan demikian seluruh kehidupan manusia dikuasai oleh para Brahmana.

Dari golongan para ksatriya timbullah reaksi yang sedemikian hebat, sehingga dapat memberi jurusan yang baru di dalam seluruh kehidupan keagamaan pada waktu itu. Itulah tahap sejarah keagamaan Hindu yang menimbulkan kitab-kitab Upanisad. Sejak zaman itu timbullah gagasan, yang hingga kini tersebar di seluruh dunia Timur, bahwa Tuhan adalah suatu daya-hidup yang maha besar, yang berada di dalam segala makhluk. Daya yang tersembunyi di dalam dunia ini, sebagai jiwa yang terpendam di dalam tubuh. Tuhan, yaitu Brahman, adalah satu-satunya zat yang nyata, sedang di luar Tuhan tidak ada yang nyata.

Akal manusia tidak dapat menembus Tuhan yang mutlak, yang transenden itu. Akal hanya menunjuk kepada adanya perbedaan-perbedaan dan kepada adanya banyak benda. Oleh karena itu akal manusia menyesatkan. Dengan akalnya manusia tidak mungkin mengenal Tuhannya. Jika kita ingin mengenal Tuhan, kita harus menempuh jalan mistik atau kebatinan, artinya, kita harus menyelam ke dalam hati sanubari kita sendiri, di mana kita, dengan meninggalkan akal dan perasaan, akan dapat bersekutu dengan Tuhan. Di dalam hati sanubari yang terdalam itu tiada lagi perbedaan, tiada perkara-perkara yang banyak dan beraneka ragam, tiada akal lagi. Di sinilah ketenangan, ketenteraman, kesatuan antara Tuhan dengan hamba-Nya. Itulah Tuhan.

Jika pandangan tentang Tuhan yang demikian ini kita selidiki secara seksama, akan dapat diketahui, bahwa Tuhan di sini dipandang sebagai Yang Mutlak dalam arti filsafati, artinya: Tuhan adalah suatu idea yang tertinggi, yang abstrak, yang bebas dari segala hubungan dan sifat. Tuhan yang demikian sudah tentu sukar untuk dianggap sebagai “Yang menyatakan diri” atau “Yang memperkenalkan diri” kepada manusia. Manusialah yang di sini tampak giat berusaha untuk mengenal Tuhannya. Oleh karena hal yang demikian tidak mungkin dilakukan dengan perantaraan akalnya, maka dilakukannya melalui jalan mistik. Sukar sekali di sini untuk menggambarkan Tuhan sebagai suatu pribadi yang benar-benar berkehendak, dan sebagainya.

Alkitab dengan tegas menyatakan, bahwa tiada jalan dari pihak manusia kepada Tuhan Allah. Dari Alkitab kita dapat mengetahui bahwa mula-mula bukan Israel yang mencari Tuhan Allah, melainkan sebaliknya, Tuhan Allahlah yang mencari Israel dan yang memperkenalkan atau menyatakan diri-Nya kepada Israel. Dengan karya-karya-Nya yang besar di dalam sejarah umat Israel, Tuhan Allah telah menyatakan diri-Nya atau memperkenalkan diri-Nya kepada umat-Nya. Semuanya itu demi kelepasan dan kepentingan Israel. Bahwa Israel mengenal Tuhan Allahnya, hal itu bukan karena Israel mempergunakan akalnya untuk menjelajahi alam semesta, juga bukan karena Israel menyelami lubuk hatinya,melainkan karena Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya atau menyatakan diri-Nya kepada Israel.

Di dalam agama mana saja, sering disaksikan, baik secara teoritis maupun secara praktis, bagaimana manusia mencoba memperalat Tuhannya bagi kemuliaan, kebahagiaan dan kesenangannya sendiri.

Di dalam agama Weda kuno umpamanya, dapat disaksikan bagaimana manusia menyanjung-nyanjung para dewata dengan korban-korban serta doanya, dengan maksud agar para dewata itu senang dan oleh karenanya berkenan memberkati manusia. Secara praktis banyak juga orang beragama yang bersikap demikian terhadap Tuhannya. Mereka harus hidup dengan baik, harus beramal dan sebagainya supaya Tuhan berkenan kepada mereka, lalu memberkati mereka, dan terlebih-lebih memberikan hadiah surga. Segala sesuatu dengan demikian diukur dengan ukuran manusia. Jika Tuhan tidak cocok dengan ukuran manusia, haruslah Ia ditolak.

Alkitab menunjukkan dengan jelas, bahwa Tuhan Allah bukanlah alat guna mencukupi kebutuhan-kebutuhan manusia, bukan sarana untuk memberikan kesenangan dan kepuasan manusia. Tuhan Allah jauh lebih tinggi daripada manusia. Tuhan Allahlah yang memanggil manusia supaya mengabdi kepada-Nya, supaya mentaati perintah-perintah-Nya. Jadi bukan sebaliknya, bukan Tuhan Allah yang harus mengabdi kepada manusia serta memenuhi segala keinginan manusia.

Oleh karena itu tujuan terakhir dari penyataan Tuhan Allah bukanlah kebahagiaan manusia, melainkan kemuliaan dan kehormatan Tuhan Allah sendiri.

* Roma 11:36
LAI TB, Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
KJV, For of him, and through him, and to him, are all things: to whom be glory for ever. Amen.
TR, οτι εξ αυτου και δι αυτου και εις αυτον τα παντα αυτω η δοξα εις τους αιωνας αμην
Translit, hoti ex autou kai di autou kai eis auton ta panta autô hê doxa eis tous aiônas amên

Barangsiapa mencari Tuhan Allah, dialah yang berbahagia dan mendapatkan hidup sejati di dalam mencari dan melayani Tuhan Allah.
Dengan alat-alat apakah Allah telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada manusia? 

Berdasarkan keyakinan Kristen, Alkitab adalah kesaksian mengenai pengalaman para orang yang pernah bertemu atau bergaul dengan Tuhan Allah, maka akan diselidiki kesaksian-kesaksian itu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas.

Kita berpangkal pada Keluaran 3:13-15 di mana disebutkan, bahwa Tuhan Allah memanggil Musa supaya mengeluarkan umat Israel dari tanah perhambaan di Mesir. Pada kesempatan ini Musa bertanya kepada Tuhan Allah, bagaimana ia harus menjawab, seandainya Israel akan menanyakan siapa yang mengutusnya. Hal ini disebabkan karena mungkin Israel sudah tidak dapat membeda-bedakan siapa Tuhan Allahnya dan siapa para dewa orang Mesir.

* Keluaran 3:14
LAI TB, Firman Allah kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU‘ Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.
KJV, And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים אֶל־מֹשֶׁה אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה וַיֹּאמֶר כֹּה תֹאמַר לִבְנֵי יִשְׂרָאֵל אֶהְיֶה שְׁלָחַנִי אֲלֵיכֶם׃
Translit interlinear, VAYO’MER {dan Dia berfirman} ‘ELOHÏM {Allah} ‘EL-MOSYEH {kepada Musa} ‘EHEYEH {Aku akan ada} ‘ASYER {yang} ‘EHEYEH {Aku akan ada} VAYO’MER {dan Dia berfirman} KOH {demikian} TO’MAR {engkau harus berkata} LIVENÊY {kepada anak-anak} YISERÂ’ÊL {Israel} ‘EHEYEH {Aku akan ada} SYELÂKHANÏ {mengutus aku} ‘ALÊYKHEM {ke atas kalian}

Tuhan Allah menjawab, bahwa nama-Nya adalah: “AKU ADALAH AKU”, yang dalam bahasa aslinya berbunyi: משה אהיה אשר אהיה – ‘EHEYEH ‘ASYER ‘EHEYEH.

Kata אהיה – ‘EHEYEH, yang berarti Aku akan ada berasal dari kata היה – HÂYÂH , hê’-yõd-hê’, yang menurut para ahli mewujudkan rangkuman dari kata-kata:berada, menjadi dan bekerja (to be, to become dan to work) . Yang harus diperhatikan ialah, bahwa di sini nama Tuhan Allah diungkapkan dengan bentuk kata-kerja, kata yang hidup, bukan dengan kata-nama-benda, kata yang mati. Hal ini menunjukkan, bahwa dengan demikian Tuhan Allah bagi Israel bukanlah Tuhan Allah yang tidak bergerak, bukanlah Tuhan Allah yang mati, melainkan Tuhan Allah yang hidup, yang bekerja, yang penuh dengan dinamika.

Oleh karena itu maka, menurut beberapa ahli, secara bebas ungkapan ini dapat diterjemahkan dengan, “Aku akan hadir, berbuat”, atau “Aku akan hadir dengan berbuat”. Pokoknya, kehadiran Tuhan Allah bagi Israel bukan seperti kehadiran barang yang mati (meja, kursi, dan sebagainya), melainkan suatu kehadiran yang di dalam perbuatan-Nya, Israel akan mengenal Tuhan Allah dari perbuatan-perbuatan atau karya-karya Tuhan Allah, yang ditujukan kepada kepentingan Israel.

Hal itu memang terbukti di dalam sejarah umat Israel. Di sepanjang sejarah umat ini dapat dilacak bagaimana Tuhan Allah telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya dengan karya-karya-Nya.

Pertama-tama Tuhan Allah memperkenalkan diri kepada Israel dengan menampakkan diri dalam tanda-tanda yang menjadikan Israel tahu bahwa Tuhan Allah hadir. Penampakan ini di dalam bahasa Yunani disebut theophani. Di sini Tuhan Allah menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh Israel, sehingga Israel sadar bahwa mereka berhadapan dengan Tuhan Allah sendiri. Umpamanya, Tuhan Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak duri, Tuhan Allah menampakkan diri kepada Israel di dalam tiang awan, dalam awan yang padat yang disertai guruh dan kilat di atas gunung Sinai, di dalam kemuliaan-Nya yang melalui Musa, menampakkan diri kepada Gideon sebagai malaekat Tuhan, dan seterusnya.

  1. Theophani :Theophani atau penampakan diri Tuhan Allah ini bukanlah kehadiran Tuhan Allah yang tanpa keaktifan dan tanpa waktu, melainkan dengan manampakkan diri ini Tuhan Allah hadir dengan nyata atau mendatangi umat-Nya serta berada di tengah-tengah umat-Nya. Ia berdiam di antara umat-Nya. Maka penampakan diri ini termasuk perbuatan atau karya Tuhan Allah yang historis, baik yang mendatangkan hukuman maupun yang mendatangkan pertolongan.

    Selanjutnya Tuhan Allah menyatakan diri-Nya kepada Israel dengan mujizat atau perbuatan-perbuatan-Nya yang menakjubkan. Segala perbuatan atau karya Tuhan Allah sebenarnya adalah mujizat. Mujizat ini ada bermacam-macam, sebagai umpamanya mujizat yang diadakan guna mengeluarkan Israel dari Mesir, untuk memelihara Israel dalam pengembaraannya di padang gurun, untuk memasukkan Israel ke tanah Kanaan, untuk menolong Israel dari penindasan bangsa-bangsa yang berdiam di sekitar tanah Kanaan, dan sebagainya.

    Akhirnya Tuhan Allah berfirman dengan firman atau sabda yang dapat didengar guna menyatakan atau memberitahukan kehendak-Nya. Firman ini dapat diberikan di dalam penglihatan atau wahyu, seperti yang terjadi pada para nabi, dapat juga diberikan di dalam impian dan sebagainya. Pembicaraan Tuhan Allah yang terbanyak, yang pernah terjadi di antara Tuhan Allah dengan manusia, ialah pembicaraan yang diadakan Tuhan Allah dengan Musa, yang di dalam Alkitab disebut “berbicara dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya”. Jikalau segala pembicaraan ini diperhatikan, tidak diperoleh kesan seolah-olah Tuhan Allah memberikanbisikan ilahi, melainkan Tuhan Allah berfirman dari luar, seperti yang terjadi di dalam pembicaraan di antara aku dan engkau.

    Dengan perantaraan ketiga cara berkomunikasi itulah Israel dapat mengenal Tuhan Allahnya dengan sebenarnya, bukan secara teori, melainkan berdasarkan pengalaman. Bahwa Tuhan Allah adalah Mahakuasa, umpamanya, bagi Israel bukanlah suatu teori, bukan suatu ajaran yang didengar dari seorang guru, sekalipun guru itu Musa, juga bukan hasil renungan atau spekulasi, yang diperoleh karena akalnya menjelajahi alam semesta ini. Demikian juga pengatahuan Israel bahwa Tuhan Allah adalah yang Mahakudus, atau yang Mahaadil, dan sebagainya. Israel mengenal Tuhan Allah karena Tuhan Allah dengan firman dan karya-karya yang menakjubkan tampil di tengah-tengah sejarah Israel.

    Berdasarkan kenyataan-kenyataan yang demikian itulah maka ada di antara para ahli yang menduga, bahwa sebutan יהוה – YHVH (“TUHAN” dalam huruf kapital) bagi Allah itu didasarkan atas ketakjuban Israel kepada segala karya Allah yang besar itu. Kata יהוה – YHVH ada sangkut-pautnya dengan kata-kata אהיה – ‘EHEYEH di dalam Kejadian 3:14 tersebut di atas, yaitu sama-sama diturunkan dari kata-kerja היה – HÂYÂH.

    Kata יהוה – YHVH dipandang sebagai diturunkan dari kata seru Yahu, kata yang menunjukkan ketakjuban. Jika dugaan ini benar, maka lebih jelas lagi, bahwa Tuhan Allah memperkenalkan diri atau menyatakan diri kepada Israel dengan karya-karyanya, bukan dengan bisikan ilahi.

    Penyataan atau perkenalan Tuhan Allah yang dengan penampakan diri dan mujizat serta dengan firman-Nya itu semua dapat dirangkumkan sebagai penyataan atau perkenalan Tuhan Allah dengan firman-Nya.

    Penyataan Tuhan Allah yang dengan penampakan diri (theophaniadalah karya Tuhan Allah di dalam sejarah umat-Nya yang penuh dengan dinamika, di mana Tuhan Allah keluar dari persembunyian-Nya, sehingga Israel yakin, bahwa mereka bertemu dengan Tuhan Allah. Demikian juga halnya dengan penyataan Tuhan Allah yang dengan mujizat. Oleh karena itu maka kedua cara penyataan diri Allah ini dapat dirangkumkan menjadi penyataan Allah yang dengan karya-Nya di dalam sejarah Israel. Dengan demikian ketiga macam cara penyataan Allah tadi dapat dirangkumkan di dalam penyataan Allah yang dengan karya dan firman-Nya.

    Kedua penyataan ini pun dapat dirangkumkan menjadi satu, yaitu penyataan yang dengan firman-Nya.

    Kata yang dipakai di dalam Perjanjian Lama bagi firman adalah rbd-DBR, dâlet-bêt-rêsy, DÂBAR. Kata dâbar berarti perkataan, akan tetapi bukan perkataan yang kosong. Dâbar adalah perkataan yang telah berisikan latar belakang atau dasar yang terkandung di dalam perkataan itu. (Di tangan manusia sering perkataan tidak cocok dengan isinya, sebagai ilustrasi: A adalah seorang yang jujur, sedang sebenarnya tidaklah demikian). Kata dâbar senantiasa cocok dengan perkara yang diungkapkan di dalam perkataan itu. Oleh karena itu sifat terpenting dari kata dâbar ialah kebenaran.

    * 2 Samuel 7:28
    LAI TB, Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.
    KJV, And now, O Lord GOD, thou art that God, and thy words be true, and thou hast promised this goodness unto thy servant:
    Hebrew,
    וְעַתָּה ׀ אֲדֹנָי יְהוִה אַתָּה־הוּא הָאֱלֹהִים וּדְבָרֶיךָ יִהְיוּ אֱמֶת וַתְּדַבֵּר אֶל־עַבְדְּךָ אֶת־הַטֹּובָה הַזֹּאת׃
    Translit, VE’ATÂH ‘ADONÂY YEHOVÂH (baca ADONÂY YEHOVIH) ‘ATÂH-HÛ’ HÂ’ELOHÏM ÛDEVÂREYKHA YIHYÛ ‘EMET VATEDABÊR ‘EL-‘AVDEKHA ‘ET-HATÕVÂH HAZO’T

    * Yesaya 55:10-11
    55:10 LAI TB, Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
    KJV, For as the rain cometh down, and the snow from heaven, and returneth not thither, but watereth the earth, and maketh it bring forth and bud, that it may give seed to the sower, and bread to the eater:
    Hebrew,
    כִּי כַּאֲשֶׁר יֵרֵד הַגֶּשֶׁם וְהַשֶּׁלֶג מִן־הַשָּׁמַיִם וְשָׁמָּה לֹא יָשׁוּב כִּי אִם־הִרְוָה אֶת־הָאָרֶץ וְהֹולִידָהּ וְהִצְמִיחָהּ וְנָתַן זֶרַע לַזֹּרֵעַ וְלֶחֶם לָאֹכֵל׃
    Translit, KÏ KA’ASYER YÊRÊD HAGESYEM VEHASYELEG MIN-HASYÂMAYIM VESYÂMÂH LO’ YÂSYÛV KÏ ‘IM-HIRVÂH ‘ET-HÂ’ÂRETS VEHÕLÏDÂH VEHITSMÏKHÂH VENÂTAN ZERA’ LAZORÊA’ VELEKHEM LÂ’OKHÊL

    55:11 LAI TB, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
    KJV, So shall my word be that goeth forth out of my mouth: it shall not return unto me void, but it shall accomplish that which I please, and it shall prosper in the thing whereto I sent it.
    Hebrew,
    כֵּן יִהְיֶה דְבָרִי אֲשֶׁר יֵצֵא מִפִּי לֹא־יָשׁוּב אֵלַי רֵיקָם כִּי אִם־עָשָׂה אֶת־אֲשֶׁר חָפַצְתִּי וְהִצְלִיחַ אֲשֶׁר שְׁלַחְתִּיו׃
    Translit, KÊN YIHYEH DEVÂRÏ ‘ASYER YÊTSÊ’ MIPÏ LO’-YÂSYÛV ‘ÊLAY RÊYQÂM KÏ ‘IM-‘ÂSÂH ‘ET-‘ASYER KHÂFATSTÏ VEHITSLÏAKH ‘ASYER SYELAKHTÏV

    Dari ayat di atas dapat disimpulkan, bahwa firman Tuhan Allah adalah firman yang bekerja, bukan firman yang mati. Sebab di situ disebutkan, bahwa firman Tuhan tidak akan kembali dengan hampa, melainkan akan melaksanakan apa yang dikehendaki oleh Tuhan Allah, seperti hujan dan salju yang turun dari langit tidak akan kembali lagi ke situ, melainkan akan mengairi bumi dan membuatnya subur sehingga memberikan hasil yang diharapkannya.

    Selanjutnya, bahwa firman Tuhan Allah adalah firman yang bekerja, bukan firman yang mati, ternyata dari karya penjadian Tuhan Allah. Di Mazmur 33:9, umpamanya disebutkan, “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.”

    Sebaliknya Perjanjian Lama juga mengatakan, bahwa pekerjaan Tuhan Allah adalah juga firman-Nya. Pekerjaan atau karya Tuhan Allah dipakai oleh Allah untuk berfirman. Mazmur 19:2-4 umpamanya mengatakan, bahwa langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya dan seterusnya.

    Demikianlah dari Perjanjian Lama dapat diambil kesimpulan, bahwa firman Tuhan Allah adalah firman yang bekerja, dan sebaliknya, bahwa pekerjaan atau karya Tuhan Allah adalah pekerjaan yang berbicara. Jadi jika demikian, maka firman Tuhan Allah tidak dapat dibedakan dengan karya-Nya, sedangkan karya Tuhan Allah juga tidak dapat dibedakan dengan firman-Nya. Keduanya adalah sama, dan mewujudkan dua segi dari satu kenyataan. Oleh karena itu, maka alat penyataan atau perkenalan Tuhan Allah, yaitu firman dan karya-Nya, dapat dirangkumkan menjadi penyataan Tuhan Allah yang dengan firman-Nya. Firman Tuhan Allah adalah alat komunikasi Tuhan Allah dengan manusia.

    Di dalam Perjanjian Baru ada gagasan yang baru, yaitu bahwa penyataan atau perkenalan Tuhan Allah yang dengan firman-Nya itu diwujudkan di dalam diri Yesus Kristus.

    Di Markus 2:2 disebutkan, bahwa Yesus memberitakan firman kepada orang banyak (dapat dibandingkan dengan Lukas 8:1, yang menyebutkan bahwa Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah, juga Lukas 11:28). Di sini Yesus disejajarkan dengan para nabi di dalam Perjanjian Lama, yang memberitakan Firman Tuhan Allah. Sekalipun demikian, jikalau pemberitaan para penulis Injil itu diperhatikan, kesejajaran itu tidaklah persis sama. Ada perbedaan yang besar sekali di antara para nabi di dalam Perjanjian Lama dan Yesus.

    Pada waktu Yohanes Pembaptis mengutus para muridnya menghadap Yesus untuk mengetahui apakah Yesus ini adalah orang yang benar-benar dinantikan Israel, atau apakah bukan, para murid Yohanes diperintahkan memberitakan kepada Yohanes apa yang telah mereka dengar dan lihat. “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” Dari sini dapat diketahui, bahwa kata-kata Yesus tidak sama dengan kata-kata para nabi di Perjanjian Lama. Para nabi memberitakan firman Tuhan Allah yang bekerja, akan tetapi di sini firman Yesus adalah firman yang bekerja sendiri. Firman-Nya telah menyembuhkan para orang sakit dan telah membawa kabar kegirangan, sehingga harus disimpulkan, bahwa para murid Yohanes harus memberitakan kepada Yohanes, bahwa Firman Kristus adalah Firman Allah.

    Selain daripada itu, yang perlu diperhatikan di dalam bagian Injil ini ialah, bahwa firman Kristus dapat dilihat dan didengar. Firman itu dapat dilihat di dalam karya-Nya yang menyembuhkan dan dapat didengar di dalam pemberitaan kabar baik kepada yang miskin.

    Di Lukas 1:2 Lukas mengatakan, bahwa para rasul menjadi penyaksi mata dan pelayan Firman. Yang disaksikan oleh para rasul adalah karya penyelamatan Kristus dan yang diberitakan adalah karya-Nya itu. Oleh karena itu kata pelayan Firman berarti: pelayan Kristus. Di sini Kristus diidentikkan dengan Firman Allah. Hal yang demikian juga terdapat di Kisah Para Rasul 11:1, “Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.”

    Ada bagian Injil yang lebih mendalam lagi membicarakan hal ini, yaitu Yohanes 1.

    Di Yohanes 1:1, 14 disebutkan, bahwa Yesus Kristus adalah Firman, yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya, tetapi yang kemudian menjadi manusia. Dengan ini jelaslah bahwa Yesus adalah pengejawantahan firman Allah, dan di dalam diri Yesus itu Tuhan Allah berfirman kepada manusia. Oleh karena itu apa yang dikatakan dan dikerjakan oleh Yesus adalah alat-alat Tuhan Allah untuk berfirman kepada manusia. Tuhan Allah berfirman dan menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya melalui Yesus dan di dalam diri-Nya. Maka Yesus Kristus adalah puncak dan akhir penyataan Tuhan Allah kepada manusia.

    Hal ini akan menjadi lebih jelas lagi jikalau ditinjau Ibrani 1:3 yang menyebutkan, bahwa Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.

    Kata yang diterjemahkan dengan cahaya yaitu apaugasma-apaugasma sebenarnya berarti “cahaya yang disinarkan dari”, sehingga kata itu menunjukkan, bahwa cahaya itu berasal dari sumber cahaya, serta memiliki sifat-sifat serta watak yang sama dengan sumber cahaya tadi. Oleh karena itu maka ungkapan cahaya kemuliaan Allahtadi menunjukkan, bahwa Yesus memiliki kemuliaan yang sama dengan kemuliaan Tuhan Allah. Dan selanjutnya ungkapan ini juga dapat diterangkan bahwa Yesus adalah cermin yang mencerminkan Tuhan Allah.

    Kata kedua yang diterjemahkan dengan gambar wujud yaitu kata Yunani carakthr-kharaktêr sebenarnya berarti tindasan, tembusan, cetakan atau cap dari Allah. Dengan ungkapan ini ditentukan, bahwa Yesus menampakkan hakekat Tuhan Allah yang sebenarnya.

    Di Ibrani 1:3 ini dengan singkat dikemukakan, bahwa Yesus Kristus adalah alat penyataan Allah yang sempurna atau alat dengannya Tuhan Allah memperkenalkan diri secara sempurna. Oleh karena itu dapat dimengerti, jika Yesus di Yohanes 14:9 berkata, bahwa barangsiapa telah melihat Dia, ia telah melihat Bapa. Sebab di dalam diri Yesus itu Tuhan Allah memperkenalkan diri kepada manusia secara sempurna. Di dalam diri Yesus itu Tuhan Allah memperkenalkan isi hati-Nya.

    Demikianlah Yesus Kristus, sebagai Firman yang pada mulanya ada pada Allah dan bersama-sama dengan Allah, dan yang kemudian menjadi manusia, adalah penyataan Tuhan Allah yang sempurna. Ia adalah penyataan Tuhan Allah dengan firman yang secara kongkrit. Oleh karena itu maka segala penyataan Tuhan Allah, baik yang dengan firman-Nya maupun yang dengan karya-Nya, di dalam diri Yesus menjadi satu secara sempurna.

    Sekalipun Yesus Kristus adalah puncak dan akhir penyataan Tuhan Allah, namun hal itu tidak berarti, bahwa Kristus adalah satu-satunya penyataan Tuhan Allah.

    Pertama-tama hal ini jelas dari Ibrani 1:1-2, yang menyebutkan, bahwa setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya.

    Di sini firman Tuhan kepada nenek moyang disebutkan bersama-sama dengan firman Tuhan Allah di dalam Anak-Nya. Jika demikian maka penyataan-penyataan Tuhan Allah sejak zaman nenek-yoyang hingga zaman Yesus dipandang sebagai suatu rentetan kejadian-kejadian yang terjadi di dalam suatu sejarah yang panjang, dengan cara yang bermacam-macam, dan yang menyatakan hal yang bermacam-macam juga. Jadi penyataan Tuhan Allah sebenarnya adalah pluriform atau beranekaragam, sedang Yesus adalah puncak dan akhir segala penyataan yang pluriform itu.

    Jikalau Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya, Ia tidak memperkenalkan diri-Nya sepenuhnya atau secara sempurna pada saat itu. Penyataan-Nya atau perkenalan-Nya setiap waktu diselaraskan dengan keadaan orang yang menerima penyataan tadi. Bukankah penyataan Tuhan Allah itu dikaitkan dengan janji-janji-Nya? Umpamanya, setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai Pembalas Hukum dan sebagai Pengasih. Kepada Abraham Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai yang Mahakuasa, yang dapat memberikan anak kepada Abraham, meski Sarai disebutkan mandul. Di Horeb Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada Musa sebagai Tuhan Allah perjanjian. Demikian seterusnya.

    Penyataan-penyataan Tuhan Allah kepada para nenek-moyang tadi oleh Alkitab jelas dipandang sebagai penyataan yang benar-benar nyata. Menurut Yesaya 1:3 dan Yeremia 2:3 umpamanya, dosa bangsa Israel ialah bahwa bangsa itu tidak mau mengakui adanya penyataan Tuhan Allah kepada nenek-moyang mereka.

    Bahwa Tuhan Allah bukan hanya menyatakan diri di dalam Kristus saja, selanjutnya dapat diuraikan sebagai berikut:

    Dari Alkitab diketahui, bahwa segera Israel mengenal Tuhan Allahnya sebagai “Allah yang berbuat”, yang dengan nyata bertindak di dalam sejarah, maka segera terdengarlah pemberitaan, bahwa Tuhan Allah yang “Mahakuasa di dalam sejarah” itu adalah juga Tuhan Allah yang “Mahakuasa di dalam alam semesta”. Dialah yang menggempakan bumi dan menghancurkan bukit-bukit, bahkan Dialah yang menjadikan itu semuanya.

    Di Yeremia 27 disebutkan, bahwa pada waktu itu datanglah utusan dari beberapa negara tetangga di Yerusalem untuk meminta kepada Yehuda, agar mau menggabungkan diri dengan para raja tetangga tadi untuk memberontak terhadap Babel. Sebagian besar rakyat Yehuda menyambut ajakan itu dengan girang. Akan tetapi raja Zedekia ragu-ragu. Dengan suatu tindakan yang simbolis Yeremia diperintahkan oleh Tuhan Allah untuk memberitakan, bahwa Yehuda harus menyerah kepaa Babel. Pemberitaan yang demikian itu disertai ucapan yang demikian, “Akulah yang menjadikan bumi, manusia dan hewan yang ada di atas bumi dengan kekuatan-Ku yang besar dan dengan lengan-Ku yang terentang, dan Aku memberikannya kepada orang yang benar di mata-Ku.”

    Firman ini bermaksud menunjukkan, bahwa Tuhan Allah yang Mahakuasa, yang menjadikan langit dan bumi serta segala isinya itu telah memberikan kekuasaan atas dunia kepada Babel. Oleh karena itu suatu pemberontakan terhadap Babel akan membawa kecelakaan kepada Yehuda. Di sini kemahakuasaan Tuhan Allah di dalam sejarah dikembalikan kepada dasar, bahwa Tuhan Allahlah yang menjadikan segala sesuatu. Tindakan Tuhan Allah yang Mahakuasa di dalam sejarah tadi dikatakan sebagai berlandaskan kepada kemahakuasaan-Nya sebagai Al-khalik, dan hal itu terjadi dengan secara erat sekali. Memang, menurut Perjanjian Lama bentuk sejarah, yaitu karya Tuhan Allah di dalam sejarah, adalah karya-Nya yang sama dengan menjadikan. Kata yang dipergunakan untuk mengungkapkan karya Tuhan Allah di dalam sejarah adalah sama dengan kata yang dipergunakan untuk mengucapkan penjadian, yaitu kata arb-bârâ’.

    Kata ברא – BÂRÂ’ kecuali dipergunakan untuk menyebutkan karya penjadian, juga dipergunakan untuk mengungkapkan mujizat-mujizat Tuhan Allah.

    Dari uraian di atas jelaslah bahwa Tuhan Allah bukanlah hanya menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya dengan perantaraan karya-Nya yang ditujukan kepada penyelamatan umat Israel, akan tetapi Ia juga memperkenalkan diri-Nya dengan perantaraan karya-Nya di dalam alam semesta. Oleh karena itu segera setelah Israel mengenal Tuhan Allahnya dengan perantaraan firman dan karya-Nya yang ditujukan kepadanya, maka terbukalah mata Israel, dan dapatlah ia melihat Tuhan Allahnya di dalam segala karya-Nya. Alam semesta, yang semula seolah-olah bisa, sekarang dapat berbicara. Itulah sebabnya juru Mazmur dapat berkata, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Demikian juga Mazmur 19 dapat mengatakan, bahwa langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.

    Para juru Mazmur di sini tidak melihat adanya ketegangan di antara karya Tuhan Allah di dalam alam semesta dan karya-Nya di dalam penyelamatan.

    Bukan hanya alam semesta “sebagai hasil karya tangan Allah” saja yang menyatakan atau memperkenalkan Tuhan Allah kepada manusia, melainkan juga “karya Allah untuk memelihara” alam semesta itu. Mazmur 33 mengajak kita untuk memuji Tuhan Allah, karena kesetiaan-Nya terhadap segala perbuatan tangan-Nya. Bumi telah dipenuhi dengan kemurahan Allah. Tuhan bukan hanya menjadikan alam semesta, akan tetapi Dia jugalah yang memeliharanya. Dialah yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi dan yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput, dan seterusnya.

    Berdasarkan hal itu semua, maka Rasul Paulus di Roma 1:19-12 dapat mengatakan, bahwa apa yang dapat diketahui manusia tentang Allah telah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka sehingga apa yang tidak nampak dari-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia dijadikan. Akan tetapi hal ini bukan berarti, bahwa segala manusia dengan akalnya dapat mengenal Tuhan Allah, seperti yang diajarkan oleh Plato, yaitu dengan mempelajari alam semesta. Kata yang diterjemahkan dengan karya-Nya di dalam ayat 20 ialah poihma-poiêma, yang kiranya lebih tepat diterjemahkan dengan hal-hal yang dikerjakan, yaitu karya Tuhan Allah atau perbuatan-perbuatan-Nya di dalam sejarah, yang setiap waktu dihadapi oleh manusia. Dengan perbuatan-perbuatan Tuhan Allah di dalam sejarah inilah manusia sejak semula dan setiap saat dikonfrontasikan dengan Tuhan Allah.

    Demikianlah dapat disimpulkan, bahwa ada sejarah penyataan Tuhan Allah yang menuju kepada puncak penyataan tadi, yaitu Yesus Kristus, dan ada penyataan Tuhan Allah yang melalui hasil karya-Nya di dalam alam semesta dan di dalam pemeliharaan serta pemerintah-Nya terhadap dunia. Maka kiranya tidaklah benar, jika penyataan Tuhan Allah hanya dipandang sebagai terjadi pada diri Yesus Kristus semata-mata.

    Telah diuraikan, bahwa Tuhan Allah menyatakan diri-Nya dengan firman dan karya-Nya guna menyelamatkan umat manusia, dan bahwa penyataan ini dapat dirangkumkan di dalam penyataan dengan firman-Nya, yang berpuncak pada diri Kristus. Di samping itu masih ada penyataan Tuhan Allah dengan hasil karya-Nya di dalam alam semesta, baik dalam alam semesta itu sendiri, maupun di dalam segala kejadian yang terjadi di dalam alam semesta, dan bahwa penyataan ini hanya dapat dilihat dan dimengerti oleh umat Allah, yang telah mengenal Allah sebagai Allahnya.
    Penyataan dua macam ini biasanya disebut penyataan yang khusus dan penyataan yang umum.

    Yang dimaksud dengan penyataan yang khusus ialah penyataan yang diberikan Tuhan Allah dengan firman dan karya-Nya, yang berpusat pada Kristus. Penyataan ini disebut khusus, karena hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman saja. Penyataan ini dapat menyelamatkan manusia.

    Yang dimaksud dengan penyataan yang umum ialah penyataan Tuhan Allah yang dengan perantaraan firman dan karya-Nya di dalam alam semesta, di dalam sejarah dan juga di dalam hati sanubari manusia. Penyataan ini disebut umum, karena diperuntukkan bagi manusia pada umumnya, tanpa terkecuali. Penyataan ini tidak dapatmenyelamatkan manusia.

    Artikel terkait :
    TEOFANI, di viewtopic.php?p=62#62

2. TEOLOGIA NATURALIS

Istilah khusus dan umum menunjukkan, bahwa pembedaan penyataan Allah itu ditentukan oleh mereka yang menjadi sasaran atau obyek penyataan itu, artinya: pembedaan penyataan itu disesuaikan dengan mereka yang diberi penyataan. Cara membeda-bedakan penyataan yang demikian itu di dalam sejarah ternyata telah dapat menimbulkan salah faham yang besar sekali. Sering ada tuduhan seolah-olah ajaran tentang penyataan yang umum itu mengajarkan bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengenal Tuhan Allah seperti yang biasanya disebut theologia naturalis.

Oleh karena itu barangkali lebih baik mengadakan pembedaan penyataan tadi bukan menurut sasaran yang menerima penyataan, melainkan menurut sifat penyataan itu sendiri. Di dalam uraian ini akan dicoba mengadakan pembedaan yang menurut sifat penyataan itu. Oleh karena itu di sini dibedakan antara penyataan yang langsung, yaitu penyataan yang secara langsung diberikan oleh Tuhan Allah kepada manusia dengan perantaraan firman dan karya-Nya yang berpusat kepada Kristus, dan penyataan yang tidak langsung, yaitu penyataan yang diberikan oleh Tuhan Allah dengan firman dan karya-Nya, akan tetapi yang dengan melalui alam semesta sebagai buah karya-Nya. Penyataan ini disebut tidak langsung, sebab datangnya kepada manusia secara tidak langsung seperti yang terjadi pada penyataan yang pertama tadi.

Keberatan yang lain terhadap istilah umum dan khusus ialah, bahwa Yesus Kristus, sebagai puncak penyataan dengan firman dan karya Allah, bukan dimaksudkan hanya untuk mereka yang terpilih semata-mata, melainkan untuk seluruh dunia. Bukanlah dalam Matius 28:18-20 Yesus memerintahkan supaya Injil atau berita kegirangan diberitakan kepada segala bangsa? Oleh karena itulah maka para rasul setelah menerima Roh Kudus diperintahkan untuk menjadi saksi, bukan hanya di Yerusalem atau di seluruh tanah Yudea dan Samaria saja, melainkan hingga sampai di ujung bumi. Demikian juga dalam 1 Timotius 2:4 disebutkan, bahwa Tuhan Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Apalagi dalam 1 Yohanes 2:2 dikatakan, bahwa Yesus adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Hal ini disebabkan karena Tuhan Allah telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.

Demikianlah ada keberatan-keberatan yang asasi untuk mengatakan bahwa penyataan yang khusus tadi hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang terpilih saja.

Telah diuraikan sebelumnya bahwa penyataan yang tidak langsung ialah penyataan Tuhan Allah yang diberikan dengan karya-Nya di dalam alam semesta dan di dalam karya pemeliharaan-Nya atau di dalam sejarah.

Penyataan Tuhan Allah ini bersuara terus, artinya Tuhan Allah di sepanjang sejarah umat manusia, sejak dahulu kala terus-menerus menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya dengan karya-Nya di dalam alam dan di dalam sejarah.
Yang menjadi persoalan ialah, apakah karena itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang kafir mengenal Tuhan Allah?

Dalam Roma 1:19 disebutkan, “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.” Ayat ini seolah-olah menegaskan, bahwa orang kafir memang mengenal Tuhan Allah.

Agar supaya kita dapat menempatkan ayat ini pada tempatnya yang sewajarnya, perlulah kita menyelidiki ayat-ayat yang lain terlebih dahulu:

1 Korintus 1:21 mengatakan, bahwa dunia (yaitu manusia yang dikuasai dosa) tidak mengenal Allah oleh hikmatnya sendiri, sedang Galatia 4:8 mengatakan, bahwa orang-orang Galatia dahulu, sebelum percaya, mereka tidak mengenal Allah dan memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Selain daripada itu 1 Tesalonika 4:5 juga mengatakan, bahwa Tuhan Allah menghendaki orang-orang Kristen di Tesalonika hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, yaitu para orang kafir. Masih ada ayat-ayat lainnya yang mengemukakan hal ini, akan tetapi kiranya cukuplah untuk, berdasarkan ayat-ayat tersebut, mengatakan, bahwa menurut Alkitab orang kafir tidak mengenal Allah.

Apakah kiranya Roma 1:19 itu bertentangan dengan kesaksian bagian-bagian lain dari Alkitab tadi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus menyelidiki apa artinya mengenal Tuhan Allah, dan apa yang dimaksud, jika dikatakan bahwa orang kafir tidak mengenal Tuhan Allah.

Menurut Yohanes 16:3, mengenal Allah berarti memiliki hidup yang kekal, yaitu berada di dalam persekutuan dengan Allah. Sebab di situ dikatakan oleh Yesus, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Jikalau kita tinjau di dalam terang ini, kita harus mengatakan, bahwa suasana yang meliputi seluruh Roma 1 tidaklah suasana hidup kekal seperti yang dikatakan oleh Yesus, bahkan, bahwa seluruh orang kafir tidak mengenal Allah itu juga terdapat dalam seluruh Roma 1 tadi.

Roma 1:18 menyebutkan, bahwa murka Allah nyata dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia. Jadi tiada persekutuan yang menyelamatkan antara Allah dan para orang fasik dan lalim. Juga Roma 1:22 menyebutkan, bahwa para orang itu sekalipun berbuat seolah-olah penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh, dengan menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, dan sebagainya. Selanjutnya Roma 1:24 mengungkapkan, bahwa Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. Dan akhirnya Roma 1:28 mengatakan, bahwa Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas.

Semua ayat-ayat itu menunjukkan, bahwa murka Allah telah dicurahkan kepada mereka, sehingga dapat disimpulkan, bahwa Roma 1 juga mengajarkan, bahwa orang kafir tidak mengenal Allah, sehingga tidak ada persekutuan di antara mereka dan Allah.

Roma 1:19 yang dipersoalkan tadi ditempatkan di tengah-tengah suasana yang demikian itu. Maka jika di situ disebutkan, bahwa apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, maka arti ungkapan itu tentu tidak sama dengan yang dimaksudkan di dalam Alkitab sebagai keseluruhan tentang hal pengenalan tentang Allah itu.

Rahasia keadaan orang kafir ini dapat disingkapkan dengan meneliti Roma 1:18, ayat yang mendahului Roma 1:19, yang menybutkan, bahwa orang-orang itu“menindas kebenaran dengan kelaliman.”

Kata yang diterjemahkan dengan menindas adalah κατεχω – katekhô, yang secara harafiah berarti: menawan, memegang dengan kokoh, menekan ke bawah, menindas. Selanjutnya, kata yang diterjemahkan dengan kelaliman adalah en adikia-en adikia, yang lebih tepat diterjemahkan dengan di dalam kelaliman.

Jadi bagian ayat ini mengandung gagasan: menawan atau menekan ke bawah, menindas di dalam kelaliman. Adapun yang ditawan atau ditindas dan ditekan ke bawah ialah kebenaran. Dengan demikian keadaan orang kafir dapat disimpulkan demikian: Di dalam hidupnya sehari-hari Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada mereka itu, yaitu dengan perbuatan-perbuatan atau karya-karya-Nya di dalam sejarah hidup mereka. Akan tetapi kebenaran Allah ini ditawan, ditindas, ditekan ke bawah ke dalam kelaliman, sehingga kebenaran Allah tadi tidak tampak lagi, sedang yang tampak adalah kelaliman. (Ingat kepada apa yang disebut kompleks harga kurang di dalam ilmu jiwa). Manusia tidak mau mengakui kebenaran, bahwa Allah menyapa mereka dengan karya-karya-Nya. Mereka memilih kelaliman. Sungguhpun mereka itu mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya, sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.

Gagasan yang tercantum di dalam bagian Alkitab ini ialah, bahwa ditimbuskannya atau ditekannya ke bawah pengetahuan tadi terjadi dengan tidak sadar, tetapi sekaligus, bersamaan dengan saat pengetahuan tadi diterimanya. Pada saat mereka menerima penyataan atau perkenalan atau sapaan Allah, pada saat itu jugalah penyataan itu ditindas. Kebenaran Allah ditindas di dalam kelaliman. Kata di dalam ini menunjukkan suasana atau iklim penindasan tadi. Oleh karena kebenaran Allah ditindas ke dalam kelaliman, maka yang timbul atau tampak adalah kelaliman, yaitu dalam bentuk penyembahan kepada patung-patung manusia atau binatang-binatang dan sebagainya.

Demikianlah orang kafir memang menerima penyataan Tuhan Allah, artinya Tuhan Allah terus-menerus menyapa mereka dengan karya-Nya yang besar, dengan kemurahan-Nya dan sebagainya. Akan tetapi orang kafir tidak mengenal Tuhan Allah yang sejati. Penyataan Tuhan Allah yang tidak langsung tadi bersuara terus, akan tetapi penyataan itu ditindas oleh manusia dan diganti dengan kedustaan dan kelaliman.

Gereja Roma Katolik mengajarkan apa yang disebut teologia naturalis atau teologia kodrati atau teologia alamiah. Yang dimaksud dengan teologia naturalis ialah, bahwa pengetahuan tentang Allah dapat diperoleh dengan menggunakan akal manusia.

Dasar ajaran itu adalah demikian: sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, ia memiliki dua hal, yaitu keadaan yang kodrati, atau keadaan manusia sebagai makhluk dengan hukum-hukum kodratnya, dan keadaan yang adikodrati, yang melebihi keadaannya yang kodrati itu. Sebagai makhluk yang kodrati, manusia adalah makhluk yang lengkap, yang memiliki akal dan kesusilaan.

Sebagai makhluk yang adikodrati, manusia menjadi gambar yang serupa dengan Allah, yang menjadikan manusia dapat mengenal Allah secara mendalam. Akan tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, ia kehilangan gambar Allah, yaitu kehilangan alatnya untuk mengenal Allah secara mendalam. Oleh karena itu manusia tidak lagi dapat mengenal Allah secara mendalam. Sekalipun demikian, keadaan kodrat manusia masih utuh. Dengan akalnya manusia masih dapat mengenal Allah sekalipun pengenalan itu tidak secara mendalam.

Jalan yang dilalui akal untuk mendapatkan pengetahuan akan Tuhan Allah ialah:

1. Jalan causalitas, yaitu jalan dengan mencari sebab-sebab segala sesuatu. Dengan jalan itu akhirnya akal akan sampai kepada sebab yang pertama. Adapun sebab pertama itu adalah Tuhan Allah.

2. Jalan negationis, jalan penyangkalan, yang dengannya akal manusia akan sampai kepada pengetahuan, bahwa Tuhan Allah tidak sama dengan para makhluk.

3. Jalan eminentiae, yaitu jalan melalui hal-hal yang tampak menonjol, yang menjadikan akal manusia akan sampai kepada pengetahuan, bahwa Tuhan Allah jauh lebih tinggi daripada para makhluk.

Pengetahuan tentang Tuhan Allah yang bersifat kodrati ini tidak memerlukan penyataan Tuhan Allah. Sebab dengan terang yang ada pada akal manusia, orang dapat mengenal Tuhan Allah.
Ajaran teologia naturalis ini jelas tidak cocok dengan apa yang disebut penyataan Tuhan Allah yang tidak langsung.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, puncak penyataan atau perkenalan Allah yang secara langsung adalah Yesus Kristus, yaitu firman yang telah menjadi manusia.

Apa isi penyataan Tuhan Allah yang langsung itu? Apakah yang diperkenalkan Allah kepada manusia secara langsung? Sudah tentu keadaan atau hakekat-Nya sendiri. Hakekat Tuhan Allah itu diperkenalkan dengan cara yang bermacam-macam, yang semuanya melukiskan hakekat ilahi dalam segala seginya. Hakekat Allah itu diungkapkan di dalam segala firman dan karya-Nya, baik yang di dalam Perjanjian Lama, maupun yang di dalam Perjanjian Baru yang terjadi di dalam diri Yesus Kristus, sebagai puncak penyataan Allah.

Jadi, umpamanya bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Maha Kuasa, yang terbukti dari karya pembebasan-Nya yang dilakukan terhadap Israel, atau bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Maha Murah, yang terbukti dari karya pemeliharaan-Nya terhadap Israel selama mengembara di padang guruh pasir, atau bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Maha Kudus, yang terbukti dari karya penghukuman-Nya terhadap segala dosa Israel, dan lain sebagainya, semuanya itu menonjolkan keadaan atau hakekat Tuhan Allah. Dengan segala karya-Nya itu Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sendiri. “Akulah yang hadir berbuat.” “Jikalau kamu ingin tahu siapa aku, lihatlah segala perbuatan-Ku.”

Segala pengungkapan hakekat Allah yang dengan firman dan karya-Nya itu dapat dirangkumkan dalam satu ungkapan, bahwa dengan semuanya itu Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan kasih-Nya. Dengan semuanya itu Tuhan Allah bermaksud untuk memperkenalkan diri-Nya sebagai yang mengasihi umat-Nya. Oleh karena itu tepatlah, jikalau rasul Yohanes di Yohanes 4:8 merangkumkan hakekat Allah sebagai kasih. Ia berkata, “Allah adalah kasih.”

Adapun menurut Yohanes, kasih itu dinyatakan demikian, bahwa Ia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia supaya kita hidup oleh-Nya. Jadi intisari hakekat Tuhan Allah, yang diperkenalkan kepada manusia adalah kasih-Nya kepada manusia itu. Puncak serta pengungkapan kasih Allah terletak pada pengutusan Anak-Nya ke dalam dunia. Bukankah di dalam Kristus itu Tuhan Allah sudah mendamaikan isi dunia dengan diri-Nya sendiri?

Demikianlah penyataan Tuhan Allah yang langsung itu memuncak di dalam firman yang menjadi manusia.

Telah diuraikan sebelumnya, bahwa Tuhan Allah menyatakan diri-Nya kepada Israel dengan firman dan karya-Nya di dalam sejarah atau di dalam firman dan karya-Nya yang membuat sejarah. Juga telah dikemukakan, bahwa penyataan Tuhan Allah pada hakekatnya adalah penyataan kasih-Nya, yang dengannya Tuhan Allah telah mendamaikan manusia dosa dengan diri-Nya sendiri.

Oleh karena segala penyataan atau perkenalan itu terjadi di dalam sejarah, maka kita menyaksikan Tuhan Allah beraksi, berbuat, berkarya di dalam sejarah Israel dengan karya-karya-Nya yang besar dan menakjubkan, yang menjadikan Israel berseru, “Yahu!” Karya-karya Tuhan Allah yang besar dan menakjubkan itu umpamanya: pengeluaran Israel dari Mesir, penawanan Israel di Babel serta pengeluarannya dari Babel. Kita juga menyaksikan karya Tuhan Allah yang melalui segala perbuatan Kristus, sengsara dan wafat-Nya serta kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga.

Sebagai kejadian-kejadian yang menjadi sejarah, maka segala kejadian yang besar dan menakjubkan itu hanya terjadi sekali dan tidak akan diulangi lagi. Padahal penyataan Tuhan Allah bukanlah hanya diperuntukkan bagi mereka, yang hidup pada waktu kejadian-kejadian yang besar dan menakjubkan itu terjadi. Tuhan Allah adalah Allah yang hidup, sejak dahulu hingga sekarang, dan sampai selama-lamanya. Oleh karena itu penyataan-Nya bukanlah hal yang mati, tetapi yang hidup. Tuhan Allah terus bekerja di dalam sejarah sejak dahulu hingga kini, dan sampai selama-lamanya, untuk mendamaikan manusia dosa dengan diri-Nya sendiri. Maka penyataan Tuhan Allah tadi diperuntukkan bagi segala bangsa di segala zaman dan tempat.

Demi keselamatan seluruh umat manusia di segala zaman dan tempat itu penyataan Tuhan Allah harus diteruskan dari keturunan yang satu kepada keturunan yang lain. Seandainya itu hanya diteruskan secara lisan di sepanjang sejarah umat manusia, tentu penyataan itu dapat ditambah atau dikurangi oleh manusia yang meneruskannya. Maka, perlulah penyataan Tuhan Allah yang hanya terjadi sekali untuk selama-lamanya itu dibukukan.

Dengan dibukukannya itu kesaksian menjadi tetap, sehingga terjagalah kemurnian penyataan Tuhan Allah. Itulah sebabnya, maka dalam Perjanjian Lama, sementara Tuhan Allah masih melaksanakan karya-karya-Nya yang besar dan menakjubkan untuk membuktikan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat-Nya, telah terdengar perintah Tuhan Allah untuk menulis penyataan-Nya. Dalam Keluaran 17:14 Musa diperintahkan untuk menuliskan “perang Israel dengan Amalek” dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan. Dalam Keluaran 24:3-7 disebutkan tentang adanya sebuah “kitab perjanjian” yang ditulis atas perintah Tuhan Allah sendiri. Demikianlah seterusnya.

Demikianlah orang-orang yang menyaksikan bagaimana Tuhan Allah memperkenalkan kasih-Nya kepada mereka, baik pada waktu girang, maupun pada waktu susah, diwajibkan meneruskan berita tentang karya Tuhan Allah itu kepada orang lain serta kepada keturunan yang berikutnya. Dan inilah yang menjadi dasar pembukuan firman Tuhan, sebagai kesaksian tentang apa yang telah difirmankan oleh Tuhan Allah demi keselamatan umat manusia.

3. PERNYATAAN ALLAH

Selanjutnya dapat dikemukakan, bahwa pembukuan penyataan Tuhan Allah itu menjadikan kita, orang-orang yang hidup setelah zaman Yesus dapat bersekutu dengan Tuhan Allah. Hal ini diutarakan oleh rasul Yohanes di 1 Yohanes 1:1-3. Gagasan yang terkandung di dalam bagian Alkitab ini adalah sebagai berikut:

Tuhan Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Firman yang menjadi manusia. Rasul Yohanes telah menyaksikan hal itu dengan matanya sendiri. Ia percaya kepada penyataan Tuhan Allah di dalam Firman-Nya yang menjadi manusia itu. Dengan demikian Yohanes mengamini penyataan Allah itu, yang menjadikan dia memperoleh persekutuan dengan Allah Bapa di dalam Kristus.

Sekarang Yohanes menyaksikan penyataan Allah di dalam Kristus itu kepada mereka yang dikirimi suratnya. Jika mereka percaya kepada kesaksian Yohanes itu, mereka tidak menganggap Yohanes sebagai penipu. Hal ini berarti bahwa ada persekutuan antara Yohanes sebagai penyaksi mata dengan mereka itu. Percaya kepada kesaksian Yohanes sebagai kesaksian yang benar berarti, bahwa mereka percaya kepada Yesus Kristus sebagai penyataan Tuhan Allah untuk mendamaikan manusia dosa dengan diri-Nya sendiri. Dengan demikian maka orang-orang itu bersekutu dengan Kristus, yang menjadikan mereka juga didamaikan dengan Tuhan Allah. Demikianlah penyaksian penyataan Tuhan Allah tadi menjadikan orang lain dapat bersekutu dengan Tuhan Allah sendiri.

Akhirnya kita dapat mengatakan, bahwa pembukuan penyataan Tuhan Allah itu bermaksud agar supaya “kita, orang-orang yang hidup sesudah zaman Yesus Kristus, dapat percaya”, bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah, dan oleh karenanya mendapat hidup yang kekal.

Itulah sebabnya maka segera setelah Kristus naik ke surga kita menyaksikan para rasul menuliskan penyataan Allah yang disaksikan di dalam diri Yesus Kristus, dengan maksud agar supaya kita dapat mengetahui kebenaran Kristus.

Bagaimanakah pelaksanaan pembukuan penyataan Tuhan itu? Soal ini dapat dijelaskan demikian: Dalam 2 Timotius 3:16 disebutkan, bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Di sini disebutkan adanya tulisan yang diilhamkan Allah yang bermanfaat untuk mengajar, dan sebagainya. Di sini tidak dibedakan antara wahyu dan ilhame, seperti yang diajarkan oleh para ulama Islam. Karena pengertian tentang hal itu memang berlainan sekali.

Kata yang diterjemahkan dengan diilhamkan adalah θεοπνευστος – theopneustos, yang secara harfiah berarti: dihembus, dimasuki angin atau nafas Allah. Maka ungkapan “tulisan yang diilhamkan” berarti tulisan yang ke dalamnya dihembuskan atau ditiupkan nafas atau roh Allah.

(Lihat Artikel : ILHAM, di ilham-vt189.html )

Bagaimana ungkapan ini harus diartikan? Untuk menjelaskan hal itu kita akan berpangkal dari beberapa ayat lain:

Matius 1:22 mengatakan, bahwa Maria melahirkan Yesus itu supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi, yaitu apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam Yesaya 7:14.

Matius 2:15 mengatakan, bahwa Yesus harus dibawa ke Mesir itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi, yaitu apa yang tercantum di Hosea 11:1. Demikian masih ada ayat-ayat lainnya yang senada dengan ayat-ayat ini. Di dalam ayat-ayat ini disebutkan, bahwa Tuhan Allah berfirman oleh nabi, atau jikalau dikatakan secara harafiah “dengan melalui nabi”, sebab kata aslinya berbunyi δια του προφητου – dia tou prophètou. Pokoknya Tuhan Allah berfirman dengan memakai mulut nabi sebagai perantara.

Hal yang demikian bukan hanya berlaku bagi apa yang diucapkan oleh nabi, yaitu pemberitaan dengan lisan, melainkan juga berlaku bagi apa yang ditulisnya, yaitu pemberitaan dengan tertulis.

Ayat lain yang harus diperhatikan adalah 2 Petrus 1:21, yang mengatakan, bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci itu tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Menurut ayat ini para nabi yang dipakai oleh Tuhan Allah untuk menubuatkan kehendak-Nya itu didorong oleh Roh Kudus. Pendorongan ini harus dibedakan dengan “pimpinan” Roh Kudus, yang disebutkan di Roma 8:14, yang diberikan kepada segala orang beriman. Didorong oleh Roh Kudus di sini menunjuk kepada suatu tindakan Roh Kudus yang secara khusus.

Dua hal yang tampak jelas dari bahan-bahan tersebut di atas, yaitu:

1. Bahwa Tuhan Allahlah yang berfirman. Maka Dialah yang memiliki gagasan.
2. Bahwa manusia (yaitu para nabi atau rasul atau orang lain) berkata-kata atau menulis, karena didorong oleh Roh Kudus.

Yang menjadi persoalan selanjutnya ialah bagaimana kerja-sama antara Roh Kudus dan manusia itu? Apakah di dalam soal pengilhaman ini manusia hanya pasif saja, hanya berfungsi sebagai mesin, atau apakah manusia di sini juga aktif, bekerja sendiri, dan sebagainya?

Usaha-usaha yang telah pernah dikemukakan sebagai pemecahan persoalan ini ada bermacam-macam, yaitu umpamanya:

Pengilhaman yang mekanis

Yang dimaksud dengan pengilhaman yang mekanis ialah bahwa manusia di dalam pengilhaman tadi hanya berfungsi sebagai mekanik atau mesin. Segala inisiatif dan keaktifan-pokok ada pada Tuhan Allah. Pandangan seperti ini umpamanya dikemukakan oleh para orang Kristen yang berpendirian, bahwa Alkitab diilhamkan secara harafiah, kata demi kata. Tiap kata dan ungkapan dianggap sebagai diilhamkan atau dihembuskan oleh Allah, atau dibisikkan oleh Allah. Oleh karena itu Alkitab harus diterima seperti apa adanya, tidak boleh diubah sama sekali.

Pada agama lain pandangan yang demikian terdapat di dalam agama Hindu, yang mengajarkan, bahwa mantera-mantera di dalam Kitab Weda dan juga isi kitab-kitab Brahmana dan Upanisad diterima sebagai dibisikkan oleh dewa yang tertinggi dengan perantaraan para resi, para Brahmana dan para Guru.

Demikian juga pengilhaman yang mekanis ini diajarkan oleh para ulama Islam. Bagi agama Islam, Firman Tuhan sebagai Kitab adalah kekal. Firman itu secara kekal tertulis di dalam lawh al mahfuz. Oleh malaikat Jibril, firman itu pada waktunya diturunkan kepada nabi atau rasul, di antaranya yang terakhir kepada Nabi Muhammad SAW. Sang nabi mengucapkan firman itu, yang dicatat oleh yang mendengarnya, dan akhirnya dikumpulkan di dalam Al~Qur’an. Oleh karenanya bunyi Al~Qur’an sama dengan firman yang tertulis di dalam lawh al mahfuz tadi.

Menurut pandangan para ahli Alkitab pengilhaman mekanis ini tidak mungkin diterapkan kepada alkitab, sebab:
1. Lukas 1:3 menunjukkan, bahwa Lukas menyurat Injilnya yang ditujukan kepada Teofilus itu setelah ia menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya. Jadi Injil Lukas tidak dibisikkan oleh Roh Kudus, melainkan hasil penyelidikan yang seksama.

2. Apa yang dibisikkan atau didiktekan tentu memberikan hasil yang sama, baik yang mengenai bahasa, maupun gagasan, dan sebagainya. Padahal di dalam Alkitab terang, bahwa masing-masing penulis memiliki gayanya sendiri-sendiri. Umpamanya: cara menulis Matius lain dengan cara menulis Lukas atau Markus atau Yohanes. Bahasa mereka juga berlainan sekali.

3. Dari Alkitab terang juga bahwa bakat para penulis juga dipergunakan. Umpamanya: Daud sebagai penyair, lain caranya menyaksikan pertemuannya dengan Tuhan Allah dibanding dengan Musa atau Paulus.

Dari sini teranglah bahwa para penulis Alkitab tidak hanya berfungsi sebagai corong atau sebagai mesin saja. Sebab mereka mengadakan penyelidikan sendiri, menentukan maksudnya sendiri dan memilih caranya sendiri di dalam pekerjaan menyaksikan penyataan Tuhan Allah yang hidup itu.

Pengilhaman yang negatif atau pasif

Pandangan ini mengajarkan, bahwa para penulis Alkitab dijaga oleh Roh Kudus jangan sampai tersesat. Jadi yang diilhami adalah para penulisnya. Mereka dibantu oleh Roh Kudus, sehingga apa yang diucapkan atau ditulis sesuai dengan kehendak Tuhan Allah. Pandangan ini umpamanya dahulu diikuti oleh Gereja Roma Katolik.

Juga pandangan ini tidak sesuai dengan gagasan yang tercantum di dalam Alkitab. Sebab di sini dengan jelas disebutkan, bahwa yang diilhamkan adalah tulisan-tulisannya atau Alkitabnya, bukan penulisnya.

Pengilhaman yang dinamis

Menurut pandangan ini hati para penulis diperbaharui oleh Tuhan Allah, sehingga pengilhaman identik dengan kelahiran kedua kali. Pengilhaman ialah kecakapan yang diberikan oleh Roh Kudus di dalam jabatan sebagai penulis. Makin dekat penulis dengan Kristus, makin dapat dipercaya hasil penulisannya. Oleh karena itu maka tulisan para rasul dianggap sebagai lebih dapat dipercaya daripada tulisan para murid rasul atau tulisan orang-orang setelah zaman para rasul. Matius dan Yohanes umpamanya lebih dapat dipercaya daripada Markus dan Lukas. Demikian seterusnya. Jadi kewibawaan Alkitab tergantung dari penulisnya.

Pandangan ini dikemukakan oleh F. Schleiermacher.

Menurut para ahli Alkitab, pandangan yang demikian ini juga tidak sesuai dengan gagasan Alkitab sendiri. Sebab Alkitab menunjukkan, bahwa ada juga orang-orang, yang sekalipun tidak tergolong orang beriman, namun dipergunakan juga oleh Tuhan Allah untuk menyatakan kehendak-Nya. Kita ingat akan Bileam, yang memberitakan kehendak Tuhan Allah, dan Kayafas, yang memberitakan tentang perlunya Yesus mati bagi umat Allah.

Pengilhaman yang organis

Pandangan inilah yang sesuai dengan pemberitaan Alkitab.

Kata organ tidak memberi pengertian yang khas, sebab kata ini hanya berarti alat. Jadi dengan istilah ini hanya diungkapkan bahwa di dalam pengilhaman itu Tuhan Allah memakai manusia sebagai alat-Nya. Oleh karena itu ungkapan ini agaknya belum menjamin kemurnian artinya. Sebab ada orang-orang, yang sekalipun mengatakan bahwa Alkitab diilhamkan secara organis, namun dalam prakteknya memegang teguh kepada pengilhaman yang mekanis, karena tidak berani meninggalkan penafsiran yang fundamentalistis.

Untuk mendekati arti ungkapan organis itu kita akan berpangkal dari Kisah Para Rasul 9:15, di mana Yesus memerintahkan kepada Ananias supaya pergi mengunjungi Saulus di tempat ia untuk sementara berada, dengan alasan, bahwa Saulus adalah alat pilihan Kristus untuk memberitakan nama-Nya kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Di sini Saulus, yang kemudian bernama Paulus, disebut alat pilihan Kristus “untuk memberitakan nama-Nya” atau untuk memberitakan Injil atau firman Allah.

Karena menjadi alat pilihan Kristus itulah kita menyaksikan bagaimana Paulus di seluruh Kisah Para Rasul menjelajah Asia Kecil dan Yunani, bahkan hingga di Roma (dan mungkin juga di Spanyol) untuk memberitakan Injil. Hal itu semula dilakukan dengan secara lisan, tetapi kemudian, ketika timbul kesukaran-kesukaran di beberapa jemaat, juga secara tertulis dengan surat-surat kirimannya.

Bagaimana segala pekerjaan Paulus itu dilakukan? Apakah pada waktu itu Paulus hanya berfungsi sebagai medium (prewangan) , yang kosong, yang kemudian diisi dengan Roh Kudus, dan Roh Kudus inilah yang berbicara melalui mulut Paulus? Tidak. Pada waktu itu Paulus bersaksi sendiri. Ia memilih judul ceramahnya sendiri, memilih kata-kata sendiri untuk mengungkapkan berita yang dibawanya, dan sebagainya, mungkin seperti jika pada zaman sekarang seorang pendeta akan membawakan khotbahnya. Sekalipun demikian, sekalipun semua kata-kata yang diucapkannya itu adalah kata-kata manusia, kesaksian manusia, namun dapat dikatakan juga bahwa Roh Kudus turut bersaksi di dalam kesaksian Paulus itu. Sebab Roh Kudus, menurut Alkitab, bersaksi dengan perantaraan kesaksian manusia.

Apa sebab demikian? Menurut Lukas 10:16 kata-kata orang yang menyaksikan Kristus memiliki wibawa sebagai dari Kristus sendiri. Sebab di situ disebutkan, “Barangsiapa mendengarkan kamu (yaitu para murid yang diutus mengabarkan Injil) ia mendengarkan Aku, dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku, dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”

Di dalam ayat ini terkandung urut-urutan yang berpangkat-pangkat. Menolak para murid (hamba) berarti menolak Kristus, sedang menolak Kristus berarti menolak Dia yang mengutus-Nya, yaitu Allah Bapa. Jika urut-urutan ini dibalik, menjadi demikian: Allah Bapa memperkenalkan diri-Nya dengan melalui Kristus, Firman yang menjadi manusia. Kristus memperkenalkan diri-Nya melalui pekerjaan Roh Kudus, sedang Roh Kudus bersaksi melalui kesaksian manusia. Dengan demikian jelas ada penyerahan kuasa atau otoritas yang kongkrit kepada kata-kata orang yang menyaksikan karya penyelamatan Kristus. Hal ini disebabkan karena penyaksian orang-orang tadi dikaitkan dengan kesaksian Roh Kudus.

Di Yohanes 15:26 disebutkan, bahwa jika Penghibur yang diutus oleh Yesus datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Yesus. Bagaimana Roh Kudus melakukan penyaksian itu? Bukan dengan memakai para rasul sebagai corong, melainkan melalui kesaksian para rasul. Itulah sebabnya para murid disuruh bersaksi sendiri juga. “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:27).

Padahal bersaksi sendiri berarti: bekerja sendiri, memilih kata-kata sendiri, memilih judul sendiri dan memilih cara penguraian sendiri, dan sebagainya.

Sekalipun segala kesaksiannya itu adalah hasil pekerjaannya sendiri, akan tetapi para rasul yakin, bahwa Roh Kudus ada di belakangnya. Itulah sebabnya rasul Paulus di Galatia 1:8 berani berkata, bahwa sekalipun ada seorang malaikat dari surga yang memberitakan Injil, tetapi berbeda dengan Injil yang telah diberitakannya kepada orang-orang Galatia, terkutuklah dia. Ucapan yang demikian itu hanya mungkin dikemukakan oleh orang yang yakin benar kepada kebenaran pemberitaannya.

Sekalipun demikian, tidak semua kata-kata Paulus yang telah diucapkan demi kepentingan jemaat itu adalah firman Tuhan. Sebab rasul Paulus dapat dengan jelas membedakan pikirannya sendiri dengan pikiran Tuhannya. Hal ini jelas umpamanya, dari yang dikemukakan oleh Paulus di 1 Korintus 7:6-7, “Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran (artinya: bukan sebagai perintah Tuhan), bukan sebagai perintah (yaitu: perintah Tuhan). Namun demikian alangkah baiknya kalau semua orang seperti aku ….” Rasul Paulus mengemukakan keinginannya bahwa semua orang sama seperti dia yaitu tidak kawin. Akan tetapi ini bukan perintah Tuhan, hanya nasehat yang keluar dari diri Paulus sendiri. Sebaliknya, terhadap orang yang telah kawin. Paulus berkata, “Kepada orang-orang yang telah kawin aku – tidak, bukan aku, tetapi Tuhan – perintahkan supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.” (1 Korintus 7:10). Jadi para penulis memang dapat membedakan pikiran sendiri dengan pikiran Tuhannya.

Jikalau demikian halnya dengan Perjanjian Baru, terlebih-lebih hal ini berlaku bagi Perjanjian Lama, yang jauh lebih tua daripada Perjanjian Baru.

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan, bahwa di dalam Alkitab itu manusia bersaksi tentang karya penyelamatan Tuhan Allah yang dilakukan di dalam Kristus. Akan tetapi di dalam segala usaha manusia itu Roh Kudus bersaksi tentang Kristus. Alkitab oleh karenanya adalah alat Roh Kudus untuk menyaksikan karya penyelamatan Kristus.

Demikian isi pengertian pengilhaman yang organis.

Bahwa Alkitab memiliki fungsi sebagai kesaksian, terang juga dari kata-kata Yesus mengenai kitab Perjanjian Lama. 

Di Yohanes 5:39 Yesus berkata bahwa kitab-kitab Suci (yaitu kitab-kitab Perjanjian Lama) menyaksikan Kristus. Ia berkata kepada para orang Yahudi, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksiantentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Di Lukas 22:32 Yesus berkata kepada para murid-Nya, bahwa nas Kitab Suci harus digenapi pada-Nya, sebab apa yang tertulis tentang Dia (yang menyaksikan Dia) sedang digenapi. Selanjutnya di Lukas 24:27 kepada para murid yang pergi ke Emaus, Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati itu menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia (yang menyaksikan Dia) dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari Kitab-kitab Musa dan segala Kitab Nabi-nabi.

Demikianlah menurut Yesus sendiri kitab Perjanjian Lama adalah suatu kesaksian yang menyaksikan tentang diri-Nya.

Sikap Yesus yang berkata itu diikuti juga oleh para rasul. Di Kisah Para Rasul 10:43 rasul Petrus berkata, bahwa tentang Kristus semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya. Jadi baik Yesus maupun para rasul berpendapat bahwa kitab Perjanjian Lama adalah suatu kesaksian, yaitu suatu kesaksian Tuhan Allah melalui kesaksian manusia tentang Kristus.

Demikian baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah kesaksian tentang karya penyelamatan Allah yang dilakukan di dalam Kristus.

Percaya kepada kesaksian Alkitab berarti percaya kepada kesaksian Roh Kudus tentang karya penyelamatan Kristus. Maka Alkitab tidak boleh dipisahkan dari isinya (yaitu keselamatan di dalam Kristus) dan dari tabiatnya sebagai kesaksian tentang Kristus Yesus. Percaya kepada Alkitab adalah sama dengan menerima kesaksian tentang Yesus Kristus sebagai alat penyelamatan Tuhan Allah.

Bagaimana kita, yang hidup pada zaman sekarang ini, mendapat kepastian, bahwa Alkitab sebagai kesaksian manusia itu adalah kesaksian Roh Kudus, sehingga menjadi firman Allah bagi kita?

Guna menjawab pertanyaan itu kita kembali kepada ayat-ayat yang telah dibicarakan di atas, yaitu 1 Yohanes 1:1-3.

Di dalam bagian Alkitab ini terdapat urut-urutan gagasan sebagai berikut:

Di dalam diri Yesus Kristus, Tuhan Allah telah berfirman kepada manusia, atau telah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia sebagai yang memberikan hidup kekal. Barangsiapa yang percaya kepada Firman itu ia akan memiliki hidup kekal.

Yohanes telah menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana Kristus mengusahakan keselamatan itu. Ia percaya, bahwa di dalam diri Kristus itu Tuhan Allah telah beffirman. Ia tidak membohongkan Tuhan Allah, tidak menganggap Tuhan Allah sebagai membohong dengan Firman-Nya itu, sebaliknya, Yohanes mengamini Firman Allah itu. Ia tidak bersikap seperti Adam di Firdaus yang menganggap Allah sebagai membohong, ketika Ia menyabdakan perintahnya di Kejadian 2:17. Oleh karena sikap Adam yang demikian itu maka tidak ada persekutuan antara Tuhan Allah dengan dia, sehingga Adam tidak menerima hidup kekal. Berbeda sekali dengan sikap Yohanes. Ia tidak membohongkan Tuhan Allah ketika ia berfirman di dalam Kristus kepadanya. Ia mengamini-Nya, ia percaya kepada Allah. Oleh karena itu ada persekutuan antara Allah dengan dia (“persekutuan kami adalah dengan Bapa”).

Yohanes sebagai penyaksi mata (“yang sudah mendengar, melihat, meraba,” dan seterusnya) bersaksi tentang Firman hidup itu kepada orang-orang Kristen di Asia Kecil yang dikirimi suratnya. (“Sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal”). Orang-orang di Asia Kecil itu mengamini kesaksian Yohanes, menerimanya sebagai benar. Jadi mereka tidak membohongkan Yohanes. Oleh karena itu ada persekutuan antara Yohanes dengan orang-orang itu. (“kamupun beroleh persekutuan dengan kami”).

Oleh karena orang-orang Kristen di Asia Kecil itu tidak membohongkan Yohanes, artinya: membenarkan kesaksian Yohanes, maka dengan itu mereka menerima kesaksian Tuhan Allah terhadap Yohanes, atau mereka juga tidak membohongkan Tuhan Allah, mereka mengamini firman Allah di dalam Kristus. Dengan demikian mereka juga mendapatkan persekutuan dengan Tuhan Allah serta menerima hidup kekal.

Dari 1 Yohanes 1:1-3 ini kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa oleh karena kesaksian Yohanes tentang Firman yang hidup adalah benar, sesuai dengan kenyataannya, maka Roh Kudus bersaksi melalui kesaksian Yohanes itu guna meyakinkan orang-orang Kristen di Asia Kecil. Para orang Kristen di Asia Kecil itu seterusnya menyaksikan firman yang telah dipercayai itu kepada orang lain dan kepada keturunan mereka. Kesaksian mereka itu adalah kesaksian Roh Kudus jikalau di dalam menerjemahkan firman itu mereka setia, tidak menyimpang dari kebenaran. Demikian seterusnya, dari keturunan yang satu kepada keturunan yang lain. Kesaksian manusia tentang karya penyelamatan Kristus adalah kesaksian Roh Kudus, dengan syarat jikalau kesaksian itu adalah benar, tidak menyimpang dari kenyataannya. Bagi kita yang hidup pada zaman sekarang ini hal itu berarti, bahwa tafsiran yang benar adalah yang menentukan. Bukan segala uraian yang diambil dari Alkitab adalah firman Tuhan. Uraian itu adalah firman Tuhan jika meneruskan kerygma atau berita yang benar dari Alkitab.

Alkitab dalam bentuknya yang sekarang, baik yang mengenai Perjanjian Lama, maupun yang mengenai Perjanjian Baru tidak sekaligus tersusun menjadi satu, melainkan mengalami sejarah yang panjang, yang penuh dengan pergumulan, yaitu di dalam hal memilih serta mengambil keputusan yang mana dari antara sekian banyak tulisan yang ada itu adalah firman Allah.

Agaknya semula hukum-hukum Allah atau Taurat-lah yang diterima oleh Israel sebagai firman Allah. Taurat ini dilayankan oleh para imam. Oleh karena itu menolak Taurat berarti mendatangkan malapetaka.

Pada zaman para nabi agaknya pelayanan Taurat Allah yang dilakukan oleh para imam membeku, sehingga bangkitlah para nabi, yang memberitakan firman Allah dengan penuh semangat dan dengan daya yang kuat serta menggetarkan.

Firman yang dilayankan oleh para nabi secara lisan itu semua hanya bersifat sementara, artinya: hanya berlaku pada zaman para nabi itu. Akan tetapi agaknya di zaman-zaman yang kemudian oleh para murid nabi firman-firman itu dibukukan dan dijadikan pedoman bagi kehidupan umat Israel. Memang ada di antara para nabi yang menulis firman yang telah diberitakan, umpamanya Yeremia, akan tetapi hal itu tidak berarti, bahwa seluruh kitab nabi itu disusunnya sendiri.

Di samping firman yang dilayankan oleh para nabi, agaknya di sepanjang abad-abad itu telah timbul tulisan-tulisan yang memiliki arti keagamaan yang berdiri sendiri, akan tetapi yang kemudian juga dibukukan. Tulisan-tulisan ini umpamanya berbentuk nyanyian guna memuji, mengucap syukur, berdoa, mengeluh, dan lain sebagainya, dan berbentuk amsal yang mengandung di dalamnya hikmah dan lain sebagainya.

Jika demikian, bilamana kitab Perjanjian Lama itu lengkap selesai seperti yang kita miliki sekarang ini?

Kita tahu, bahwa menurut tradisi Yahudi, kitab Perjanjian Lama dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: תורה – TORAH atau Taurat, yang meliputi Kitab-kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan; נביאים – NEVI’IM atau Nabi-nabi” yang meliputi Kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel I, II, Raja-raja I, II, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan dua belas nabi kecil (Hosea hingga Maleakhi); כתובים – KETUVIM atau Surat-surat yang meliputi Mazmur, Ayub, Amsal, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra-Nehemia, Tawarikh I, II.

Agaknya ketika zaman Yesus Kitab Perjanjian Lama ini telah lengkap, sebab di Lukas 24:44 Yesus berkata kepada para muridnya, bahwa semua yang dituliskan tentang Dia dalam Kitab “Taurat Musa” dan “Kitab nabi-nabi” serta “Kitab Mazmur” harus digenapi. Mungkin yang dimaksud dengan “Kitab Mazmur” adalah כתובים – KETUVIM, akan tetapi mungkin juga bahwa Ketuvim pada waktu itu belum lengkap. Yang jelas ialah, bahwa pada awal atau pertengahan abad Masehi Kitab Perjanjian Lama telah dibulatkan dan diakui.

Jelaslah, bahwa pengumpulan kitab-kitab Perjanjian Lama menjadi satu hingga menjadi pedoman bagi hidup dan kepercayaan Yahudi itu tidak terjadi sekaligus, melainkan memakan waktu yang lama. Selain daripada itu pengumpulan tadi juga disertai pergumulan, yang disebabkan karena orang harus memilih di antara sekian banyak kitab yang ada. Itulah sebabnya maka di samping kitab-kitab yang dijadikan pedoman atau norma hidup dan kepercayaan itu masih ada kumpulan kitab-kitab yang disebut apokrip (samar).

Bagaimanapun, akhirnya umat Allah di dalam Perjanjian Lama memutuskan, bahwa firman Allah olehnya hanya didengar di dalam kitab-kitab yang sekarang disebut: kitab Perjanjian Lama. Dan oleh karena ternyata, bahwa Yesus dan para rasul menerima kitab-kitab itu sebagai firman Allah, maka umat Allah di dalam Perjanjian Baru menerima kitab Perjanjian Lama itu juga sebagai firman Allah.

Gereja yang pertama telah menerima kitab Perjanjian Lama sebagai firman Allah. 

Selanjutnya gereja pada abad-abad pertama itu juga memiliki banyak tulisan kesaksian tentang Yesus yang diterima dari para rasul dan para murid rasul serta dari para bapa kerasulan. Oleh karena itu gereja yang pertama itu harus mengadakan penyelidikan, pertimbangan, pemilihan dari sekian banyak tulisan yang ada tadi.

Agaknya semula yang dipentingkan adalah tulisan-tulisan yang memuat cerita tentang Yesus dan karya-karya-Nya, yaitu yang dikenal sebagai kitab-kitab Injil. Orang tidak dapat menentukan dengan tepat bilamana dan di mana keempat Injil yang dimiliki hingga sekarang itu ditetapkan dan dikumpulkan. Sebab pada pertengahan pertama dari abad kedua, Papias umpamanya, belum mengenal Injil Lukas, sedang ada golongan yang meragukan Injil Yohanes. Yang jelas ialah, bahwa keempat Injil itulah yang pertama-tama diterima sebagai pengumpulan yang tetap.

Mengenai surat-surat para rasul dapat dikatakan demikian, bahwa munculnya kanon Marcion pada pertengahan abad kedua, memaksa gereja untuk memasukkan surat-surat para rasul itu juga ke dalam daftar kitab-kitab yang telah dimilikinya, yaitu Injil. Sekalipun demikian masih jauh jalan yang harus dilalui gereja untuk sampai kepada penyusunan kitab Perjanjian Baru seperti yang dikenal sekarang ini. Baru setelah ada rapat-rapat gerejawi yang berulang kali akhirnya pada akhir abad keempat diputuskan untuk menerima 27 kitab yang dimiliki hingga sekarang sebagai kitab Perjanjian Baru, yang menyaksikan karya penyelamatan Kristus secara benar, dan oleh karenanya menjadi pedoman atau norma bagi kehidupan gereja.

Dari segala uraian yang telah dikemukakan di atas jelaslah kiranya, bahwa baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru bukanlah kitab-kitab yang telah diturunkan dari surga, baik dalam bentuk lembaran maupun dalam bentuk kitab, akan tetapi Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah kitab yang tumbuh di dalam sejarah, dilahirkan karena kebutuhan umat Allah akan suatu pedoman yang tetap bagi kehidupan keagamaannya.

Seluruh isi Alkitab itulah yang oleh umat Allah dipandang sebagai pengumpulan tulisan-tulisan yang secara tepat dan benar menyaksikan akan karya penyelamatan Tuhan Allah di dalam Kristus. Oleh karena itu kitab-kitab inilah yang dipandang sebagai alat Roh Kudus untuk bersaksi tentang Kristus.

Roh Kudus bersaksi tentang karya Kristus dengan perantaraan kesaksian manusia. Oleh karena itu terhadap ini berlakulah apa yang dikatakan oleh Yohanes di 1 Yohanes 1:1-3.

1 Yohanes 1:1-3, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”

4. SIFAT-SIFAT ALKITAB

Bagian ini akan membahas sifat-sifat Alkitab dan menunjukkan perbedaan antara pandangan Gereja Roma Katolik dan pandangan Gereja-gereja terhadap Alkitab. Terhadap pandangan Gereja Katolik itu, Gereja-gereja Reformasi pernah merumuskan keyakinan mereka, bahwa Alkitab memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

Alkitab adalah berkuasa atau berwibawa

Gereja Roma Katolik mengakui, sama dengan Gereja-gereja Reformasi, bahwa Alkitab berkuasa atau berwibawa, dan bahwa kuasa atau wibawa itu sedemikian rupa, sehingga Alkitab tidak dapat salah. Sekalipun demikian ada juga perbedaannya dengan pandangan Reformasi. Sebab Gereja Roma Katolik mengatakan, bahwa:

Kita menerima Alkitab dari tangan Gereja, sehingga kuasa atau wibawa Alkitab itu tidak dapat dilepaskan dari kuasa atau wibawa Gereja.

Gereja lebih tua daripada Alkitab, sebab sebelum kanon ditetapkan Gereja telah ada. Maka Gereja tidak mungkin begitu saja tergantung dari Alkitab.

Gerejalah yang menetapkan batas-batas kanon Alkitab. Maka pengakuan Alkitab sebagai firman Tuhan itu didasarkan atas kuasa atau wibawa Gereja. Memang, Gereja bukan berdiri di atas Alkitab sebab Alkitab tidak menerima kuasanya dari Gereja, melainkan dari Tuhan Allah sendiri.

Gereja Roma Katolik membedakan antara kuasa atau wibawa Alkitab pada dirinya sendiri, dan kuasa atau wibawa Alkitab dalam hubungannya dengan kita.

Kuasa atau wibawa Alkitab pada dirinya sendiri diterima langsung dari Tuhan Allah, sebab Alkitab adalah hasil pengilhaman ilahi. Di dalam hal ini Alkitab tidak bergantung kepada Gereja. Akan tetapi di dalam hal kuasa atau wibawa Alkitab yang berhubungan dengan kita, atau mengenai penerimaan kita terhadap Alkitab itu, Gereja tidak dapat diabaikan. Sebab Alkitab sebagai buku pada dirinya adalah mati, isinya tidak disusun secara sistematis. Oleh karena itu sering menimbulkan salah pengertian. Maka perlu ada suatu instansi, suatu lembaga, yang menjadikan kuasa atau wibawa Alkitab efektif. Bukankah Augustinus berkata, “Aku tidak akan percaya kepada Injil, seandainya kuasa Gereja tidak menggerakkan aku untuk berbuat demikian.” Jadi Gerejalah yang memimpin para orang percaya untuk mengakui kuasa atau wibawa Alkitab.

Pandang Gereja Roma Katolik yang demikian itu didasarkan atas pandangannya mengenai Gereja itu sendiri. Menurut Roma Katolik, Gereja adalah satu-satunya lembaga yang memiliki kuasa yang tidak dapat diganggu gugat, karena Gereja tidak dapat salah. Maka kuasanya terhadap Alkitab juga tidak dapat diganggu gugat.

Gereja-gereja Reformasi berpendapat, bahwa Gereja tidak berada di atas Alkitab, sebab Gereja dapat tersesat, seperti yang ternyata dari sejarah Gereja. Maka Gereja berada di bawah Alkitab dan Alkitab mewujudkan instansi di atas Gereja.

Jika dikemukakan, bahwa Alkitab berkuasa, maka perlu diterangkan, bahwa yang berkuasa adalah berita atau kerygmanya, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Firman yang telah menjadi manusia untuk mendamaikan manusia dosa dengan Tuhan Allah. Berita ini datang dengan kuasa. Barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan mendapat hidup yang kekal.

Oleh karena Alkitab berkuasa, maka sekaligus Alkitab juga memiliki sifat dapat dipercaya.

Mengenai hal berita atau κηρυγμα – kerugma itu harus dibedakan antara berita yang pokok, yang pusat, dan berita yang di tepi, yang diperiferi. Dalam soal yang pokok atau pusat, yaitu bahwa Tuhan Allah mendamaikan manusia dosa dengan diri-Nya sendiri di dalam Kristus, tidak dapat ditawar-tawar. Akan tetapi mengenai berita yang di tepi, yang berada di sekitar pemberitaan yang pokok tadi, pengenaannya atau penerapannya harus disesuaikan dengan keadaan orang-orang pada zaman sekarang, umpamanya mengenai perintah rasul Paulus, bahwa orang perempuan, jika berdoa atau bernubuat, harus bertudung. Sebab perintah Paulus itu disesuaikan dengan keadaan atau adat-istiadat pada zaman itu di tengah-tengah orang Korintus.

Alkitab adalah cukup

Konsili di Trente (1546-1563) memutuskan, bahwa kebenaran dan ajaran Kristus sebagian termuat di dalam kitab-kitab yang tertulis, dan sebagian termuat di tradisi yang tidak tertulis, yang telah diucapkan oleh Kristus sendiri dan telah diterima oleh para rasul, dan yang sejak zaman para rasul, oleh karena pengilhaman Roh Kudus, diteruskan dari tangan ke tangan kepada kita.

Berdasarkan keputusan yang demikian itu Gereja menerima dengan penghormatan yang sama Alkitab dan tradisi. Tradisi ini dirawat oleh Gereja dalam suatu urut-urutan yang tidak terputus-putus.

Sekalipun ada pendapat yang bermacam-macam mengenai tradisi ini, akan tetapi Gereja berpendapat bahwa ada dua macam tradisi, yaitu tradisi yang menjelaskan lebih lanjut isi Alkitab, dan tradisi yang menambah kekurangan Alkitab. Dalam prakteknya tradisi yang menambah kekurangan Alkitab itulah yang menguasai kehidupan Gereja, sehingga kuasa atau wibawa Alkitab menjadi kabur, tetapi kuasa atau wibawa Gereja menjadi bertambah-tambah.

Konsili Vatikan II memutuskan, bahwa Alkitab adalah firman Allah yang diberikan dengan pengilhaman Roh Kudus, sedang tradisi adalah firman Allah yang dipercayakan kepada para rasul dan yang diteruskan oleh para rasul kepada pengganti-pengganti mereka dengan secara tidak bercela.

Dengan demikian tetap diakui, bahwa Alkitab bukanlah satu-satunya sumber dari mana Gereja dapat menerima kepastian tentang segala sesuatu yang diwahyukan atau dinyatakan oleh Allah. Kedua-duanya, Alkitab dan tradisi harus diterima dan dihormati dengan kasih yang sama dan dengan penghormatan yang sama.

Gereja-gereja Reformasi berpendapat bahwa Alkitab adalah cukup, artinya cukup untuk memimpin orang kepada hidup yang kekal.

Alkitab adalah jelas

Gereja Roma Katolik mengakui bahwa Tuhan Allah-lah yang menjadi penulis Alkitab. Sekalipun dengan demikian ada terang yang menyinari Alkitab, namun Alkitab tidak dapat dikatakan jelas. Sebab banyak ayat-ayat yang sukar dimengerti. Oleh karena itu Alkitab memerlukan penafsir.

Penafsir yang paling ulung ialah Roh Kudus sendiri, karena ialah penulis Alkitab. Di samping Roh Kudus, atau setelah Roh Kudus, penafsir yang dapat dipercaya ialah lembaga yang diajar oleh Roh Kudus, yaitu Gereja. Gereja adalah alat Roh Kudus untuk menafsir firman Allah. Oleh karena itu tiap orang yang ingin menafsir Alkitab harus tunduk kepada penafsiran Gereja.

Gereja Roma Katolik membedakan antara huruf dan arti Alkitab. Firman Allah yang sebenarnya tidak terdapat di dalam hurufnya. Padahal hanya Gerejalah yang dapat menetapkan arti yang sebenarnya tanpa salah.

Gereja-gereja Reformasi berpendapat bahwa Alkitab adalah jelas. Memang banyak hal yang tidak terang, karena dalamnya isi itu. Akan tetapi jalan keselamatan jelas digambarkan, sehingga Alkitab terbuka bagi tiap orang, yang pandai maupun yang bodoh, yang terpelajar maupun yang buta huruf. Firman Tuhan menjadi pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita.

Dari tulisan di atas telah diketahui, bahwa sebenarnya bukan Israellah yang mencari Tuhan Allah, melainkan sebaliknya, Tuhan Allahlah yang mencari Israel. Israel di Mesir itu sudah tidak mengenal Tuhannya lagi, maka Tuhanlah yang mengambil inisiatif atau prakarsa untuk memperkenalkan diri-Nya kepada Israel. Untuk apa? Tidak lain ialah, agar supaya Israel tahu, bahwa Tuhanlah יהוה – YHVH, Allahnya, dan agar demikian Israel memiliki hidup kekal serta akhirnya Nama Tuhan Allah dipermuliakan.

Jadi dapat dikatakan, bahwa maksud Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada umat-Nya itu, tidak lain agar supaya Nama-Nya dipermuliakan.

Inilah sebabnya maka Alkitab penuh dengan puji-pujian umat Allah, yang dinaikkan bagi kemuliaan nama Tuhannya.

5. BUKTI-BUKTI TENTANG ADANYA ALLAH

Israel mengungkapkan keyakinannya yang mengenai Tuhan Allah itu bukan karena ia terdorong oleh akalnya, yang ingin berfilsafat tentang Tuhan Allah, melainkan karena terdorong oleh kelimpahan kasih karunia Tuhan Allahnya, yang telah dianugerahkan kepadanya. Oleh karena itu Israel ingin memuji dan memuliakan Tuhannya.

Hingga kini masih banyak ahli agama yang mengira, bahwa mereka dapat membuktikan adanya Tuhan Allah. Sejak zaman Plato orang mencoba membuktikan hal ini. Tiap orang beragama merasa bahwa di dalam dirinya ada pengertian tentang Tuhan Allah. Manusia yang diberi akal itu ingin menjadikan lebih jelas dan lebih terangpengertian tentang Tuhan tadi dengan merenungkannya dan menyelidikinya. Orang belum puas, jika hanya merasa, bahwa Tuhan Allah ada, orang ingin mencoba menunjukkan, bahwa kepercayaannya kepada Tuhan Allah itu ada dasar-dasarnya. Itulah sebabnya maka di sepanjang zaman-zaman yang telah lampau hingga kini banyak ahli agama berusaha membenarkan kepercayaannya kepada Tuhan Allah itu. Terlebih-lebih pada zaman sekarang ini, di mana ajaran yang ahteistis mengancam kepercayaan kepada Tuhan Allah.

Sekalipun usaha yang demikian itu dapat dimengerti, namun perlu direnungkan kembali apa yang biasanya disebut bukti-bukti tentang adanya Allah itu. Sebab, jikalau seseorang mempergunakan suatu senjata guna menangkis serangan-serangan tertentu, ia harus yakin benar bahwa senjata itu memang benar-benar ampuh, atau apakah senjata itu hanya ampuh di dalam dugaan belaka.

Ada beberapa bukti yang akan dibicarakan seperti bukti ontologis, bukti kosmologis, bukti teologis dan bukti moril yang akan disampaikan lebih lanjut pada kesempatan berikutnya.

Bukti ontologis

Bukti ini ingin membuktikan bahwa Tuhan Allah ada, dengan menunjukkan kepada adanya pengertian tentang Tuhan. Tiap orang memiliki pengertian tentang Tuhan. Oleh karena tiap orang memiliki pengertian tentang Tuhan, maka Tuhan tentu ada. Bukti ini telah dipakai oleh Plato, dan kemudian dipergunakan oleh tokoh-tokoh Kristen dan Islam. Plato mengemukakan dalil yang demikian: Oleh karena di dalam pikiran manusia terdapat idea atau cita yang sifatnya umum, maka haruslah diambil kesimpulan, bahwa ada akal yang mutlak, yang merangkumkan segala idea atau cita. Idea yang merangkumkan segala idea ini adalah yang benar dan yang indahsecara mutlak. Idea yang demikian itu adalah Tuhan.

Pada zaman pertengahan Anselmus membuat dalil, yang jika diuraikan secara bebas berbunyi: Sesuatu yang tertinggi (yaitu yang di atasnya tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih tinggi) tentu tidak hanya berada di dalam pikiran manusia saja, melainkan juga di luarnya. Sebab seandainya yang tertinggi (yang di atasnya tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih tinggi lagi) tadi hanya berada di dalam pikiran saja, maka sesuatu yang tertinggi itu tentulah juga harus dapat dipikirkan sebagai berada secara istimewa. Padahal ada lebih banyak hal yang dapat dipikirkan secara istimewa. Jika yang tertinggi itu hanya berada di dalam pikiran saja, tentu yang tertinggi tadi sama dengan apa yang di atasnya dapat dipikirkan sesuatu yang lebih tinggi lagi. Hal yang demikian tidak mungkin. Oleh karena itu kesimpulannya tidak dapat lain kecuali: sesuatu yang di atasnya tidak dapat dipikirkan yang lebih tinggi, tentu tidak hanya berada di dalam pikiran, melainkan juga berada di dalam kenyataan, bukan hanya berada di dalam akal, melainkan juga di dalam kenyataan. Demikianlah Tuhan Allah bukan hanya berada di dalam pikiran orang, melainkan juga berada di dalam kenyataan.

Jalan pikiran Anselmus ini sebenarnya meloncat, yaitu dari pikiran kepada eksistensi atau keberadaan. Apa yang dipikir belum tentu ada kenyataannya. (Tiap orang Jawa umpamanya memiliki pikiran tentang Semar, akan tetapi Semar adalah khayalan, tidak ada kenyataannya). Selanjutnya, eksistensi atau keberadaan itu bukanlah sifat yang menambah kekayaan sesuatu pengertian. (Seratus rupiah di dalam pikiran sama nilainya dengan seratus rupiah di dalam kenyataan). Suatu pengertian tidak akan ditambah sifat-sifatnya oleh keterangan apakah pengertian tadi hanya suatu idea atau apakah pengertian itu benar-benar ada. Demikian jugalah halnya dengan pengertian Tuhan.

Oleh karena itu bukti ontologis ini sebenarnya bukan bukti tentang adanya Tuhan Allah.

Bukti kosmologis atau kausalitas

Jika disingkat, bukti kosmologis ini dapat dirumuskan demikian: Segala yang ada memiliki suatu sebab (dunia ada, jadi dunia atau kosmos memiliki suatu sebab, yaitu Tuhan Allah). Itulah sebabnya bukti ini juga disebut bukti kausalitas.

Dengan bermacam-macam cara bukti ini dikemukakan. Ada yang mengatakan: oleh karena ada gerak, tentu ada yang menggerakkan, yang dirinya sendiri tidak digerakkan oleh sesuatupun. Atau: adanya segala sesuatu yang berubah mengharuskan orang menyimpulkan hal yang tidak berubah. Thomas Aquinas mengemukakan, bahwa adanya rentetan sebab-musabab menunjukkan kepada adanya sebab pertama, yaitu Tuhan Allah.

Juga bukti ini sebenarnya bukan bukti. Harus diakui, bahwa memang tidak ada sebab-musabab yang tiada akhirnya. Harus ada sebab pertama. Akan tetapi bahwa sebab pertama itu adalah Tuhan Allah, hal itu masih harus dibuktikan lagi. Di antara kosmos dan Tuhan Allah mungkin masih ada sebab-sebab yang banyak sekali. Bahwa sebab pertama adalah Tuhan Allah, sebenarnya bukan bukti. Bukti kosmologis ini paling banyak hanya dapat sampai kepada kesimpulan bahwa oleh karena tidak mungkin untuk menerima adanya sebab-musabab yang tiada akhirnya, maka harus ada suatu sebab pertama yang berdiri sendiri secara mutlak, yang menjadi sebab adanya dunia ini. Jika orang masih meneruskan uraiannya kepada Tuhan Allah, sebagai sebab pertama, ia meloncat kepada keyakinannya sendiri, yang memang telah menjadi prasangkanya. Perbuatan yang demikian tentu tidak akan dapat memuaskan orang yang memang mempunyai prasangka yang lain, yang tidak percaya atau tidak mau percaya kepada adanya Tuhan Allah.

Bukti teleologis (telos = tujuan)

Dalil pembuktian ini dirumuskan demikian: Oleh karena di dalam seluruh kosmos ada suatu tata tertib, suatu harmoni, suatu keselarasan dan suatu tujuan, maka harus ada suatu zat yang sadar, yang menentukan tujuan itu terlebih dahulu. Bahwa musim datang pada waktunya, tiap makhluk mendapat pemeliharaan masing-masing dan sebagainya, menunjukkan bahwa ada Tuhan Allah yang menjadikan dan mengatur semuanya itu.

Dibandingkan dengan kedua bukti yang telah dibicarakan di atas, bukti ini lebih kuat. Namun, adanya harmoni belum juga menunjukkan adanya Allah yang mengatur. Di sini orang sebenarnya juga meloncat kepada suatu keyakinan. Soalnya sebenarnya sama dengan bukti yang kosmologis tadi.

Bukti moril

Bukti ini mengemukakan, bahwa pada segala orang ada kesadaran tentang kesusilaan, yaitu pengertian mengenai yang baik dan yang jahat. Dari mana asalnya itu, jika tidak ada yang memberitakannya? Ini adalah pekerjaan Tuhan Allah.

Juga bukti ini belum dapat menyakinkan, sebab orang masih dapat mengemukakan, bahwa tata tertib kesusilaan tadi bukanlah suatu tata tertib yang berdiri sendiri, melainkan tata tertib yang timbul secara berangsur-angsur. Apa yang dianggap susila bagi bangsa yang satu tidak tentu diterima oleh bangsa yang lain, dan seterusnya.

Masih ada bukti-bukti yang lain, yang dikemukakan orang sebagai umpamanya: bukti sejarah, bukti persamaan antara bangsa-bangsa dan sebagainya, akan tetapi tidak akan dibicarakan.

Seperti yang telah dikemukakan, jikalau yang disebut bukti-bukti tadi diperhatikan benar, sebenarnya semuanya itu bukan bukti dalam arti kata yang benar. Bahwa yang ada di belakang semua yang ada ini adalah Tuhan Allah, hanya mungkin diamini oleh orang yang memang telah percaya tentang adanya Tuhan Allah. Israel dapat menemui Tuhan Allah di alam semesta, karena Israel telah mengenal Tuhan Allah terlebih dahulu sebagai sekutunya, yang kemudian menyatakan diri-Nya kepada Israel sebagai Pencipta alam semesta ini. Oleh karena itu, yang disangkakan bukti-bukti tadi lebih tepat dipandang sebagai kesaksian-kesaksian. Bagi orang yang telah percaya kepada Tuhan Allah, imannya dapat dikuatkan oleh kesaksian-kesaksian tadi, sedang kesaksian-kesaksian itu memang tidak menjadikan orang yang tidak percaya menjadi percaya.

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya telah dikemukakan, bagaimana Plato mengadakan pembaharuan di bidang pemikiran tentang Tuhan Allah, dan betapa besar pengaruh pembaharuan Plato itu di dalam dunia pemikiran tentang Tuhan Allah. Pandangan Plato tadi telah menggema di sepanjang zaman-zaman hingga kini.

Menurut Plato, yang disebut Tuhan adalah keberadaan yang ilahi yang bersifat rohani atau akali, dalam arti: yang keadaannya berlawanan dengan yang bendawi, yaitu keberadaan yang halus, yang tidak tampak, yang tidak dapat diraba. Yang ilahi, yang bersifat rohani atau akali itu jauh lebih tinggi daripada yang bendawi dan mengatasi yang bendawi itu. Oleh karena itu yang ilahi ini disebut transenden. Jadi sifat Tuhan yang transenden itu disebabkan karena sifatnya yang rohani atau akali, yang mengatasi yang bendawi.

Pandangan Plato yang demikian itu di sekitar awal tarikh Masehi telah diterapkan oleh Philo terhadap ajaran Alkitab yang mengenai Tuhan Allah. Kitab Perjanjian Lama memang menuh dengan gagasan tentang Tuhan Allah yang Mahatinggi. Kejadian 14:19 umpamanya, menyebutkan bahwa Abraham diberkati oleh Tuhan Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi.

Berdasarkan ayat-ayat semacam itu Philo mengajarkan, bahwa Tuhan Allah adalah transenden, dalam arti yang diberikan oleh Plato, yaitu bahwa Tuhan Allah pada hakekatnya tidak dapat dihampiri oleh akal manusia. Sekalipun ada perbedaan di sana-sini, pada dasarnya teologia Kristen, dengan cara lebih atau kurang, mengikuti pandangan Philo ini. Pada umumnya gambaran teologia Kristen mengenai Tuhan Allah adalah demikian: Tuhan Allah adalah transenden. Hakekat-Nya atau zat-Nya tidak dapat dikenal oleh manusia secara mutlak.

Gambaran yang demikian tentang Tuhan Allah memang mempunyai segi-seginya yang menguntungkan, yaitu bahwa dengan demikian manusia dapat dipandang sebagai bergantung kepada Tuhan Allah saja. Tuhan Allah berbeda sekali dengan manusia. Ada jarak yang tidak terjembatani antara Tuhan Allah dan manusia. Akan tetapi segera orang akan merasa, bahwa dengan demikian manusia tidak mungkin mengenal Tuhan Allah. Manusia tidak dapat mengatakan apa-apa tentang Tuhan Allah. Segala pembicaraan tentang Tuhan Allah tiada dasarnya dan tiada gunanya. Oleh karena itu maka timbullah kemudian ajaran tentang penyataan atau wahyu Tuhan Allah, yang dipandang sebagai penyesuaian diri Tuhan Allah kepada keadaan manusia. Agar supaya Tuhan Allah yang transenden, yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia itu, dapat dimengerti oleh manusia, maka Tuhan Allah di dalam penyataan atau wahyu-Nya harus menyesuaikan diri dengan kecakapan manusia. Di dalam penyataan atau wahyu-Nya itu Tuhan Allah memakai bentuk-bentuk manusiawi atau antropomorfisme.

Dengan demikian timbullah ajaran tentang dua macam pengetahuan tentang Tuhan Allah. Ada pengetahuan tentang Tuhan Allah yang dimiliki oleh Tuhan Allah sendiri, yang tidak dapat diketahui oleh manusia, dan ada pengetahuan tentang Tuhan Allah yang dimiliki oleh manusia, yang berdasarkan penyataan atau wahyu Tuhan Allah. Oleh karena penyataan atau wahyu adalah penyesuaian Tuhan Allah dengan kecakapan manusia, maka kedua macam pengetahuan tentang Tuhan Allah itu tidak bertindih-tepat atau identik.

Ajaran yang demikian sudah barang tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pengetahuan manusia tentang Tuhan Allah yang dimiliki manusia tadi dapat dipercaya seratus persen? Apakah tidak ada kemungkinan, bahwa keadaan Tuhan Allah yang sebenarnya sama sekali tidak cocok dengan pengetahuan yang dimiliki manusia tentang Tuhan Allah itu? Soalnya sama dengan seorang ibu yang harus menguraikan kepada anaknya yang masih kecil, bagaimana adiknya dilahirkan. Ibu ini di dalam keterangannya menyesuaikan diri dengan kecakapan anaknya, yang menghasilkan pengetahuan bagi anaknya yang berlainan sekali dengan kenyataannya.

Ajaran tentang dua macam pengetahuan tentang Tuhan Allah itu juga terdapat di dalam agama-agama lain.

Agama Hindu umpamanya mengarakan tentang Para Brahman dan Apara Brahman, atau tentang Nirguna-Brahman dan Saguna Brahman. Para-Brahman adalah Brahman yang lebih tinggi dan Apara Brahman adalah Brahman yang lebih rendah. Para-Brahman tidak dapat dikenal oleh manusia, sebab bersifat transenden dan mutlak, tidak dapat ditembus oleh akal manusia. Hanya beberapa orang saja yang dapat mengenal Para-Brahman, yaitu orang-orang yang telah memiliki para-widya, pengetahuan yang lebih tinggi, yang menjadikan orang bersatu dengan Brahman. Apara-Brahman dapat dikenal oleh manusia, sebab keadaannya lebih rendah, lebih kasar. Pengetahuan tentang Apara-Brahman ini disebut apara-widya, yaitu pengetahuan yang lebih rendah, yang dapat dimiliki semua orang, dan yang tidak menyelamatkan.

Di dalam aliran Kebatinan diajarkan hal yang demikian itu juga. Tuhan Allah pada diri-Nya sendiri tidak dapat dikenal, tidak dapat dikatakan bagaimana (tan kena kinaya ngapa). Oleh karena itu orang tidak mungkin mengetahui zat yang ilahi itu.

Para ulama Islam berkata, Billa kaif wa laa tasbeh, yang artinya: tanpa mengatakan bagaimana dan tanpa mengadakan perbandingan. Orang tidak mungkin mengatakan apa-apa tentang zat Tuhan Allah. Tuhan Allah adalah Tuhan Allah.

Bukan dimaksudkan di sini untuk mengatakan bahwa semua ajaran tentang Tuhan Allah yang dikemukakan di atas oleh karenanya adalah sama saja. Ajaran teologia Kristen tidak sama dengan ajaran agama Hindu dan kebatinan Jawa, dan juga tidak sama dengan ajaran agama Islam. Yang penting di sini ialah menunjukkan, bahwa pandangan Plato tentang yang ilahi tadi dengan bermacam-macam cara telah menggema dalam pandangan para ahli agama dalam ajaran mereka yang mengenai hakekat Tuhan Allah.

6. SIFAT-SIFAT TUHAN ALLAH

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya, biasanya orang membeda-bedakan antara ajaran tentang zat atau hakekat Tuhan Allah dan ajaran tentang sifat-sifat Tuhan Allah. Setelah ditentukan bahwa zat atau hakekat Tuhan Allah pada dirinya tidak dapat disebutkan bagaimana, orang lalu membicarakan tentang sifat-sifat Tuhan Allah, yaitu sebagai ajaran yang membicarakan tentang “bagaimana zat Tuhan Allah yang pada dirinya tidak dapat diketahui itu”. Jadi ajaran mengenai zat atau hakekat Tuhan Allah dan sifat-sifat Tuhan Allah dipisahkan.

Bahaya dari cara pembicaraan ini ialah bahwa hakekat Tuhan Allah dipisahkan dari sifatnya. Pada manusia hal yang demikian memang dapat dilakukan, misalnya: manusia masih tetap manusia, seandainya ia memiliki sifat bodoh, miskin, pincang, buta, dan lain sebagainya. Padahal yang demikian itu tidak mungkin diterapkan bagi Tuhan Allah. Tuhan Allah bukan Tuhan Allah lagi seandainya Ia tidak adil, tidak kudus, dan sebagainya. Teologia Kristen pada umumnya sadar akan hal ini. Oleh karenanya senantiasa memberi peringatan di dalam pembicaraannya tentang sifat-sifat Tuhan Allah. Umpamanya, Dr. Soedarmo dalam bukunya “Ichtisar Dogmatika” berkata, “Ada yang mengatakan, bahwa kata sifat tidak dapat dipakai oleh karena terlalu secara manusia, dan mengandung isi, bahwa sifat-sifat itu berdampingan yang satu dengan yang lain. Padahal pada Tuhan Allah segala sifat bertindih tepat oleh karena segala sifat adalah sempurna. Sifat yang satu tidak membatasi sifat yang lain. Maka ada yang mengganti kata sifat dengan kata kesempurnaan. Dan memang masih ada banyak kata-kata lain yang pernah dipakai sebagai pengganti sifat. Akan tetapi kata-kata lain tadi juga mengandung kekurangan-kekurangan, maka kita memakai sifat saja.”

Di dalam ajaran Kebatinan Jaya diadakan pembedaan antara zat, sifat, nama dan karya Tuhan Allah. Akan tetapi sifat, nama dan karya Tuhan Allah itu dipandang sebagai pangkat-pangkat emanasi Allah. Di dalam kebatinan Jawa umpamanya, hubungan antara zat dan sifat Allah digambarkan sebagai madu dan manisnya, yang tidak dapat dipisahkan, artinya: pangkat pertama dan pangkat kedua dari emanasi ilahi itu tidak boleh dipisahkan. Selanjutnya hubungan sifat dan nama, yaitu pangkat emanasikedua dengan pangkat emanasi ketiga, digambarkan sebagai matahari dan sinarnya, yang tidak dapat dipisahkan. Akhirnya hubungan antara nama dan karya ilahi, sebagai pangkat yang ketiga dan keempat, digambarkan sebagai yang melihat di dalam cermin dan bayangannya di dalam cermin, sebab karya atau af’al Allah adalah kendaraan zat yang mutlak. Adapun nisbah antara zat yang mutlak dengan kendaraannya tadi seperti lautan dan ombaknya. Di sini memang tidak dibedakan antara zat dan sifat, akan tetapi karena sifat dipandang sebagai pangkat pengaliran keluar zat.

Di dalam agama Islam pembicaraan mengenai sifat-sifat Tuhan Allah mempunyai arti yang penting sekali. Justru di dalam ajaran Islam yang mengenai sifat-sifat Allah inilah kita melihat betapa besar pengaruh filsafat Yunani. Ayat-ayat Al~Qur’an diterangkan dengan memakai tiga macam hukum akal, yaitu:

1. Wajib, yang artinya: adanya (bahwa sesuatu ada) ditetapkan oleh akal, tetapi tidaknya (bahwa sesuatu tidak ada) tidak diterima oleh akal. Atau dapat dikatakan: akal menetapkan tidak boleh tidak (pasti). Apa yang wajib adalah apa yang tidak boleh tidak pasti ada.

2. Mustahil, yang artinya: tidaknya (bahwa sesuatu tidak ada) ditetapkan oleh akal, sedang adanya (bahwa sesuatu ada) tidak diterima oleh akal. Jadi akal menetapkantidak boleh jadi. Mustahil adalah apa yang tidak boleh jadi.

3. Jaiz, yang artinya: adanya atau tidak adanya diterima oleh akal sebagai sama saja. Jadi akal menetapkan: boleh jadi. Jaiz adalah sama saja nilainya bagi akal.

Berdasarkan hukum akal yang demikian itu orang menerapkan sifat-sifat Allah, dengan berdalil: Jika akal kita memikirkan segala yang hidup (tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia), yang kenyataannya adalah: dilahirkan, berkembang, dan mati, akal itu sampai kepada kesimpulan, bahwa mustahil seandainya semuanya itu sejak semula terjadi dengan sendirinya. Jika demikian pasti (tidak boleh tidak) ada sesuatu yang menjadikan semuanya itu. Yang semula tiada, dijadikannya ada. Jadi pasti ada sesuatu yang wajib ada. Ada yang wajib ada ini disebut: wajib al wujud (wujud yang wajib), yang menjadikan segala sesuatu pada mula pertama. Wajib al wujud inilah Allah. Demikianlah sifat pertama dari Allah adalah wujud.

Jika Allah adalah wajib al wujud, zat yang harus ada, mustahil seandainya Ia dibatasi oleh waktu atau didahului oleh sesuatu yang semula tidak ada. Maka wajib al wujud itu harus lebih dahulu adanya daripada segala yang dijadikan. Jika demikian jadi Allah adalah tanpa awal dan tidak dibatasi oleh waktu. Keadaan Allah yang demikian ini disebut Qidam (asali). Demikianlah sifat Allah yang kedua adalah Qidam.

Apa yang tanpa awal dan tidak dibatasi oleh waktu, mustahil seandainya memiliki akhirnya. Sebab seandainya ia memiliki sifat akhirnya, ia dibatasi oleh waktu. Oleh karena itu Allah pasti tanpa akhir: Baqa (kekal). Demikianlah sifat Allah yang ketiga adalah Baqa.

Jika Allah itulah wujud yang wajib, yang tanpa awal dan tanpa akhir, mustahil seandainya ada sesuatu di luar Allah yang juga tanpa awal dan akhir. Segala sesuatu yang bukan Allah pasti baru (makhluk). Jadi, jika demikian maka Allah pasti berlainan atau berbeda dengan segala yang baru atau segala makhluk. Keadaan Allah yang demikian itu disebut Mukhalafatuhu lil hawadis (berlainan dengan yang dijadikan). Demikian sifat Allah keempat adalah Mukhalafatuhu lil hawadis.

Jika Allah adalah wujud yang wajib, yang tanpa awal dan tanpa akhir, serta yang berbeda dengan segala yang baru, mustahil seandainya Allah memerlukan sesuatu. Sebab makhluklah yang memerlukan sesuatu yang lain untuk melengkapi kehidupannya. Maka Tuhan Allah pasti tidak memerlukan tempat atau zat lain untuk kedudukan-Nya. Ia tidak mungkin tergantung dari apa yang dijadikan-Nya. Juga tanpa segala yang dijadikan itu Tuhan Allah telah puas dengan diri-Nya sendiri. Ia pasti adalah yang berdiri sendiri. Keadaan ini disebut Qiyamu binafsi (Ia berdiri dengan sendirinya). Demikianlah sifat Allah yang kelima adalah Qiyamu binafsi.

Jika Allah adalah yang berdiri sendiri, maka mustahil seandainya Ia terdiri dari bagian-bagian, seperti halnya dengan para makhluk. Maka Allah pastilah esa (wahid) dalam zat-Nya. Dan oleh karena Ia adalah wahid dalam zat-Nya, maka mustahil bahwa Ia disekutukan. Keadaan Allah yang demikian ini disebut Wahdaniyah. Demikianlah sifat Allah yang keenam adalah Wahdaniyah.

Keesaan Allah bukan hanya mengenai zat-Nya saja, melainkan juga sifat-sifat-Nya, artinya: tiada sifat Allah satupun yang memiliki dualisme (yang terdiri dari dua hal yang saling bertentangan). Oleh karena keadaan sifat-sifat Allah yang demikian itu, maka tiada makhluk yang memiliki sifat yang menyerupai Allah.

Akhirnya keesaan Allah juga mengenai karya atau af’al-Nya, artinya: segala perbuatan adalah perbuatan Allah.

Dengan cara demikian itulah seterusnya diuraikan bagaimana Allah yang esa itu berkuasa, berkehendak, mengetahui, hidup, mendengar, melihat, dan berfirman. Ketujuh sifat ini disebut sifat-sifat ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menambahkan suatu konsep kepada Zat Allah.

Di samping ketujuh sifat ma’ani itu masih ada sifat-sifat lainnya, yang disebut sifat-sifat ma’nawiya, yaitu sifat-sifat yang mengkualifisir atau yang mengaktivir, yang menjalankan sifat-sifat ma’ani tadi, yaitu: yang berkuasa, yang berkehendak, yang mengetahui, yang menghidupkan, yang mendengar, yang melihat, yang berfirman.

Seluruhnya ada 20 sifat yang wajib. Untuk melengkapi ketiga hukum akal tersebut di atas, masih ditambahkan lagi 20 sifat yang mustahil dan satu sifat jaiz.

Dari cara para ulama memikirkan tentang sifat-sifat Allah ini dapat diambil pelajaran, betapa bahayanya untuk memakai pemikiran Yunani guna memecahkan persoalan tentang Allah. Sebab dari situ diperoleh kesan, seolah-olah wahyu Allah tentang keesaan-Nya, yang semula bermaksud menekankan bahwa tiada Allah yang lain kecuali Allah, dan yang menuntut supaya orang percaya dan menyembah kepada-Nya itu, karena pengaruh filsafat Yunani, makin lama makin jauh ditarik ke dalam teori-teori yang rasionalistis, yang hanya dimaksud guna memuaskan akal saja.

Sebelumnya telah dikemukakan bagaimana Israel dapat mengenal Tuhan Allah. Bukan Israel yang mencari Tuhan Allah pada gejala-gejala alam semesta, dan yang lalu merumuskan penemuannya, bukan. akan tetapi Tuhan Allahlah yang mencari Israel, ketika Israel masih mengeluh di bawah tekanan perhambaan di Mesir. Tuhan Allah itulah yang menemukan Israel dan yang memilihnya untuk dijadikan umat-Nya. Hal itu semuanya dilakukan oleh Tuhan Allah dengan karya-Nya yang menyelamatkan dan dengan Firman-Nya yang memerintahkan. Israel mengenal Tuhan Allah di dalam segala perbuatan atau karya Allah dan di dalam firman-Nya. Bagi Israel tiada jalan lain untuk mengenal Tuhan Allah kecuali dengan jalan mengenal karya dan firman Tuhan Allah di dalam sejarah. Di dalam karya dan firman-Nya tadilah Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya, bukan sebagai yang predikatif, artinya: bukan sebagai sesuatu yang bersifat ilahi, bukan sebagai ketuhanan, melainkan sebagai Tuhan yang hidup. Oleh karena itu bukan Israel yang menentukan siapa Tuhan Allah dan bagaimana Dia, dengan memutar otaknya, melainkan Tuhan Allahlah yang menentukan siapa Dia dan bagaimana Dia, yaitu dengan mendemostrasikan diri-Nya dalam karya dan firman-Nya. Tuhan Allah adalah diri-Nya sendiri, artinya: tidak dapat Ia dijabarkan daripada apapun. Hanya Tuhan Allah sendirilah yang berhak menyebut diri-Nya Allah.

Dari Keluaran 3:13-15 telah diketahui, bahwa Tuhan Allah yang menampakkan diri-Nya kepada Musa dan yang mengutus Musa untuk melepaskan Israel itu menyebut nama-Nya: AKU ADALAH AKU. Nama ini adalah keterangan dari nama יהוה – YHVH atau TUHAN. Dari uraian ini telah diketahui, bahwa arti nama itu adalah demikian, bahwa Tuhan Allah akan hadir dengan berbuat.

Dari Keluaran 3:15 dapat diketahui, bahwa יהוה – YHVH yang mengutus Musa melepaskan Israel, adalah Allah nenek-moyang Israel yaitu Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Dengan para nenek-moyang ini Tuhan Allah telah membuat perjanjian bahwa Ia akan menjadikan keturunan para nenek-moyang itu menjadi besar dan akan diberi tanah Kanaan sebagai tanah-pusakanya. Sekarang Tuhan Allah akan memenuhi segala janji-Nya, yang kira-kira empat abad yang lalu telah diberikan kepada para nenek-moyang tadi. Tuhan Allah yang di dalam hidup para nenek-moyang Israel telah berkenan menjadi sekutu mereka, dengan membuat perjanjian dengan mereka, sekarang menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada Israel, sekarang menemui Israel dan berjanji akan melepaskan Israel dari tanah perhambaan. Dengan ini TUHAN menyatakan, bahwa Ia berkenan juga untuk menjadi sekutu Israel. Tuhan Allah akan memihak Israel dan akan menjadikan Israel sebagai sekutu-Nya. Oleh karena itu maka seluruh penyataan atau perkenalan Tuhan Allah kepada Israel yang dinyatakan kepada Musa di Horeb, dapat diungkapkan demikian, “Aku adalah Allah yang akan membuktikan keallahan-Ku (yaitu bahwa Aku adalah Allah) dalam segala perbuatan atau karya-Ku sebagai sekutumu (sebagai partnermu), dan kamu akan menerima buktinya.”

Di dalam Alkitab Tuhan Allah tidak pernah dipandang sebagai lepas daripada menjadi sekutu Israel ini. Oleh karena itu jika kita hendak menguraikan hakekat atau zat Tuhan Allah menurut Alkitab, bukan menurut akal kita, kita harus mengingat hal ini. Sebab Alkitab sendiri tidak pernah memandang kepada Tuhan Allah sebagai zat atau hakekat yang mutlak secara filsafati, yang bebas daripada segala hubungan dan sifat, dan yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia, seperti yang diajarkan di dalam filsafat. Hakekat Tuhan Allah, menurut Alkitab, adalah hakekat yang justru senantiasa dihubungkan dengan Israel dan yang bekerja bagi Israel. Sebab menurut Alkitab, Tuhan Allah adalah sekutu Israel.

Jadi dapat dikatakan, bahwa nama Tuhan Allah yang kekal abadi, atau hakekat-Nya adalah menjadi sekutu Israel, atau Allah perjanjian. Di sinilah letak perbedaan yang besar sekali di antara ajaran Alkitab dengan ajaran agama-agama yang lain. Jika agama-agama yang lain memandang hakekat Tuhan Allah sebagai roh yang halus, yang tidak dapat dihayati, sebagai yang rohani dan akali, sebagai lawan daripada yang bendawi, maka Alkitab mengajarkan, bahwa hakekat Tuhan Allah adalah menjadi sekutu Israel atau menjadi sekutu umat-Nya.

Mungkin apa yang diajarkan oleh agama-agama yang lain itu benar, mungkin, sebab tidak ada yang dapat membuktikannya. Seandainyapun mungkin benar, bukan itulah yang dipentingkan oleh Alkitab. Alkitab tidak pernah memperhatikan Allah pada diri-Nya sendiri, akan tetapi Allah bagi kita, Allah dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya.

Menurut Alkitab, tidak ada perbedaan antara hakekat Tuhan Allah dengan sifat-sifat-Nya. Sifat Tuhan Allah adalah hakekat Tuhan Allah sendiri. Oleh karena itu di dalam ajaran agama Kristen sering yang biasanya disebut sifat Tuhan Allah ini disebut kebajikan atau kesempurnaan Tuhan Allah. Sebutan-sebutan itu agaknya masih juga dipengaruhi oleh pandangan Plato, yang membedakan antara hakekat dan sifat Tuhan, atau membedakan tabiat ilahi pada dirinya sendiri dan sifat-sifat tabiat ilahi itu.

7. ALLAH MENYATAKAN DIRINYA

Hakekat Tuhan Allah adalah berada sebagai sekutu Israel atau sebagai sekutu umat-Nya. Hal ini berarti bahwa hakekat Israel atau hakekat umat Allah adalah menjadisekutu Tuhan Allah.

Dengan bermacam cara hakekat Tuhan Allah, yaitu bahwa Ia adalah sekutu umat-Nya, dinyatakan di dalam sejarah Israel. Umpamanya: kepada Israel Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Mahatinggi dan Yang Mahakuasa, Yang tidak Berubah, Yang Kekal, Yang Kudus, Yang Benar, Yang Esa dan lain sebagainya.

Jikalau pengungkapan hakekat Tuhan Allah yang beraneka ragamnya itu diselidiki secara mendalam, akan tampaklah bahwa segala pengungkapan itu dapat dirangkumkan ke dalam dua kelompok, yaitu: pengungkapan hakekat Tuhan Allah yang menunjukkan kepada kelainan Tuhan Allah daripada manusia dan hakekat Tuhan Allah yang menunjukkan kasih Tuhan Allah kepada manusia, atau pengungkapan-pengungkapan yang menunjukkan pemisahan Tuhan Allah dari manusia dan pengungkapan-pengungkapan yang menunjukkan hubungan Tuhan Allah dengan manusia. Di satu pihak Tuhan Allah dipisahkan dari manusia, akan tetapi di lain pihak Ia dihubungkan dengan manusia. Adapun kelainan Tuhan Allah dari manusia itu bukan diungkapkan di dalam hal ini, bahwa Tuhan Allah adalah roh yang tidak dapat dilihat, sedang manusia adalah bendawi yang terikat kepada benda, akan tetapi kelainan itu diungkapkan di dalam firman dan karya Tuhan Allah. Di dalam firman dan karya-Nya itulah tampak bahwa Tuhan Allah berbeda sekali daripada manusia. Demikian juga hakekat Tuhan Allah yang mengungkapkan kasih-Nya atau yang mengungkapkan hubungan-Nya dengan manusia itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya. Dari firman dan karya-Nyalah tampak betapa Tuhan Allah mengasihi manusia.

Sekalipun pengelompokan tadi mungkin, namun pengelompokan ini tidak boleh dipandang sebagai pengelompokan yang mutlak. Sebab hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan di dalam segi yang satu tidak dapat dipisahkan dari hakekat-Nya yang diungkapkan dalam segi yang lain. Umpamanya: Kekudusan Tuhan Allah tidak dapat dipisahkan dari kekekalan-Nya, dan juga tidak dapat dipisahkan dari kebenaran dan kesetiaan-Nya; demikian seterusnya.

Hakekat Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya tidak akan dibicarakan semua segi-seginya, di sini akan disampaikan beberapa saja, untuk menunjukkan kesatuannya, dan akhirnya akan dibicarakan pengungkapan hakekat Tuhan Allah sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang biasanya disebut Ketritunggalan Allah. Ketritunggalan akan dibahas terakhir, bukan karena ingin dibicarakan terlebih dahulu “suatu tokoh ilahi” yang umum, lalu menunjukkan bahwa “tokoh ilahi” itu adalah Tritunggal, sama sekali tidaklah demikian. Sebab hakekat Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya dan hakekat ini diungkapkan di dalam segala pengungkapan hakekat-Nya yang beraneka ragam itu, juga diungkapkan dalam penyataan-Nya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, bahkan hakekat Tuhan Allah yang demikian itu secara sempurna diungkapkan di dalam penyataan-Nya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Di Mazmur 2:4 disebutkan, bahwa Tuhan Allah bersemayam di Surga. Ungkapan ini pertama-tama menunjukkan, bahwa Tuhan Allah sedikit banyak tersembunyi bagi manusia. Sebab Surga atau langit disebut tinggi sekali atau jauh dari bumi. Di dalam bahasa Ibrani tidak ada pembedaan antara langit dan surga, sebab di dalam bahasa itu hanya ada satu kata untuk kedua pengertian itu, yaitu SYÂMAYIM. “Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi?” demikian ucapan Juru Mazmur di Mazmur 113:5. Bahwa Tuhan Allah disebut bersemayam di Surga, pertama-tama menunjukkan kepada adanya jarak di antara Tuhan Allah dan manusia, sedemikian jauh sehingga Tuhan tidak dapat dilihat oleh manusia, tersembunyi bagi manusia.

Bahwa Tuhan Allah adalah demikian tinggi, menurut Alkitab, bukan karena Tuhan Allah adalah gaib, dalam arti: tidak berjasad, karena roh adanya dan bukan benda, juga bukan karena tabiat ilahi-Nya atau ketuhanan-Nya yang tidak mungkin (mustahil) ditembus oleh akal manusia, bukan. Sebab jika Israel bersaksi akan ketinggian Tuhan Allah itu bukan karena ia berspekulasi tentang Tuhan Allah, bukan karena Israel berpikir dengan memakai hukum akal, melainkan karena Israel mengenal Tuhan Allahnya dari firman dan karya-Nya. Kepada Israel senantiasa ditekankan, bahwa Tuhan Allah berbeda sekali dengan manusia. Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Tersembunyi, karena Tuhan Allah tidak menghendaki Israel terlalu dekat dengan Tuhannya, seperti yang terjadi di antara para orang kafir dengan para dewata mereka. Jarak antara Tuhan Allah dan manusia harus tetap dipelihara, karena Tuhan Allah bukanlah manusia. Inilah sebabnya, bahwa di Horeb, ketika Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Ia menyebut nama-Nya bukan dengan bentuk kata-nama-benda, melainkan dengan bentuk kata-kerja: Aku berada dengan berbuat. Tuhan tidak menghendaki nama-Nya disalahgunakan oleh Israel, seperti halnya yang terjadi dengan nama dewa-dewa yang dijadikan mantera oleh para pengikutnya.

Sekalipun demikian, bahwa Tuhan Allah adalah Mahatinggi, hal itu bukan hanya menunjukkan kelainan-Nya dengan manusia, melainkan juga kasih-Nya. Sebab Tuhan Allah yang jauh lebih tinggi daripada manusia dan yang lebih mulia itu, di Mazmur 2 tadi dikatakan, bahwa Ia tertawa, atau menertawakan segala perbuatan manusia yang memberontak kepada-Nya, dan mengolok-olok mereka. “Dia, yang bersemayam di Surga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka,” demikian Juru Mazmur. Di dalam Mazmur 2 ini digambarkan bahwa para bangsa-bangsa dan raja-raja dunia membuat persiapan untuk memberontak terhadap Raja, yang dilantik oleh Tuhan Allah di Sion. Dari ketinggian tempat persemayaman-Nya Tuhan Allah digambarkan sebagai melihat ke bawah dan melihat kesibukan para raja-raja itu dan tersenyum terhadap ketololan bangsa-bangsa dengan raja-rajanya itu. Dengan mendadak Tuhan Allah mengejutkan mereka itu hingga menjadi berantakan. Jadi, bahwa Tuhan Allah adalah Mahatinggi dan Mahamulia, menurut Mazmur 2, berarti bahwa Tuhan Allah memiliki segala kekuasaan yang mutlak atas segala kejadian di dunia ini, bahwa Ia sebagai Raja segala Raja bersemayam di atas singgasana-Nya, dengan nyata-nyata memerintah umat-Nya dan memerintah segala makhluk di bumi.

Teranglah, bahwa hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam kemahatinggian-Nya itu mengungkapkan karya Tuhan Allah atas dunia ini. Dan Mazmur 2 mengungkapkan, bahwa karya itu ditujukan untuk keselamatan umat-Nya, Israel. Tuhan menertawakan mereka yang memusuhi umat-Nya. Dengan demikian nyatalah bahwa kemahatinggian-Nya dipakai untuk menyatakan kasih-Nya terhadap umat-Nya.

Bahwa Tuhan Allah mempergunakan kemahatinggian-Nya untuk mengasihi umat-Nya lebih jelas lagi tampak di dalam Perjanjian Baru. Sebab di dalam Kristus Yang Mahatinggi itu telah menghampakan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia, demi keselamatan manusia. Di dalam firman yang menjadi manusia itu Tuhan Allah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri. Itulah sebabnya ketika Kristus dilahirkan para malaikat memuji, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Oleh karena Tuhan Allah adalah Mahatinggi, maka Ia tidak dapat dilihat oleh manusia. Bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat ini juga bukan karena tabiat ilahi-Nya yang gaib, yang tidak berwujud, yang bersifat rohani dan akali, juga bukan karena kesimpulan akal Israel, melainkan karena Tuhan Allah tidak menghendaki dilihat oleh manusia. Oleh karena itu dalam Keluaran 33:20 Tuhan Allah memperingatkan Musa, bahwa Musa tidak akan tahan memandang wajah Tuhan Allah. Hal itu bukan disebabkan karena tabiat ilahi Tuhan Allah yang gaib, melainkan karena tidak ada orang yang memandang Tuhan Allah dapat hidup.

* Keluaran 33:20
LAI TB, Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”
KJV, And he said, Thou canst not see my face: for there shall no man see me, and live.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר לֹא תוּכַל לִרְאֹת אֶת־פָּנָי כִּי לֹא־יִרְאַנִי הָאָדָם וָחָי׃
Translit, VAYO’MER LO’ TÛKHAL LIR’OT ‘ET-PÂNÂY KÏLO’-YIR’ANÏ HÂ’ÂDÂM VÂKHÂY

Sekalipun demikian, jikalau Tuhan Allah menghendaki manusia dapat juga sekedar melihat kemuliaan-Nya. Bukankah dalam Keluaran 33:23 disebutkan, bahwa Musa akan melihat belakang Tuhan Allah? Jadi, jikalau Tuhan menghendaki Ia dapat sekedar mengabulkan permohonan Musa. Teranglah bahwa hakekat Tuhan Allah yang tidak dapat dilihat itu bukan dihubungkan dengan tabiat-Nya yang gaib, yang berada di luar batas-batas pengamatan manusia. Di Keluaran 24:10, 11 disebutkan, bahwa tujuh puluh tua-tua Israel melihat Tuhan Allah, dan semuanya heran, bahwa tangan Tuhan Allah tidak diulurkan kepada mereka itu, artinya bahwa tangan Tuhan Allah tidak membunuh mereka. Hal ini menunjukkan, bahwa jikalau Tuhan Allah menghendaki, orang dapat juga melihat kemuliaan Tuhan Allah, sekalipun hanya sekedar saja.

Menurut Keluaran 33:11 Tuhan Allah berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya, artinya bahwa percakapan itu dilakukan di dalam persekutuan yang akrab sekali. Jadi dasar Musa dapat melihat Yang Tidak Dapat Dilihat itu adalah persekutuannya dengan Tuhan Allah yang akrab sekali. Juga Yohanes 1:18 menunjuk kepada gagasan yang demikian itu, sebab di situ disebutkan, bahwa tidak seorang pun yang pernah melihat Tuhan Allah; tetapi bahwa Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. Ungkapan di pangkuan Bapa menunjukkan kepada suatu persekutuan yang akrab sekali.

Demikianlah, bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat, hal itu bukanlah suatu sifat yang diterapkan oleh manusia kepada Tuhan Allah, yang disebabkan karena manusia tidak dapat melihat Tuhan Allah yang gaib. Bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat, hal itu disebabkan karena karya Tuhan Allah sendiri. Tuhan Allah tidak menghendaki dilihat oleh manusia. Tiap pelanggaran terhadap kehendak itu dihukum dengan kematian.

Penyembunyian diri Allah ini didobrak dengan peristiwa Firman yang menjadi manusia dan yang kemudian berdiam di antara kita. Sekalipun demikian, pendobrakan ini belum secara sempurna. Memandang kepada Tuhan Allah secara sempurna masih ditangguhkan hingga kelak pada akhir zaman. Anak yang Tunggal yang ada di pangkuan Bapa, itulah yang menyatakan Bapa kepada kita manusia. Sekarang manusia dapat memandang kepada Bapa. “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”. Persekutuan yang akrab di antara Tuhan Allah dan manusia seperti yang terjadi dalam diri Yesus Kristus, yaitu Firman yang menjadi manusia, sebelum itu belum pernah terjadi. Hal itu baru mungkin setelah Kristus mengorbankan diri-Nya demi pendamaian Allah dan manusia.

Demikianlah, Yang Tidak Tampak menjadi tampak di dalam diri Yesus, untuk mendamaikan manusia dosa dengan Tuhan Allah. Dari sini terang juga, bahwa hakekat Tuhan Allah ini tidak dapat dipisahkan dari kasih-Nya.

7a. TUHAN ALLAH KUDUS

Bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat ada hubungannya dengan hakekat Allah yang dinyatakan atau diungkapkan di dalam kekudusan-Nya.

Kata kudus berasal dari pokok-kata Ibrani yang berarti memisahkan. Jika Tuhan Allah disebut kudus, hal itu berarti bahwa Ia dipisahkan dari segala yang dosa. Oleh karena itu maka di 1 Samuel 2:2 disebutkan, tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali TUHAN. Menurut Alkitab, kelainan Tuhan Allah, jika dibandingkan dengan manusia dan dewa, bukan terletak di dalam hal ini, bahwa Tuhan Allah adalah lebih halus, lebih gaib, lebih murni dan lain sebagainya, melainkan bahwa Tuhan Allah di dalam firman dan karya-Nya yang dilaksanakan di dalam sejarah itu berbeda sekali dengan manusia dan dewa. Di dalam segala firman dan karya-Nya di dalam sejarah itulah tampak bahwa Tuhan Allah benar-benar tidak dapat bersekutu dengan dosa, bahwa Ia benar-benar dipisahkan dari dosa, bahwa Ia benar-benar kudus. Kekudusan Tuhan Allah bukan suatu teori, bukan hasil pemikiran akal manusia.

Demikianlah kekudusan Tuhan Allah menunjukkan kelainan Tuhan Allah daripada manusia. Akan tetapi pengertian kudus ini tidak pernah dipisahkan dari hubungan Tuhan Allah dengan umat-Nya. Justru di dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya itulah Tuhan Allah tampak sebagai Yang Kudus, yang tidak dapat bersekutu dengan dosa. Ia menghukum setiap orang yang menghinakan kekudusan-Nya. Kekudusan Tuhan Allah menuntut kekudusan umat-Nya, artinya: umat Allah, yang adalah sekutu Allah, juga harus hidup terpisah dari segala yang dosa, dan mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan Allahnya. Tanpa hidup yang kudus, tidak mungkin ada persekutuan dengan Allah yang kudus. Di Yosua 24:19 dan berikutnya Yosua berkata, bahwa oleh karena Tuhan Allah adalah Allah yang kudus, maka Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosa Israel, apabila Israel meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing.

Dari Yesaya 57:15 kita dapat mengetahui, bahwa kekudusan Tuhan Allah ada hubungannya dengan keadaan-Nya yang tidak dapat dilihat dan kemahatinggian-Nya. Sebab di situ disebutkan, “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya; ‘Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus.'”

Sekalipun demikian, hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan di dalam kekudusan-Nya itu bukanlah hanya menunjuk kepada terpisah-Nya Tuhan Allah daripada segala yang dosa. Kekudusan Tuhan Allah justru menjadi jalannya Israel mendapat keselamatan. Dari Kitab Hosea umpamanya, kita dapat tahu bagaimana Israel pada waktu itu menghinakan kekudusan Tuhannya dengan melibatkan diri ke dalam upacara-upacara kebaktian bangsa kafir. Oleh karena itu mereka terkena hukuman Tuhan. Akan tetapi Tuhan Allah yang telah menghukum Israel itu akan menyembuhkan Israel lagi, dengan alasan, “Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.”

Ancaman hukuman di sini diganti dengan pernyataan yang mengharukan dari kasih Tuhan Allah terhadap Israel. Tuhan Allah tidak akan dapat membinasakan Israel, karena kasih-Nya terhadap bangsa itu. Kasih ini menahan Tuhan Allah untuk mencurahkan murka-Nya secara sempurna. Tidak dapat disangkal, bahwa hukuman Tuhan mendatangi Israel juga, akan tetapi tidak sampai hingga kehancuran Israel. Hal itu, menurut firman Tuhan, karena Tuhan Allah adalah Allah, bukan manusia. Ia adalah “Yang Kudus di tengah-tengah mereka”. Sebagai Yang Kudus, Tuhan Allah berlainan sekali, jika dibandingkan dengan manusia yang dosa. Manusia dosa dalam kemarahannya sering tidak mengenal kasihan, sering hanya terseret oleh nafsu-nafsunya. Akan tetapi Tuhan Allah bukan manusia, oleh karena itu Tuhan dapat berbuat yang berlainan sekali dengan perbuatan manusia. Ia berbuat yang lebih baik dibanding dengan manusia. Di dalam kemurkaan-Nya, Tuhan Allah tidak mungkin terseret oleh daya-daya yang penuh dosa. Juga di dalam murka-Nya, Tuhan Allah ingat akan kasih-Nya.

Demikianlah hakekat Tuhan Allah yang menyatakan kekudusan-Nya itu menjadi jaminan bagi perjanjian-Nya dengan umat-Nya. Juga karena Tuhan adalah kudus, Ia akan tetap menjadi Sekutu Israel dan mencari keselamatan Israel.

Dari sini jelaslah bahwa kekudusan Tuhan Allah berhubungan dengan kebenaran dan keadilan-Nya, serta dengan kesetiaan-Nya. Karena Tuhan Allah adalah kudus, maka Ia tidak akan mengesampingkan tujuan-Nya, yaitu menjadi Sekutu umat-Nya. Untuk itu Yang Kudus didosakan. Di dalam korban Kristus, Firman yang menjadi manusia itu, keadilan dan kebaikan, kekudusan dan belas kasihan Tuhan Allah menjadi satu. Pengungkapan yang tertinggi dari kekudusan Tuhan Allah ialah bahwa Ia membenarkan orang durhaka.

7b. TUHAN ALLAH KEKAL

Di Kejadian 21:33 dan ayat-ayat lainnya disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang kekal.

Biasanya kata kekal diartikan sebagai keadaan yang tanpa waktu. Akan tetapi Alkitab tidak pernah memberikan arti yang demikian itu kepada pengertian kekal. Ungkapan kekal lebih menunjuk kepada waktu yang panjang, sejak dahulu hingga kini dan sampai selama-lamanya. Hal ini umpamanya jelas dari Ulangan 33:27 yang menyebutkan, bahwa di bawah Israel ada lengan-lengan yang kekal, yang mengusir musuh dari depan Israel. Kata kekal di sini berarti sejak dahulu, menunjuk ke belakang. Di Kejadian 9:16 disebutkan, bahwa Allah akan mengingat perjanjian-Nya yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup. Kata kekal di sini menunjuk ke depan, waktu yang tiada akhirnya. Oleh karena itu maka di Yesaya 44:6 disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah yang terdahulu dan yang terkemudian, dan bahwa tiada Allah lain kecuali Tuhan; dan di Wahyu 1:8 disebutkan, bahwa Tuhan adalah Alfa dan Omega, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang.

Jikalau dikatakan bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang kekal, hal itu bukan berarti, bahwa Tuhan Allah telah ada sejak dahulu kala secara statis, seperti umpamanya adanya matahari, bulan, dan bintang, dan sebagainya, yang telah ada sejak zaman purba kala, tanpa ada perubahan, bukan. Kehadiran Tuhan allah yang disebutkan sejak dahulu kala itu adalah suatu kehadiran yang aktif, yaitu kehadiran di dalam firman dan karya-Nya, sebagai sekutu umat-Nya. Bahwa Tuhan Allah adalah kekal, hal itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya. Hal ini jelas dari pengungkapan dalam Ulangan 33:27 di atas, yaitu bahwa Allah yang abadi adalah tempat perlindungan Israel dan bahwa di bawah Israel ada lengan-lengan yang kekal, yang mengusir musuh dari depan Israel. Bahwa Tuhan Allah secara abadi menjadi pelindung Israel berarti, bahwa sejak dahulu kala Tuhan Allah secara terus-menerus menjadi tempat di mana Israel dapat berlindung, sebab telah dibuktikan bahwa Tuhan Allah telah terus-menerus melepaskan Israel dari musuh-musuhnya. Demikianlah Israel mendapat jaminan, bahwa ia untuk selama-lamanya boleh berlindung di bawah naungan, atau di atas topangan Allahnya.

Bahwa Tuhan Allah adalah kekal, menurut Yesaya 40:28 berarti, bahwa Tuhan Allah tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Sekalipun telah sekian abad lamanya Tuhan Allah melindungi Israel, akan tetapi tiada saat bahwa Tuhan Akkan tidak akan dapat melanjutkan perlindungan-Nya. Sebagai Yang Kekal, yang tidak berbatas waktunya, Tuhan hidup untuk selama-lamanya. Ia tidak akan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan waktu atau zaman. Ia akan tetap seperti keadaan-Nya, yaitu menjadi Sekutu Israel. Tuhan Allah bukanlah Allah yang terbatas kekuasaan-Nya. Ia mengatasi segala zaman. Maka di Yesaya 57:15 Tuhan Allah berfirman, bahwa sekalipun Ia bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus, namun Ia juga bersama-sama dengan orang yang remuk dan rendah hati. Keadaan boleh berganti-ganti, dan umat Israel boleh dipengaruhi oleh keadaan yang berganti-ganti itu, akan tetapi keadaan yang bagaimanapun juga tidak akan mengubah sikap Tuhan Allah. Sebab Tuhan Allah adalah kekal. Ia adalah Yang Mahakudus sejak dahulu kala.

Demikianlah bahwa Tuhan Allah adalah kekal, hal itu bukanlah hal yang membeku, bukan hal yang statis, melainkan kekekalan Allah adalah kekekalan yang hidup, yang tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan dan zaman. Dari sini juga terang, bahwa hakekat Tuhan Allah yang dinyatakan sebagai kekekalan itu berhubungan erat dengan kekudusan-Nya, dengan kesetiaan-Nya.

Juga di dalam Perjanjian Baru, hakekat Tuhan Allah yang mengungkapkan kekekalan-Nya itu dihubungkan dengan karya-Nya yang ditujukan kepada umat-Nya. Di 1 Korintus 2:7 umpamanya, Rasul Paulus mengatakan bahwa ia memberitakan hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia yang sebelum dunia dijadikan (kekal) telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Ungkapan yang diterjemahkan dengan sebelum dunia dijadikan ini di Kolose 1:26 diterjemahkan dengan dari abad ke abad. Juga di sini kekekalan bukan suatu hal yang statis, melainkan dihubungkan dengan karya Tuhan Allah.

Di dalam Perjanjian Baru terang bahwa Yang Kekal, yang meliputi segala sesuatu itu, mengikatkan diri kepada waktu di dalam diri Yesus Kristus. Di dalam diri Yesus Kristus, Yang Kekal membatasi diri dengan waktu, untuk menyelamatkan umat-Nya, sehingga dengan demikian tampaklah kasih Yang Kekal itu sebagai Sekutu umat-Nya. Sekalipun Yesus adalah manusia yang terikat kepada waktu, akan tetapi di dalam hidup yang dihidupi-Nya, yaitu di dalam firman dan karya-Nya, Ia menyatakan atau mengungkapkan Tuhan Allah yang kekal, yang tidak terikat kepada waktu itu. Di dalam firman dan karya Yesus tampaklah bagaimana Allah Yang Kekal itu. Dan oleh karena itu, sebagai yang menampakkan atau mengungkapkan Yang Kekal, Yesus sendiri disebut tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”

7c. TUHAN ALLAH TIDAK BERUBAH

Sehubungan dengan hakekat Tuhan Allah yang dinyatakan sebagai kekudusan, kekekalan, dan sebagainya, Alkitab juga mengungkapkan, bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Tidak Berubah atau Yang Tetap Sama.

Di Mazmur 102:26-28 disebutkan, “Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. SEMUANYA ITU AKAN BINASA, TETAPI ENGKAU TETAP ADA, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan MEREKA BERUBAH, TETAPI ENGKAU TETAP SAMA, dan tahun-tahun-Mu tiada berkesudahan.” Dari ayat-ayat ini jelaslah hubungan antara kekekalan Tuhan Allah dan hakekat-Nya yang diungkapkan sebagai Allah Yang Tidak Berubah, atau Yang Tetap Sama. Bahwa Tuhan Allah tidak berubah diuraikan juga di Yakobus 1:17, di mana disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Bapa segala terang dan bahwa pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Bahwa Tuhan Tidak Berubah atau Tetap Sama, hal itu tidak berarti, bahwa Ia tidak bergerak, seperti gunung atau batu yang mati. Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama justru di dalam firman dan karya-Nya, supaya menjadi sekutu umat-Nya. Bahwa Tuhan tidak berubah atau tetap sama, berarti bahwa Ia tidak akan melepaskan umat-Nya yang telah menjadi sekutu-Nya itu, sekalipun umat-Nya sering mengubah sikapnya terhadap Tuhannya. Hal ini disebabkan karena Tuhan Allah terharu terhadap nasib sekutu-Nya. Bahwa Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama ada hubungannya yang erat sekali dengan kesetiaan-Nya. Dalam hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah atau yang tetap sama justru terkandung banyak gerak dan perbuatan. Sebab justru karena Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama, maka Ia harus bekerja guna menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi kesetiaan-Nya terhadap maksud-Nya untuk menjadi sekutu umat-Nya.

Di dalam terang inilah kita harus melihat hal sesal Tuhan Allah yang sering diungkapkan di dalam Alkitab.

Di 1 Samuel 15:29 umpamanya disebutkan, bahwa Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal, sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal. Firman ini diucapkan oleh Samuel kepada raja Saul, ketika raja Saul kembali dari memerangi bangsa Amalek. Di dalam memerangi bangsa Amalek itu raja Saul makin menampakkan kekerasan hatinya, dengan secara terang-terangan melanggar perintah Tuhan Allah. Raja Saul menawan raja Amalek dan merampas lembu-lembu bangsa Amalek dengan alasan akan dipersembahkan kepada Tuhan Allah. Padahal Tuhan Allah dengan tegas memerintahkan supaya Saul menumpas segala orang Amalek dengan segala harta-bendanya. Sebagai raja yang mewakili umat Allah, Saul harus menampakkan ketaatannya yang sebesar-besarnya kepada Tuhan. Dengan perbuatannya itu raja Saul membahayakan kedudukan umat Israel sebagai sekutu Allah. Oleh karena Tuhan Allah telah sekali berfirman, bahwa Ia menjadi sekutu Israel, maka Ia tidak akan berubah dari putusan-Nya itu. Ia memegang teguh kepada apa yang telah direncanakan. Tiada seorangpun yang boleh mengeraskan hatinya guna meniadakan atau menggagalkan rencana Allah itu. Karena Saul berbuat demikian (akan menggagalkan kedudukan Allah sebagai sekutu umat-Nya) maka ia ditolak oleh Tuhan. Tuhan mengambil kerajaan dari tangan Saul, dan akan memberikannya kepada orang lain. Sekalipun Tuhan Allah sendiri yang telah memanggil Saul untuk menjadi raja, akan tetapi karena Saul akan merusak rencana Allah, Tuhan menarik kembali keputusan-Nya yang telah diambil terhadap Saul dengan alasan bahwa Saul membahayakan rencana Allah yang mengenai umat-Nya.

Perubahan sikap Tuhan Allah terhadap Saul adalah reaksi Tuhan Allah yang penuh emosi (renjana) terhadap perbuatan manusia. Tuhan Allah disakitkan hati-Nya, sehingga harus menarik kembali keputusan-Nya yang semula yang mengenai Saul. Oleh karena Tuhan tidak tahu menyesal, artinya: tidak pernah menyesali keputusan-Nya untuk menjadi sekutu Israel, maka Tuhan menyesalkan perbuatan Saul yang membahayakan keputusan Allah yang pokok tadi.

Demikianlah Tuhan Allah bukanlah Allah yang dingin, yang tidak pernah tergerak hati-Nya. Ia bereaksi terhadap perbuatan untuk-Nya. Firman dan karya-Nya adalah kongkrit bersejarah. Ia benar-benar turut menghayati kehidupan umat-Nya. Ia dapat berubah setiap waktu, artinya: Ia dapat mengubah setiap saat sikap-Nya terhadap umat-Nya, justru karena Ia tidak tahu menyesal, artinya: justru karena Ia tidak menyesal menjadi sekutu umat-Nya.

Di dalam terang inilah Kejadian 6:6 harus ditinjau. Di situ disebutkan, bahwa TUHAN ALLAH MENYESAL, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan bahwa hal itu memilukan hati-Nya.

Bahwa Tuhan Allah menyesal di sini ditujukan kepada perbuatan manusia yang membahayakan rencana Allah, menyelamatkan dunia ini. Manusia pada zaman Nuh membahayakan rencana Allah untuk menjadi sekutu manusia, yaitu dengan berbuat dosa yang menyolok sekali. Perbuatan mereka sama dengan perbuatan raja Saul. Oleh karena Tuhan Allah setia kepada rencana-Nya, artinya oleh karena Ia tetap sama atau tidak berubah terhadap rencana-Nya; maka Ia MENYESALKAN PERBUATAN MANUSIA pada zaman Nuh itu.

Demikianlah gagasan yang terkandung di dalam 1 Samuel 15:29 itu sebenarnya sama dengan gagasan yang terkandung di dalam Kejadian 6:6, sekalipun pengungkapannya berbeda. Keduanya menunjukkan, bahwa Tuhan Allah tidak menyesal bahwa Ia menjadi sekutu umat-Nya atau menjadi sekutu manusia, dan oleh karenanya Tuhan Allah menyesalkan perbuatan manusia yang membahayakan maksud-Nya yang mulia itu.

Masih ada ayat-ayat lainnya yang senada dengan ayat-ayat yang telah kita bicarakan, sebagai umpamanya Keluaran 32:13-14, yang menyebutkan bahwa TUHAN menyesal karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya; Yunus 4:2 yang menyebutkan, bahwa Allah adalah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya; Ibrani 13:8 yang menyebutkan, bahwa Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. akan tetapi ayat-ayat ini tidak akan dibicarakan.

Mengenai hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah atau yang tetap sama, dapat disimpulkan demikian, bahwa Tuhan Allah di dalam segala perubahan sikap-Nya itu adalah Allah yang tetap setia kepada diri-Nya sendiri. Bahwa Ia setia kepada diri-Nya sendiri, ini dapat diungkapkan dengan pengalimatan, bahwa Ia tidak menyesal, atau bahwa Ia menyesal, atau bahwa Ia tidak berubah, atau bahwa Ia meninjau kembali keputusan-Nya. Jika Tuhan Allah disebut Yang Tidak Berubah atau Yang Tidak Menyesal, hal itu diterapkan kepada keputusan-Nya untuk menjadi sekutu umat-Nya, sedang jika disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Yang Berubah atau Yang Menyesal hal itu ditetapkan kepada sikap umat-Nya yang membahayakan keputusan Tuhan Allah untuk menjadi sekutu umat-Nya tadi.

Di dalam Alkitab hubungan Tuhan Allah dengan manusia terjadi di dalam kejadian-kejadian yang konkrit di dalam sejarah. Di sepanjang sejarah itulah Tuhan Allah membuktikan dengan firman dan karya-Nya, bahwa Ia tetap sama, bahwa Ia Tidak Berubah, bahwa pada-Nya tidak ada perubahan, di dalam menjadi sekutu umat-Nya. Ia setia kepada keputusan itu sampai selama-lamanya. Jelaslah bahwa kesetiaan Tuhan Allah terhadap diri-Nya sendiri dan terhadap rencana-Nya adalah kekal selama-lamanya. Agar Tuhan Allah dapat setia kepada diri-Nya dan kepada maksud-Nya, sering Ia harus mengubah jalan-Nya demi keselamatan umat-Nya yang sering tidak setia itu.

Berdasarkan hal itu semuanya, hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah itu barangkali lebih tepat dikalimatkan dengan ungkapanketeguhan-Nya atau bahwa Tuhan Allah dapat dipercaya.

8. TUHAN ALLAH ITU ESA

Jikalau Alkitab merumuskan pengakuan iman umat Allah tentang Tuhan Allah, rumusan diungkapkan demikian: “Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ulangan 6:4-5).

Kata-kata ini diucapkan oleh Musa kepada bangsa Israel, ketika Musa akan meninggalkan Israel karena mati. Ucapan ini sebenarnya mewujudkan suatu pengakuan iman yang ditekankan kepada Israel pada waktu itu, agar supaya Israel jangan melupakannya. Pengakuan iman ini bukanlah rumusan Musa sebagai hasil pemikiran akalnya, yang diperolehnya dengan memandang kepada gejala-gejala alam semesta, atau disimpulkan dari hukum akal, melainkan didasarkan atas pengalaman-pengalaman Musa dan pengalaman-pengalaman umat Israel sendiri, sejak Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dengan melepaskan Israel dari tanah perhambaan di Mesir. Di sepanjang sejarah dari Mesir hingga di dataran Moab itu, yang kira-kira 40 tahun lamanya, Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dan telah membuktikan kepada mereka dengan firman dan karya-Nya siapa Tuhan Allah itu.

* Ulangan 6:4
LAI-TB, Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
KJV, Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:
Hebrew,
שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד ׃
Translit interlinear, SYEMA’ {dengarlah} YISRA’EL {Israel} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} ‘ELOHEINÛ {Allah kita} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} EKHAD {esa}”

Pertama-tama di sini diakui, bahwa Allah Israel adalah TUHAN atau יהוה – YHVH. Arti nama יהוה – YHVH ini telah dibicarakan sebelumnya, yaitu bahwa dengan nama ini Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu Israel. Sebagai sekutu Israel Tuhan Allah adalah Allah yang setia, yang memenuhi segala janji-Nya. Dengan mengingatkan kepada nama itu Musa bermaksud menekankan, bahwa TUHAN adalah setia, yang benar-benar telah memegang teguh kepada apa yang telah difirmankan dan diperbuat. Bahwa TUHAN adalah Allah yang setia, bukanlah suatu teori bagi Musa dan bagi bangsa Israel di dalam Firman dan karya Tuhan Allah di sepanjang sejarah Israel hingga kini dan akan diteruskan di dalam kelanjutan sejarah itu. Nama TUHAN atau YHVH adalah sama dengan nama yang disebutkan di Yesaya 44:6 dan Wahyu 1:8, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah yang terdahulu dan yang terkemudian.

TUHAN atau יהוה – YHVH selanjutnya disebut esa. Ungkapan yang diterjemahkan dengan “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” dalam bahasa aslinya berbunyi,YHVH ‘ELOHEYNU YHVH ‘EKHAD, yang dapat diterjemahkan seperti yang terjadi di dalam terjemahan baru ini, tetapi juga dapat diterjemahkan dengan “TUHAN adalah Allah kita, TUHAN saja”, artinya, bahwa tiada Allah lain, yang menjadi Allah kita, kecuali TUHAN. Bagaimanapun kata ‘ekhâd diterjemahkan (dengan esa atausaja) di dalam hubungan pernyataan ini teranglah bahwa kata ‘ekhâd itu menunjukkan kepada TUHAN yang khas terhadap allah-allah yang lain, dan bertentangan dengan allah-allah yang lain, yang dimiliki oleh bangsa-bangsa di sekitar Israel.

Pertama-tama ungkapan itu menunjukkan, bahwa bagi Israel, berdasarkan firman dan karya Allah, tidak ada Allah yang lain, kecuali TUHAN. Hal yang demikian juga dinyatakan oleh Musa di Ulangan 4:39, yang berbunyi, “Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHAN-lah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.”

Secara polemis (artinya: secara perang pandangan) adanya allah-allah yang lain seolah-olah diakui. Akan tetapi secara polemis juga ditunjukkan, bahwa Tuhan Allah adalah lain dibanding dengan allah-allah tadi. Umpamanya dewa Baal. Sekalipun oleh para penyembahnya diakui, bahwa ada satu Baal, namun dewa ini disembah menurut tempat dan keadaannya: ada Baal-Berit, Baal-Gad, Baal-Hazor, Baal-Peor, dan sebagainya. Akan tetapi TUHAN adalah satu, di mana saja; tiada TUHAN-Sinai, TUHAN-Silo, TUHAN-Yerusalem, TUHAN adalah TUHAN, di mana saja Ia disembah.

Selanjutnya, dengan bermacam-macam cara, kemuliaan Tuhan Allah yang jauh melebihi para allah yang lain itu ditunjukkan. Di Yeremia 16:20 umpamanya disebutkan, bahwa Allah buatan manusia itu bukan allah. Di Mazmur 115:4 disebutkan, bahwa berhala-berhala itu adalah perak dan emas, buatan tangan manusia; maka berhala-berhala di Yesaya 41:29 disebut hampa, angin dan kesia-siaan, yang menurut nabi Zakharia, akan dilenyapkan namanya. Berdasarkan hal itu semua maka kepada Israel dinyatakan atau diproklamasikan, bahwa hanya TUHAN-lah yang benar-benar Allah, hanya Dia saja.

Dari uraian di atas teranglah kiranya, bahwa kata ‘ekhâd atau esa di dalam pengakuan iman Israel sekali-kali bukan dimaksud guna menekankan kepada satunya angka secara matematis. Sebab hal yang demikian memang tidak pernah dihadapi oleh Israel. Israel tidak pernah dihadapkan dengan persoalan: ada Allah satu atau lebih dari satu. Dewa-dewa atau berhala-berhala atau allah-allah yang lain tidak pernah dipandang sebagai Allah, hanya secara polemis saja mereka diakui. Bagi Israel persoalannya bukan ada yang ilahi secara umum, lalu TUHAN juga disebut yang ilahi. Bagi Israel tidak ada ketuhanan dalam arti yang umum, lalu TUHAN adalah termasuk ketuhanan itu. Bagi Israel TUHAN adalah satu-satunya yang ilahi, atau lebih tepat TUHAN adalah satu-satunya Tuhan. Di luar TUHAN atau YHVH tidak ada yang dapat disebut Tuhan. Sebab bagi Israel hanya TUHAN-lah yang di dalam firman dan karya-Nya telah memperkenalkan diri sebagai Allah. Berdasarkan keyakinan yang demikian, maka ungkapan TUHAN itu esa bermaksud juga mengungkapkan, bahwa TUHAN adalah esa di dalam firman dan karya-Nya, bukan di dalam bilangan atau jumlahnya. TUHAN adalah esa di dalam firman dan karya-Nya, seperti juga halnya dengan Ia adalah Mahatinggi di dalam firman dan karya-Nya, Yang Kudus di dalam firman dan karya-Nya, dan lain sebagainya. Segi hakekat TUHAN yang satu atau esa ini tidak bertentangan dengan segi-segi yang lain dari hakekat Tuhan Allah tadi. Dari apa yang telah diuraikan tentang kekudusan, kekekalan, dan lain sebagainya, hal ini tampak dengan jelas sekali. Segala firman yang diperintahkan dan segala karya yang dilakukan Tuhan Allah menampakkan satu hal, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya, yang mencari keselamatan umat-Nya, yang menciptakan, memelihara serta menyelamatkan dan membebaskan umat-Nya.

Oleh karena TUHAN, Allah Israel telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada Israel sebagai Yang Esa di dalam firman dan karya-Nya, maka Musa memerintahkan kepada Israel, supaya Israel mengasihi Allah dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, artinya: seluruh eksistensi Israel harus dipersembahkan kepada TUHAN-nya. Oleh karena Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya sebagai yang esa atau satu, maka Israel diharuskan mempersembahkan segala tenaga dan daya yang ada padanya sebagai pengabdian yang satu atau yang esa kepada Tuhannya. Pengabdian kepada TUHAN yang esa di dalam firman dan karya-Nya harus dilakukan secara esa di dalam kata-kata dan perbuatan, secara lahir dan batin. Seluruh eksistensinya sebagai satu kesatuan atau keesaan harus dipersembahkan kepada Tuhannya. Penyataan atau perkenalan Tuhan Allah sebagai Sekutu Israel harus dijawab oleh Israel sebagai sekutu Allah.

Berdasarkan uraian di atas, kiranya ungkapan esa di sini lebih tepat diartikan sebagai pengertian yang etis, sebab keesaan Tuhan Allah di dalam firman dan karya-Nya tadi segera dihubungkan dengan kasih yang esa kepada-Nya. Hanya TUHAN-lah yang Allah adanya, dan yang menjadi sekutu Israel, maka hanya TUHAN-lah yang patut dikasihi. Di luar TUHAN tidak ada yang patut dikasihi sebagai sekutu Israel.

Pengertian tentang keesaan Tuhan Allah yang demikian itu terdapat juga di dalam Perjanjian Baru. Hal ini umpamanya jelas dari perkataan Yesus Kristus:

* Markus 12:29 
LAI TB, Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
KJV, And Jesus answered him, The first of all the commandments is, Hear, O Israel; The Lord our God is one Lord:
TR, ο δε ιησους απεκριθη αυτω οτι πρωτη πασων των εντολων ακουε ισραηλ κυριος ο θεος ημων κυριος εις εστιν
Translit , ho de iêsous apekrithê autô hoti prôtê asôn tôn entolôn akoue israêl kurios ho theos hêmôn kurios heis estin

* Yohanes 17:3
LAI TB, Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
KJV, And this is life eternal, that they might know thee the only true God, and Jesus Christ, whom thou hast sent.
TR, αυτη δε εστιν η αιωνιος ζωη ινα γινωσκωσιν σε τον μονον αληθινον θεον και ον απεστειλας ιησουν χριστον
Translit Interlinear, hautê de estin hê aiônios zôê hina ginôskôsin se ton monon alêthinon theon kai hon apesteilas iêsoun khhriston

Yohanes 17:3 : Kata-kata yang diterjemahkan dengan satu-satunya Allah yang benar adalah ton monon alêthinon theon, yang juga dapat diterjemahkan dengan Allah yang satu dan benar atau satu-satunya yang benar-benar Allah. Maka jelaslah kiranya bahwa menurut Perjanjian Baru tidak ada Allah lain kecuali Tuhan Allah. Keesaan Allah di sini juga bukan hasil pemikiran spekulatif, yang diperoleh dengan menjabarkan dari hukum akal. Juga di sini keesaan Allah dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya, yang semuanya menunjuk kepada Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya. Hal ini jelas dari dihubungkannya keesaan Allah tadi dengan pengutusan Yesus Kristus sebagai Firman yang telah menjadi manusia, yang justru menjadi bukti bagi umat Allah bahwa Tuhan Allah adalah penyelamatnya.

Juga di dalam Perjanjian Baru kata esa atau monon tidak menekankan pada angka satu secara matematis. Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru senantiasa mementingkan konsekuensi dari penyembahan kepada satu-satunya yang boleh disebut Allah itu. Penyembahan kepada Tuhan Allah yang satu-satunya itu membawa konsekuensi secara etis. Kepada pemuda yang kaya, umpamanya, yang merasa telah memenuhi segala hukum Tuhan Allah, Yesus berkata, “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan; juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Yang dimaksud oleh Yesus di sini ialah, bahwa jika pemuda itu sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Allah, harus mengasihi-Nya dengan seluruh eksistensinya, dengan seluruh miliknya, sehingga jika perlu, semua harus dapat dipersembahkan kepada Tuhan Allah. Hal yang demikian itu juga dikemukakan oleh Yesus kepada Marta, jika Yesus berkata, “Tetapi hanya satu saja yang perlu, ‘Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya'”. Marta masih memikirkan hal-hal yang banyak sekali, dan belum menyerahkan seluruh eksistensinya kepada Yesus. Di sekitar Kristus dan di sekitar Tuhan Allah hanya ada satu hal saja yang perlu, yaitu kasih yang sedalam-dalamnya, yang dinyatakan dengan seluruh eksistensi manusia.

Di dalam Perjanjian Baru gagasan ini semua mendapat arti yang jauh lebih mendalam lagi, sebab satu-satunya Allah yang benar itu ternyata di dalam firman dan karya-Nya telah memberikan kesempurnaan kasih-Nya, yaitu di dalam pengutusan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Maka konsekuensi etis dari penyembahan kepada Tuhan Allah yang benar-benar Allah tadi, bagi hidup bersama ialah bahwa orang beriman harus sehati dan sejiwa.

Menurut Alkitab, percaya bahwa hanya ada Allah satu, memang baik sekali. Akan tetapi jika hanya berhenti di situ saja, jauh belum mencukupi. Pengakuan bahwa Tuhan Allah adalah satu atau esa, membawa konsekuensi. Di Yakobus 2:19 disebutkan, “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”

Yang penting ialah menaati perintah Tuhan Allah, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan segenap kuatnya dan mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Lahir dan batin hidup umat Allah harus dipersembahkan kepada Tuhan dan sesamanya.

Artikel terkait :
Arti TUHAN yang Esa dalam Alkitab, di viewtopic.php?p=43#43

KEESAAN ALLAH DALAM PERJANJIAN LAMA, di keesaan-allah-dalam-perjanjian-lama-vt2912.html#p16400