APAKAH ALLAH DALAM ALKITAB SAMA DENGAN ALLAH DALAM ISLAM..??

Posted on Updated on

Berbeda dengan apa yang mungkin pengajar lain kotbahkan atau ajarkan, saya tetap tidak yakin bahwa Allah yang dimaksud di Qur’an adalah berbeda dari Allah yang dimaksud di Kitab Perjanjian Lama.
Jika kita katakan orang Yahudi menyembah Allah yang sama dengan kita, maka seharusnya secara logika kita juga memberikan orang Muslim keistimewaan yang sama. Lagi pula jelas bahwa mereka mengakui Yesus sebagai Kristus atau yang diurapi (walaupun definisi mereka samar-samar dan tidak memuaskan kita mengenai asal-usul pengakuan ini), menunjukkan kelahiran-Nya dari seorang perawan, kehidupan-Nya yang tidak bercacat dan penuh mujizat, menyatakan hal yang lebih dekat kearah kita daripada kepercayaan Yahudi!

Saya tidak sedang mengatakan bahwa Qur’an adalah Kitab Suci seperti Kitab Perjanjian Lama. Memang ada semacam perasaan kebersamaan dan empati yang dalam antara orang Kristen dengan orang Yahudi karena mereka memiliki bagian Kitab Suci yang sama. Saya tidak sedang membicarakan teksnya, tetapi tentang teologi yang ada dibaliknya. Saya berpendapat bahwa sejak Muhammad mulai dengan titik yang sama di Alkitab yang berkenaan dengan penciptaan (Allah satu-satunya yang menciptakan segala yang ada), maka kita sedang membicarakan tiga iman atau kepercayaan (Yudaisme, Islam dan Kristen) yang memiliki ajaran yang sama.


Kalau seorang membaca Qur’an (kebanyakan isinya terbaca seperti Mazmur atau bagian-bagian lain Alkitab), maka akan ditemukan Allah yang mahakuasa, penyebab dari segala yang ada, pemelihara dan pemberi dari semua yang baik yang manusia (dan ciptaan lainnya) butuhkan. Dia juga Allahnya Adam dan Hawa (walaupun Hawa tidak disebutkan namanya di dalam Qur’an), Allah dari Abraham, Ishak, Ismael, dan Yakub. Apakah ada Allah yang seperti itu? Sudah diberikan dari awalnya bahwa sifat kebapaan Allah di Qur’an hilang dan kasih tidak ditekankan (walaupun kemurahan dan pengampunan sering disebutkan).
Tetapi semestinya, sama seperti Paulus ketika dapat memandang sebuah patung orang Athena dan menyatakan kepada para pendengarnya yang adalah penyembah berhala, bahwa inilah Allah itu yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati, maka kitapun dapat menyatakan kepada teman-teman Muslim kita bahwa Allah Pencipta yang mereka sembah adalah Dia yang mengutus Yesus untuk menebus kita dari dosa-dosa kita! Ketika sampai pada ajaran tentang penciptaan kita berdiri pada pijakan yang sama, dan hal ini pada waktunya memampukan kita dalam tugas yang dibutuhkan untuk meruntuhkan permusuhan yang berabad-abad antara pemeluk Kristen dan pemeluk Islam.

Untuk menyimpulkan, saya melihat ada lima alasan yang positip mengapa saya percaya bahwa orang-orang Muslim, seperti pemeluk agama monoteisme lain (Kristen dan Yahudi), berbicara tentang Allah yang sama. Alasanya adalah dari sudut philology, budaya/ilmu bahasa, teologi, praktis, dan misiologi.

Philologi

Kata Allah adalah sebuah kata dalam bahasa Semit yang parallel dengan kata dalam bahasa Ibrani El, menunjuk kepada allah yang tertinggi, pencipta dari segala yang ada. Saudara dapat membaca tentang Allah dan ilah (asal kata allah dalam bahasa Arab) dalam Ensiklopedi Islam. Sarjana-sarjana dari semua aliran setuju akan hal ini. Ibrani dan Arab adalah bahasa yang mirip (sama-sama berasal dari Semit, dengan bahasa Aram terletak di antara Ibrani dan Arab), dengan banyak kesamaan kata, dan adanya kesamaan budaya juga.

Budaya/linguistic

Orang-orang Kristen Arab menggunakan kata Allah untuk God sebelum Islam datang, dan melanjutkan penggunaan itu sampai sekarang. Ini satu-satunya kata dalam bahasa Arab untuk God yang saudara-saudara Kristen Arab kita gunakan selama ini, bahkan sejak sebelum Islam. Kita sedang membicarakan 15 juta orang Kristen di Timur Tengah yang terjemahan Alkitabnya selalu menggunakan kata Allah untuk God, dan yang liturgy dan doa-doanya semua ditujukan kepada Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus!

Teologi

Allah dianggap sebagai allah yang tertinggi di kuil-kuil pada zaman sebelum Islam di Mekah. Qur’an dalam banyak pasal memberikan kesaksian akan Allah yang Utama, pencipta langit dan bumi, Allah dari Abraham, Ishak, Yakub, Daud, dan tokoh-tokoh Alkitab yang lain juga. Juga disebutkan adanya orang-orang Arab yang monoteistis, yang dinamakan haneef, dan Muhammad menyatakan mereka sebagai para pendahulu atau perintis Islam. Apalagi ketika Muhammad akhirnya memasuki Mekah dengan kemenangan penuh (630, hanya dua tahun sebelum meninggal), setelah delapan tahun pengasingannya, dia membersihkan kuil-kuil berhala dari semua allah-allah lain dan menyatakan bahwa sekarang hanya dipersembahkan kepada allah yang Esa dan Benar, yaitu Allah.

Ini adalah tindakan yang menarik tentang kontekstualisasi, sesungguhnya satu contoh dari sekian banyak yang secara sengaja dibawa oleh Muhammad. Akhirnya, tepat sejak permulaan dia jelas percaya dan mengajarkan bahwa dia adalah seorang nabi yang mengkotbahkan iman yang sama seperti iman Yahudi dan iman Kristen. Walaupun dia menyimpang lebih jauh dari kekristenan pada akhirnya, dia tidak pernah mempertentangkan dasar alur cerita Alkitab dari kitab Kejadian sampai nabi-nabi. (Dalam hal-hal detil, dia mengikuti lebih banyak tradisi dari mulut ke mulut yang disampaikan oleh orang Arab pengikut Yahudi daripada mengikuti Kitab Suci yang mungkin dia sendiri tidak punya salinannya).

Praktis

Sering argument yang menentang berlanjut, “Mereka berkata bahwa mereka menyembah Allah yang sama tetapi sebenarnya, karena iman mereka lahir dari tipudaya Iblis, maka mereka menyembah Iblis”. Pertama, saya tidak percaya ada orang yang menyembah Iblis dimana pada waktu bersamaan secara sadar menyembah Allah. Dia adalah satu-satunya yang dapat menghakimi hati manusia dan membedakan niat-niat yang benar. Tetapi kedua, seperti yang Rasul Yohanes katakan, “Kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Allah dan bahwa seluruh dunia berada dibawah kuasa si jahat” (1 Yohanes 5:19). Saya tidak ingin menjadi naïf: semua system yang menempatkan dirinya melawan Injil Tuhan kita Yesus Kristus jatuh ke dalam kategori dari “dunia”.

Inilah yang dimaksudkan oleh Yohanes dalam mengaitkan “Orang-orang Yahudi” (lawan Yesus dalam hal Injil-Nya) dengan “dunia”. Di sisi lain, akankah kita katakan bahwa seseorang yang mencari Allah dalam doa-doanya (dari manapun latarbelakang agamanya) adalah yang potensi sebagai penerima anugerah Allah di dalam Kristus? Hanya Yesus yang dapat menghakimi maksud hati yang terdalam. Perjanjian Baru mengajarkan kepada kita bahwa melalui Roh Kudus-Nya “Anak Manusia yang datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang” itu sedang menghendaki untuk menarik pencari-pencari yang berharga ini kepada diri-Nya. Jadi ketika seseorang berkata, “Saya mencintai Allah dan ingin lebih dekat kepada-Nya”, saya menghargainya dan mencoba untuk membimbingnya dari sana.

Misiologi

Tanpa dasar pijakan yang sama kita tidak dapat bahkan memulai suatu percakapan dengan seorang teman Muslim. Jika pernyataan pembukaan saya adalah, “Anda dan saya mempercayai Allah atau Tuhan yang berbeda”, kita telah kehilangan sebuah jembatan yang berharga kepada hatinya. Jika pada kenyataannya kita dapat setuju atas Allah Pencipta yang sama yang menciptakan manusia sebagai wakil-wakil-Nya di bumi, mendukung mereka secara bertanggungjawab melalui perkataan para nabi-Nya, dan memperingatkan mereka akan datangnya penghakiman, dan ya, kita dapat mulai dalam sebuah tempat yang akrab dan dibangun dari sana. Inilah yang sungguh menjadi pengalaman kami bertahun-tahun di Timur Tengah.

-END-

Artikel terkait :

ALLAH ADALAH BERHALA? , di http://www.sarapanpagi.org/allah-adalah … .html#p1627