Bagimanakah Ciri-ciri Fisik Tuhan Yesus..??

Posted on Updated on

Apakah Yesus itu seperti ini ??

JAWAB :

Perlu diingat bahwa kitab Injil tidak pernah mencatat ciri-ciri fisik Yesus Kristus, misalnya : bagaimana warna kulitNya, gemuk-kurus-pendek-Nya dll.
Walaupun banyak sekali pengungkapan Injil tentang kepribadian Yesus, namun Allah tampaknya sengaja tidak mengilhamkan tanda-tanda fisikNya untuk ditulis dan diwariskan secara salah ke dunia. Tuhan tahu bahwa pengagungan (idol) unsur-unsur fisik oleh manusia akan berpotensi memicu SARA dan berhala.

Memang ada banyak lukisan karya para maestro dunia seperti Leonardo Da Vinci, Michelangelo dll. Dalam lukisan-lukisan mereka yang bertema religius, menggambarkan kira-kira wajah Yesus sesuai dengan insting seni mereka. Namun semua itu hanya rekaan seniman semata, bukan dengan dasar Alkitabiah yang menggambarkan bahwa Yesus memang berwajah seperti itu dan berpostur tubuh seperti itu.

gunrider wrote:

Seperti kita ketahui bahwa Yesus saat menjadi manusia adalah seorang Yahudi dan pria Yahudi tidak memiliki rambut panjang,

JAWAB :

Simson dan Absalom tidak dicukur rambutnya, karena mereka ini disebut sebagai nazir Allah.

* Bilangan 6:5
Selama waktu nazarnya sebagai orang nazir janganlah pisau cukur lalu di kepalanya; sampai genap waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, haruslah ia tetap kudus dan membiarkan rambutnya tumbuh panjang.

*2 Samuel 14:26
Apabila ia mencukur rambutnya-pada akhir tiap-tiap tahun ia mencukurnya karena menjadi terlalu berat baginya-maka ditimbangnya rambutnya itu, dua ratus syikal beratnya, menurut batu timbangan raja.

 

 

Nabi Elia menurut 2 Raja-raja 1:8 ditulis sebagai איש בעל שער – ‘ISY BA’AL SE’AR”, diterjemahkan oleh LAI dengan “memakai pakaian bulu”, namun terjemahan ini kurang tepat karena איש – ‘ISY berarti orang (laki-laki), בעל – BA’AL berarti tuan, dan שער – SE’AR adalah … rambut! Maka, naskah ini diterjemahkan oleh KJV dengan “He was an hairy man”, seseorang yang berambut dan berjenggot panjang.

* 2 Raja 1:8
LAI TB, Jawab mereka kepadanya: “Seorang yang memakai pakaian bulu, dan ikat pinggang kulit terikat pada pinggangnya.” Maka berkatalah ia: “Itu Elia, orang Tisbe!”
KJV, And they answered him, He was an hairy man, and girt with a girdle of leather about his loins. And he said, It is Elijah the Tishbite.
Hebrew,
וַיֹּאמְרוּ אֵלָיו אִישׁ בַּעַל שֵׂעָר וְאֵזֹור עֹור אָזוּר בְּמָתְנָיו וַיֹּאמַר אֵלִיָּה הַתִּשְׁבִּי הוּא׃
Translit, VAYOMRU ‘ELAV ‘ISY BA’AL SE’AR VE’EZOR ‘OR ‘AZUR BEMATNAV VAYOMAR ‘ELIYAH HATISYBI HU

Tentang rambut. Kita perlu melihat latar belakang sejarah, budaya, adat istiadat, kebiasaan dan kondisi masa itu. Kaum pria zaman Majapahit berambut panjang, dikonde seperti gambar-gambar ilustrasi ttg Patih Gajahmada dst. Kaum pria zaman Sidharta Gautama juga berambut panjang (seperi di Film Little Buddha). Kaum pria zaman China kuno juga berambut panjang.

Orang Mesir purba membiarkan rambut dan janggut mereka tumbuh panjang saat berkabung; orang Asyur demikian pula, membiarkan rambut dan janggut mereka tumbuh panjang. Orang Yunani di era Rasul Paulus sebaliknya, pria berambut pendek dan wanita berambut panjang. Demikian pula kalangan orang Romawi.

Di kalangan Yahudi, di era Yesus Kristus, wanita berambut panjang (Lukas 7:38, Yohanes 11:2), sedangkan pria pun berambut panjang tetapi tidak sepanjang rambut wanita. Masa kini kaum pria rambutnya bervariasi tergantung selera mode-nya, ada yang panjang ada yang pendek dan ada yang sengaja dibotakin. Tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Tuhan Allah tidak membenci pria berambut panjang, tetapi masalah rambut harus disesuaikan dengan konteks budaya setempat, dan sebagainya.

—–

gunrider wrote:

karna itu suatu kehinaan

1 kor 11:14 : Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang,

Tidak ada seorangpun yg pernah meliat Yesus didunia ini, dan kalo gambar diatas mengatakan dia Yesus, jelas bukan, karna pria Yahudi tidak memiliki rambut panjang

JAWAB :

Setidaknya ada 3 contoh orang Israel/ Yahudi dalam Perjanjian Lama yang berambut panjang. Kita harus melihat konteks 1 korintus 11:14. Paulus menuliskan jika laki-laki berambut panjang itu sesuatu yang tidak patut, padahal kalau dilihat dalam kitab Imamat 19:27 manulis : “Janganlah kamu mencukur tepi rambut kepalamu berkeliling dan janganlah engkau merusakkan tepi janggutmu.” 

Apakah Imamat 19:27 dan 1 korintus 11:14 kontradiksi?

Maka kita harus bijak menilainya dan ternyata tiap-tiap anjuran itu mempunyai konteksnya sendiri-sendiri.

Pada masa Perjanjian Lama: Bangsa-bangsa kafir di sekitar Israel di era Perjanjian Lama memiliki rambut yang dicukur dan ditahbiskan pada altar penyembahan berhala. Seringkali kebiasaan ini menandai suatu ritus awal pada pelayanan bagi dewa atau berhala mereka, karena itulah hal itu merupakan kebencian di mata kalangan Yahudi.

Pada era Paulus dan budaya, style & fasion yang sedang nge-trend di Korintus: seorang laki-laki yang berambut gondrong justru menandakan mereka adalah penganut kafir.
Maka kita harus meng-kaji konteks atau latar belakang 1 Korintus 11, mengapa Paulus (bukan Tuhan Allah) melarang jemaat laki-laki “Korintus” (bukan jemaat Kristen di Indonesia) berambut panjang?, atau coba bandingkan dengan satu ayat sebelumnya dalam pasal yang sama ini :

* 1 Korintus 11:13
“Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” 

Jika kehendak Paulus menurut ayat di atas diterapkan, niscaya semua perempuan di gereja sekarang ini bakal mengenakan kerudung, bukan?.

* 1 Korintus 11:14 
LAI TB, Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang
KJV, Doth not even nature itself teach you, that, if a man have long hair, it is a shame unto him?
TR, η ουδε αυτη η φυσις διδασκει υμας οτι ανηρ μεν εαν κομα ατιμια αυτω εστιν
Translit interlinear, ê {atau} oude {tidak} autê {ia} hê phusis {alam} didaskei {mengajarkan} humas {kalian} hoti {bahwa} anêr {laki-laki} men {sesungguhnya} ean {jika} koma {ia berambut panjang} atimia {tidak hormat} autô {baginya} estin {ia adalah}

“Alam” (Yunani, “φυσις – PHUSIS”) masa itu, dan bukan Allah (“θεος – THEOS”) yang mengajarkan bahwa berambut panjang itu “kehinaan”, harfiah “tidak hormat” (“ατιμια- ATIMIA”). Alam menghendaki agar ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Anjuran dalam 1 Korintus 11 adalah sebagai nasehat, bagaimana tingkah-laku pengikut Kristus yang mencerminkan “kewibawan Allah” yang terkait dengan budaya setempat masa itu.

Kalau kita mau membaca lebih lengkap, maka akan lebih jelas permasalahannya, daripada sekedar mencomot satu ayat (ayat 14 saja)

* 1 Korintus 11:2-16
11:2 Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.
11:3 Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.
11:4 Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya.
11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
11:6 Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.
11:7 Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.
11:8 Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.
11:9 Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
11:10 Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.
11:11 Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.
11:12 Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.
11:13 Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?
11:14 Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang,
11:15 tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.
11:16 Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun Jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian.

1 Korintus 11 mulai ayat 2 sampai dengan 1 Korintus 14 ayat 4, latar belakangnya ditulis ketika Paulus mendengar bahwa jemaat di Korintus bertikai dan kebingungan mengenai pakaian LITURGI, Paulus mengkritik karena jemaat di Korintus terpecah memasalahkan siapa Pelayan yang sah dan mempersoalkan pakaian Liturgis yang sebenarnya bukan masalah yang penting dalam ibadah, dalam bagian lain Paulus sering menekankan bahwa ibadah yang terpenting adalah dalam roh dan kebenaran, bukan masalah-masalah lahiriah.

Namun untuk menyelesaiakan masalah ini, tentu Paulus memberikan nasehat-nasehatnya yang dikaitkan dengan kulturitas budaya setempat. Kita tahu Paulus sangat fleksible dalam urusan ini sehingga ajaran-ajarannya mampu diserap oleh orang-orang non-Yahudi (bangsa tak bersunat).

Pada ayat 4 dan 5, Paulus memberi komentar mengenai penampilan yang tepat bagi laki-laki dan perempuan. Jelas sekali bisa kita lihat Paulus mengenal sekali Perempuan dan Laki-laki di Korintus memegang peranan dalam pemimpinan Liturgi.

Banyak problem di jemaat Korintus muncul karena sikap acuh-tak-acuh terhadap hal-hal fisik dan kelakukan yang baik. Paulus secara khusus mendorong jemaat agar menghargai secara benar perbedaan seks, menyebutkan kegagalan menghargai perbedaan, dan berdosa (lihat Roma 1:24-27). Komentar Paulus terhadap jemaat Korintus mengenai pakaian ibadah ini berlatar belakang pada pandangan tersebut. Kegagalan menghargai hikmat praktek biasa mengenai pakaian bisa membawa kepada pelecehan yang lebih serius terhadap kewibawaan dan kebebasan Kristen, dan merusak tujuan sesungguhnya dari berkumpul bersama dalam pertemuan liturgi untuk beribadah. Paulus juga menganjurkan damai sejahtera dan keseimbangan dalam mengatur karunia-karunia roh (1 Korintus 14:1-40), ia menganjurkan kepada laki-laki dan perempuan berpakaian layak dalam perayaan liturgi agar dapat membersembahkan kurban yang layak kepada Allah.

Pertama-tama Paulus memuji jemaat Korintus karena teguh pada tadisi yang telah ia ajarkan, kemudian Paulus mengingatkan mereka akan kewibawaan sebagai umat Kristus, kendati masalah berpakaian tidak begitu penting. Peulus menghargai jemaat Korintus, akan tetapi untuk pelanggaran yang lebih berat dari kasih bahkan dalam perjamuan Tuhan Paulus tidak memuji mereka:

* 1 Korintus 11:17 
Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.

Dalam 1 Korintus ayat 11-12 seolah-oleh Paulus sangat menekankan Perempuan harus memakai penutup kepala, tetapi pandangan ini didukung oleh pemikiran akal sehat waktu itu bahwa sebaiknya ada perbedaan cara berpakaian antara laki-laki dan perempuan. Ini penting pada masa itu sebab umat Kristus harus berbeda penampilannya dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus.

Mengapa Perempuan ditekankan harus memanjangkan rambutnya dan menutup kepada dalam ibadah-ibadah sebagai “tanda” kewibawaan Allah?
Sebab, latar-belakang budaya saat itu, apabila seorang perempuan tidak menggunakan tutup kepala, artinya ia adalah seorang perempuan yang “tersedia bagi siapapun”, dan perempuan yang memotong rambutnya itu identik dengan kaum lesbian.

Seluruh ayat dalam 1 Korintus 11:2-16 mengemukakan usaha Paulus untuk mengingatkan jemaat di Korintus terhadap perpecahan, persaingan yang mungkin muncul dalam pertemuan2 ibadah lain yang tidak dapat diterima oleh jemaat Korintus dalam konteks liturgi. Ketika umat Kristus perempuan berpakaian layak dengan tutup kepala sebagai tanda bahwa perempuan itu adalah perempuan baik-baik, maka perempuan itu tidak bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Unsur sandungan itu harus dihindari, sebab perempuan memainkan peranan besar dalam ibadah-ibadah kafir.

Dari penjelasan diatas, jelas sekali anjuran untuk menutup kepala bagi perempuan adalah berkaitan dengan latar belakang budaya masa itu, anjuran itu justru melindungi kaum perempuan, agar mereka tidak dianggap pelacur karena kepalanya tidak bertudung dan memanjangkan rambutnya agar tidak dianggap lesbian.
Kesaksian umat Kristus juga harus diungkapkan secara lahiriah meskipun ibadah kita menekankan ibadah dalam roh dan kebenaran.

Jelas sekali Rasul Paulus menekankan penghindaran unsur sandungan. Pengajarannya ini juga bisa diterapkan pada masa kini. Semua murid Kristus perlu berpenampilan yang mencerminkan wibawa Kristus.

——-

Di masa kini, anjuran/ pengajaran Paulus tsb tetap bisa dipakai sebagai pembelajaran, walaupun Pelayan Tuhan perempuan masa kini umumnya tidak menggunakan Kerudung (mungkin suster di Gereja Katolik & Kristen Syria/ ortodoks dan beberapa aliran lain yang masih memakaianya), tetapi sudah selayaknya para pelayan Tuhan mengenakan pakaian “sopan” dalam pelayanan.

Contohnya :
Trend fasion perempuan sekarang udah lazim sekali mereka memakai ‘kaus cekak’ kelihatan puser-nya, tank-top yang sexy, jeans belel, dst. Walaupun mereka perempuan baik-baik/ anak orang baik-baik.
Meskipun berpakaian cara itu sudah umum dipakai di berbagai tempat, tetapi gaya pakaian tersebut tentu “tidak cocok” untuk dipakai dalam pelayanan di gereja.

Pembawa Firman Tuhan lazim memakai pakaian bagus di mimbar, dengan memakai jas dan dasi, dengan rambut yang dipotong/ disisir rapi. Kalau yang perempuan juga memakai pakaian sopan dan bagus, demikian juga para Diaken/ Diakones, walaupun tidak ada anjuran, tetapi cara berpakaian seperti ini lebih dimaksudkan menghormati Wibawa Allah dan menghormati jemaat yang sedang mendengarkan khotbah yang datang ke gereja untuk beribadah.

Tentang “fashion” memang tidak bisa diseragamkan, satu tempat dengan tempat lain, satu masa dengan masa lain, iklim, adat, budaya juga bisa saja membedakan gaya orang berpakaian dan berpenampilan, termasuk gaya rambut.

Blessings,
BP
August 23, 2008