Baptisan Anak-Anak

Posted on Updated on

Perbedaan pandangan yang penting antara kaum Baptis dan non-baptis (walaupun belakangan banyak denominasi non baptis mengikuti jejak kaum baptis) adalah dalam hal baptisan anak-anak. Sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Hovey (seorang penulis Baptis), “Hanya orang percaya dalam Kistuslah yang boleh menerima baptisan dan hanya mereka yang dapat menunjukan bukti yang diterima bahwa mereka beriman dalam Kristus saja yang boleh dibaptiskan.” Hal ini berarti bahwa naka-anak harus disingkirkan dalam Sakramen Baptisan. Dalam denominasi yang lain, baptisan anak-anak dapat diterima.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan persoalan ini:

Dasar Alkitab tentang baptisan anak-anak. 

Dapat dikatakan bahwa dalam Alkitab tidak ada perintah yang aksplisit mengenai baptisan anak-anak. Juga tidak pernah kita lihat satu contoh pun dalam Alkitab mengenai peristiwa anak-anak yang dibaptis. Tetapi hal ini tidak harus menjadikan kita menganggap baptisan anak-anak sebagai sesuatu yang tidak alkitabiah. Dasar Alkitab untuk baptisan anak-anak dapat kita jumpai dalam data berikut:

(1) Perjanjian yang dibuat dengan Abraham adalah suatu perjanjian spiritual, walaupun perjanjian itu juga mengandung aspek nasional. Bagi perjanjian spiritual ini sunat adalah lambang dan materainya. ORang Baptis, yang memisahkan perjanjian ini menjadi dua dari tiga perjanjian yang ada, sesunguhnya tidak sesuai dengan Alkitab. Alkitab menyebut perjanjian dengan abraham beberapa kali tetapi selalu dalam bentuk tunggal (Kel 2:24; Im 26:42; 2 Raj 13:23; 1 Taw 16:16; Mzm 105:9). Tidak ada perkecualian satu pun dalam ayat-ayat itu. Sifat spiritual dari perjanjian ini dibuktikan dengan cara dimana janji-janjinya ditafsirkan dalam perjanjian baru (Rom 4:16-18; 2 Kor 6:16-18; Gal 3:8,9; Ibr 8:10; 11:9,10,13). Juga kita lihat bahwa kenyataan bahwa sunat adlaah sebuah ritual yang memiliki arti penting spiritual (Ul 10:16; 30:6; Yer 4:4; 9:25,26; Kis 5:1; Rom 2:26-29; 4:11; Flp 3:2). Juga kita lihat dari kenyataan bahwa perjanjian itu disebut “Injil” dalam Gal 3:8.

 


(2) Perjanjian ini masih berlaku dan secara esensial sama dengan “perjanjian ynag baru” pada masa sekarang. Kesatuan dan kesinambungan dari perjanjian baik dalam masa Perjanjian Lama maupun masa Perjanjian Baru keluar dari kenyataan bahwa Sang Pengantara tetaplah sama (Kis 4:12; 10:43; 15;10,11; Gal 3:16; 1 Tim 2:5,6; 1 Pet 1:9-12). Syaratnya juga masih tetap sama yaitu iman (Kej 15:6; Rom 4:3,; Ibr 2:4 dst). Berkat dari perjanjian itu masih sama yaitu pembenaran (MZm 32:1,2,5 ; Yes 1:18; Rom 4:9; Gal 3:6), kelahiran kembali (Ul 30:6; Mzm 51:10), karunia rohani (Yo 2:28,32; Kis 2:17-21; Yes 40:31) dan hidup yang kekal (Kel 3:6; Ibr 4:9; 11:10). Pada hari Pentakosta Petrus memberikan jaminan janji itu kepada mereka beserta dengan keturunan mereka (Kis 2:39). Dalam Rom 4:13-18 dan Gal 3:13-18, Paulus membicarakan bahwa hukum tidak menjadikan janji yang diberikan menjadi sia-sia, jadi dalam Perjanjian Baru itu tetap mengikat. Penulis surat Ibrani menunjuk bahwa janji kepada Abraham diteguhkan dengan sumpah, sehingga orang percaya Perjanjian Baru mendapatkan penghiburan dari ketidak-berubahan janji itu (IBr 6:13-18).

(3) Oleh penunjukan Tuhan sendiri anak-anak juga mendapatkan keuntungan dari perjanjian itu dan dengan demikian mereka menerima sunat sebagai lambang dan materai. Menurut Alkitab perjanjian itu jelas merupakan sebuah konsep organik, dan pelaksanaannya bergerak sepanjang garis sejarah dan organik. ADa umat atau bangsa kepunyaan Allah, dan ini merupakan sebuah kesatuan organik yang hanya mungkin dibentuk dalam keluarga. Pengertian tentang suatu bangsa ini sangat menonjol dalam Perjanjian Lama. Tetapi pengertian itu tidak lenyap ketika bangsa Israel telah mencapai tujuannya. Pengertian bangsa ini dirohanikan dan terus dibawa masuk kedalam Perjanjian Baru, sehingga umat Allah Perjanjian Baru juga disebut sebagai satu bangsa, Mat 21:42; Rom 9:25,26 (cf. Hos 2:23); 2 Kor 6:16; Tit 2:14; 1 Ptr 2:9. anak-anak dan bayi juga diperhitungkan selama jaman perjanjian lama sebagai suatu bagian integral dari Israel sebagai umat Allah. Anak-anak itu ada ketika perjanjian diperbaharui (Ul 29:10-13; Yos 8:35; 2 Taw 20:13). Anak-anak juga memiliki kedudukan dalam jemaat Israel dan karena itu juga hadir dalam pertemuan-pertemuan religius mereka (2 Taw 20:13; Yoel 2:16). Kalau kita memandang janji-janji ynag luar biasa itu seperti dalam Yes 54:13; Yer 31:34; Yo 2:28, maka kita tentunya tidak akan berharap jika hak khusus yang juga dimiliki anak-anak itu kemudian dikurangi dalam Perjanjian Baru. Kita juga tidak akan menyingkirkan anak-anak dari Gereja. Yesus dan para rasul tidak menyingkarkan anak-anak, maka tentunya akan ada pernyataan eksplisit tentangnya, tetapi kenyataannya tidak demikian.

(4) Pada jaman Perjanjian baru, baptisan oleh Otoritas Ilahi mnggantikan sunat sebagai lambang dan materai pentahbisan dari perjanjian anugerah. Alkitab dengan tegas menekankan bahwa sunat sudah tidak bisa lagi berfungsi sebagai lambang dan materai pentahbisan Kis 15:1,2; 21:21; Gal 2:3-5; 6:12,13,15. Jika baptisan tidak menggantikan kedudukan sunat, maka Perjanjian baru tidak memiliki ritual pentahbisan. Tetapi jelas bahwa Kristus menggantikan sunat itu dengan bsptisan, Mat 28:19,20; Mrk 16:15,16. Baptisan sesuai dengan sunat dalam pengertian spiritual. Sebagaimana sunat menunjuk kepada pengeratan atas dosa dan perubahan dalam hati, Ul 10:16; 30:6; Yes 4:4; 9:25,26; Yes 44:7,9, seperti itu pulalah baptisan menunjuk kepada pembasuhan dosa, Kis 238; 1 Ptr 3:21; Tit 3:5, selain juga menunjuk kepada pembaharuan spiritual, Rom 6:4; Kol 2:11,12. Ayat yang terakhir ini dengan jelas menunjukan kaitan antara baptisan dengan sunat. Ayat itu juga mengajarkan kepada kita tentang sunat didalam hati yang ditandai oleh pembaptisan (cf. Gal 3:27,29). Tetapi jjika anak-anak menerima materai dan lambang itu dari Perjanjian Lama yang lama, maka tentunya anak-anak itu juga mempunyai hak untuk menerima materai dan lambang itu dalam perjanjian ynag baru, yang melaluinya orang saleh dalam perjanjian lama diajar untuk melihat ke depan kepada jaman yang lebih penuh dan kaya. Jika mereka tidak menerima hal ini, maka haruslah mereka mendapatkan pernyataan yang tidak samar tentang hal ini, tetapi kenyataan yang ada justru sebaliknya , Mat 19:4; Kis 2:39; 1 Kor:7:14.

(5) Sebagaimana yang dibicarakan dalam bagian sebelumnya, Perjanjian Baru tidak memberikan bukti langsung mengenai baptisan anak-anak pada jaman para rasul. Setelah mempertimbangkan semua bukti yang mungkin, Lambert mengemukakan keseimpulannya sebagai berikut: “Jadi, bukti Perjanjian Baru tampaknya menunjuk pada kesimpulan bahwa baptisan anak-anak bukanlah kebiasaan yang umum dilakukan pada jaman rasul.”(The Sacraments in the New Testament hlm. 204). Tetapi kita tidak perlu terkejut jika baptisan anak-anak tidak disebutkan, sebab pada jaman pekabaran Injil seperti pada jaman para rasul itu tekanan akan jatuh pada baptisan dewasa. Lebih dari itu, keadaan tidak selalu menunjang bagi baptisan anak-anak. Orang yang bertobat akan segera memiliki konsep yang tepat tentang tugas-tugas perjanjian serta tanggung jawabnya. Kadang-kadang hanya salah satu dari orang tua saja yang bertobat, dan wajar saja jika orangtua yang belom bertobat menentang baptisan untuk anak-anaknya. Seringkali tidak ada jaminan bahwa orang tua akan mendidik anaknya secara religius dan karenanya jaminan seperti itu diperlukan. Pada saat yang sama, istilah yang dipakai dalam Perjanjian Baru sangat kosisten dengan kesinambungan pelaksanaan organis dari Perjanjian itu yang menuntuk sunat bagi anak-anak Mat 19:14; Mrk 10:13-16: Kis 2:39; 1Kor 7:14. Perjanjian Baru berulang kali berbicara tentang baprisan bagi seluruh keluarga dan tidak memberikan indikasi bahwa hal ini dilakukan keluar dari kebiasaan, tetapi lebih menunjuk sebagai sesuatu yang biasa (Kis 16:15,33; 1Kor 1:16). Sangat mungkin, tetapi tidak terlalu pasti, bahwa tidak satupun dari anggota keluarga itu berisi anak-anak. Dan jika seandainya ada bayi disana, secara moral pastilah bayi itu juga dibaptiskan bersama orang tuanya. Perjanjian Baru pastilah tidak akan berisi bukti bahwa pribadi-pribadi yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga kristen tidak dibaptiskan sampai usia akil balik dan telah menyatakan pengakuan iman mereka dalam Kristus. Tidak ada petunjuk ke arah itu.

(6) Wall dalam bagian pendahuluan bukunya yang berjudul History of Infant Baptism menunjukan bahwa dalam baptisan anak proselit dari orang tua proselit, mereka sering dibaptiskan bersama dengan orang tua mereka. Edersheim dalam bukunya Life and Times of Jesus the Messiah mengatakan bahwa sesungguhnya ada perbedaan pandangan tentang hal ini. Sesungguhnya, bahkan jika hal seperti ini terjadi, hal itu tidak membuktikan apa-apa sejauh baptisan kristen terkait. Sebaliknya, akan menunjukan bahwa sesungguhnya tidak ada satupun yang aneh dalam prosedurnya. Rujukan sejarah paling awal mengenai baptisan anak-anak kita temukan dalam tulisan diparuh kedua abad kedua. Didache membicarakan tentang baptisan dewasa, bukan baptisan anak-anak. Justin menyebutkan perempuan-perempuan yang menjadi murid Kristus sejak masa anak-anak (ek paidon). Bagian itu memang tidak membicarakan tentang baptisan, dan kalimat ek paidon tidak harus menunjuk bayi.Irenius ketika membicarakan tentang Kristus menyatakan: “Ia datang untuk menyelamatkan manusia melalui diri-Nya sendiri. Mereka yang diselamatkan melalui Dia dilahirkan baru kepada Allah, baik bayi maupum anak kecil, anak² yang sudah agak besar, para pemuda dan orang tua.” Perkataan ini walaupun tidak eksplisit menyebutkan soal baptisan, namun pada umumnya dianggap sebagai rujukan paling awal bagi baptisan anak-anak. Karena Bapak-Bapak Gereja sangat mengaitkan baptisan dan kelahiran kembali, maka mereka memakai istilah “kelahiran kembali” untuk menunjuk “baptisan”. Pada paruh kedua abad kedua, baptisan anak-anak telah biasa dilakukan dan ini terlihat dari tulisan Tertullian, meskipun ia sendiri menganggap baptisan itu agak ditunda (De Baptismoa,c, XVIII). Origen menyyebutnya sebagai tradisi para rasul. Ia berkata “Gereja mendapatkan dari tradisi para rasul untuk membaptiskan, bahkan anak-anak juga”(Comm. In Epsit. Ad Romanos, Lib V.) Konsili Kartago (A.D. 253) tidak mempersoalkan baptisan anak-anak dan hanya menanyakan apakah anak-anak perlu dibaptis sebelum berusia 8 hari. Sejak abad ke dua dan selanjutnya , baptisan anak-anak secara teratur dilakukan walaupun kadang-kadang dalam pelaksanaanya ada juga yang mengabaikannya. Augustinus mengambil dari kenyataan bahwa baptisan anak-anak pada umumnya dilakukan Gereja diseluruh dunia walaupun tidak ditetapkan didalam Konsili. Hal seperti ini mungkin terjadi, tentunya karena sudah ditetapkan oleh otoritas para rasul. Manfaat dari baptisan anak-anak ini tidak pernah disangkal sampai pada jaman Reformasi ketika Anabaptis menyerangnya.

 

 

KEBERATAN-KEBERATAN ATAS BAPTISAN ANAK-ANAK.

Sebagian pendapat yang tidak dapat menerima baptisan anak-anak akan dibicarakan secara singkat disini:

(1) Sunat hanyalah sebuah peraturan jasmaniah belaka dan peraturan seperti itu akan berlalu. Jika kita menggantikan sunat dengan baptisan, maka berarti kita melanjutkan peraturan yang sifatnya hanya jasmaniah saja. Peraturan jasmaniah seperti itu tidak memiliki tempat yang penting dalam Perjanjian Baru. Pada jaman sekarang keberatan ini dikemukakan oleh sebagian kaum dispensasionalis seperti Bullinger dan O’Hair yang mengklaim bahwa baptisan yang ditetapkan oleh Yesus dikaitkan dengan kerajaan Allah dan hanya baptisan Roh saja yang mempunyai kedudukan yang tepat dalam Gereja. Kisah Para Rasul menandai transisi dari baptisan air menuju baptisan roh. Tentu saja argumen ini akan menyebabkan semua baptisan baik orang dewasa maupun anak-anak menjadi tidak berharga. Dalam pembicaraan mengenai persoalan ini, jaman orang yahudi dan jaman kekristenan diletakkan secara bertentangan sebagai suatu yang jasmaniah dan rohaniah. Sunat dikatakan menjadi bagian peraturan yang jasmaniah itu dalam hukum Musa. Bannerman berkata: “Sunat tidak terikat baik pada bagian awal maupun akhir hukum Musa. Sunat tentunya akan terus menjadi peraturan awal agar seseorang dapat masuk kedalam Gereja Tuhan sebagai materai perjanjian anugerah jika baptisan tidak secara nyata menjadi ganti dari sunat itu (The Church of Christ II, Hlm. 98). Harus diakui memang sunat memiliki arti penting tipikal pada jaman Musa, tetapi sesungguhnya sunat itu yang terutama merupakan lambang dan materai dari perjanjian yang telah dibuat dengan Abraham. Sejauh sunat itu merupakan model, maka model itu akan segera berhenti jika yang aslinya sudah ada. Bahkan juga sebagai bahan materai dari perjanjian, sunat itu membuka jalan bagi sebuah sakramen tanpa pencurahan darah yang secara jelas diumumkan oleh Kristus bagi Gereja dan hal ini dimengerti benar oleh para rasul. Kristus telah mengakhiri segala sesuatu dengan pencurahan darah-Nya dalam kaitannya dengan karya penebusan. Dalam terang Alkitab pandangan bahwa baptisan harus dikaitkan dengan kerajaan dan bukannya dengan gereja tidak dapat dibenarkan. Kalimat yang dipakai untuk menetapkan baptisan itu sendiri menunjukan bahwa pada saat lahirnya Gereja Perjanjian Baru, Petrus menuntut agar orang-orang itu dibaptiskan. Dan jika kita katakan bahwa Petrus yang adalah orang yahudi yang tetap mengikuti contoh Yohanes Pembaptis, maka dapat pula dikatakan bahwa Paulus yang merupakan rasul kepada orang kafir, juga menuntut agar orang bertobat dibaptiskan (Kis 16:15,33; 18:8; 1Kor 1:16).

(2) Tidak ada perintah eksplisit bahwa anak-anak harus dibaptis. Pernyataan ini memang benar, tetapi tidak berarti bisa membatalkan validitas baptisan anak-anak. Harus diteliti bahwa keberatan ini didasarkan pada satu tafsiran yang terhadapnya kaum Baptis sendiri tidak benar, yaitu ketika mereka berpendapat bahwa orang kristen berkewajiban merayakan hari pertama setiap minggu sebagai Sabat mereka, dan bahwa perempuan juga harus ambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Hal-hal seperti ini sesungguhnya tidak diperintahkan secara eksplisit. Alkitab tidak mengatakan apa-apa tentang baptisan anak-anak, tetapi bolehkah kediaman ini dianggap melarang baptisan anak-anak? Selama dua puluh abad, anak-anak telah diterima masuk dalam Gereja dan Perjanjian Baru tidak berkata bahwa hal ini harus berhenti sekarang, walaupun benar bahwa Alkitab mengajarkan bahwa sunat sudah tidak lagi mencapai maksud ini. Tuhan sendiri mengumumkan satu ritual yang lain dan pada hari Pentakosta Petrus mengatakan kepada mereka yang masuk bergabung dalam Gereja bahwa janji yang diberikan adalah bagi mereka dan bagi anak-anak mereka dan juga sebanyak yang dipanggil Tuhan sendiri. Pernyataan Petrus ini paling tidak membuktikan bahwa ia masih memegang konsep organik tentang perjanjian dalam hatinya. Ada pertanyaan yang dapat diajukan kepada kaum Baptis, yaitu bagaimana mereka sendiri dapat membuktikan kebenaran dari pendapat mereka melalui suatu perintah yang ada dalam Alkitab. Apakah Alkitab memerintahkan bahwa semua yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga kristen harus menyatakan pengakuan imannya sebelum mereka dibaptiskan? jelas tidak ada perintah seperti itu.

(3) Suatu keberadaan yang sangat dekat dengan keberatan diatas adalah, tidak adanya contoh mengenai baptisan anak-anak dalam Perjanjian Baru. Memang benar bahwa Alkitab tidak secara eksplisit mengatakan bahwa anak-anak harus dibaptiskan, walaupun Alkitab jelas menunjukan kepada kita bahwa ritual Pembaptisan diberikan untuk seluruh anggota keluarga. Tidak adanya petunjuk yang tertentu untuk baptisan anak-anak, secara luas dapat dijelaskan berdasarkan kenyataan bahwa Alkitab memberikan kepada kita catatan sejarah tentang pemberitaan Injil yang dilakukan oleh para rasul, tetapi tidak ada catatan seperti itu yang dilaksanakan dalam Gereja yang terorganisir. Dan disini juga persoalannya dapat kita kembalikan kepada kaum Baptis. Apakah mereka dapat menunjukan kepada kita satu contoh dari baptisan orang dewasa yang dilahirkan dalam keluarga kristen? Tidak akan mungkin.

(4) Keberatan yang paling penting mengenai baptisan anak-anak yang dikemukakan kaum Baptis, yaitu menurut Alkitab baptisan mempunyai syarat yaitu iman yang aktif mengungkapkan diri dalam pengakuan yang dapat diterima. Memang benar bahwa Alkitab menunjuk iman sebagai prasyarat untuk baptisan, Mrk 16:16; Kis 10:44-48; 16:14,15,31,34, sehingga jika ini berarti bahwa penerima baptisan harus senantiasa menyatakan manifestasi iman yang aktif sebelum baptisan, maka anak-anak akan segera tersingkir. Tetapi meskipun Alkitab dengan jelas menunjukan bahwa hanya orang dewasa yang dibaptiskan , Alkitab tidak pernah memberikan peraturan bahwa iman yang aktif mutlak diperlukan untuk menerima baptisan. Orang Baptis menunjukan Amanat Agung sebagai jawaban mereka sebagaimana yang diungkapkan dalam Mrk 16:15,16. Berdasarkan kenyataan bahwa Amanat Agung adalah perintah untuk mengabarkan Injil, kita boleh beranggapan bahwa Tuhan bermaksud menunjuk iman yang aktif dalam perkataan itu. Walaupun tidak dikemukakan secara eksplisit, nyata sekali bahwa Ia melihat iman sebagai pra syarat bagi baptisan dari orang yang dimaksudkan. Tetapi, siapakah mereka? Jelas mereka adalah orang dewasa diantara bangsa-bangsa yang menerima pekabaran Injil itu dan dengan demikian orang Baptis tidak bisa memakainya sebagai suatu argumen untuk menentang baptisan anak-anak. Jika mereka tetap menekankan untuk melakukannya, maka susunan kalimat itu akan menekankan untuk melakukannya, maka susunan kalimat itu akan membuktikan terlalu banyak bahkan bagi mereka sendiri, sehingga dengan demikian tidak membuktikan apa-apa. Perkataan Tuhan Yesus itu bermaksud mengatakan bahwa iman adalah pra syarat untuk baptisan dari mereka yang melalui pekabaran Injil yang dilakukan Gereja akan dibawa datang kepada Kristus, dan tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa iman juga pra syarat bagi baptisan anak-anak. Orang Baptis menggeneralisasikan perkataan Tuhan Yesus dengan cara mengajarkan bahwa baptisan tergantung dari iman aktif penerimanya. Mereka melanjutkan argumentasinya dengan berkata: Iman yang aktif adalah pra syarat dari baptisan. Anak-anak kecil dan bayi tidak dapat menunjukan imannya. Karena itu anak-anak dan bayi tidak boleh dibaptis. Tetapi kalau demikian, maka pernyataan itu juga akan menyerang keselamatan untuk anak-anak dan bayi, sebab mereka bukan sekedar bermaksud tetapi denganjelas menyatakan bahwa iman ( iman aktif ) adalah syarat untuk keselamatan. Supaya bisa tetap konsisten, orang Baptis merasa terbeban untuk mengemukakan silogisme berikut: Iman adalah conditio sine qua non bagi keselamatan. anak-anak belum bisa mengemukakan imannya, karena itu mereka tidak dapat diselamatkan. Kesimpulan ini sebenarnya sudah ditarik mundur oleh orang baptis sendiri.

 

BAPTISAN ANAK

Baptisan telah menjadi pengganti sunat sebab sunat telah digenapi oleh Kristus. Di dalam Perjanjian Lama, sunat menjadi tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya, sebagaimana baptisan juga menjadi tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya di dalam Perjanjian Baru.

Sekalipun demikian banyak orang yang tidak menyetujui anak-anak orang beriman dibaptiskan karena di dalam Alkitab tidak ada perintah mengenai hal itu.

* Markus 16:16, 
LAI TB, Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
KJV, He that believeth and is baptized shall be saved; but he that believeth not shall be damned.
TR, ο πιστευσας και βαπτισθεις σωθησεται ο δε απιστησας κατακριθησεται
Translit, ho pisteusas kai baptistheis sôthêsetai ho de apistêsas katakrithêsetai

Ayat di atas dengan jelas menyebutkan, bahwa yang dibaptiskan adalah orang yang percaya padahal tidak dapat ditentukan, apakah anak-anak orang beriman juga orang-orang yang percaya. Gereja adalah persekutuan orang beriman.

Ada juga yang mengajukan alasan, bahwa apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama tidak dapat diterapkan di dalam Perjanjian Baru, sebab yang ditekankan di dalam Perjanjian Lama adalah keturunan lahiriah, karena Israel masih harus melahirkan sang Mesias. Padahal di dalam Perjanjian Baru yang ditekankan adalah hal yang rohani, yaitu iman. Umat Allah di dalam Perjanjian Baru bukan terdiri dari orang-orang yang dilahirkan dari daging dan darah, melainkan yang dilahirkan dari atas, yang dilahirkan kembali.

Jadi tiada dasar untuk membaptiskan anak-anak orang beriman. Bagi anak-anak orang beriman, cukuplah kiranya jikalau diadakan upacara penyerahan anak-anak itu kepada Kristus. Di dalam upacara itu Gereja dapat melayankan berkat serta janji-janji Allah yang berhubungan dengan hidup kekristenan.

Harus diakui, bahwa tiada nas di dalam Perjanjian Baru yang dengan jelas memerintahkan baptisan anak. Namun, yang menjadi dasar baptisan anak memang “bukanlah beberapa ayat dari Perjanjian Baru”, juga “bukan iman anak” yang dibaptis, melainkan ajaran tentang “perjanjian Allah” yang diberikan kepada orang tua dan kepada anak-anaknya.

Sunat yang menjadi tanda perjanjian Allah di dalam Perjanjian Lama telah diganti dengan baptisan. Penggantian ini harus dilihat dari sejarah penyelamatan Allah. Di dalam sejarah penyelamatan ini, Yesus Kristus menjadi pemenuhan hukuman Allah. Ia telah juga memenuhi peraturan sunat dengan korban-Nya di kayu salib. Oleh karena itu Ia berhak mengganti sunat dengan baptisan, sebagai tanda perjanjian Allah dalam Perjanjian Baru.

Pada hari raya Pentakosta, rasul Petrus berkata, supaya orang bertobat dan dibaptis. Sebagai alasan dikemukakan, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu”(Kisah Para Rasul 2:38-39). Ayat ini memang tidak mengatakan, bahwa anak-anak harus dibaptiskan. Yang dikatakan ialah, bahwa anak-anak termasuk juga di dalam perjanjian Allah. Hal ini bukan hanya berlaku di dalam Perjanjian Lama, tetapi juga di dalam Perjanjian Baru. Oleh karena di dalam Perjanjian Lama anak-anak Israel juga menerima tanda perjanjian, maka anak-anak orang beriman di dalam Perjanjian Baru, yang juga termasuk ke dalam perjanjian Allah, harus menerima tanda perjanjian itu, yaitu dibaptiskan. Yang dipentingkan di sini adalah: perjanjian Allah. Arti baptisan bagi para anak orang beriman sama dengan arti sunat bagi anak-anak Israel.

Hubungan Allah dengan umat-Nya di dalam Perjanjian Baru sama dengan hubungan Allah dengan umat-Nya di dalam Perjanjian Lam, yaitu bahwa hubungan itu pertama-tama bukan bersifat perorangan, melainkan bersifat menyeluruh, artinya: Allah pertama-tama berhubungan dengan umat Allah seutuhnya. Padahal sejak hari Pentakosta telah ada sabda, “Bagi kamu dan bagi anak-anakmu.” Oleh karena itu maka berkat perjanjian Allah di dalam Perjanjian Baru juga diperluas hingga kepada keturunan orang beriman.

Berdasarkan hal itu, maka anak-anak orang beriman juga turut mendapat peringatan-peringatan, bersamaan dengan orang tua mereka. Dalam Efesus 6:1, rasul Paulus berkata, “Hak anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.” Bagaimana rasul Paulus dapat berkata, “taatilah di dalam Tuhan”, seandainya anak-anak tidak termasuk perjanjian Allah?

Sekalipun di dalam Alkitab tiada satu nas pun yang menunjukkan dengan jelas adanya anak yang dibaptis, akan tetapi Perjanjian Baru menunjukkan adanya orang-orang yang dibaptis dengan seisi rumahnya.

Sekalipun alasan pokok di dalam baptisan anak bukanlah soal iman, namun di dalam baptisan anak soal iman juga diperhatikan. Dengan baptisannya jalan iman terbuka lebar bagi anak-anak orang beriman. Karena baptisannya hidup anak-anak itu harus ditandai oleh ketaatan di dalam iman. Memang harus diakui, bahwa yang menghubungkan anak itu dengan baptisannya bukan imannya sendiri, melainkan iman orang tuanya. Karena iman orang tuanya maka anak-anak dihubungkan dengan perjanjian Allah dan dengan tanda perjanjian-Nya. Para anak ditanamkan kepada Kristus, karena orang tuanya ditanamkan kepada Kristus. Hal yang demikian tidak bertentangan dengan kehendak Allah.

* Roma 11:16, 
LAI TB, Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.
KJV, For if the firstfruit be holy, the lump is also holy: and if the root be holy, so are the branches.
TR, ει δε η απαρχη αγια και το φυραμα και ει η ριζα αγια και οι κλαδοι
Translit, ei de hê aparkhê hagia kai to phurama kai ei hê rhiza hagia kai hoi kladoi

Jakarta, Desember 2001

Disalin dari :
Yohannes/ Biblika

 

 

Saya kira bukan kebetulan kejadian Yohanes pembaptis dan Yesus lahirnya hampir bersamaan. Hal tersebut untuk mengungkapkan kebenaran bahwa bahwa anak kecil tidak menerima baptisan tetapi penyerahan anak sebagaimana yang dilakukan Yusuf dan Maria menyerahkan Yesus kepada Tuhan pada rumah Tuhan. Setelah Yohanes pembabtis dewasa dan bersamaan juga Yesus telah telah dewasa maka Yesus “datang sendiri” kepada Yohanes di sungai Jordan untuk dibaptis (Mat 3:13). Jadi kesimpulannya adalah baptisan adalah urusan pribadi masing-masing, bukan tanggung jawab orang tua lagi.

Baptisan berhubungan dengan keselamatan dan kuasa.

Joh 3:5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Joh 3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

Bandingkan:

Mat 3:16 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
Mat 3:17 lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Jadi untuk berkenan kepada Allah dan masuk dalam Kerajaan Allah seseorang harus harus dibaptis (selam) dan dilakukan sesudah dewasa seperti yang dilakukan Yesus.

Baptisan juga berhubungan dengan kuasa

Mat 21:23 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” 
Mat 21:24 Jawab Yesus kepada mereka: “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.
Mat 21:25 Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: “Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya?

Mujizat pertama kali yang dilakukan Yesus pada perkawinan di Kana (Joh 2:7-11) juga setelah Dia dibaptis.

Jadi kesimpulannya Baptisan bukan seremoni biasa, tapi berhubungan dengan keselamatan dan kuasa.

Daripada kita mempermasalahkan baptisan mana yang benar dan apakah anak boleh dibaptis, lebih baik kita ikuti saja yang dilakukan Yesus. Apa yang dilakukan Yesus sudah pasti benar. Buat apa kita mengikuti sesuatu yang belum tentu benar walaupun itu ada pada tradisi bangsa Yahudi.

Salam.

 

 

Quote:

Saya kira bukan kebetulan kejadian Yohanes pembaptis dan Yesus lahirnya hampir bersamaan. Hal tersebut untuk mengungkapkan kebenaran bahwa bahwa anak kecil tidak menerima baptisan tetapi penyerahan anak sebagaimana yang dilakukan Yusuf dan Maria menyerahkan Yesus kepada Tuhan pada rumah Tuhan. Setelah Yohanes pembabtis dewasa dan bersamaan juga Yesus telah telah dewasa maka Yesus “datang sendiri” kepada Yohanes di sungai Jordan untuk dibaptis (Mat 3:13). Jadi kesimpulannya adalah baptisan adalah urusan pribadi masing-masing, bukan tanggung jawab orang tua lagi.

barangkali aku perlu berkomentar untuk hal ini:
dimulai saat anda lahir, orang tua anda membesarkan dengan penuh perhatian, memberi makan, menidurkan, memandikan, bahkan tidak tidur demi anda.
saat anda bertumbuh besar, orang tua anda menyisihkan duit dan menabung agar anda dapat bersekolah, mendapat ilmu dan mendapat pekerjaan yang pantas.

saat anda menikah, dapatkah anda mengatakan: “itu urusan saya sendiri, orang tua tidak boleh ikut campur.” tidak bolehkah mereka setidaknya berdiri mendampingi anda?

apa anda bisa tangkap maksud diatas?

saat anda dilahirkan… anda sendiri menulis “penyerahan anak kepada yesus”. tapi apakah ini berarti ortu melepas tanggung jawabnya? jelas tidak. justru tuhan menuntut tanggung jawab orang tua ini dalam mengasuh anaknya dalam hal jasmani maupun rohani. tapi begitu dewasa, saat anak bisa menyatakan imannya sendiri dan dapat mandiri tidak lagi dibawah pengawasan orang tuanya… sebegitu entengnyakah mengatakan “ini adalah urusan pribadi saya”.

bung, kalau anak mengatakan ingin dibaptis dan itu urusan pribadinya (dalam arti kata ortu tidak boleh ikut campur)… sekarang pertanyaannya: seberapa dewasa anak tsb? karena di mata orang tua anak tetaplah anak. kalau seperti itu… anak kecil boleh saja minta dibaptis (karena itu adalah hak, dan hanya dilihat sebagai hak belaka), tetapi dia sendiri masih dapat terombang-ambing bukan hanya oleh rupa2 pengajaran kristiani, tetapi juga pengajaran duniawi. dan tuhan akan menuntut tanggung jawab akan apa yang terjadi pada anak tersebut pada orang tuanya. seperti anak domba yang dilepas tanpa benar2 diajar induknya mengenal suara gembalanya, yang ada dia akan pergi ke tempat pembantaian.

maaf, saya tidak tahu tentang anda. tapi pengertian spt itu sudah beberapa kali saya dengar… tidak lain yang saya tangkap hanyalah usaha meyakinkan orang yang sudah kristen (bukan ditujukan kepada non-kristen) untuk dibaptis dengan cara tertentu.

 

 

Baptisan anak-anak?Apa kata Alkitab tentang baptisan dan bagaimana teladan para rasul tentang baptisan.

Markus 16:16 mengatakan “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Kenapa kata “percaya” mendahului kata “dibaptis”?

Melalui satu ayat diatas kita seharusnya sudah nampak jelas bahwa baptisan sama sekali tidak berhubungan dengan usia seseorang (anak-anak, remaja, dewasa, kakek-kakek ataupun nenek-nenek) tetapi berhubungan dengan sebuah kata “percaya“.
Tidak peduli pada usia berapa seseorang dibaptis asalkan seseorang itu sudah percaya maka dia sudah memiliki kapasitas untuk dibaptis.

Percaya kepada apa?
Markus 1:15b “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!

Apa artinya?
Percaya kepada berarti percaya ke dalam hal-hal yang kita percayai dan menerima hal-hal yang kita percayai ke dalam kita. Percaya kepada Injil terutama berartipercaya kepada Yesus Penyelamat (Kis 16:31), dan percaya kepadaNya berarti percaya ke dalam Dia (Yoh 3:15-16) dan menerima Dia ke dalam kita (Yoh 1:12)

Percaya merupakan syarat mutlak seseorang itu dibaptis.

Kalau kita lihat teladan baptisan yang dilakukan oleh para rasul maka kita akan menemukan bahwa setiap orang yang dibaptis terlebih dahulu mereka percaya kepada pemberitaan Injil.

Diantaranya pembaptisan Lidia (Kis 16:11-15), pembaptisan kepala penjara (Kis 16:29-33), pembaptisan oleh Petrus (Kis 2:37-41), pembantisan orang bukan yahudi (Kis 10:44-48), pembaptisan di Efesus (Kis 19:1-7).

Bagaimana dengan baptisan bayi?apakah kira-kira mereka sudah percaya kepada Injil?Jika belum percaya kenapa perlu dibaptis?

Gbu.

 

 

Terima kasih Bung Tony atas tanggapannya.

Yang saya maksud “urusan pribadi” adalah dalam konteks yang positif artinya keputusan yang diambil oleh masing-masing pribadi, karena hubungan dengan Tuhan merupakan hubungan secara pribadi. Jadi orang tua tetap wajib mengarahkan dan mendidik anak sampai dewasa di dalam terang firman Tuhan. Setelah anak mengerti keberadaan mereka bahwa dasar manusia adalah berdosa dan butuh juruslamat dan mengambil keputusan untuk menerima Yesus sebagai Juruslamat maka pada saat itulah waktunya si anak untuk dibaptis. Orang tua boleh saja memberi saran kepada anak untuk dibaptis tetapi tidak boleh dipaksa atau atas kemauan sendiri si anak. Percayalah bahwa jika si anak sungguh-sungguh percaya pasti Roh Kudus menuntun dia untuk melakukan kebenaran (baptis).

Kalau kita perhatikan dalam PB, selalu baptis dikaitkan dengan pertobatan

Mat 3:6 Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

(Mat 3:11) Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Mar 1:4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”

Mar 1:5 Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan.

Act 13:24 Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis.

Act 19:4 Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.”

Act 22:16 Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!

Jadi pengakuan dosa, bertobat dan percaya harus mendahului baptisan.
Saya percaya orang Israel sebelum Johanes Pembaptis membaptis juga mengenal Allah yang benar. Tapi mengapa Johanes Pembaptis menyerukan supaya mereka dibaptis. Menurut saya karena mereka percaya tapi masih di bawah hukum Taurat. Tetapi setelah mereka dibaptis mereka hidup dalam anugrah pengampunan dosa.

Saya kira yang dibutuhkan adalah kerendahan hati kita untuk menerima kebenaran firman Tuhan

Salam.

 

 

pemulihan wrote:

Baptisan anak-anak?Apa kata Alkitab tentang baptisan dan bagaimana teladan para rasul tentang baptisan.

Markus 16:16 mengatakan “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Kenapa kata “percaya” mendahului kata “dibaptis”?

Melalui satu ayat diatas kita seharusnya sudah nampak jelas bahwa baptisan sama sekali tidak berhubungan dengan usia seseorang (anak-anak, remaja, dewasa, kakek-kakek ataupun nenek-nenek) tetapi berhubungan dengan sebuah kata “percaya“.
Tidak peduli pada usia berapa seseorang dibaptis asalkan seseorang itu sudah percaya maka dia sudah memiliki kapasitas untuk dibaptis.

Percaya kepada apa?
Markus 1:15b “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!

Apa artinya?
Percaya kepada berarti percaya ke dalam hal-hal yang kita percayai dan menerima hal-hal yang kita percayai ke dalam kita. Percaya kepada Injil terutama berarti percaya kepada Yesus Penyelamat (Kis 16:31), dan percaya kepadaNya berarti percaya ke dalam Dia (Yoh 3:15-16) danmenerima Dia ke dalam kita (Yoh 1:12)

Percaya merupakan syarat mutlak seseorang itu dibaptis.

Kalau kita lihat teladan baptisan yang dilakukan oleh para rasul maka kita akan menemukan bahwa setiap orang yang dibaptis terlebih dahulu mereka percaya kepada pemberitaan Injil.

Diantaranya pembaptisan Lidia (Kis 16:11-15), pembaptisan kepala penjara (Kis 16:29-33), pembaptisan oleh Petrus (Kis 2:37-41), pembantisan orang bukan yahudi (Kis 10:44-48), pembaptisan di Efesus (Kis 19:1-7).

Bagaimana dengan baptisan bayi?apakah kira-kira mereka sudah percaya kepada Injil?Jika belum percaya kenapa perlu dibaptis?

Gbu.

maaf pak ketika membaca membaca satu ayat dalam FA
kita harus melihat judul atau konteksnya (ilmu Hermeneutik)
jika bapak menggunakan ayat ini untuk syarat utama sebagai baptisan
sangat lah tidak relevan -maaf
karena ayat yg ada dalam konteks ini berbicara mengenai penginjilan,
sama sekali tidak membicarakan ‘baptisan’ yg saudara maksud kan diatas …
jadi sekali lagi perhatikan konteks jika kita ingin menafsirkan ayat FA
jangan mencomot ayat keluar dari konteksnya, kita bisa terjerumus
dalam penafsiran alegoris-maaf
saya sudah sering berargumentasi dengan orang2x yg menggunakan
ayat2x tersebut untuk hal baptisan-maaf
kita harus melihat konteks-
semoga berkenan
-ds-

 

 

 

Saya tertrk utk mengomentari tulisan sdr Rutritrg “mengapa kita tdk mengikuti Yesus 100%”, di mana dg memakai Mat.3:16-17 sdr menentang baptisan anak dg mengatakan: “jadi utk berkenan kpd Allah dan masuk ke dlm kerajaan Allah, seseorang hrs dibaptis (selam) dan dilakukan sesudah dewasa spt yg dilakukan Yesus”.
Mnrt saya, pendpt/pernytaan spt itu sangat berbahaya krn hanya akan melahirkan asumsi2 bhw:
1).Sblm dibaptis, Yesus adl Seorg berdosa yg tdk/blm dikasihi Allah. Spy mjd seorg yg dikasihi Allah maka Dia membiarkan diri-Nya dibaptis(selam).
2).Sblm dibaptis (selam), Yesus adl seorg berdosa shg tdk/blm berkenan kpd Allah. Spy mjd seorg yg berkenan kpd Allah maka Dia membiarkan diri-Nya dibaptis(selam). Pdhal Alkitab dg jlas mengtkn bhw Yesus adlh Seorg yg dikasihi/berkenan kpd Allah (bnd.Luk.2:52), krn Dia adl Anak Allah yg Terkasih yg telah ada bersama-sama dg Allah Bapa dan Allah Roh Kudus sejak kekekalan
(bnd.Yoh.1:1-5).
Baptisan (selam) yg dikerjakan oleh Yohanes Pembaptis saat itu sbnarnya adl sbg tanda pertobatan(bnd.Mat.3:11), stlh org Israel mengakui dosa2nya(Mat.3:6).

Kalau memang demikian, maka timbl pertnyaan, “Mngpa Yesus yg adl Anak Allah yg tdk berdosa hrs membwa diri-Nya utk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis?”

Jwbnnya adl:

1). Utk mengidentikkan diri-Nya dg org2 yg kelak utk mrk Ia akan mati di kayu salib.
Flp.2:6-7 mgktkn: “yg wlpun dlm rupa Allah, tdk menganggap kesetaraan dg Allah itu sbg milik yg hrs diperthankan, melainkan tlh mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorg hamba, dan mjd sama dg manusia”. Hal ini bkan saja berbicara ttg Yesus yg memakai tubuh manusia yg terbtas(-ttp tdk melakukan dosa-), ttp juga ttg Yesus yg masuk ke dlm adat atau kebiasaan org2 yg akan ditebus (termasuk di dalamnya adalah baptisan Yohanes). Bgmn Yesus bisa mjd Juruselamat org berdosa kalau tdk mjd sama dg org2 yg akan ditebus?

2).Sbg langkah awal utk masuk ke dlm misi Agung yg akan diemban-Nya, yaitu melaksanakan Karya Allah di kayu salib.

3).Sbg sarana Allah untuk memproklamasikan jatidiri dan missi Yesus Kristus kpd org2 yg akan ditebus. Sesaat stlh baptisan tsb terdengarlah suara dari Allah Bapa: “Inilah Anak-Ku yg Kukasihi, kpd-Nyalah Aku berkenan” (Mat.3:17). Apkh Yesus Kristus sesungguhnya tdk mengetahui dg jelas jatidiri-Nya sbg Anak Allah dan missi-Nya sbg Juruselamat bg org2 yg akan ditebus-Nya shg hrs dibrtahu oleh Allah Bapa? Jwbnnya tdk! Krn jatidiri-Nya sbg Anak Allah dan missi-Nya sbg Juruselamat adl suatu milik dan tugas yg telah dimiliki dan diemban oleh-Nya sejak kekekalan sblm inkarnasi-Nya ke dlm dunia. Dgn mngtkan hal tsb, Allah Bapa bukannya ingin menegaskan kpd Yesus Kristus ttg jatidiri dan missi-Nya, melainkan memberi penegasan kpd mrk yg akan ditebus ttg siapa pribadi Yesus Kristus yg sesungguhnya.
Jd tanpa bermaksud membela cara baptisan tertentu, saya berpndpt bhw baptisan dg cara apapun juga tdklah akan membuat kita mjd smakin dikasihi/dikenan oleh Allah, krn baptisan itu hanyalah mrpkn tanda yg Tuhan perintahkan kpd grja utk digunakan sbg alat guna menyatakan diri kpd dunia, bhw kita telah dipindahkan Tuhan dr kglpan kpd trang-Nya yg ajaib. Tdk ada satu perbuatan baikpun dlm hdp ini yg dpt kita brikan kpd Tuhan shg membuat kita mjd layak utk dikasihi. Kalau kita dikasihi/diperkenankan di hdpn Tuhan itu semua hanya krn Anugerah, dan bukan krn perbuatan baik(termasuk baptisan tertentu yg kita anggap paling benar/paling baik). Krn itu janganlah kita menganggap bhw cara baptisan yg dianut oleh aliran tertentulah yg plng benar, dan lain sbg yg paling salah dan hrs ditolong, shg kita memaksakan mrk utk mengikuti apa yg kita pandang sbg suatu kbnaran.

 

Saya ingin mengomentari kalimat: ‘Barangsiapa percaya dan dibaptis’…

Apakah orang terhukum yang disalib di sebelah kanan Yesus, pernah dibaptis?
Selamatkah jiwa orang tersebut?

Syukron & salaam.

 

saya jg gak salahin baptisan dewasa.
saya bukan org yang belajar alkitab tapi saya juga ada pertanyaan..

pertanyaan saya ….
awal mula nya Yohanes membaptis? yg suruh Yohanes? apa baptis selamnya sebelumnya ada istiadat atau bagaimana sblm yesus dibaptis? seandainya awalnya adat istiadat, mungkin gak kalo Yesus lahir di Indonesia baptisnya ditaburin beras di kepalanya? batasannya orang dewasa bagaimana?

Ayat itu (baptis dewasa) apakah pada jaman kristen awal jdnya untuk penginjilan atau bagaimana? ada gak dibedaain antara keluarga yg percaya (kristen) sama yang tidak? (katanya adonannya kudus, rotinya juga kudus)

pernah gak memikirkan kondisi tertentu orang yg tidak bisa baptis dewasa atau selam (menurut konsep yg baptis dewasa/selam)?
misal orang idiot/retardasi mental (dewasa umur brp), orang sakit stadium akhir di ICU (kondisi tertentu harus diisolasi), leukemia atau pnyakit lain dgn komplikasi berat atau immunocompromised shg harus diisolasi, autis berat, pikun atau memory jangka panjang terganggu atau parkison berat dan sebagainya..
karena jaman alkitab gak ada kondisi itu, gak ada ICU, pnykt spt itu dsb nya… padahal mereka orang kristen, dan seandainya sudah baptis anak..

apakah Tuhan pilih kasih? katanya percaya –> baptis (dewasa/selam) –> selamat
dengan konsep seperti itu berarti Tuhan membatasi dirinya, orang dengan kondisi medis tertentu tidak selamat dan gereja yang tidak ada baptis dewasa tidak ada yang selamat walaupun hidupnya kristen..

terimakasih

 

 

Shalom!.. Saya ingin mengomentari ttg baptisn anak.. Baptisan anak/ balita/ bayi berdasarkan yg saya baca di Alkitab memang tidak di tegaskan dg jelas batasn fisikx.. Tapi ciri2x yg jelas yaitu mengarah pd kedewasaan yg cukup untuk mengakui menyadari dan mengerti siapa Yesus dan apa arti dosa. Jd baptisan untuk anak apalagi bayi/ balita tentu belum tepat/pas atau layak.. Coz dptkah seorg karyawn yg br satu/ dua bln bekrja d sebuah perusahaan lngsung d angkat jd manager tanpa memiliki pengalamn yg cukup untuk mnjadi manager?.. Dan dapatkh seorang anak kecil mndapat ijin mengemudi (SIM) untuk mngendarai mobil d jln raya?.. Jika anak tidak bisa apalagi bayi/ balita.. (segala sesuatu mempunyai proses dan waktu tuk mncapai sebuah titk/ level.. Penghotbah 3:1). Demikian apalagi Baptisn itu yg jauh lbih penting, yg bkn hnya sbuah symbol belaka namun mngandung KUASA dan slh satu syart JALAN menuju KESELAMATN.. Memang ortu mpe qta dewasa msh ikut campur dlm kehidupan qta.. Tapi d grs bawahi tdk dgn KESELAMATAN JIWA yg adlh Tnggung Jawab dan Hak pribadi.. (Keselamatn=Tuhan>kita pribadi)
Alangkah baiknya sperti Yesus Kristus pd masa kclnya d bw orgtuaNya tuk d srahkan pd Tuhan. Mengpa qta hrs mencari buah yg mirip anggur jika sdh tersedia buah anggur d dpn mata qta?.. Mengpa qta harus menafsirkan FT jika contoh/ teladan yg sdh jelas ada & nyata?!?.. (Wahyu 22:18-19). Ingat BAIK2!.. Org yg masuk k dlm kerajaan Sorga adlh org yg melakukn KEHENDAK BAPA yaitu melaksanakan FT yg TERTULIS.. (Wahyu 22:18-19) Yesus sj menuruti apa yg tlah d FIRMANKAN & d NUBUATKAN..( Slh satu contohnya: Yesus menggunakan kata ADA TERTULIS dlm Matius 4:1-11). Seharusnya qta jg demikian.. Bkn sebuah tafsiran yg mendekati tp harus TEPAT SESUAI DNGN YG TERTULIS..(Wahyu 22:18-19).
Mhn maaf sblmnya saya hnya mmaparkn ap yg TERTULIS.. Bkn untuk PEMBENARAN tapi untuk KEBENARAN..

 

 

 

 

 

Shalom.. saya ingin mengomentari tentang baptisan “selam”.. dari tolak ukur mendasar yang tertulis dalam Wahyu 22 : 18-19 bahwa yg paling tepat sudah tertulis dlm Matius 3 : 16 bahwa Yesus keluar dari Air.. saya tidak tahu itu namanya yg kita sering perdebatkan “selam” atau “percik” .. yg pasti kl tanda dibaptis haruslah keluar dari air..tentu pasti ada proses masuk ke dlm air sebelum keluar dari air.. persis sperti apa yang TERTULIS dalam Matius 3 : 16 itulah yg HARUS kita lakukan.. jangan MENGURANGKAN apalagi MENAMBAHKAN.. sebab.. Wahyu 22: 18-19 menegaskan kita tidak boleh MENGURANGI dan MENAMBAHKAN Firman Tuhan.. tentu selain dari baptisan dengan cara tersebut itu,TIDAKLAH SAH.. kenapa?… sebab ADA TERTULIS..
Tentu saja kita tidak bisa d jerat d pengadilan tanpa terkena pasal-pasal yg telah SAH TERTULIS dan DIAKUI PEMERINTAH.. maka demikian juga kita tidak AKAN DIBENARKAN kalau kita melakukan di luar dari YANG TERTULIS di ALKITAB.. (Wahyu 22 : 18-19)
Jadi mana yg harus kita turuti adat istiadat-kah?.. penafsiran-kah?.. cara alternative- yg menyerupai-kah?.. atau yg jelas TERTULIS D DALAM ALKITAB?..

 

 

oshua wrote:

Shalom!.. Saya ingin mengomentari ttg baptisn anak.. Baptisan anak/ balita/ bayi berdasarkan yg saya baca di Alkitab memang tidak di tegaskan dg jelas batasn fisikx.. Tapi ciri2x yg jelas yaitu mengarah pd kedewasaan yg cukup untuk mengakui menyadari dan mengerti siapa Yesus dan apa arti dosa. Jd baptisan untuk anak apalagi bayi/ balita tentu belum tepat/pas atau layak.. Coz dptkah seorg karyawn yg br satu/ dua bln bekrja d sebuah perusahaan lngsung d angkat jd manager tanpa memiliki pengalamn yg cukup untuk mnjadi manager?.. Dan dapatkh seorang anak kecil mndapat ijin mengemudi (SIM) untuk mngendarai mobil d jln raya?.. Jika anak tidak bisa apalagi bayi/ balita.. (segala sesuatu mempunyai proses dan waktu tuk mncapai sebuah titk/ level.. Penghotbah 3:1). Demikian apalagi Baptisn itu yg jauh lbih penting, yg bkn hnya sbuah symbol belaka namun mngandung KUASA dan slh satu syart JALAN menuju KESELAMATN.. Memang ortu mpe qta dewasa msh ikut campur dlm kehidupan qta.. Tapi d grs bawahi tdk dgn KESELAMATAN JIWA yg adlh Tnggung Jawab dan Hak pribadi.. (Keselamatn=Tuhan>kita pribadi)
Alangkah baiknya sperti Yesus Kristus pd masa kclnya d bw orgtuaNya tuk d srahkan pd Tuhan. Mengpa qta hrs mencari buah yg mirip anggur jika sdh tersedia buah anggur d dpn mata qta?.. Mengpa qta harus menafsirkan FT jika contoh/ teladan yg sdh jelas ada & nyata?!?.. (Wahyu 22:18-19). Ingat BAIK2!.. Org yg masuk k dlm kerajaan Sorga adlh org yg melakukn KEHENDAK BAPA yaitu melaksanakan FT yg TERTULIS.. (Wahyu 22:18-19) Yesus sj menuruti apa yg tlah d FIRMANKAN & d NUBUATKAN..( Slh satu contohnya: Yesus menggunakan kata ADA TERTULIS dlm Matius 4:1-11). Seharusnya qta jg demikian.. Bkn sebuah tafsiran yg mendekati tp harus TEPAT SESUAI DNGN YG TERTULIS..(Wahyu 22:18-19).
Mhn maaf sblmnya saya hnya mmaparkn ap yg TERTULIS.. Bkn untuk PEMBENARAN tapi untuk KEBENARAN

Coba dipelajari terlebih dahulu relasi antara baptisan dan sunat

baptis anak:
http://www.grii-andhika.org/ready_bread/main/148c.htm
http://www.grii-andhika.org/ready_bread/main/149c.htm

jika anda sudah mempelajari relasi antara baptisan di PB dan sunat di PL, maka jika Yesus umur 8 hari di sunat sbg tanda penyerahan anak kpd Tuhan, itu sama spt “baptisan anak” sbg tanda penyerahan anak kpd Tuhan.
Seandainya pun anda menolak pemahaman diatas , dan anda konsisten ingin mengikuti teladan Yesus persis spt yg tertulis dlm Alkitab, maka seharusnya umur 8 hari ,anda di sunat kemudian kira2 umur 30 baru anda boleh dibaptis kemudian baru melayani,dstya.(atau mau ikut disalibkan juga umur 33, spt org2 di Filipina). Itu jika anda konsisten meneladani apa yang dilakukan Yesus spt yg tertulis di dalam Alkitab.

GBU
MEN_SUPERNOVA

 

shalom.. wach!.. dah plajari prinsip kerja Alkitab apa blum sich bro?.. jangan di artikan mentah2 bro.. Tau ga bedakn jalan Tuhan.. dan jalan qta ciptaanNya?.. sudah baca kitab Yesaya?.. yg pasti Alkitab ga boleh di Tambain atau dikurangin (Wahyu 22 : 18-19).. sedangkn isi Alkitab aja blum bisa kita pnuhi semua.. kok malah d tambah2in?.. no offense bro.. cuma maparin apa yg TERTULIS kok.. (note: saya cma mencari dan memaparkan KEBENARAN bro bukan PEMBENARAN)

 

shalom.. wach!.. dah plajari prinsip kerja Alkitab apa blum sich bro?.. jangan di artikan mentah2 bro.. Tau ga bedakn jalan Tuhan.. dan jalan qta ciptaanNya?.. sudah baca kitab Yesaya?.. yg pasti Alkitab ga boleh di Tambain atau dikurangin (Wahyu 22 : 18-19).. sedangkn isi Alkitab aja blum bisa kita pnuhi semua.. kok malah d tambah2in?.. no offence bro.. cuma maparin apa yg TERTULIS kok.. (note: saya cma mencari dan memaparkan KEBENARAN bro bukan PEMBENARAN)

 

joshua wrote:

shalom.. wach!.. dah plajari prinsip kerja Alkitab apa blum sich bro?.. jangan di artikan mentah2 bro.. Tau ga bedakn jalan Tuhan.. dan jalan qta ciptaanNya?.. sudah baca kitab Yesaya?.. yg pasti Alkitab ga boleh di Tambain atau dikurangin (Wahyu 22 : 18-19).. sedangkn isi Alkitab aja blum bisa kita pnuhi semua.. kok malah d tambah2in?.. no offense bro.. cuma maparin apa yg TERTULIS kok.. (note: saya cma mencari dan memaparkan KEBENARAN bro bukan PEMBENARAN)

Satu kesalahan pemahaman, dgn berasumsi bahwa jika tidak tertulis di dalam Alkitab berarti tidak ada hal tsb.
Apakah karena Alkitab tidak pernah menuliskan secara eksplisit bahwa wanita juga turut menerima Perjamuan Kudus oleh para rasul, maka wanita harus dikecualikan dari Perjamuan Kudus??
Kemudian saya ingin bertanya kepada anda, jika saya katakan Yesus exist pada umur 13 sampai 29, apakah itu berarti saya nambahin2 apa yg tertulis dlm Alkitab??
Saya paham dgn maksud anda utk tidak nambah2in apa yg tertulis, saya juga mengimani hal tsb. Mengenai hal ini, bukan nambah2in apa yg tertulis dlm Alkitab tetapi ada dasarnya dari Alkitab itu sendiri, itu sebabnya saya katakan pelajari terlebih dahulu relasi antara baptisan dan sunat.
Saya ambil contoh lain, di Alkitab tidak ada tertulis dilarang merokok, dilarang ngisap heroin, dll.
Apakah karena tidak tertulisnya hal tsb di Alkitab berarti ngisap heroin diperbolehkan di dalam kekristenan??
Jawaban saya adalah tidak demikian, walaupun hal tsb tidak tertulis secara eksplisit, tetapi Alkitab memiliki dasar untuk melarang hal2 tsb yaitu Alkitab mengatakan bahwa tubuh kita adalah bait Allah shg kita harus menguduskan tubuh kita.

Note: jadi janganlah membabi buta, karena tidak tertulis berarti nambah2in dsbnya, kuncinya disini adalah apakah hal tsb ada dasarnya di dlm Alkitab atau tidak ada dasarnya, jika tidak ada dasarnya, bolehlah anda bilang nambah2in dan menolaknya.


GBU
MEN_SUPERNOVA

 

Shalom.. lagi2 bro jangan salah kaprah dan jngn diartikan mentah2.. baiklah mari kita bahas lebih detail/rinci mulai dari apa sich prinsip kerja menerjemahkan ALKITAB:
Prinsip kerja FT (ALKITAB) :
– Kita akui bersama Seluruh Alkitab (Kejadian sampai Wahyu) adalah Firman Tuhan; SEMUANYA ADALAH PERKATAAN TUHAN YG DIWAHYUKAN MELALUI MANUSIA yg di tuangkn dalam satu KESATUAN kitab yg kita kenal d indonesia dgn sebutan ALKITAB.
– Firman Tuhan di buat Tuhan untuk MENOPANG Firman Tuhan yg satu dgn yang lain dan bukan dibuat untuk menjatuhkan antara Firman TUHAN yg satu dgn Firman Tuhan yang lain membentuk suatu kesatuan n tidak dpt d pisahkan.
KONSEP yg TEPAT n BENAR (KEABSAHAN) Merjemahkan/ MENAFSIR FT ALKITAB:
– TIDAK BOLEH MENGURANGI ATAUPUN MENAMBAHKAN FT ALKITAB (WAHYU 22:18-19) dalam KONTEKS jika di TAFSIR d terjemahkan dan d Artikan TIDAK BOLEH MERUBAH “KONSEP DAN MAKNANYA”.
– FT ALKITAB yg terdiri dari KITAB2 dan AYAT2 jika di TAFSIR d terjemahkan dan d Artikan dalam Kejadian sampai Wahyu HARUSLAH saling MENOPANG antara Ayat satu dengan Ayat yang lain dgn Artian TIDAK BOLEH ADA SATUPUN AYAT ALKITAB yg MENENTANG Tafsiran yg DI BUAT*.
(*tinjau prinsip kerja di atas..)
POLA PIKIR YG DIGUNAKAN
– MENGACU pada Filipi 4 : 8
Yaitu : “ …….Semua yg BENAR, semua yg MULIA, semua yg ADIL, semua yg SUCI, semua yg MANIS, semua yg SEDAP DIDENGAR, semua yg disebut KEBAJIKAN dan PATUT DIPUJI, pikirkanlah semuanya itu. (tentunya jika d simpulkan mengarah pada hal POSITIF DAN bersifat MEMBANGUN>>> didasari dr Karakter TUHAN)
Ini dasar pola pikir yg saya pakai n ikuti tuk menyaring tafsiran2 yg dbuat org terhdp FT…

Ø (kl yg ini saran saya…)
BACALAH KEJADIAN sampai WAHYU coz kitab ROMA 10:17 mengatakan “…..,IMAN timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh FIRMAN KRISTUS.

Lanjut…
Jadi bro manakah yg mendekati/TEPAT; BAPTISAN SELAM atau BAPTISAN PERCIK yang MEMPUNYAI DASAR YG KUAT tanpa MENENTANG SATUPUN AYAT ALKITAB?.. dan tanpa MERUBAH “KONSEP” DAN “MAKNA”NYA??…..
Untuk komentar bro..
Once again.. jngn salah kaprah bro.. yg saya maksud MERUBAH/MENAMBAHAKN ditinjau dr konsep d atas bgni; yaitu merubah n mengganti “KONSEP dan MAKNANYA”..
Mari kita dalami apa itu “KONSEP DAN MAKNA”
Contoh KONSEP: (anggaplah kita satu keluarga) supernova d suruh ibu untuk disampaikan kpd saya melalui sms, katanya seperti ini “ibu menyuruh membeli beras 1 kg kualitas no.1 setelah d beli tolong dibawa k dapur” penerapannya: saya membeli beras bisa kan d warung mana saja atau d supermarket? kan tidak d katakan warung/tempat yg mn.. bisakah saya mengganti dengan beras kualitas no.2? tentu tidak bkan? Kan melalui sms supernova, yg d beli “beras kualitas no.1”.. tdk apa2kan saya membeli beras brwarna ke kuning2an atau putih cerah? yg penting “beras kualitas no.1”.. bisakah saya mengganti dgn membeli jagung tapi kualitas no 1?.. tentu tidak, kan disuruh “beli beras”.. bisakah saya beli 2 kg?.. tentu bisa.. tapi pasti akan mengeluarkan biaya tambahan dr uang kita, kan ibu tidak memberi uang dan butuh pengorbann kita.. dan bisakah saya bawa k ruang tamu?… tentu tidak.. kan di suruh k dapur.. inilah yg namax konsep yaitu: tidak merubah “benang merahnya” dari pesan yg saya trima dan tidak menentang isinya. (soal 1kg bagimn kalau 2 kg?.. BIJAKSANAlah dlm hidup.. belajarlah sperti SALOMO tuk memilih yg terbaik TANPA merubah KONSEP)
Contoh MAKNA: kata; “iya” diganti “mau” atau “boleh” MAKNAnya tidak berubah kan bro?… kalau diganti dgn kata “tidak” tentunya MAKNAnya akan berubah. Coba aja d terapkan dlm kalimat.
Sudah mengertikan KONSEP dan MAKNA?…
Kita kembali ke pembicaran mengenai baptisan;
Ingatkah anda pada MUSA hamba Tuhan yg besar itu?… ingat cerita Musa memukul gunung batu untuk mengeluarkan air?.. pada masa kecil saya, ini merupakan slh satu cerita favorit di “sekolah minggu” (kl belum tau bacalah Kitab Keluaran n Bilangan) karena Musa menambah/merubah konsep dan makna (ini tidak bisa dipisahkan antara KONSEP n MAKNA) dgn CARA yg berbeda dari perintah Tuhan Musa d suruh memakai tongkat dan BERKATA kepada gunung batu (Bilangan 20:8) namun dgn TONGKAT malah MEMUKUL gunung batu tersebut (Bilangan 20: 11) akhirnya dia TIDAK di IJINKAN masuk ke TANAH PERJANJIAN (Bilangan 20:12).. Walaupun Musa seorang NABI yg diurapiNYA skalipun tidak LUPUT dari hukuman.. karena merubah MAKNA dan KONSEP.. ini menandakan Tuhan tidak MEMANDANG BULU n Dia tidak bisa menyangkali KetetapanNYA… dan bagaimn dgn BAPTISAN yg dirubah caranya?.. siapakah Hamba Tuhan yg BERANI merubah cara baptisan itu? Apakah dia lebih tinggi dari Musa atau Bahkan TUHAN?.. sehingga BRANI merubahnya.. apakah Tuhan yg Musa sembah tetap sama dgn Tuhan yg kita Sembah skarang?.. tentulah sama bukan?.. berarti ketetapnNYA pasti sama.. apakah cara untuk baptisan yg dirubah maka akan dibenarkan?… sama seperti Musa memakai media TONGKAT.. namun CARAnya tdk seperti yg DIPERINTAHKAN/diFIRMANkan.. begitu juga Baptisan SELAM dan PERCIK.. sama2 menggunakan AIR… TAPI manakah yg sesuai dgn CARA yg DIPERINTAHKAN/ DIFIRMANkanNYA?…>>>>
Skali lagi saya bertanya, APAKAH dngn MERUBAH “CARA” baptisan akan di BENARKAN oleh TUHAN?… se kali2 tidak…
YESUS BERKATA dlm MATIUS :
5:17. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah HUKUM TAURAT sekalipun yang paling KECIL, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

 

 

joshua wrote:

Lanjut…
Jadi bro manakah yg mendekati/TEPAT; BAPTISAN SELAM atau BAPTISAN PERCIK yang MEMPUNYAI DASAR YG KUAT tanpa MENENTANG SATUPUN AYAT ALKITAB?.. dan tanpa MERUBAH “KONSEP” DAN “MAKNA”NYA??…..
Untuk komentar bro..
Once again.. jngn salah kaprah bro.. yg saya maksud MERUBAH/MENAMBAHAKN ditinjau dr konsep d atas bgni; yaitu merubah n mengganti “KONSEP dan MAKNANYA”..
Mari kita dalami apa itu “KONSEP DAN MAKNA”
Contoh KONSEP: (anggaplah kita satu keluarga) supernova d suruh ibu untuk disampaikan kpd saya melalui sms, katanya seperti ini “ibu menyuruh membeli beras 1 kg kualitas no.1 setelah d beli tolong dibawa k dapur” penerapannya: saya membeli beras bisa kan d warung mana saja atau d supermarket? kan tidak d katakan warung/tempat yg mn.. bisakah saya mengganti dengan beras kualitas no.2? tentu tidak bkan? Kan melalui sms supernova, yg d beli “beras kualitas no.1”.. tdk apa2kan saya membeli beras brwarna ke kuning2an atau putih cerah? yg penting “beras kualitas no.1”.. bisakah saya mengganti dgn membeli jagung tapi kualitas no 1?.. tentu tidak, kan disuruh “beli beras”.. bisakah saya beli 2 kg?.. tentu bisa.. tapi pasti akan mengeluarkan biaya tambahan dr uang kita, kan ibu tidak memberi uang dan butuh pengorbann kita.. dan bisakah saya bawa k ruang tamu?… tentu tidak.. kan di suruh k dapur.. inilah yg namax konsep yaitu: tidak merubah “benang merahnya” dari pesan yg saya trima dan tidak menentang isinya. (soal 1kg bagimn kalau 2 kg?.. BIJAKSANAlah dlm hidup.. belajarlah sperti SALOMO tuk memilih yg terbaik TANPA merubah KONSEP)
Contoh MAKNA: kata; “iya” diganti “mau” atau “boleh” MAKNAnya tidak berubah kan bro?… kalau diganti dgn kata “tidak” tentunya MAKNAnya akan berubah. Coba aja d terapkan dlm kalimat.
Sudah mengertikan KONSEP dan MAKNA?…
Kita kembali ke pembicaran mengenai baptisan;
Ingatkah anda pada MUSA hamba Tuhan yg besar itu?… ingat cerita Musa memukul gunung batu untuk mengeluarkan air?.. pada masa kecil saya, ini merupakan slh satu cerita favorit di “sekolah minggu” (kl belum tau bacalah Kitab Keluaran n Bilangan) karena Musa menambah/merubah konsep dan makna (ini tidak bisa dipisahkan antara KONSEP n MAKNA) dgn CARA yg berbeda dari perintah Tuhan Musa d suruh memakai tongkat dan BERKATA kepada gunung batu (Bilangan 20:8) namun dgn TONGKAT malah MEMUKUL gunung batu tersebut (Bilangan 20: 11) akhirnya dia TIDAK di IJINKAN masuk ke TANAH PERJANJIAN (Bilangan 20:12).. Walaupun Musa seorang NABI yg diurapiNYA skalipun tidak LUPUT dari hukuman.. karena merubah MAKNA dan KONSEP.. ini menandakan Tuhan tidak MEMANDANG BULU n Dia tidak bisa menyangkali KetetapanNYA… dan bagaimn dgn BAPTISAN yg dirubah caranya?.. siapakah Hamba Tuhan yg BERANI merubah cara baptisan itu? Apakah dia lebih tinggi dari Musa atau Bahkan TUHAN?.. sehingga BRANI merubahnya.. apakah Tuhan yg Musa sembah tetap sama dgn Tuhan yg kita Sembah skarang?.. tentulah sama bukan?.. berarti ketetapnNYA pasti sama.. apakah cara untuk baptisan yg dirubah maka akan dibenarkan?… sama seperti Musa memakai media TONGKAT.. namun CARAnya tdk seperti yg DIPERINTAHKAN/diFIRMANkan.. begitu juga Baptisan SELAM dan PERCIK.. sama2 menggunakan AIR… TAPI manakah yg sesuai dgn CARA yg DIPERINTAHKAN/ DIFIRMANkanNYA?…>>>>
Skali lagi saya bertanya, APAKAH dngn MERUBAH “CARA” baptisan akan di BENARKAN oleh TUHAN?… se kali2 tidak…
YESUS BERKATA dlm MATIUS :
5:17. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah HUKUM TAURAT sekalipun yang paling KECIL, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Loh , anda mau membahas Baptisan Anak-anak atau membahas masalah selam & percik??

note: jika yg anda bahas masalah selam & percik, sudah saya tanggapi di topik yg membahas hal tsb.

GBU
MEN_SUPERNOVA

 

Shalom.. ok singkat saja.. (sebenarnya qta harus tau dl sistem FT mengenai baptisan karena ayat-ayat d dlmnya itu tidak dapat berdiri sendiri dgn pengertian lihat tema dan orientasinya.. JANGAN ASAL CAMPUR)

ayat pendukung baptisan..
Markus 16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. MERUPAKAN SYARAT MUTLAK TAPI BUKAN PENENTU KESELAMATAN..Saya “ibaratkan” BAPTISAN itu adalah BUSI dalam mobil.. dan sebuah TIKET menuju k SURGA.. bayangkan jika anda tdk memilikinya…

back to baptisan ANAK-ANAK..
ingat dasar PERCAYA dulu BARU di BAPTIS.. (Markus 16:16 menentang bayi/ balita di Baptis= lihat konsepnya; PERCAYA DULU BARU DIBAPTIS) bukan SEBALIKNYA!…
apa asumsi bro dgn ayat ini?…
coba bro tafsirkan /jabarkan maknanya serta oirentasi ayat tersebut?.. pasangkan dgn keadaan anak-anak apalagi bayi dan balita.. terutama konsep PERCAYA!…

INGAT PERCAYA TIDAK LEPAS DARI TANGGUNG JAWAB!..