Bukan Damai Melainkan Pedang (Tafsiran Matius 10:3)

Posted on

* Matius 10:32-34
10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
10:33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

10:34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
KJV, Think not that I am come to send peace on earth: I came not to send peace, but a sword.
TR, μη νομισητε οτι ηλθον βαλειν ειρηνην επι την γην ουκ ηλθον βαλειν ειρηνην αλλα μαχαιραν
Translit interlinear, mê {janganlah} nomisête {menyangka} hoti {bahwa} êlthon {Aku datang} balein {untuk membawa} eirênên {damai} epi {diatas} tên gên {bumi} ouk {bukan} êlthon {Aku datang} balein {untuk membawa} eirênên {damai} alla {melainkan} makhairan {pedang}

10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
10:40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
10:41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.
10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

 

Dalam Lukas kita temui ayat yang sepadan dengan Matius 10:34, sbb :

* Lukas 12:51
Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.

Bandingkan pula dengan :

* Matius 10:35 
Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,

* Lukas 12:53 
Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”

Selanjutnya bisa kita baca dalam Matius 10:36 adalah kutipan Perjanjian Lama yang berbunyi “musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mikha 7:6)

Satu hal yang sudah pasti : Tuhan Yesus tidak menyokong pertentangan. Ia mengajar pengikutNya untuk jangan melawan atau membalas kalau mereka diserang atau diperlakukan tidak baik. “Berbahagialah orang yang membawa damai”, kataNya, “Karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Artinya adalah Allah Damai Sejahtera, sehingga orang yang mencari dan meneruskan damai mencerminkan sifat Allah. Berita ini pula yang dikumandangkan pengikut-pengikutNya dalam namaNya setelah kenaikanNya disebut ‘Injil Damai Sejahtera’ (Efesus 6:15) atau ‘Berita Perdamaian’ (1 Korintus 5:19).

Tetapi dalam Matius 10:34 ini, Tuhan Yesus berbicara mengenai ketegangan dan konflik dalam keluarga. Ia mungkin berbicara berdasarkan pengalaman pribadi. Ada indikasi dalam kisah yang ditulis dalam Injil bahwa beberapa anggota keluargaNya sendiri tidak bersimpati dalam pelayananNya :

* Markus 3:20-21
3:20 Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat.
3:21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Bandingkan dengan :

* Yohanes 7:5 
Sebab saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya.

Jadi, jikalau Tuhan Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang, yang Ia maksudkan ialah bahwa itu adalah akibat dari kedatanganNya, bukan karena itu menjadi tujuan kedatanganNya. Kata-kataNya menjadi kenyataan dalam kehidupan Gereja mula-mula. Dan kebenaran kata-kataNya telah terbukti kemudian dalam sejarah pelayanan misi-misi Kristen. Bahwa disaat satu atau dua keluarga atau golongan masyarakat lainnya menerima iman Kristen, maka hal ini selalu menimbulkan pertentangan dari anggota-anggota yang lain.

Matius 10:34 adalah ayat kalimat kiasan. Maksudnya orang yang mau mengikuti Yesus harus lebih mencintai Yesus daripada apapun didunia ini. Apakah ayat tersebut mutlak mengartikan Yesus memberi pengajaran sambil bawa-bawa pedang ?. Alkitab apakah pernah menuliskan Yesus bawa-bawa pedang dalam mengajar. Tetapi, Saya akan menjelaskan apa maksud pengajaran Yesus diatas, sbb :

Sekalipun Yesus Kristus disebut “Raja Damai”, kebenaranNya harus senantiasa disampaikan, Kedatangan Yesus dan pemberitaan Injil-Nya mengakibatkan pemisahan-pemisahan sbb:

[1] Iman kepada Kristus memisahkan orang percaya dari orang berdosa dan dunia. 

*2 Korintus 6:17-18
6:17 Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.
6:18 Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

Konsep mengenai pemisahan dari yang jahat ini adalah dasar dalam hubungan Allah dengan umat-Nya. Menurut Alkitab, pemisahan itu meliputi dua dimensi – yang satu negatif dan yang lain positif:

(a ) memisahkan dirimu secara moral dan rohani dari dosa dan dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Yesus Kristus, kebenaran, dan Firman Allah;
(b ) mendekatkan diri kepada Allah dalam suatu persekutuan yang akrab dan intim melalui penyerahan diri, penyembahan, dan pelayanan. Pemisahan dalam pengertian ganda ini menghasilkan suatu hubungan di mana Allah menjadi Bapa sorgawi kita yang hidup bersama kita sebagai Allah kita, dan sebaliknya kita menjadi anak-anak-Nya laki-laki dan anak-anak-Nya perempuan.

Dalam Perjanjian Lama, pemisahan merupakan suatu tuntutan Allah yang terus-menerus bagi umat-Nya. Mereka diharapkan menjadi kudus, berbeda, dan terpisah dari semua bangsa lain supaya menjadi milik Allah sendiri. Satu alasan penting yang menyebabkan Allah menghukum umat-Nya dengan membuang mereka ke Asyur dan Babilonia ialah karena mereka bersikeras ingin menyesuaikan diri dengan penyembahan berhala dan gaya hidup yang fasik dari bangsa-bangsa di sekitar mereka.

Dalam Perjanjian Baru, Allah memerintahkan orang percaya untuk memisahkan diri,

(a ) dari sistem dunia yang bejat dan dari tindakan kompromi yang tidak kudus;
(b ) dari orang-orang dalam jemaat yang berbuat dosa dan menolak untuk bertobat, dan
(c ) dari guru, jemaat, dan kepercayaan yang palsu yang mengajarkan teologi yang salah dan menyangkal kebenaran alkitabiah.

Sikap kita dalam pemisahan ini harus nampak dalam hal:

(a ) membenci dosa, ketidakbenaran, dan sistem dunia yang bejat
(b ) melawan doktrin palsu;
(c ) kasih yang tulus terhadap mereka yang darinya kita harus pisahkan diri;
(d ) takut akan Allah sementara kita menyempurnakan kekudusan

Maksud dari pemisahan ini ialah agar sebagai umat Allah kita dapat:

(a ) bertekun dalam keselamatan, iman, dan kekudusan;
(b ) hidup semata bagi Allah sebagai Tuhan dan Bapa kita; dan
(c ) menginsafkan dunia yang tidak percaya ini akan kebenaran dan berkat-berkat Injil.

Jikalau kita memisahkan diri sebagaimana mestinya, maka Allah sendiri akan membalas dan mendekati kita dengan perlindungan, berkat, dan pemeliharaan-Nya sebagai Bapa. Dia berjanji untuk bersikap dan bertindak sebagai seorang Bapa yang baik. Dia akan menjadi penasihat dan pembimbing kita; Dia akan mengasihi dan menghargai kita sebagai anak-anak-Nya sendiri.

Penolakan orang percaya untuk memisahkan diri dari yang jahat pasti akan mengakibatkan hilangnya persekutuan dengan Allah, penerimaan oleh Bapa, dan hak-hak kita sebagai anak.

[B] [2] Pemberitaan Firman Allah dan kebenarannya akan mendatangkan perlawanan, perpecahan, dan penganiayaan. 

[3] Kehidupan yang dijalani sesuai dengan standar kebenaran yang ditetapkan Kristus akan mendatangkan ejekan dan cemoohan.

[4] Mempertahankan iman rasuli Perjanjian Baru terhadap ajaran yang sesat akan mendatangkan perpecahan.

[5] Ajaran Kristus mengenai damai dan kesatuan harus senantiasa diperhadapkan dengan kebenaran bahwa Ia datang “bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”

Paulus rupanya juga mengalami pertentangan semacam ini dalam keluarganya sebagai akibat dari pertobatannya, membuat perlengkapan bagi situasi semacam ini dalam hidup kekeluargaan para petobatnya. Ia tahu bahwa ketegangan bisa timbul bila seorang suami-istri menjadi Kristen sedang pasangannya tetap tidak percaya. Bila pasangan yang tidak percaya bersikeras untuk meninggalkan dan mengakhiri perkawinan, maka orang kristen tidak boleh menggunakan kekerasan atau tindakan-tindakan legal, karena ‘Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera’ (1 Korintus 7:12-16).

Dalam kata-kataNya ini, Tuhan Yesus memperingatkan pengikut-pengikutNya bahwa kesetiaan mereka kepadaNya bisa mengakibatkan konflik di rumah, bahkan pengusiran dari lingkungan kluarga. Adalah baik bahwa mereka diperingatkan sebelumnya, jadi mereka tidak bisa berkata “Kami tidak pernah membayangkan bahwa kami harus membayar harga ini untuk mengkuti Dia!”

Artikel terkait :
– Ucapan Yesus yang Sulit, 29 : Membenci Orang-tuanya di 29-membenci-orang-tuanya-vt1080.html#p3403
– Ucapan Yesus yang Sulit, 30-31: Melemparkan Api ke Bumi – Betapa SusahNya Hatiku Sebelum Hal itu Berlangsung, di 30-31-melemparkan-api-ke-bumi-susahnya-hatiku-vt1100.html#p3436
– Tuduhan Kontradiksi PB No. 17. Yesus membawa damai dan keselamatan atau onar ? di kontradiksi-perjanjian-baru-vt543.html#p1019
– Tuduhan Kontradiksi PB No. 127. Apakah yang dibawa Yesus di atas bumi? Pedang atau pertentangan? , di kontradiksi-perjanjian-baru-vt543-120.html#p2679

Blessings in Christ,
BP
April 10, 2007

Sumber :
– FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 141-1.44
– Yohannes/ Biblika

 

terima kasih, tapi masih bingung juga….

20:10. Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya.
20:11 Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu. 
20:12 Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya;
20:13 dan setelah TUHAN, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang.
20:14 Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kaurampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, boleh kaupergunakan. 
20:15 Demikianlah harus kaulakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini.

apakah ini benar adanya? pemahamannya bagaimana?