Ayat Quran ini buatan siapa Muhammad atau Allah SWT?

Posted on

Ibnu Ishaq berkata,”Jika Rasullulah Shallallahu Alaihi wa Sallam membacakan Al-Quran kepada mereka dan mengajak kepada Allah, mereka mengejek beliau dengan mengatakan, ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya.’ Maksudnya, kami tidak paham apa yang engkau katakan. ‘Dan di telinga kami ada sumbatan.’ Maksudnya, kami tidak mendengar apa yang engkau katakan. ‘ Dan antara kami dan kamu ada dinding.’ Maksudnya, ada jarak antara kami denganmu. “Maka bekerjalah kamu.” Maksudnya, kerjakan apa yang mesti engkau kerjakan. ‘Sesungguhnya kami bekerja.’ Maksudnya kami akan mengerjakan apa yang mesti kami kerjakan. Kami tidak paham apapun darimu. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat kepada beliau (JUGA: maksudnya muhammad) tentang ucapan mereka itu.

‘Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.’ (Al-Isra’: 45-46

 

Dengan mengamati apa yang disampaikan Sirat dan quran di atas, secara khusus pada bagian kalimat yang diperbesar di atas, sangat terlihat ucapan para kaum kafir diklaim Allah SWT sebagai hasil perbuatannya. Padahal sebenarnya para kafir ingin/bermaksud mengatakan, “enyahlah hai muhammad, saya tidak butuh mendengar pembacaan quranmu itu”.

Pada bagian lain Ibnu Hisyam menulis dalam Sirat Nabawiah jilid 1 hal 323

Ibnu Ishaq berkata, “Ubai bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah dan Uqbah bin Abu Muaith adalah dua sahabat karib, karena ketampanan wajah keduanya. Uqbah bin Abu Muaith pernah duduk dengan Rasullulah Shallallahu Alaihi wa Salllam dan mendengar sesuatu dari beliau. Hal ini di dengar Ubai bin Khalaf, kemudian ia mendatangi Uqbah bin Abu Muaith dan berkata kepadanya, ‘Aku dengar engkau telah duduk bersama Muhammad dan mendengar sesuatu darinya? Haram berbicara dengan wajahmu-Ubai bin Khalaf bersumpah keras. Apakah engkau benar pernah duduk dengannya dan mendengar sesuatu darinya? Atau kenapa engkau tidak datang kepadanya kemudian engkau meludah di depannya?’ Musuh Allah, Uqbah bin Abu Muaith-semoga Allah mengutukinya-pun mengerjakan permintaan Ubai bin Khalaf, kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang keduanya,

‘Dan(Ingatlah) hari orang yang dzalim menggigit dua tangannya seraya berkata,’Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si Fulan itu sebagai teman akrab. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Qur’an telah datang kepadaku dan syetan itu tidak mau menolong manusia.’ (Al-Furqan: 27-29)

Ubai bin khalaf juga berjalan menuju tempat Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa tulang rusuk yang berbau busuk, kemudian ia berkata, Hai Muhammad, engkau pernah berkata bahwa Allah akan membangkitkan ini setelah ia rusak.’ Usai berkata seperti itu, Ubai bin Khalaf meremukkan tulang tersebut dengan tangannya, kemudian meniupnya ke arah Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Rasullullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,’Ya, aku yang berkata seperti itu. Allah akan membangkitkannya dan membangkitkanmu setelah kalian berdua menjadi seperti itu (menjadi seperti tulang), kemudian Allah memasukkanmu ke dalam neraka.’ Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang Ubai bin Khalaf

‘Dan dia (JGA: maksudnya Ubai bin Khalaf) membuat perumpamaan bagi Kami dan dia lupa kepada kejadiannya, ia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?’ Katakanlah, ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakan kali yang pertama dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Tuhan yang menjadikan untuk kalian api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu menyalakan (api) dari kayu itu’. (Yaasiin: 78-80)

Sekali lagi perhatikanlah dengan seksama para “oknum” yang terlibat disana. Contoh yang menyolok adalah : Dan dia (JUGA: maksudnya Ubai bin Khalaf) membuat perumpamaan bagi Kami. Disini jelas kata kami mengacu pada Muhammad sendiri yang sedang terlibat pembicaraan dengan Ubai bin Khalaf….

Dari dua peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat di atas, kita bisa simpulkan bahwa ayat Quran adalah karangan Muhammad belaka dengan menstempelnya dengan nama Allah SWT.