Mempermasalahkan Konsep Allah Dalam Islam

Posted on Updated on

Allah Swt bukan Tuhan…..

Jika ada yang bilang allah artinya Tuhan, maka tolaklah….

Jika kita mengikuti jalan pikiran muslim, ‘Allah’ artinya “Sang Tuhan.” Meski begitu ucapan la ila ha illalah telah membuat kata “allah” bukan lagi berarti “sang tuhan” melainkan sudah berarti “tuhan yang itu.”
Buktinya jika kita terjemahkan kata la ila ha illah maka artinya “tiada tuhan selain sang tuhan”. kalimat ini masih aneh. Tuhan dan sang tuhan jika dibuat dalam ucapan itu kan sama saja. Ucapan ini janggal jika diartikan begitu. Karena itulah arti sebenarnya dari allah adalah:

allah = Tuhan yang itu —> yang dibicarakan di al quran dan hadist –> yang sesuai dengan anggapan-anggapan Muhammad dan org arab saat itu.

Jadi jika ada org bicara “Tuhan itu bukan tempatnya kalian mengulang-ulang kata ‘astagfirullah’ kata ini tak relevan lagi untuk diwiridkan karena semua kan sudah diatur Tuhan dalam hukum-hukum alam. jika bersalah yang bertanggungjawab saja, jika menyesal dan sedih krn salah yang tunggu saja hari-hari pembalasan karma. jika memang sedih maka gembiralah di hari-hari pembalasan karma itu” maka muhammad pasti tak setuju dengan ini dan akan mengucap “la ila ha illah = tiada tuhan selain yg seperti aku bicarakan.”

Penjelasan di atas hanya jika kita berbicara sesuai pikiran muslim. Tapi walau bagaimanapun Alquran adalah bukti nyata yang menyebutkan posisi Allah adalah dewa di antara dewa-dewa lain di Arab saat itu. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari dewa mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” – QS Al-Baqarah 2:62

Dikatakan pula “…..Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. ” – Q.S Al Hajj 22:47
yang menunjukkan lokasi Allah masih di salah satu 31 alam dunia yang diajarkan Buddha, dimana masing-masing dunia tersebut mempunyai time frame yang berbeda-beda.

Masih mau bicara Allah = Al-ilah? Itu cuma dalam mimpi muslim. Allah jelas bukan berasal dari hamzah, lam, ha karena secara ilmu shorof (ilmu yg menguraikan kata kerja) tidak pernah ditemukan, baik fiil madhinya/past tense, mudhori’nya/present continuous tense maupun mashdarnya/kata kerja yg tidak ada waktunya atau sumber kata. Yang ada hamzah, lam, lam, ha atau allaha (الَّهَ ), tetapi kalau diuraikan secara wazan/ukuran/timbangan dalam ilmu shorof juga tdk bisa menjadi Allah.

Nama-Nama Tuhan yang disebut Asmaul Husna itu tidak mencerminkan Tuhan yang sesungguhnya.

Tuhan tak mungkin terpengaruh dengan sifat yang ia ciptakan sendiri. Muslim yang sudah berpendidikan pun menjadi malu dengan agama yang ia yakini dan mencoba mengubahnya dengan arti-arti baru seperti di situs http://id.wikipedia.org/wiki/Asmaaul_Husna 
Ar Rahman yang berarti Sang Pengasih telah diubah menjadi Yang Memiliki Mutlak sifat Pengasih. 
Tapi tak apa, nanti bisa Kami kembalikan artinya seperti semula, dengan mengucap mantra Harumnya kayu cendana tak dapat melawan arah angin. Harumnya kebenaran dapat melawan arah angin. Ajaran kami akan menyapu bersih ajaran Islam, ini sudah digariskan oleh Tuhan. Agama kami sendiri sudah difirmankan nama-nama baru yang lebih benar. Kelak akan Saya berikan.