Ibadah Haji / Umroh Merupakan Tradisi Penyembahan Berhala dan Perdukunan (Okultisme) di Mekah

Posted on Updated on

Oleh Dr. Rafat Amari

Muslim itu Sesat, datang dari berbagai negara dengan Biaya yang Mahal hanya untuk Menyembah Hajar Azwad dan Mengambil air zam-zam yang adalah Made PDAM Arab Saudi dengan Mengharapkan Berkah dan Keselamatan dirumah Allah swt yang sebenarnya adalah Berkah dari Jin dan Iblis itu sendiri…!!!

Berdasarkan sejarah, Haji Umra’ adalah upacara agama Jin Arab yang berkisar pada dua dukun utama agama itu.
Kita akan menelaah Haji kecil yang disebut Umra’, dan perdukunan (okultisme = aliran kepercayaan gaib) di Mekah yang menyertainya. Di daerah sekitar Mekah, masyarakat mempraktekkan ibadah agama yang disebut Umra’, atau “kunjungan.” Ini merupakan ibadah haji kecil, yang dilakukan sejak jaman pra-Islam.Umra’ ini berhubungan dengan upacara² agama Jin Arab, terutama karena bersangkutan dengan penyembahan terhadap batu² dan patung² berhala. Dua patung berhala yang disembah adalah patung² dua dukun agama Jin, yakni patung Isaf (berkelamin pria), dan Naila (berkelamin wanita). Menurut kisahnya, dua dukun ini berhubungan seks di dalam Ka’bah, di Mekah, sehingga para dewa menghukum mereka menjadi dua buah patung batu.

Masyarakat Arab membuat banyak replika dari kedua patung ini untuk disembah. Patung² mereka yang terpenting diletakkan di Safa dan Marwa, dan dua patung lainnya diletakkan di bukit dekat sumur Zamzam. Sejarawan Islam bernama Al-Shahrastani mengatakan bahwa Amru bin Lahi meletakkan patung² di Safa dan Marwa. [83] Tapi Amru bin Lahi hanyalah tokoh karangan Muslim saja. Umat Muslim berusaha menyalahkan semua faktor paganisme Arab padanya, menuduhnya membawa semua patung², berhala², dan ibadah pagan ke Arabia. Ini semua hanyalah alasan saja, karena paganisme dan penyembahan terhadap bintang² dan bulan di Arabia sudah dilakukan sejak jaman kuno, seperti keterangan yang tercantum di Alkitab dan berbagai prasasti Assyria, yakni sejak abad ke-9 SM. Keterangan sejarah kuno ini menjabarkan berbagai dewa berhala yang disembah suku² Arab yang berhubungan dengan bangsa Assyria. Para sejarawan Yunani yang mengunjungi Arabia, dimulai dari Herodotus di abad ke-5 SM, juga membenarkan keterangan yang tercantum di Alkitab dan prasasti Assyria. Dengan begitu, Islam secara sia² berusaha memisahkan ibadah Islam dari latar belakang asli pagannya dengan cara menciptakan tokoh dongeng Amru bin Lahi yang sebenarnya tidak pernah ada.

[83] Al Shahrastani, Al Milal Wal Nahel, hal. 578

Di jaman pra-Islam, patung² Isaf dan Naila diletakkan di batu² utama Ka’bah di Mekah dan pada dua batu di Safa dan Marwa. Dalam ibadah Haji Umra’, para peziarah harus mengelilingi patung² ini tujuh kali. Hal ini menerangkan pada kita ibadah asli di Mekah jaman pra-Islam, dan Haji Umra’ yang berhubungan dengannya.

Ibadah agama di Mekah merupakan kombinasi dari dua kepercayaan: ibadah Dewa² Bintang Arab dan ibadah perdukunan Arab. Ibadah Dewa² Bintang Arab diselenggarakan oleh para Kahin (Kahin = tunggal, Kahun = jamak), yang adalah para dukun agama Jin Arab, dan mereka adalah satu²nya badan organisasi agama pagan di Arabia. Tiada dukun dalam ibadah Dewa² Bintang Arab. Para Kahin mendominasi berbagai Ka’bah dan kuil pemujaan bagi para dewa Keluarga Bintang Arab. Ka’bah di Mekah memiliki Kahin² yang bertanggungjawab atas kegiatan di sekitar Ka’bah. Salah satu dukun Kahin yang terkenal bernama Waki’a وكيع. Waki’a melafalkan ayat² berirama yang serupa dengan ayat² berirama dalam Qur’an.

Selain itu juga terdapat seekor ular di Ka’bah yang hidup di dalam sumur di tengah Ka’bah, di mana para umat melemparkan pemberian² mereka. [84] Bangsa Arab menganggap ular sebagai Jin atau setan. [85] Hal ini menerangkan bahwa ular alias Jin tersebut disembah para peziarah yang mengunjungi Mekah. Pemberian² mereka dilemparkan kepada sang ular sebagai tanda penghormatan, penyembahan dan rasa takut karena ular itu dianggap sebagai Jin atau setan. Hal serupa juga kita dapatkan di berbagai kuil India di mana terdapat ular yang diberi persembahan makanan atau barang berharga karena binatang itu dianggap sebagai dewa utama di kuil tersebut.

[84] Tarikh al-Tabari, I, hal. 525
 [85] Taj Al Aruss, I, hal. 147, 284

Hipotesa kami tentang ibadah Jin di kuil Ka’bah ditunjang dengan fakta nama Allah, yang menurut penulis² Arab kuno, berasal dari Allaha, yang merupakan gelar bagi sang ular. [86]

[86] Taj Al Aruss, 9: 410

Apakah Agama Sebenarnya Abdul Mutalib, Orang yang Menggali Sumur Zamzam untuk Memuja Isaf dan Naila?

Patung² Isaf dan Naila diletakkan di atas sumur Zamzam. Ibn Hisyam, yang mengedit buku Sirat Rasul Allah, biografi tertua Muhammad, mengatakan bahwa kedua patung itu dipuja di dekat sumur Zamzam. Katanya, para pemuja mengorbankan binatang² mereka pada kedua patung ini. [87] Hal ini menunjukkan bahwa patung Zamzam dibuat untuk menyembah kedua patung dukun Jin tersebut. Adalah Abdul Mutalib, kakek Muhammad, yang mempersembahkan sumur Zamzam itu bagi kedua dukun Jin dan patung²nya. Kesimpulan ini diambil dari beberapa alasan. Pertama, Abdul Mutalib menggali sumur Zamzam. [88] Kedua, Abdul Mutalib merupakan salah satu pemuja patung² kedua dukun Jin. Dia begitu terpukau oleh perdukunan sehingga dia ingin mengorbankan salah seorang putranya di kaki kedua patung itu di dekat sumur Zamzam. Putranya ini bernama Abdullah, bapak Muhammad. Ketika Abdul Mutalib telah siap menghujamkan pisaunya untuk membunuh putranya Abdullah, saudara laki Abdul Mutalib datang dan menyelamatkan anak laki itu. [89]

[87] Ibn Hisham, I, hal. 69
[88] Ibn Hisham, I, hal. 117 and 118
[89] Ibn Hisham, I, hal. 126; Halabieh, I, hal. 58

Gagasan mempersembahkan putra sendiri pada Jin atau dukun utama telah dikenal luas, tidak hanya di Arabia saja, tapi juga di berbagai belahan dunia jaman kuno. Bahkan sekarang pun masih ada saja aliran² perdukunan yang mempersembahkan anak² jemaatnya pada para setan. Fakta bahwa Abdul Mutalib berusaha mengorbankan putranya di hadapan kedua patung menunjukkan bahwa agama Jin Arab merupakan agama yang paling diimaninya.
Alasan ketiga adalah Abdul Mutalib punya hubungan erat dengan para Kahin agama Jin. Abdul Mutalib berkonsultasi dengan para Kahin ketika menghadapi masalah. Para Kahin ini adalah penasehatnya, dan Abdul Mutalib rela melakukan perjalanan jauh untuk menemui Kahin terkenal dan minta nasehatnya. Ketika  terjadi pertikaian antara suku Quraish dan Abdul Mutalib gara² sumur Zamzam, Abdul Mutalib memilih seorang Kahinah (Kahin wanita) terkenal untuk memutuskan perkara. Kahinah inilah yang menunjuk Kahin² lain yakni Satih dan Shak’ untuk menggantinya setelah dia mati. [90] Al-Halabiyah mengatakan tentang kedua Kahin agama Jin ini:

[90] Halabieh, I, hal.122

Mereka merupakan ketua² Kuhan dan yang berpengetahuan tentang perdukunan dan imamat Jin. [91]

[91] Halabieh, I, hal.122

Ibn Hisyam menyebut tentang Kahinah ini, “Dia adalah Kahinah dari keluarga Saad Hutheim.” [92] Ketika pertikaian terjadi antara Abdul Mutalib dan Bani Kilab, Abdul Mutalib pergi menemui Kahin bernama Rabiah Bin H’thar al-Asadi untuk menghakimi perkara. [93] Konsultasi dengan Kahin Jin merupakan kebiasaan kakek moyang Muhammad. Hisyam, ayah dari Abdul Mutalib, terkenal suka berkonsultasi dengan Kahin utama dari suku Khuzaa’h. [94] Banyaknya contoh² seperti ini menyingkapkan hubungan kakek moyang Muhammad dengan agama Jin Arab.

[92] Ibn Hisham, I, hal. 119
[93] Al-Nuwayri, Nihayat al-arab fi funun al-adab, 3, hal. 133
[94] Al-Nuwayri, Nihayat al-arab fi funun al-adab, 3, hal. 123

Jika alasan² di atas masih dianggap kurang meyakinkan, ada dua lagi bukti bahwa Abdul Mutalib merupakan  pemimpin agama Jin Arab. Ketika Abdul Mutalib mempersembahkan putranya Abdullah (ayah Muhammad), dia melakukan hal ini melalui seorang Kahinah, di bawah perintah Jin yang berhubungan dengan Kahinah ini. Para penulis biografi Muhammad, termasuk Ibn Hisyam, mengatakan bahwa Abdul Mutalib membawa Abdullah menemui Kahinah bernama Khutbah. Wanita ini hidup di kota Khaybar yang terletak di Arab utara tengah. [95] Ketika mengunjungi Khubtah, Abdul Mutalib menyampaikan tekadnya untuk membunuh putranya jika Kahinah itu memerintahkan begitu. Kebiasaan ini memang sering dilakukan oleh para umat perdukunan bagi para roh yang terdapat pada benda² ibadah atau melalui dukun. Roh itu bisa meminta nyawa anak dikorbankan padanya, atau sang dukun bisa meminta orangtua anak mempersembahkan anjing atau binatang lain sebagai korban bagi roh tersebut. Sudah jelas bahwa di dalam kasus Abdul Mutalib, kita berhadapan dengan fenomena yang sama yang dipraktekkan berbagai sekte perdukunan. Roh² agama Jin berkuasa atas nasib anak² yang lahir dari keluarga umat agama itu. Inilah alasannya mengapa banyak anak² yang dikorbankan bagi para jin atau roh itu.

[95] Ibn Hisham I, hal. 126 dan 127

Abdul Mutalib menunjukkan pengabdian sepenuhnya pada kepercayaannya. Dia siap menerima keputusan Khutbah yang menjadi perantara Jin. Ibn Hisyam menjelaskan jawaban Khutbah terhadap pertanyaan Abdul Mutalib, “Kembalilah padaku setelah satu hari sampai dia yang berhubungan denganku mendatangiku.” [96] Yang dimaksud Khutbah adalah Jin yang sering berhubungan dengannya. Ternyata sang Jin memang datang padanya dan memberitahunya bahwa unta² harus dipersembahkan dan bukan Abdullah, yang nantinya jadi ayah Muhammad.

[96] Ibn Hisham, I, hal. 126; Halabieh, I, hal. 58

Untuk mengetahui agama seseorang, kita hanya perlu melihat di mana dia mentahbiskan anak²nya. Jika dia mentahbiskan anak²nya di gereja, sudah jelas bahwa dia adalah orang Kristen. Jika dia mentahbiskan di sinagog Yahudi, tentunya dia adalah orang Yahudi. Jika dia mentahbiskan di kuil Sabi, tentunya dia adalah penganuh agama Sabi. Tapi jika dia mempersembahkan anaknya di upacara perdukunan melalui medium atas perintah Jin, maka tentunya dia memeluk kepercayaan perdukunan yang diwakili medium atau dukunnya. Jadi itulah agama Abdul Mutalib. Tidak jauh dari Mekah, terdapat banyak gereja² Kristen, terutama di kota Najran. Banyak pula sinagog di dekat Mekah, tapi Abdul Mutalib menjauhi semua tempat ibadah tersebut, dan lebih memilih mempersembahkan putranya melalui Kahinah, dukun wanita agama Jin.
Hal lain yang juga harus dipertimbangkan adalah keinginannya untuk mencari istri bagi putranya Abdullah diantara para dukun wanita agama Jin. Dia memperkenalkan Abdullah kepada banyak dukun wanita muda. Di salah satu kejadian yang tertulis di Sira Halabiyah, tertulis sebagai berikut:

Ketika Abdul Mutalib menemani putranya Abdullah untuk mempersiapkan pernikahan, dia bertemu dengan seorang Kahinah yang merupakan dukun wanita agama Jin dari Tubbalah, kota kecil di Yaman. Nama wanita itu adalah Fatima, putra dari Mur al-Khathmie الخثعمية.

[97]

[97] Halabieh, 1, hal. 63

Dukun wanita lain yang diperkenalkan pada Abdullah adalah Rukhiah Binti Naufal رقية. Wanita ini juga merupakan Kahinah agama Jin. Ibn Hisyam, penulis biografi Muhammad yang terkemuka, menjelaskan bahwa Abdullah bertemu dengan Rukhiah di Ka’bah, dan ini berarti Rukhiah merupakan bagian ibadah perdukunan yang berlangsung di Ka’bah di Mekah. [98]
[98] Ibn Hisham, I, hal. 128

Khadija, Istri Pertama Muhammad, dan Saudara Sepupunya Waraqa

Rukhiah adalah saudara perempuan Waraqa bin Naufal, pendeta aliran Ebionit yang merupakan saudara sepupu Khadijah, istri pertama Muhammad. Waraqa-lah yang meyakinkan Muhammad untuk jadi nabi. Muhammad sering bertapa di gua Hira, dekat Mekah. Suatu hari dia pulang dari gua Hira sambil merasa ketakutan. Dia mengatakan pada istrinya bahwa sebuah jin mengaku sebagai Jibril muncul di hadapannya dan mencekiknya tiga kali. Setelah pertemuan gaib itu, Muhammad yakin dirinya dimasuki setan. Tapi Khadijah yakin bahwa Muhammad akan jadi nabi Allah. Perlu diperhatikan bahwa jika seorang malaikat muncul di Alkitab, mereka tidak pernah mengancam siapapun atau memaksa orang harus jadi nabi.
Khadijah dulu menikah dengan Nabash Bin Zarareh Bin Wakdanنباش بن زرارة بن وقدان, seorang peramal Jin, sebelum Khadijah bertemu Muhammad. Jin muncul di hadapan Nabash dalam bentuk orangtua yang memberinya petunjuk. [99] Sebagai istri peramal Jin, citra Khadija terangkat karena banyak orang Arab yang datang untuk konsultasi dengan peramal Jin dan membayar servisnya. Hal ini juga menerangkan mengapa Khadijah bisa jadi kaya. Selain itu, dia juga punya bisnis kafilah yang membawa barang² dagangan dari Syria ke Mekah. Setelah Nabash wafat, Khadijah memperkerjakan Muhammad dalam bisnis kafilahnya, dan lalu menikahinya, meskipun Muhammad dua puluh tahun lebih muda darinya.

[99] Ibn Darid, Al-Ishtiqaq, hal. 88 dan 89

Setelah pengalaman buruk di Gua Hira membuat Muhammad tertekan, Khadijah mengirim Muhammad pada Waraqa agar meyakinkan Muhammad bahwa dia dipanggil untuk jadi nabi Allah. Waraqa ternyata berhasil meyakinkan Muhammad dan bertanggungjawab atas ditulisnya kebanyakan ayat² Qur’an di awal Islam. Waraqa menyelipkan doktrin² Ebionit tentang Yesus ke dalam Qur’an, yang mengatakan bahwa Yesus adalah nabi, dan Dia tidak disalib, tapi Tuhan membuat orang lain jadi tampak seperti Yesus. Orang ini disalib karena orang² mengira dia adalah Yesus. Doktrin ini awalnya diciptakan oleh Simon, dukun dari Samaria, yang lalu menciptakan aliran bid’ah yang dinamakan Simonisme. Alirannya lalu menjadi akar doktrin yang kemudian dikembangkan oleh para Gnostik di masa depan. Hyppolytus menulis di bukunya yang berjudul “The Refutation of all heresies” (Bantahan terhadap semua pemahaman bid’ah) tentang gagasan Simon mengenai Yesus:

Yesus Kristus dirubah, dan diserupakan dengan para penguasa dan kekuatan dan malaikat, datang untuk pemulihan (berbagai hal). Dan lalu tampaknya Yesus muncul sebagai manusia, padahal sebenarnya dia bukanlah orang. Dan tampaknya dia menderita, padahal sebenarnya tidak mengalami penderitaan, tapi tampak demikian pada pandangan masyarakat Yahudi. [100]
[100] Hyppolytus, The Refutation of All Heresies, jilid VI , Bab xiv

Gagasan bahwa Tuhan membuat orang lain mirip Yesus dan lalu disalib ternyata diterima oleh kelompok² bid’ah yang terkenal dengan nilai² amoralnya, seperti sex bebas dan berhubungan dengan perdukunan. Waraqa adalah salah satu umat aliran² ini.
Waraqa juga merupakan salah satu pendiri kelompok kepercayaan Hanif. Dalam keterangan pertama biografi Muhammad yang ditulis Ibn Hisyam di abad ke-8 M, tertulis:

Kaum Hanif atau Ahnaf adalah kelompok kecil yang dimulai oleh empat orang Sabian di Mekah. Mereka adalah Zayd bin Amru bin Nafil, Waraqa bin Naufal, Ubaydullah bin Jahsh, dan Uthman Bin al-Huwayrith. [101]

Para pendiri agama Hanif ini punya hubungan keluarga dengan Muhammad. Mereka adalah keturunan Loayy, salah satu kakek moyang Mumammad. Terlebih lagi, Waraqa bin Naufal dan Uthman Bin al-Huwayrith adalah sepupu Khadijah. Kita tahu akan hal ini dari silsilah keluarga Muhammad yang ditulis oleh Ibn Hisyam. [102] Ubaydullah bin Jahsh adalah sepupu Muhammad dari pihak ibu. Muhammad menikahi janda Ubaydullah, yakni Umm Habibah. Semua ini mengungkapkan dekatnya hubungan antara Muhammad dan para pendiri agama Hanif.

[101] Ibn Hisham 1, hal. 242: dikutip oleh Jawad Ali, vi, hal. 476
[102] Ibn Hisham, bagian pertama; hal. 63 dan 76

Kelompok ini tak dikenal diluar Mekah, tapi Umayya bin Abi al-Salt, sepupu Muhammad dari pihak ibu, dianggap sebagai anggota kelompok ini. Dia hidup di kota Taif. Tertulis bahwa banyak orang yang lalu menerima agama ini dan mencampurkannya dengan berbagai aliran polytheisme, paganisme, dan perdukunan. Sangatlah tak tepat jika dikatakan mereka menganut kepercayaan Abraham dan nabi² lain di Perjanjian Lama. Sungguh menggelikan bahwasanya umat Muslim percaya bahwa kelompok pagan ini menganut kepercayaan yang benar.
Dongeng² yang mereka percayai dan cantumkan dalam puisi² mereka juga tertulis di Qur’an karena Muhammad adalah bagian kelompok ini sewaktu dia masih muda. Dia mengatakan bahwa dia percaya pada imamat mereka, dan dia pun diketahui punya hubungan erat dengan kelompok ini. Dia terpengaruh akan ajaran² mereka, seperti misalnya surga penuh dengan free sex. Semua ini menunjukkan bahwa Muhammad sangat terlibat dengan kelompok Hanif dan juga menyerap gagasan² mereka. Di Qur’an kita dapatkan sebagian dari dongeng² Hanif.
Tidak diketahui dengan jelas apakah kelompok ini menyebut diri mereka sebagai Honafa’ atau Ahnaf, atau apakah julukan ini diberikan oleh masyarakat, tapi kata “hanif” sendiri memiliki konotasi yang negatif, yang berhubungan dengan perbuatan negatif. Kata hanif berarti “mengikat, mengurung, salah, berprasangka, dan tersesat. Kata Arab ini berasal dari kata kerja hanafa yang berarti “untuk jadi terikat.” [103] Meskipun Qur’an menunjukkan makna positif dari istilah Hanif, tapi maknanya tidaklah begitu di jaman Muhammad. Jawad Ali, ahli Islam dari Iraq, menulis, “Umat Hanif keluar dari jalan yang benar.” Jawad Ali mengutip banyak penulis² kuno Islam yang tetap mempertahankan makna hanif yang sebenarnya di jaman Muhammad. [104] Menurut Jawad Ali, kata itu diambil dari kata Aramaik yang berarti “tak bertuhan, penuh tipu daya, munafik, kafir atau menyesatkan.” [105]

[103] Al-Munjed, Arabic dictionary, hal. 158
[104] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 451
[105] Jawad Ali , al-Mufassal, vi, hal. 454

Bagaimana pun kau melihatnya, istilah hanif adalah negatif di jaman Muhammad, seperti yang kita lihat dalam bahasa Arab dan Aramaik. Hal ini menunjukkan bahwa nama hanif bukanlah nama pilihan umat Hanif, tapi julukan yang diberikan masyarakat Arab yang hidup bersama mereka, sebagai pencerminan tingkahlaku mereka yang dianggap amoral dan sesat.

Reputasi Amoral Kaum Hanif dan Akibatnya pada Muhammad

Contoh perbuatan amoral kaum Hanif tampak pada syair²nya, seperti puisi yang disusun oleh Waraqa bin Naufal, salah satu pendiri kelompok ini. Di puisinya, dia membual pengalamannya memperkosa seorang gadis di rumahnya dan menikmati sex bersamanya. Di puisinya, dia mendorong orang lain untuk melakukan hal ini. [106] Ajakan amoral Waraqa ini berakibat besar bagi Muhammad, yang belajar darinya.

[106] Al Asbahani, Al-Agani 3, hal. 118

Ketika Waraqa mati, para penulis biografi Muhammad mengatakan, “Wahyu tidak turun lagi.” [107] Karena itu, Muhammad ingin bunuh diri berkali-kali dengan cara menjatuhkan diri dari gunung. Para penulis saling bertentangan pendapat tentang lamanya masa Muhammad ingin bunuh diri; sebagian mengatakan empatpuluh hari, yang lain mengatakan tiga tahun. [108] Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya Muhammad menemukan sumber² lain bagi ayat² Qur’an-nya.

[107] Sahih al-Bukhari, 1, hal. 4
[108] Halabieh, I, hal. 421

Bagaimana Kita Harus Menyebut Kakek Muhammad yang Menggali Sumur Zamzam?

Aku telah menerangkan bahwa Abdul Mutalib ingin mencari istri bagi putranya Abdullah, yang nantinya menjadi ayah Muhammad. Abdul Mutalib menolak banyak dukun Jin wanita dalam mencari istri putranya. Akhirnya dia memilih Aminah, saudara sepupu Soda binti Zehra, Kahinah utama di Mekah. Al-Halabiyah, penulis biografi Muhammad, dalam Sira menyatakan bahwa alasan Abdul Mutalib mengambil Aminah sebagai istri bagi Abdullah adalah karena bibi Aminah adalah Soda binti Zehra. [109] Abdul ingin punya hubungan dekat dengan Kahinah utama ini dan membaktikan diri pada ibadah Jin yang Soda lakukan.

[109] Halabieh, I, hal. 73 and 74

Ujian penting untuk menilai tingkat dedikasi seseorang dan keterkaitannya pada suatu agama adalah melalui pasangan yang dia pilih bagi dirinya sendiri atau bagi putranya untuk dinikahi. Jika dia memilih wanita dari suatu sekte tertentu, kita bisa memperkirakan bahwa dia adalah pengikut sekte tersebut. Tapi jika dia memilih istri hanya dari wanita² yang jadi tokoh penting agamanya, maka itu berarti dia bukan hanya umat biasa saja, tapi adalah umat yang fanatik dan aktivis kegiatan agama tersebut. Dia menunjukkan keinginannya untuk menyebarkan agamanya dengan cara membangun keluarga yang berdedikasi total pada agamanya, sehingga keluarga ini akan menghasilkan pemimpin² utama sistem agama tersebut.
Pengertian di atas dapat membantu kita untuk melihat hubungan agama orang yang menggali sumur Zamzam dan menunjukkan pada kita apa tujuannya menggali sumur itu. Masyarakat Arab punya kebiasaan menggali sumur dan mempersembahkan sumur itu bagi dewa² yang mereka puja. Fakta bahwa Abdul Mutalib menggali sumur Zamzam dan meletakkan dua buah patung Jin Kahin Isaf dan Naila pada sumur itu, sudah cukup untuk meyakinkan kita akan jenis agamanya dan tekadnya dalam menyebarkan agamanya. Karena dia mempertimbangkan untuk membunuh putranya, Abdullah, di hadapan kedua patung tersebut, maka hal ini menunjukkan bahwa ibadah Jin Arab adalah agama utamanya, dan dia sangat berbakti padanya.
Literatur Islam yang menjelaskan latar belakang bangsa Arab di jaman Muhammad menyinggung tentang kebiasaan sebagian bangsa Arab untuk mempersembahkan korban bagi Jin-setan setelah menggali sumur. [110] Fakta yang menyatakan Abdul Mutalib mendirikan dua patung Kahin di sumur Zamzam, dan lalu hendak membunuh putranya di hadapan kaki² patung, menunjukkan bahwa dia ingin mempersembahkan putranya bagi sang Jin, dan dia menggali sumur Zamzam untuk mengekspresikan rasa hormatnya bagi ibadah agama Jin Arab.

[110] Al-Lisan, 13, hal. 213; dikutip oleh Jiwad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 720

Sungguh ironis untuk menghubungkan kepercayaan perdukunan ini dengan Abraham! Umat Muslim saat ini tidak menerima keuntungan apapun dengan meminum air dari sumur Zamzam. Mereka juga tak mendapatkan faedah apapun dengan melakukan ritual agama sistem kepercayaan dukun pagan.

Haji Umra’ dalam Islam dan Akar Pagannya

Sekarang mari telaah ibadah Haji kecil, Umra’. Ibadah ini merupakan ibadah Haji perdukunan asli Mekah, di kuilnya Ka’bah. Ibadah Haji kecil ini berbeda dengan ibadah Haji besar yang dilakukan di luar Mekah. Mekah tak ada hubungannya dengan ibadah Haji besar. Muhammad memasukkan ibadah Haji kecil ke dalam Islam, meskipun upacara Haji sangat berkaitan dengan agama Jin Arab.
Umra’ dilakukan di setiap waktu, dimulai dari kuil Ka’bah dengan melakukan tawaf, yakni mengelilingi Ka’bah. Setelah itu umat peziarah melanjutkan dengan meminum air dari sumur Zamzam. Lalu mereka harus berjalan kali tujuh kali diantara dua buah batu di Safa dan Marwa, di mana dua patung Isaf dan Naila dulu diletakkan di jaman pra-Islam. Akhirnya mereka harus memotong rambut di hadapan batu Marwa.

Umra’ jaman pra-Islam adalah ritual agama Jin Arab yang berkisar diantara dua patung dukun Kahin dan patung dewa angin.

Sekarang mari telaah asal-usul ibadah Haji kecil dan pusatnya pada empat patung berhala yang diletakkan di atas empat batu. Meskipun patung² berhala telah disingkirkan di jaman islam, batu² di mana patung² tersebut dulu berdiri masih terus menjadi subyek ibadah Haji dan penyembahannya. Patung² berhala itu dulu adalah patung² Isaf dan Naila. Kedua orang ini adalah dukun Kahin yang paling utama. Satu patung mereka diletakkan di atas batu di Safa, dan satu lagi di Marwa. [111] Safa dan Marwa terletak di dua bukit dekat Mekah, tak jauh dari tempat Abdul Mutalib menggali sumur Zamzam dan mendirikan dua buah patung Isaf dan Naila sebagai dewa² sumur tersebut. Muslim sampai sekarang masih saja berkunjung ke tempat² itu sebagai bagian dari ibadah Umra’.

[111] Al Shawrastani, Al-Milal Wal Nahil, hal. 578

Orang² Arab membuat patung² Isaf dan Naila karena mereka menganggap kedua dukun ini sebagai dukun² suci Ka’bah di Mekah. Keduanya merupakan simbol penting agama Jin. Menurut dongeng mereka, Isaf dan Naila diubah jadi patung batu setelah berzinah di dalam Ka’bah.
Al-Ya’akubi, sejarawan dan geografer Arab terkenal di abad ke-9 M, menulis tentang kehidupan bangsa Arab sebelum dan setelah jaman Islam. Dia menulis bahwa kedua patung berhala diletakkan di Safa dan Marwa. Patung berhala yang diletakkan di Safa bernama Mujawer al-Rih’ مجاور الريح , yang berarti “tempat perlindungan bagi angin.” [112] Angin di Mekah dianggap sebagai Jin-setan. Kita tahu akan hal ini dari tulisan berbagai sejarawan. Banyak penulis biografi Muhammad yang menyatakan bahwa Muhammad didatangi seorang Kahin yang lalu memeluk Islam. Nama Kahin ini adalah Thamad al-Azdi. Di Sira Al-Halabiyah tertulis:

[112] Al-Yaa’kubi 1, hal. 224
Delegasi Thamad al-Azdi yang datang menemui Muhammad dilaporkan oleh Ibn Abbas: “Thamad datang ke Mekah dan dia berasal dari Izad Shina’t, yang merupakan nama sukunya, dan dia dulu sering mengguna-guna atau menyulap melalui angin yang sebenarnya adalah Jin. Dia menyapa Muhammad dan memeluk Islam.” [113]
[113] Halabieh, 2, hal. 39

Dengan begitu, sudahlah jelas bahwa angin merupakan salah satu gelar bagi Jin-setan di Mekah di jaman Muhammad. Orang² percaya bahwa angin adalah Jin. Topan badai merupakan salah satu setan² yang disembah di Mekah. [114] Sebuah berhala bernama Khazeh dipercayai sebagai penyebab topan badai, sehingga berhalanya diletakkan di dalam Ka’bah di Mekah. Banyak sejarawan yang yakin bahwa Khazeh adalah setan. [115] Aku telah menyebut sebelumnya bahwa ada tempat perhentian dalam ibadah Haji besar di Muzdalifah yang dekat dengan gunung yang diberi nama berdasarkan nama setan Khazeh قزح. Orang yang memimpin upacara² ibadah di Muzdalifah akan berdiri di atas gunung ini.

[114] Al Azruqi, Akhbar Mecca, I, hal. 73
[115] Encyclopedia Religion, I, hal. 661; dikutip olehJawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 287

Penulis Arab seperti al-Azruqi الازرقي, yang menulis tentang Mekah jaman pra-Islam, mengatakan bahwa angin juga disembah di Mekah, dan ada patung berhala bernama Nahik yang dianggap sebagai dewa angin. Orang² seringkali berziarah untuk menyapa berhala ini. [116] Berhala angin di Safa disebut “tempat berlindung bagi angin.” Berhala angin ini disembah di bukit² Safa dan Marwa. Berhala Dewa Angin, dan patung² Isaf dan Naila di Ka’bah dan juga di Safa dan Marwa, merupakan benda² yang disembah umat yang melakukan Umra’.
[116] Al Azruqi, Akhbar Mecca, I, hal. 73

Bukti² Lain bahwa Safa dan Marwa adalah Pusat Ibadah Agama Jin Arab

Para jin punya cara tersendiri untuk memanggil umatnya. Mereka bermain musik yang suaranya mirip dengan dentangan suara gaib. Di malam hari, biasanya bunyi ini terdengar bagaikan bunyi tabuhan. Ibn Abbas, sepupu Muhammad, dan penyampai hadis, mengatakan: “Para Jin sering bermain musik sepanjang malam diantara dua batu Safa dan Marwa.” [117] Hal ini menunjukkan bahwa tempat diantara Safa dan Marwa adalah pusat ibadah penting bagi agama Jin Arab. Ibadahnya mengandung elemen gaib seperti: patung² Isaf dan Naila – patung Kahin yang terkemuka – patung berhala dewa angin. Berhala² ini mendorong para pemuja Jin untuk berziarah ke Safa dan Marwa. Para peziarah menghubungkan ibadah mereka dengan batu² di mana berhala dewa angin dan patung² Isaf dan Naila diletakkan. Mereka mengunjungi dua patung Isaf dan Naila, memuliakan para Kahin, dan pergi ke sumur Zamzam.

[117] Taj Al Aruss, 6, hal. 197

Bukti² bahwa Haji Umra’ Berkisar pada Kedua Patung Dukun Kahin

Empat batu yang menjadi landasan berdirinya empat patung berhala di jaman dulu, masih ada di Islam jaman  sekarang. Aku akan membahas hubungan berhala² ini dengan ibadah Haji kecil yang asli di jaman pra-Islam.
Penyembahan pada dua patung Kahin Isaf dan Naila berakar di Ka’bah, Mekah. Banyak bukti yang membuktikan bahwa ibadah Haji di Mekah diperuntukkan bagi kedua patung tersebut. Haji adalah upacara utama bagi umat agama Jin Arab. Al-Ya’akubi mengatakan bahwa patung² Isaf dan Naila diletakkan di batu² keramat utama di Ka’bah. Katanya lagi, orang² yang menunaikan ibadah Haji akan mencium kedua patung tersebut sebelum melanjutkan ritual Haji. Mereka melakukan perjalanan melingkar penuh yang berakhir di lokasi kedua patung Isaf dan Naila. [118]

[118] Al Yaa’kubi, 1: 224

Al-Ya’akubi menyingkapkan asal-usul Haji Mekah yang sekarang jadi Haji Umra’. Dari tulisannya, bisa disimpulkan bahwa sebelum jaman Islam, terdapat ibadah Haji yang melibatkan penyembahan terhadap dua patung Kahin itu. Dia menerangkan bahwa batu² yang disebut Rukun di Ka’bah bukanlah elemen utama penyembahan. Karena patung² Isaf dan Naila tidak diletakkan pada Rukun, tentunya patung² itu punya tempat istimewa yang sangat penting. Umat pagan terbiasa meletakkan berhala mereka di atas landasan batu, dan bukan di atas lantai kuil. Ini menjelaskan mengapa orang Arab yang menghormati kuil Ka’bah meletakkan kedua patung berhala Isaf dan Naila di atas dua batu utama Ka’bah.

Tulisan Ya’akubi menjelaskan bahwa Umra’ berkisar pada penyembahan dua patung berhala Kahin. Isaf dan Naila disembah dan kemungkinan dianggap sebagai perantara bagi Jin da umatnya. Ibadah Haji dimulai dari kedua patung ini dan selesai saat umat peziarah kembali untuk mencium kedua patung yang sama.

Hal ini menjelaskan mengapa patung² Isaf dan Naila juga didirikan di dekat sumur Zamzam. Orang Arab terbiasa menggali sumur bagi setiap kuil, dan mereka mempersembahkan korban bagi dewa² yang mereka sembah. Mereka pun melakukan ibadah Haji di sekitar patung² para dewa. Dalam ritual ibadah, mereka meminum air dari sumur yang didedikasikan bagi para dewa. Umat Jin Arab mendirikan kedua patung di sumur Zamzam untuk menunjukkan rasa hormat. Ibn Hisyam menulis bahwa bangsa Arab mempersembahkan hewan korban mereka pada patung² Isaf dan Naila di dekat sumur Zamzam. [119] Dengan begitu, sudah jelas bahwa Isaf dan Naila dianggap sebagai dewa dan ibadah Haji dipersembahkan bagi mereka berdua.

[119] Ibn Hisham, I, hal. 69

Dua suku Medina yang mendukung Muhammad dalam melaksanakan rencananya menundukkan suku² Arab di bawah Islam, ternyata melakukan ibadah Haji yang sama pada Isaf dan Naila.
Terdapat faktor sejarah lain yang menunjukkan bahwa Haji Umra’ di Mekah berkenaan dengan pemujaan patung berhala Kahin. Contohnya adalah bagaimana cara Aisyah menafsirkan satu ayat Qur’an di Sura Al-Baqarah (2), ayat 158 yang berbunyi:

Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

Aisyah, istri termuda Muhammad, menerangkan tentang hal ini:

Ansar, di jaman pra-Islam, pergi untuk menyembah dua berhala yang terletak di tepi pantai. (Yang dimaksud  sebagai orang Ansar olehnya adalah dua suku Yathrib yang menolong Muhammad menundukkan bangsa Arab dan memaka mereka memeluk Islam dengan cara memerangi mereka.) Patung² berhala ini adalah Isaf dan Naila. Lalu kedua suku itu datang untuk mengelilingi Safa dan Marwa. Setelah itu mereka memotong rambut mereka. Setelah Islam muncul, mereka tidak lagi bersemangat untuk mengelilingi Safa dan Marwa, seperti dulu di jaman pra-Islam. Allah menurunkan ayat “Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah.” Dengan demikian, kedua suku kembali lagi mengelilingi Safa dan Marwa. [120]
[120] Sahih Muslim, 9, hal. 21 dan 22

Aisyah menjelaskan bagaimana dan mengapa berbagai ayat Qur’an turun, dan dia menyampaikan banyak hadis Muhammad. Perkataannya di atas menerangkan fakta yang penting. Kedua suku Yathrib adalah Aws dan Khazraj, yang membuat perjanjian dengan Muhammad dan bersyahadat bahwa “tiada illah selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya.” Sebagai imbalannya, Muhammad berjanji untuk memimpin mereka berperang melawan suku² tetangga, dan akan memberikan imbalan besar. Mereka akan menikmati istri² dan anak² perempuan bangsa Arab yang mereka taklukkan, sebagai budak sex, memperbudak anak² mereka, dan merampas harta bendanya. Dari perkataan Aisyah sudah jelas bahwa kedua suku itu dulu menyembah Isaf dan Naila dan pergi ke Safa dan Marwa, dua tempat utama penyembahan para Jin. Di situ mereka lalu menyembah patung² Isaf dan Naila. Hal ini menunjukkan agama asli mereka sebenarnya adalah kepercayaan perdukunan. Mereka menyembah benda yang sama yang disembah umat Jin Arab.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mereka memulai ibadah Haji di lokasi kedua patung Isaf dan Naila. Mereka lalu memotong rambut, dan ini sama persis dengan kebiasaan yang dilakukan orang² Arab lainnya di jaman pra-Islam, seperti yang disebut oleh al-Ya’akubi. Perbedaannya hanyalah suku Aws dan Khazraj memulai ibadah Haji mereka dari kedua patung Isaf dan Naila di tepi pantai dekat Mekah, sedangkan suku² Arab lainnya memulai Umra’ di patung² Isaf dan Naila di kuil Ka’bah di Mekah, dan lalu menuju ke bukit² Safa dan Marwa. Ritual yang sama mengandung elemen ibadah jin yang sama, kecuali yang satu meletakkan patung² berhala di tepi pantai, dan yang lain di Ka’bah di Mekah. Keduanya juga mengunjungi Safa dan Marwa, di mana juga terletak patung² Isaf dan Naila, dan juga patung dewa angin.

Alasan mengapa suku Aws dan Khazraj meletakkan replika patung² Isaf dan Naila di tepi pantai, dan bukannya di Ka’bah di Mekah, adalah karena mereka menganggap Ka’bah Mekah merupakan tempat ibadah suku Quraysh.

Sungguh tak masuk akal bahwasanya umat Muslim membuat klaim Islam sebagai agama monotheistik, padahal Islam mengandung ibadah Haji okult yang menyembah berbagai elemen agama Jin Arab. Saat ini, Islam tetap mempraktekkan upacara Haji di tempat² yang sama seperti jaman pra-Islam, tapi sambil menghubungkannya dengan Abraham. Apakah hubungan kepercayaan Abraham dengan kepercayaan Jin-setan Arab? Sudah jelas bahwa Muhammad ingin menggabungkan dua agama yang tak bisa disatukan. Ibadah pada Tuhan tidak bisa dicampur dengan ibadah pada Jin-setan.
Aku telah mengutip perkataan Aisyah tentang ibadah Haji yang dilakukan suku² Yathrib, yakni Aws dan Khazraj. Ingatlah bahwa mereka mendukung Muhammad dan menolongnya memaksakan Islam pada suku² lainnya. Keterangan Aisyah juga menyebut bahwa mereka melaksanakan ibadah Haji yang sama, seperti mengunjungi kedua bukit Safa dan Marwa, dan diakhiri dengan memotong rambut. Ketika Islam muncul, para peziarah Haji wajib berjalan bolak-balik tujuh kali antara Safa dan Marwa, dan lalu mengakhiri ibadah Haji dengan potong rambut juga. Ini menunjukkan bahwa Muhammad meneruskan praktek Haji yang dilaksanakan agama Jin Arab.

Ritual ibadah agama Jin Arab tidak serupa dengan ritual ibadah agama monotheistik Abraham. Pengakuan Islam adalah tak realistik dan tak punya bukti historis. Dengan begitu, bagaimana mungkin Gabriel atau Jibril bisa menghentakkan kakinya ke tanah dan lalu mata air Zamzam muncul, seperti yang dikatakan Muslim? Ibn Ishak, penulis utama biografi Muhammad, mengatakan bahwa suku Jurhum menutupi sumur dengan Batu hitam dan patung gazel terbuat dari emas. Hal ini, katanya, terjadi setelah suku Jurhum dikalahkan dan diusir keluar dari Mekah. Bagaimana mungkin satu²nya sumur di Mekah bisa disembunyikan dari penduduk Mekah atau dari orang² Baduy yang berjalan berkilo-kilo meter untuk menemukan air bagi unta² mereka? Jika sumur ditutupi, tentunya orang² lain akan langsung menggalinya lagi di hari yang sama. Jika sumur itu sudah ada di jaman kuno, maka tentunya sumur itu akan jadi tempat paling terkenal di Mekah, dan jadi sumber utama kehidupan setiap hari bagi masyarakat Mekah. Dengan begitu, tentunya mereka tidak akan diam saja jika memang ada orang yang menutupi sumur tersebut. Maka tentunya tak masuk akal jika ada yang bisa menyembunyikan sumur itu selama ratusan tahun, sampai muncul suara gaib yang mengatakan pada Abdul Mutalib untuk mulai menggali tempat itu. Dan bagaimana mungkin suara gaib malaikat Tuhan bisa muncul pada orang yang memuja berhala Isaf dan Naila? Bagaimana mungkin sumur itu bisa diciptakan oleh malaikat Gabriel, seperti yang dikatakan Islam? Apakah mungkin Tuhan meminta pemuja Jin-setan untuk mengerjakan tugas suci bagiNya? Jika Abdul Mutalib benar² mendengar suara surgawi yang menyuruhnya untuk menggali “sumur suci”, maka mengapa dia lalu mendirikan dua buah patung berhala Isaf dan Naila di atasnya? Mengapa pula dia lalu ingin mempersembahkan putranya di hadapan kaki² kedua berhala tersebut? Apakah tidak cukup bukti bahwa dia menggali sumur itu bagi patung² yang diletakkannya di atas sumur, dan yang pada patung² itulah dia mempersembahkan putranya? Dia ingin menyediakan air bagi upacara ibadah Haji, dan dan ini merupakan kebiasaan bangsa Arab di jaman dulu bagi para dewa mereka.

Semua pertanyaan ini seharusnya membuat umat Muslim sadar bahwa ritual perdukunan Arab kuno telah ditampilkan sebagai agama baru oleh Muhammad sewaktu dia menciptakan Islam. Dia mencoteknya begitu saja ke dalam islam. Tapi fakta sejarah menunjukkan hubungan jelas antara ritual² pagan Arab dengan Islam, dan Muhammad tidak bisa menyembunyikan hal ini. Hanya anak kecil saja yang bisa percaya semua cerita² karangan Muslim untuk membuat agamanya tampak benar.

Apakah rahasia di belakang suku Aws and Khazraj? Hanya merekalah yang menerima tawaran Muhammad untuk mendukungnya dengan kekuatan militer untuk memaksa suku² Arab menerima Islam. Setelah mengetahui bahwa suku² Medina yakni Aws dan Khazraj juga melaksanakan ibadah Haji dengan memulainya dengan penyembahan terhadap patung² berhala Isaf dan Naila, maka bisa dimengerti mengapa hanya mereka saja yang menerima ajakan Muhammad untuk menaklukkan suku² Arab lain dan memaksa mereka memeluk Islam. Sebagai imbalannya, Muhammad menawarkan pada mereka mereka para wanita yang ditawan dalam penyerangan dan dijadikan budak sex, anak² para tawanan yang dijadikan budak Muslim, dan harta yang dirampas dari suku yang ditaklukkan.
Ada hubungan antara kedua suku ini dengan ibadah Haji Isaf dan Naila. Ritual Haji dilanjutkan dengan mengunjungi bukit² Safa dan Marwa yang diperuntukkan bagi dewa Angin. Hal ini menunjukkan agama asli suku Aws dan Khazraj, yakni agama Jin Arab. Para Kahin yang merupakan pelaksana agama Jin, juga mendukung Muhammad. Kedua suku Aws dan Khazraj juga menganut agama Jin Arab, sehingga mereka bersedia menyediakan kekuatan militer untuk mendukung rencana Muhammad.

Mengelilingi batu² berhala, Safa dan Marwa, merupakan ritual yang dibenci kebanyakan sahabat Muhammad karena mereka tahu itu merupakan bagian dari ritual pagan. Tapi mereka tetap melaksanakannya, karena Muhammad mengatakan Allah membenarkan ritual tersebut.
Bahkan para sahabat Muhammad mengakui bahwa ibadah Haji ke Safa dan Marwa merupakan ritual pagan Jahiliyah, jaman pra-Isam. Sahih al-Bukhari menyatakan:

Asim mengatakan pada kami bahwa dia berkata pada Uns bin Malik, sahabat Muhammad, “Kau membenci kegiatan mengitari Safa dan Marwa.” Dia menjawab, “Ya, karena itu merupakan salah satu ritual Jahiliyah sampai Allah menurunkan ayat bahwa Safa dan Marwa adalah bagian dari syi’ar Allah. Jika Muslim ingin melakukan ibadah Haji di Ka/bah, maka dia wajib melakukan hal itu. Orang itu jadi tanpa dosa dosa jika mengelilingi bukti² itu.” [121]
[121] Sahih al-Bukhari, 2, hal. 171

Bahkan sepupu Muhammad, Ibn Abbas, pelapor berbagai Hadis sahih, mengatakan bahwa mengelilingi Safa dan Marwa merupakan kebiasaan masyarakat Jahiliyah atau Arab pagan sebelum jaman Islam. Perkataannya ditulis di hadis sahih al-Bukhari. [122]

[122] Sahih al-Bukhari, 4, hal. 238

Umat Muslim di jaman Muhammad tahu asal-usul ritual pagan ini sebagaimana mereka tahu akan berbagai ritual pagan Arab yang dimasukkan Muhammad ke dalam Islam. Tapi mereka menerima begitu saja tanpa banyak tanya. Semua yang dikatakan atau ditulis Muhammad dalam Qur’an diterima begitu saja dan dianggap suci, meskipun umatnya tahu asal-usulnya dari agama pagan. Sungguh menyedihkan bahwasanya mereka tidak menggunakan pikirannya untuk mempertimbangkan bagaimana Muhammad membentuk Islam. Sebaliknya, mereka mengikuti dia begitu saja dengan mengenyahkan segala pertimbangan.

Mohammed Bermaksud Menyatukan Ritual² Arab Pagan dalam Satu Agama

Mohammed berniat mengumpulkan berbagai aturan dan ritual Arab sebelum jaman Islam. Tujuannya adalah untuk membentuk suatu agama yang memuaskan semua pihak masyarakat Arab. Al-Bukhari menyatakan:

Masyarakat Arab pagan jaman pra-Islam dulu mengitari Safa dan Marwa. Ketika Allah menyuruh kami mengelilingi Ka’bah, Dia tak mengatakan tentang Safa dan Marwa di Qur’an. Mereka lalu berkata pada Muhammad: “Wahai Nabi Allah, kami dulu biasa mengelilingi Safa dan Marwa. Allah mengirim ayat untuk mengelilingi Ka’bah, tapi kenapa Dia tak menyebut tentang Safa dan Marwa? Apakah kami berdosa jika kami mengelilingi Safa dan Marwa?” Karena itu Allah memberi ayat ini: “Safa dan Marwa adalah bagian dari syi’ar Allah.” Abu Bakar mengatakan bahwa ayat ini menyenangkan kedua belah pihak: mereka dari jaman pra- Islam yang tak mau mengelilingi Safa dan Marwa, dan mereka yang mengelilingi Safa dan Marwa jaman pra- Islam, tapi malu untuk melakukannya setelah Islam muncul. [123]
[123] Sahih al-Bukhari, 2, hal. 169 and 170

Sudah jelas bahwa niat Muhammad adalah untuk memuaskan semua golongan Arab melalui cara menggabungkan semua ritual mereka, terutama ritual mengelilingi Safa dan Marwa, yang sering dipraktekkan oleh banyak orang dari suku Aws dan Khazraj yang merupakan dua suku utama yang mendukungnya dalam  mengobarkan perang untuk memaksakan Islam terhadap suku² Arab lainnya. Ritual mengelilingi Safa dan Marwa juga dilakukan Muhammad, karena ini adalah ritual yang dilakukan kakeknya jaman dulu.

Muhammad sendiri mempraktekkan ritual² perdukunan Haji. Dia membuang semua patung² berhala, tapi tetap saja mengelilingi berbagai batu landasan tempat berhala² itu dulu diletakkan.
Bertahun-tahun sebelum menulis Qur’an, Muhammad juga mengelilingi Safa dan Marwa tujuh kali karena hal ini juga dilakukan keluarga dan kakeknya. Dia memulai ibadah Haji di Ka’bah, dengan cara mengelilinginya dan mencium dua batu. Lalu dia mengelilingi dua batu di bukit² Safa dan Marwa. [124] Dengan begitu, Muhammad melakukan ritual yang sama yang dilakukan umat Jin Arab yang memulai ibadah Haji mereka dengan mencium patung² Isaf dan Naila yang diletakkan di kuil Ka’bah. Patung² ini diletakkan di batu² yang sama yang dipertahankan dan dicium oleh Muhammad.

[124] Sahih al-Bukhari, 2, hal. 170, 146 and 181; Bukhari, 8, hal. 128; Sahih Muslim, 9, hal. 8 and 23

Mereka melanjutkan ibadah Haji dengan mendatangi batu² di Safa dan Marwa yang sama, di mana patung dewa Angin, Isaf dan Naila diletakkan. Hanya ada satu perbedaan ibadah pagan ini dengan Islam: Muhammad tidak menganggap patung² ini sebagai bagian dari ritual² Haji. Meskipun dia menghancurkan segala patung berhala, dia tetap saja menyembah batu² di mana patung² itu dulu diletakkan. Dengan begitu, perbedaan penting apakah yang dilakukan Muhammad jikalau dia hanya menyingkirkan berhala² tapi tetap saja mempraktekkan ritual pagan yang sama?

Muhammad secara sia² ingin menampilkan agama kuno Arab pagan sebagai agama Islam yang baru, dengan menyingkirkan berhala²nya, tapi masih tetap melakukan ritual agama pagan yang sama, masih tetap mengitari batu² yang sama yang dulu menjadi landasan di mana berhala² itu ditempatkan. Umat Muslim seharusnya waspada agar tidak terperangkap dengan tipu muslihat ini.

Peranan Kuil Ka’bah di Mekah dalam Agama Jinn dan dalam Keluarga Para Dewa Arab

Ka’bah adalah kuil di mana dua patung Isaf dan Naila diletakkan. Ibadah haji dimulai dari lokasi ini. Kedua patung Isaf dan Naila juga diletakkan di bukit² Safa dan Marwa. Kuil Ka’bah di Mekah merupakan pemersatu dan pusat pemujaan bagi agama Jin Arab dan juga agama Keluarga Dewa Bintang Arab.

Dalam agama Keluarga Dewa Bintang, Allah adalah bintang utama yang terbesar. Istrinya adalah matahari, dan putri²nya adalah Manat dan al-‘Uzza, yang mewakili sebuah planet. Para Kahin, yang memperkenalkan agama Jin bagi masyarakat Arab yang mempraktekkan agama² pagan lainya seperti agama Keluarga Bintang Arab, dianggap sebagai dewa². Suku Quraish menganggap Iblis – nama lain dari setan – dan Allah sebagai adik kakak. [125] Mereka mengatakan bahwa diantara Allah dan Jin terdapat persaudaraan yang erat. [126] Mereka percaya bahwa para malaikat adalah putri² Allah, dan bahwa para ibu dari malaikat² adalah putri² dari “dewa Jin.” [127] Jin dianggap lebih superior dibandingkan malaikat. Masyarakat Arab pagan menjunjung tinggi Jin karena mereka percaya bahwa Jin punya hubungan erat dan persaudaraan dengan Allah. Karena para Jin menggeser kedudukan para malaikat, maka para Jin meninggalkan sidik jari mereka di Qur’an.

[125] Tafsir al-Tabari, 23, hal. 69
[126] Tafsir al-Tabari, 23, hal. 69
[127] Sahih al-Bukhari, 4, hal. 96

Jin² – Setan² Menggantikan Malaikat² di Qur’an, Sama seperti Mereka Menggantikan Malaikat² di Literatur dan Puisi Agama Jin Arab

Qur’an mewakili literatur Arab yang disusun sebelum jaman Muhammad; literatur seperti ini merupakan karya tulis yang berkaitan dengan para Jin. [128] Dalam Qur’an, kita menemukan jiwa agama Jin Arab. Contohnya bisa dilihat dari para setan yang bekerja bagi Sulaiman di Sura al-Anbiya’(21) , ayat 81 dan 82:

[128] Al-Jaheth, al-Haiwan, 6, hal. 187; dikutip oleh Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723
Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu,

Ayat 81 menerangkan bahwa Sulaiman membuat angin jadi pelayannya. Di bawah perintahnya, angin pergi ke tanah yang diberkati Allah, yakni Harran, sebagaimana yang dikatakan sumber lain. Angin berperan sebagai pelayan dewa² penuh kuasa dan raja² besar merupakan tema umum dalam agama² kuno Timur Tengah.
Al-Sabuni, penafsir Qur’an modern dari Saudi Arabia menjelaskan tentang ayat 82 sebagai berikut:

Setan² menyelam bagi Sulaiman, masuk ke dalam laut untuk mengambil permata mustika dan mutiara. Mereka membuat bangunan² besar bagi Sulaiman, termasuk istana²nya.

Setan² digambarkan di Qur’an sebagai pelayan² berguna bagi Sulaiman dan para nabi. Mereka digambarkan sebagai pelayan² Tuhan, dan Tuhan sendiri yang menempatkan mereka untuk melayani Sulaiman. [129] Ajaran seperti ini diambil dari agama Jin yang meninggikan para setan bagi mata orang² Arab sehingga setan² disembah dan dihormati. Ayat² Qur’an ini menyiratkan hubungan antara Tuhan di Perjanjian Lama dan setan², sepertinya Tuhan hendak melindungi para setan tersebut. Ini jelas bertentangan dengan ajaran Alkitab, di mana setan² adalah makhluk terkutuk, dan tidak ada hubungan kerjasama antara Tuhan dan para setan.

[129] Sabuni, Safwat al-Tafasir, 2, hal. 270

Ayat² Qur’an lain yang menunjukkan pengaruh agama Jin dalam Qur’an adalah Sura S’ad (38), ayat 37-39, yang masih tentang Sulaiman:

dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam,dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu.Inilah anugerah Kami, maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab.

Di ayat² di atas, setan² digambarkan sebagai pemberian Tuhan bagi Sulaiman, yang lalu berterima kasih pada Tuhan atas anugrah setan²-Nya. Pernyataan seperti ini berasal langsung dari agama Jin Arab, yang memberi kedudukan tinggi bagi setan² dan menganggap mereka adalah pemberian berharga pada para nabi Perjanjian Lama. Ajaran seperti ini bertentangan dengan ajaran Alkitab. Alkitab memperingatkan kita akan setan², setan² ditampilkan sebagai makhluk terkutuk, dan musuh Tuhan dan manusia. Alkitab memperingatkan kita untuk tidak berhubungan dengan para setan.

Tidak hanya di Qur’an kita melihat setan² bekerja bagi Sulaiman, tapi juga di puisi² pra-Islam yang ditulis orang² yang suka berhubungan dengan para Jin. Contohnya adalah puisi² al-Nabighah النابغة yang mengatakan para Jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kota Tadmur di gurun pasir Syria baginya. [130] Contoh lain ditemukan di tulisan Al-Aasha’, puisi Arab jaman pra-Islam. Al-Aasha’ menulis nama Jin-setan yang memberi inspirasi pada puisinya. Dia menyebut nama Jin-setan itu Musahhal المسحل, dan menyebutnya sebagai “ yang terkasih.” Al-Aasha’ berkata: “Saudaraku, sang Jin, telah menyapaku. Jiwaku berbakti baginya.” [131] Puisi ini hanyalah satu dari banyak puisi yang dibaktikan bagi agama Jin Arab. Dalam puisi² ini, para Jin dianggap sebagai saudara, dan mereka mencomba menyatukan umat manusia dengan para Jin. Muhammad juga mengutarakan pemikiran yang sama. Dia mengatakan pergi ke surga dan bertemu Allah yang mengutusnya membawa pesan bagi umat manusia dan para Jin. Muhammad mengatakan umatnya adalah para manusia dan para Jin. [132] Dia seringkali mengatakan para Jin jadi Muslim, [133] dan dia menganggap mereka bagaikan saudaranya. [134]

[130] Al-Jaheth, Al Haiwan, 6, hal. 223; dikutip oleh Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723
[131] Al-Tha’alibi, Abd al-Malik ibn Mohammed, Kitab Thimar al-qulub, hal. 69 and 70
[132] Halabiyah 2, hal. 130
[133] Sahih al-Bukhari, 5, hal. 227
[134] Halabiyah 2, hal. 63

Al-Aasha’ menulis dalam salah satu puisinya bahwa “Para Jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kubah². [135] Muhammad mencontek tulisannya dan memasukkannya ke Sura Saba (34), ayat 12-13 yang berbunyi:

[135] Taj Al Aruss, 9, hal. 165
Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.

Qur’an menggambarkan Tuhan meminta Sulaiman, putra Daud, untuk berterima kasih padaNya karena Dia mengirim para Jin untuk membuat berbagai karya seni dan bangunan. Ini adalah anggapan yang salah tentang  Tuhan. Sangkaan bahwa Tuhan mengirim para Jin sebagai pekerja² yang baik adalah pengertian langsung dari para Kahin di Arabia, agar orang² Arab menghormati dan menyembah Jin. Ini juga menyebabkan orang² Arab konsultasi dengan para dukun Kahin untuk minta berkat dari pada para Jin.

Akar Pengertian Kuno yang Menganggap Jin Setan sebagai Keturunan Para Dewa

Ajaran² tentang Jin-setan yang berhubungan dengan Allah, dan putri²nya yang jadi ibu para malaikat, berasal dari Arabia. Bangsa Akkadia, yang berasal dari Arabia ke Mesopotamia, mengatakan bahwa tujuh setan adalah anak² dari dewa Mesopotamia “An,” yang merupakan dewa Langit, dan istrinya “Kai” yang merupakan dewi Bumi. Menurut bangsa Sumeria, An dan Kai lalu menikha. Bangsa Akkadia menyampaikan pengertian bahwa setran² punya hubungan dengan dewa² uatama Mesopotamia dan membantu mereka dalam mengurus jagad raya. [136] Bangsa Akkadia menyembah setan bernama Girru, yang merupakan keturunan dari dewa An, dan berasal dari api. [137] Dalam Qur’an juga dinyatakan bahwa Jin-setan berasal dari api.

[136] Jeremy Black and Anthony Green, gods demons and symbols Ancient Mesopotamia, hal. 162
[137] Jeremy Black and Anthony Green, gods demons and symbols Ancient Mesopotamia, hal. 88

Akar Arab kuno menunjukkan bahwa ribuan tahun sebelum jaman Muhammad, agama Jin-setan memberikan kedudukan tinggi pada setan, dan menjadi mereka sumber utama ibadah pagan di kuil² Arabia, terutama ibadah Keluarga Dewa Bintang. Para Kahin merupakan golongan relijius yang mengurus berbagai kuil di Arabia. Hal ini membuat para Kahin bisa memperkenalkan ritual² agama Jin Arab di kuil² mereka, seperti di ibadah Haji Umra’ yang berkisar pada Jin dan pembantu² utamanya yakni dukun² Kahin Isaf dan Naila. Ibadah Haji perdukunan ini sekarang jadi ibadah Haji formal bagi umat Muslim di Ka’bah, Mekah. Para Kahin ini membuat patung² para Kahin tersebut jadi elemen utama dan diletakkan di batu² uatama kuil Ka’bah.
Sejak awal dibangunnya Kuil Ka’bah di Mekah, para Kahin agama Jin adalah dukun² resminya.  Inilah sebabnya mereka menjadikan ibadah Haji sebagai ibadah resmi di kuil itu.

Kuil Ka’bah di Mekah diurus oleh para Kahin agama Jin. Kita mengetahui hal ini melalui patung² Kahin yang ada di situ, yang dianggap keramat, dan hal ini bisa dilihat dari lokasi di mana patung² itu diletakkan. Berdirinya patung² tersebut untuk waktu yang lama menunjukkan banyaknya generasi Kahin yang terus menguasai tempat itu. Mereka menganggap Isaf dan Naila sebagai pioner dukun di kuil. Hal ini serupa dengan pastur di gereja Katolik yang mendirikan patung atau gambar pastor pertama di gereja itu di sudut tempat utama ibadah. Bedanya adalah patung atau gambar pastor Katolik itu tidak disembah umat Katolik.

Para Kahinlah yang bertanggung jawab menyelenggarakan ritual ibadah di Ka’bah, Mekah. Terdapat Kahin² lain yang terkenal di Ka’bah, Mekah, seperti misalnya: Wake’a Zuhair al-Iyadi. Ibn al-Kalbi, sejarawan Arab yang menulis sejarah Arab sebelum jaman Islam, mengatakan bahwa Wake’a adalah dukun utama Ka’bah di jamannya. [138] Menurut penulis² Arab kuno, Wake’a dikenal mengarang prosa² berirama tentang para Kahin. [139] Muhammad mencontek ayat² prosanya dan memasukkannya ke dalam Qur’an. Contoh perkataan² Wake’a ditemukan di literatur Arab kuno seperti Majma’ al-Amthaal yang ditulis oleh al-Maydaani. [140]

[138] Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma’rifat ahwal al-arab, 2, hal. 260
[139] Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma’rifat ahwal al-arab, 2, hal. 260; Maydaani, Majma’ al-Amthaal, 2, hal. 81
[140] Maydaani, Majma’ al-Amthaal, 2, hal. 81

Semua ini menunjukkan berkuasanya para Kahin agama Jin atas kuil Ka’bah di Mekah, dan agama Jin menjadi agama resmi kuil itu. Inilah sebabnya mengapa banyak ritual² mereka, seperti Haji dan benda² berhala utamanya, menjadi ritual utama di kuil dan juga bagi umat agama Dewa Bintang Arabia.

Mereka Menyembah Ular di Ka’bah, mekah, dan Orang² Menganggap Ular itu adalah Jin-setan

Salah satu bukti hubungan antara Ka’bah dengan agama Jin tampak pada pemujaan ular di Ka’bah. Tabari, sejarawan Islam terkenal, menulis tentang jaman pra-Islam, dan dia memberitahu tentang adanya ular yang hidup di sumur di tengah bangunan Ka’bah. Masyarakat Mekah terbiasa melemparkan persembahan² mereka ke dalam sumur itu. [141] Tampaknya persembahan² diberikan pada sang ular. Sejarawan Arab yang menulis tentang Mekah jaman pra-Islam menerangkan bahwa istilah “Allaha,” dari mana nama Allah berasal, juga berarti “ular besar.” [142] Orang² Arab menyembah ular, menganggap binatang itu sebagai jin/setan ular. Salah satu gelar setan di Mekah adalah “Azab,” yang dianggap berbentuk ular. [143] Sejarawan mengatakan bahwa Jin adalah ular putih, [144] yang mereka yakini bisa mendengar dan membedakan berbagai macam bahasa. Para penyair seperti al-Nabighah, Umayya bin Abi al-Salt, Adi bin Zayd dan lainnya yang dikenal sering berhubungan dengan para Jin, mendukung kepercayaan ini. [145]

[141] Tarikh al-Tabari, I, hal. 525
[142] Taj Al Aruss, 9, hal. 410
[143] Taj Al Aruss, I, hal. 147, 284
[144] Taj Al Aruss, 9, hal. 165
[145] Al-Jaheth, Al Haiwan, 4, 203; dikutip oleh Jawad Ali,vi, 726

Karena ular dalam sumur disembah dan diberi persembahan, maka ini merupakan bukti bahwa Ka’bah merupakan pusat penting bagi ibadah agama Jin. Mereka menyembah Jin melalui ular dalam sumur Ka’bah, dan nama ular itu adalah “Allah.” Ingatlah bahwa berhala “Kozah” juga ditempatkan di dalam Ka’bah. Orang² percaya bahwa Kozah dapat mendatangkan hujan dan topan badai, tapi banyak sejarawan menduga bahwa dia adalah setan.

Dalam bentuk struktur bangunan dan tatacara ibadah, Ka’bah sama seperti kuil² agama Jin Arab lainnya.

Masyarakat Arab punya kuil² yang mereka sebut “Taghut” طاغوت, gelar bagi Jin Marid الجن مارد yang berarti Jin raksasa. Di masa selanjutnya, para Kahin agama Jin juga disebut sebagai Taghut, [146] dan ini menunjukkan bahwa Taghut adalah kuil² agama Jin. Penulis² Arabia jaman pra-Islam menyebutkan persamaan antara bangunan Ka’bah di Mekah dengan Taghut. Baghut memiliki konstruksi yang sama dengan konstruksi Ka’bah, juga upacara ibadah yang sama yakni mengelilingi bangunan. [147] Terdapat struktur dan tatacara ibadah yang seurpa diantara kuil² yang dibangun bagi Keluarga Dewa² Bintang dan agama Jin. Hal ini bisa dimengerti, karena para Kahin agama Jin yang mengurus kuil² yang dibangun bagi ibadah Keluarga Dewa² Bintang. Para Kahin menyelenggarakan ibadah di kuil Keluarga Dewa Bintang dengan cara yang sama seperti menyelenggarakan ibaadah di kuil² Taghut yang didedikasikan untuk menyembah Jin. Kuil Mekah adalah salah satu kuil² Arabia yang mempraktekkan ibadah kedua agama pagan utama Arabia: Ibadah Keluarga Dewa Bintang Arab dan agama Jin.

[146] Raghib al-Isfahani, Abu al-Qasim al-Husayn ibn Muhammed, Mufradat al-Qur’an, hal. 307; al-Kalbi, al-Asnam, hal. 6; Taj al-Aruss, 10, hal. 225
[147] Ibn Hisham I, hal. 64 ; Hamish Ala Al Rauth Al Anf, I, hal. 64; dikutip oleh Jawad Ali, al Mufassal, vi, hal. 401, 402

Dua dukun utama agama Jin, Isaf dan Naila, diduga dikubur di lokasi Ka’bah di Mekah. Di jaman pra-Islam, batu² nisan para Kahin dianggap keramat, sehingga orang² Arab berziarah ke kuburan tersebut untuk  mendapatkan berkat. Orang² pagan Arab membuat tempat pusat ibadah sebagai tempat berlindung yang aman. Jika orang masuk ke tempat ini, maka dia tidak boleh dilukai oleh siapapun. [148] Hal ini juga berlaku di kuil Ka’bah di Mekah. Diperkirakan Isaf dan Naila dikubur di lokasi ini. Lalu suku² dari Yaman datang dan membangun Ka’bah bagi agama Jin dan ibadah Keluarga Dewa Bintang Arab yang juga dianut oleh masyarakat Yaman.

[148] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 448

Para penulis Mekah jaman pra-Islam juga menjelaskan praktek di Ka’bah yang di jaman sekarang hanya dilakukan oleh aliran sesat saja. Contohnya, menurut al-Bukhari, para peziarah Ka’bah melakukan ibadah telanjang bulat, termasuk para wanita. [149] Menurut Sira Al-Halabiya, Ka’bah adalah tempat bersundal. Jika orang ingin melakukan hubungan sex, dia bisa melakukannya di tempat Ka’bah. [150] Hal ini mengingatkan kita pada persundalan yang terjadi di kuil² tempat menyembah setan, dan juga menguatkan keterangan bahwa Ka’bah adalah pusat agama Jin Arab. Penulis² Arab juga menerangkan bahwa di Mekah terjadi persundalan yang dilakukan para wanita di kota itu. [151] Rupanya perbuatan amoral di Ka’bah merembet ke kota.

[149] Sahih al-Bukhari, 2, hal. 164
[150] Halabiyah 1, hal. 15
[151] Ibn Al Muja’wir, Descriptio, 1, 7; dikutip oleh Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal. 106, 107

Sejarah praktek perdukunan di Ka’bah di Mekah menunjukkan bahwa Ka’bah bukanlah kuil Tuhan, karena Tuhan menentang Satanisme dan bentuk perdukunan apapun. Semua upacara dan orang² yang mengurus kegiatan ibadah, termasuk patung² berhala yang disembah, dan batu² yang dikeramatkan, menunjukkan dengan jelas bahwa Ka’bah merupakan pusat ibadah pagan dan perdukunan di Mekah. Pencemaran kesucian Tuhan ini lebih para daripada yang terjadi di kuil pagan manapun di jaman kuno, termasuk di Timur Tengah atau Asia. Praktek² perdukunan ini tidak menunjukkan ibadah pada Tuhan yang selayaknya. Di kuil Ka’bah di Mekah kita hanya melihat ibadah perdukunan dan dewa² saja. Dengan begitu, bagaimana mungkin Islam bisa mengaku bahwa kuil Ka’bah di Mekah merupakan pusat monotheisme sepanjang sejarah?

Keterangan buku Rafat Amari ini dengan telak merontokkan semua klaim Islam tentang sejarah Ka’bah, Mekah, ibadah haji, Abraham, Ismael, dll. Sayangnya, keterangan demikian banyak dan tak semua orang punya cukup waktu untuk membaca seluruhnya. Agar lebih memudahkan para pembaca mengingat keterangan² penting dari buku ini, aku membuat komik sederhana yang mengandung intisari setiap bab. Ini halaman pertama, tentang sejarah Mekah dan Ka’bah:

 

 

 

 

Shalom…